Sudah hampir dua minggu sejak Rangga diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Luka di kakinya belum sepenuhnya sembuh, tapi ia sudah bisa berjalan pelan dengan tongkat bantu. Meski begitu, setiap kali hujan turun dan udara jadi dingin, nyerinya sering kambuh.
Aruna datang hampir setiap sore. Kadang membawa makanan, kadang membawa buah, kadang hanya datang untuk membantu mengurus Ibu Rangga. Awalnya Rangga sempat menolak. Tapi lama-lama, ia menyerah. Aruna terlalu keras kepala untuk ditolak.
“Mas, jangan dipaksa jalannya. Luka jahitannya masih belum kering,” ujar Aruna suatu sore, saat melihat Rangga memaksa berdiri tanpa tongkat.
Rangga menghela napas pendek. “Kalau saya terus duduk begini, bisa gila, Aruna. Kerja nggak, ngapa-ngapain juga nggak.”
“Ya tapi kalau kamu maksa, malah bisa infeksi lagi. Mau saya bawa ke rumah sakit?” balas Aruna sambil menatapnya tajam.
Nada suaranya tegas, tapi bukan marah. Lebih seperti kekhawatiran yang tulus.
Rangga akhirnya menyerah dan duduk lagi. “Iya, iya. Saya nurut. Kamu galak juga, ya, kalau lagi ngomel.”
Aruna tersenyum kecil sambil melipat lengan bajunya. “Kalau saya nggak galak, kamu nggak nurut.”
Ibu Rangga yang duduk di kursi rotan ikut tertawa kecil. “Makanya, Rangga. Dengerin Mbak Aruna. Beliau udah capek-capek dateng ke sini, masa kamu malah ngeyel.”
Suasana rumah sederhana itu terasa hangat. Aruna membantu menyiapkan makan malam. Aroma tumis kangkung dan telur dadar tercium dari dapur. Sementara Rangga duduk di ruang tamu sambil menonton berita, ibunya sesekali menegur dari dapur.
“Rangga, jangan lupa minum obatnya, Nak!”
“Iya, Bu!” jawab Rangga tanpa menoleh.
Aruna melirik sekilas dan tersenyum. “Ibumu cerewet juga, ya.”
Rangga terkekeh. “Iya, tapi saya bersyukur masih punya beliau. Kadang suka nyesel kalau inget sering ngelawan waktu kecil.”
“Namanya juga anak muda,” kata Aruna sambil menaruh piring ke meja makan. “Kalau udah gede baru sadar, orang tua nggak akan selalu ada.”
Rangga diam. Kalimat itu terdengar sederhana, tapi nadanya dalam. Ia menatap Aruna sejenak — perempuan itu terlihat dewasa dan tenang, tapi ada sesuatu di matanya, sesuatu yang seolah menyimpan banyak luka.
Hari-hari berlalu. Kunjungan Aruna sudah seperti kebiasaan. Bahkan ibu Rangga mulai menunggu-nunggu kehadirannya. Kadang, kalau Aruna terlambat datang, ibu Rangga suka menatap ke luar jendela sambil bertanya,
“Aruna belum datang, ya?”
Dan setiap kali Aruna muncul sambil membawa kantung belanja, wajah wanita tua itu langsung cerah.
“Alhamdulillah, kamu datang juga. Saya kira kamu sibuk,” katanya sambil menggenggam tangan Aruna hangat-hangat.
Aruna hanya tersenyum. “Saya nggak sibuk kok, Bu. Saya cuma jalan-jalan sebentar tadi.”
Ia jarang menceritakan hal tentang rumahnya. Tentang Andre. Tentang kehidupan sebenarnya yang berbeda jauh dari rumah sederhana ini. Bagi Aruna, tempat ini seperti dunia lain, tempat di mana ia bisa bernafas tanpa tekanan.
Suatu sore, Rangga duduk di teras sambil memeriksa buku catatan kecil.
“Ini apaan?” tanya Aruna yang baru datang, sambil meletakkan kantung sayur.
“Daftar utang,” jawab Rangga santai. “Waktu saya di rumah sakit, beberapa teman bantu bayar biaya harian. Sekarang saya hitung buat diganti nanti.”
Aruna menatapnya. “Kamu masih mikirin itu?”
“Ya iya. Saya nggak enak udah ngerepotin orang. Termasuk kamu.”
Aruna menghela napas. “Saya nggak pernah anggap itu repot, Rangga.”
Rangga menatapnya sekilas, lalu menunduk. “Tapi saya tetep harus balas budi. Saya nggak enak kalo terus-terusan ditolong tanpa bisa ngelakuin apa-apa.”
Suara Aruna melembut. “Kalau kamu mau balas, cepat sembuh. Itu aja udah cukup buat saya.”
Kata-katanya sederhana, tapi membuat d**a Rangga hangat entah kenapa. Ia tidak terbiasa ada orang yang peduli sejauh itu.
Beberapa minggu kemudian, luka Rangga mulai sembuh total. Ia bisa berjalan tanpa tongkat, walau masih agak pincang kalau terlalu lama berdiri. Aruna ikut senang, tapi dalam hati, ada sedikit rasa aneh.
“Kalau kamu udah bisa kerja lagi, saya nggak bisa sering ke sini, dong,” katanya sambil tersenyum tipis.
Rangga mengangkat alis. “Kenapa? Nggak boleh main ke rumah orang yang udah sembuh?”
“Bukan gitu, cuma saya kan biasanya dateng buat bantu.”
“Ya terus sekarang bantu jadi teman ngobrol juga boleh, kan?”
Aruna terkekeh. “Kamu banyak alasan, ya.”
“Kalau alasan buat biar kamu tetep dateng, saya punya banyak,” jawab Rangga sambil menatapnya lurus.
Tatapan itu membuat Aruna gugup sejenak. Ia mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk membereskan piring.
“Udah sore, saya pulang dulu, ya. Ibumu udah saya buatin makan malam.”
Rangga menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu pagar. Di dadanya muncul perasaan aneh, sesuatu yang baru, hangat, tapi juga menakutkan.
Sementara itu, di sisi lain kota, Andre pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sepi. Tak ada Aruna di ruang tamu. Tak ada aroma masakan dari dapur. Ia menatap jam tangan, lalu menghela napas kesal.
“Ke mana lagi dia ini?” gumamnya.
Ia menyalakan rokok dan duduk di sofa. Sejak pertengkaran terakhir, hubungan mereka makin renggang. Andre memang bersikap lebih diam, tapi dingin. Aruna jarang bicara, dan kalau bicara pun, hanya seperlunya.
Aruna selalu punya alasan kalau ditanya pergi ke mana, katanya ke pasar, ke rumah teman, atau jalan sore. Andre tak pernah benar-benar peduli, selama Aruna tidak membuatnya malu di depan keluarga.
Tapi malam itu, saat Aruna pulang dengan wajah kelelahan dan aroma dapur masih menempel di bajunya, Andre sempat menatap curiga.
“Kamu dari mana?”
“Dari luar. Ada urusan,” jawab Aruna singkat sambil menaruh tas.
“Urusan apa?”
“Biasa, bantu teman.”
Andre mendengus kecil. “Teman? Teman yang mana? Aku bahkan nggak tahu kamu masih punya teman.”
Nada sindiran itu menusuk, tapi Aruna hanya diam. Ia terlalu lelah untuk menjelaskan.
“Udah malam, Mas. Saya mau mandi.”
Ia berlalu ke kamar, meninggalkan Andre yang masih menatap punggungnya dengan tatapan penuh curiga.
Beberapa hari berikutnya, Aruna tetap datang ke rumah Rangga.
Bagi Rangga, itu sudah jadi kebiasaan yang ia tunggu-tunggu.
Bagi Aruna, itu jadi satu-satunya tempat di mana ia merasa berarti.
Ia tahu yang ia lakukan salah, datang diam-diam, berbohong soal statusnya, menyembunyikan kehidupan sebenarnya. Tapi entah kenapa, ia tak bisa berhenti.
Ada sesuatu tentang Rangga dan rumah kecil itu yang membuatnya terus ingin kembali.
Dan tanpa mereka sadari, hubungan yang awalnya dibangun karena rasa bersalah perlahan berubah jadi sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang nanti akan membawa mereka berdua ke arah yang tak pernah Aruna bayangkan sebelumnya.