Kemewahan Terakhir, Idealisme

2103 Words
Saat ini selain sebagai pendiri LSM Rangka Karya, pria yang akrab kusapa Bang Hendra ini juga menjabat sebagai staf ahli kementerian membantu segala tugas dari Hartedjo Winoto. Seiring waktu berjalan, Hartedjo Winoto mampu menunjukkan geliat politiknya dengan memenangkan calon presiden yang diusung PHS, partai besutannya. Sebagai timbal balik atas usahanya, Hartedjo Winoto dipercaya oleh presiden menduduki jabatan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Bang Hendra sebagai orang dekat dan selalu membisikkan langkah politik taktis kepada Hartedjo pun diminta untuk membantu tugas begawan ekonomi itu di kementerian yang dipimpinnya. Ia ditunjuk menjadi staf ahli kementerian pada jabatan non struktural. Artinya bebas tugas dari status ASN (Aparatur Sipil Negara). Sejak dahulu aku mengenal Bang Hendra, dirinya memang tegas untuk persoalan prinsip kehidupan. Dia ingin menjadi manusia bebas katanya, aku sedikit mengernyitkan dahi ketika kata itu keluar dari mulutnya. Tidak ada bebas dalam arti yang sebenarnya, kita bahkan selalu terkungkung pada lekatnya identitas diri kita, justru semakin kita merasa bebas, semakin pula jiwa kita terpenjara. Kesejatian kita dalam memaknai kebebasan tentu bukan perkara bisa menentukan sikap secara merdeka, tetapi menunjukkan pada dunia, bahwa diri kita tidak memiliki batasan. Namun bagaimanapun prinsip hidup seorang Bang Hendra berjalan, ia sampai sekarang cukup konsisten untuk merengkuh kebebasannya sendiri. Terkadang aku iri padanya, ia begitu hebat, pintar, terpandang dan memiliki segalanya. Aku pun beruntung bisa banyak bekerjasama serta belajar padanya, termasuk belajar dalam mencapai kebebasan seperti apa yang fikiranku katakan. Senja Utari sebagai sekretarisnya juga merasa nyaman bekerja bersama Bang Hendra. Walaupun latar belakang Senja berbeda denganku, Bang Hendra dan anggota LSM lainnya yang rata-rata adalah aktivis organisasi. Kemauan Senja untuk terus belajar membuat tak ada kesulitan berarti dalam melaksanakan tugas. Ia juga dipercaya oleh Bang Hendra untuk mengurus segala persoalan teknis mengenai pekerjaan, terutama agenda LSM yang kami bangun bersama. Senja memiliki latar belakang keluarga yang cukup baik secara ekonomi, dalam langkah akademis, ia mengambil jurusan sekretaris pada salah satu universitas ternama di Jakarta. Berbeda dengan kebanyakan anggota LSM yang merupakan anak dari keluarga menengah ke bawah. Senja adalah anak kandung kota metropolitan. Hal itu diceritakannya beberapa waktu setelah masuk LSM kepadaku. Kehidupannya serupa dengan gadis perkotaan yang seolah tak perduli pada keadaan. Mereka hanya perduli soal kecantikan, cara bersenang-senang, menghabiskan uang tanpa tujuan, dan mengunggulkan pesolek diri di sosial media. Senja telah banyak belajar kini, ia tak lagi seperti dahulu, kepekaan sosialnya mulai tumbuh seiring hati dan fikirannya membesar, berpadu untuk mengatasi persoalan kemanusiaan. Sejak Senja datang menghampiriku di cafe ini, beberapa saat aku melihat gerak geriknya, ia terduduk begitu saja tanpa tegur sapa. Sore hari yang hangat berganti menjadi dingin atas kelakuannya. Jarang sekali ia seperti ini kecuali pada keadaan yang mendesak dan membuatnya tertekan. Aku pun enggan menyapanya dengan kalimat basa-basi seperti yang kerap terjadi pada cara orang-orang berkomunikasi. Sekilas, Senja melirik padaku sambil merapikan ikat rambut pada ikalnya juntai hitam sebahu. Tak lama, ia memeriksan berkas-berkas yang tadi dibawanya dan lalu membolak-balik kertas-kertas itu. Dengan serius tanpa basa-basi sebagai awal pertemuan ia bersuara, memintaku menaruh perhatian pada dirinya. “Raka, Bang Hendra minta ini dibereskan segera. Dia tadi menanyakan keadaanmu, menurutnya kamu tidak biasa mengerjakan tugas seberantakan ini,” disampaikan Senja padaku dengan menyodorkan satu bundel kertas sambil dirinya masih sibuk memeriksa berkas di atas meja kami. Terlihat tangan dan matanya tidak begitu padu, entah apa yang sedang dicarinya. “Hei, kamu dengar aku?” ucapnya lagi menyusul perkataan sebelumnya karena masih tidak mendapat tanggapan dariku. Ada yang tak berubah, mata dan tangannya masih tak berhenti mencari di antara tumpukan file kerja. Aku tak kunjung menjawab pertanyaannya, mataku masih lekat pada gerak tangan yang sedang mencari. Aku ingin Ia menatapku, sebentar saja. Hingga aku yang harus berulah meminta perhatian dengan cara mendiamkannya. Tak tahan, aku akhirnya harus berbicara juga.   “Kamu ini memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Tapi kenapa untuk sekedar berbicara saja kamu tidak menghargai lawan bicaramu?” jawabku menimpali apa yang disampaikannya sambil mengambil kertas yang diberikannya padaku tadi. Ia menghentikan aktifitas mencari tumpukan kertas di depan matanya. Dilipat perlahan seluruh file itu, menutupnya rapi lalu diletakkan pada kursi kosong di sebelahnya. Dengan nafas yang agak berat dan diawali oleh batuk kecil, Ia menatapku tajam. Kali ini sepertinya Senja sedang tidak bisa diajak untuk berdamai dengan keadaan. “Kamu tahu, deadline kita hanya tinggal satu minggu. Aku harus urus segalanya, mulai dari dokumen keberangkatan, verifikasi data, mengatur jadwal kalian, sampai persoalan menjadi narahubung antara kamu, Bang Hendra, dan pihak kementerian,” tegasnya sambil menatap kesal padaku. Aku memahami tekanan yang disampaikannya, apalagi ini adalah soal pekerjaan. Senja memang tidak pernah bisa diajak berkompromi kalau persoalan profesionalitas. Bagiku, ia adalah hasil pabrik pendidikan yang menjadikan manusia bak robot macam revolusi industri di Eropa. Menganggap segalanya kaku, harus diselesaikan dengan pencapaian indikator yang sesuai target, jika tidak, maka sia-sialah modal yang telah dikeluarkan. Sungguh menjemukan. Beruntung Senja masih punya hati walaupun fikirannya terlabel mesin hasil pendidikan. Aku jelas mengenalnya tidak dalam waktu satu atau dua hari, aku mengenal Senja sudah cukup lama. Sekitar 2 tahun lalu ketika Bang Hendra mengenalkan Senja untuk membantu menjadi sekretaris pribadinya. Sejak itu, aku selalu memiliki rutinitas komunikasi dengan Senja. Aku sendiri pada awalnya cukup heran. Gadis seanggun Senja kenapa tidak memilih bekerja di bank atau tempat lain yang memiliki pendingin ruangan dan menjanjikan gaji selangit. Pertanyaan itu tidak pernah terjawab melalui mulutnya, namun Ia menunjukkan kebahagiaan sebagai seorang manusia ketika bersama kami menjelajahi setiap jejak sudut-sudut desa tertinggal di berbagai wilayah negeri ini. Aku menemukan ketulusan di dalam hatinya dan getir kemanusiaan yang membawanya berada di titik ini. Hal itu pula yang membuatku memendam rasa kepada Senja, sekira satu tahun belakangan ini. Kami semakin dekat karena pekerjaan menuntut kami untuk erat. Bang Hendra jarang berada di kantor LSM, secara otomatis akulah yang menahkodai giat operasional pekerjaan di LSM ini. Senja membantuku dalam segala hal, Bang Hendra juga telah menisbahkan agar Senja berfokus di LSM bersamaku dan tak perlu terlalu sering menguntitnya di kantor kementerian. Pada akhirnya, kebersamaan menyusun segala cerita menjadi partikel kehidupan baru nan bahagia, aku sebut itu cinta. Walaupun begitu, aku masih tidak siap jika harus menyatakan bentuk perasaanku kepada Senja. Aku mempertimbangkan LSM yang secara profesional kami bangun bersama, Bang Hendra, Senja, kawan-kawan yang terlibat di dalamnya termasuk diriku. Hubungan ini akan penuh tantangan jika benar diikrarkan pada kehidupan kami berdua. Jelas soal perasaan bukan hanya keyakinanku saja. Senja dalam bingkai yang tersirat juga nyatanya memendam kekaguman padaku. Itu yang dikatakan Erik, Sinta, Hikam, Wahyu, dan teman lainnya di dalam LSM Rangka Karya. Senja seringkali menanyakan pribadiku pada mereka. Sahabat baikku, Erik yang tergabung di LSM ini juga selalu mendukungku untuk menjalin hubungan dengan Senja. Semakin rasa ini ditekan, tampaknya semakin pula membuncahkan keinginan. Aku melanjutkan dengan perlahan membaca kertas-kertas yang diberikan oleh Senja tanpa menghiraukan ocehannya atas sikapku barusan. Ia masih tidak terima saat aku mengatakan tidak tahu cara menghadapi lawan bicara. Tapi jika ucapannya aku sanggah kembali, kami akan bertengkar di sini. Dan itu kondisi yang tidak baik. Senja memiliki karakter yang cukup keras kepala, tetapi memang rasanya keras kepala dimiliki hampir semua manusia, termasuk perempuan sebagai salah satu jenisnya. Terkadang perempuan benci jika disanggah, didebat apalagi dipertanyakan kebenaran yang keluar dari rasa marahnya. Cukup dengar hingga mereka puas berkelakar. Aku menggumam sejenak, berkata dengan perlahan hingga Senja mengerti jika ia harus menyudahi rasa marahnya padaku, “Pertama saya minta maaf soal tadi. Kamu datang tanpa permisi, duduk di hadapan saya, tidak memberikan tegur sapa, langsung memberikan kertas ini. Kedua, tolong sampaikan pada Bang Hendra, beri saya waktu satu hari sampai besok sore untuk memperbaiki semua hal ini,” tegasku dengan memampangkan kertas yang kupegang lalu menunjukkan ke hadapannya. “Tiga tahun aku mengenal kamu, masih tidak berubah, tetap saja menjadi pria yang misterius, sangat dingin dan susah dimengerti. Tampak setia ya kamu pada persona itu,” jawabnya menimpaliku.   “Oke lupakan soal marahku padamu tadi. Lalu, kenapa kamu tidak langsung saja menyampaikan itu pada Bang Hendra, kenapa harus lewat aku? Kalau kamu mau berkomunikasi dengan Bang Hendra dan tidak menambah beban kerjaku, aku tidak akan serepot ini,” lanjutnya dengan wajah serius. Hubunganku dengan Bang Hendra memang sedang tidak baik akhir-akhir ini. Tidak ada yang mengetahui permasalahan antara aku dan pendiri LSM Rangka Karya itu di kantor. Akupun jarang ke kantor beberapa minggu ini, mungkin sudah sekitar 3 minggu. Tampaknya akan lebih baik mengerjakan segalanya di rumah, atau di cafe ini. Terlihat lebih tenang jika harus berangkat ke kantor kemudian bertemu dengan Bang Hendra dan kami berdebat kembali. Mengenai apa perdebatan kami, itu adalah soal yang prinsipil bagiku. Dan Bang Hendra setidaknya mengetahui, aku sedang mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu jauh mengambil peran, apalagi sampai bersikap layaknya oportunis. Itu bertolak belakang dengan jati diri dan identitasnya selama ini. Bang Hendra bersikukukuh tetap pada pendiriannya bahwa sikapnya sudah benar. Ia juga berakhir pada kesimpulan jika aku tak lebih dari seorang anak kecil yang masih belum mengerti apapun, bahkan tentang penderitaan dan perjuangan. Pertanyaan Senja tidak pernah menemui jawabannya, aku sedang tidak ingin membahas itu dengan siapapun, termasuk dengan Senja, orang terdekat Bang Hendra di LSM, setelahku tentunya. Aku mendiamkannya sambil berpura untuk terus membaca kertas yang diberikan Senja padaku. Jika sudah seperti ini, Senja juga memahami bahwa aku sedang menutupi sesuatu, itu sekaligus mengartikan permasalahan yang ada cukup serius, dan biasanya hanya mampu diselesaikan oleh diriku sendiri serta orang yang terkait dengan masalahku. Beberapa kali aku dirasanya sedang dalam kondisi berbeda, ia akan habis asa untuk mendesakku bercerita, pada waktunya Senja mengetahui, aku akan bercerita jika aku butuh didengarnya untuk bercerita, sesederhana itu. Gadis mungil berambut lurus itu pun pamit, tidak hendak menikmati kopi sorenya bersamaku kali ini. Padahal aku tahu, ia sangat menyukai macchiato di tempat ini, menurutnya dengan ramuan yang tepat dari penyaji, rasa getir kopi tidak hilang walaupun dengan tambahan s**u dan sedikit gula. Dengan begitu ia akan menikmati macchiato tanpa harus kehilangan rasa asli dari biji kopi yang getir dan masam. Saat meminumnya pun membuatku sungguh merindu, seperti di lereng pegunungan, Senja akan mendekap cangkir kopi dengan kedua telapak tangannya. Ia sangat suka kehangatan pada cangkir kopi itu. “Baik, aku memahami kalau kamu sedang tidak ingin menceritakan apapun. Simpan saja ceritamu bersama keegoisan dirimu. Jika sudah sadar bahwa manusia membutuhkan manusia lainnya, kamu bisa hubungi aku kapan saja. Aku pamit, hari ini ibuku menelfon meminta pulang lebih awal untuk makan malam bersama ayah di rumah,” serunya sambil membereskan barang bawaannya, ada beberapa kertas dan dua pulpen yang terlanjur dikeluarkan dari tasnya. “Mau saya antar?” tanyaku mencoba sedikit meredakan ketegangan antara kami.  Aku tahu Senja tidak nyaman bersama dengan diriku yang seperti ini. Jika sudah terbenam dalam keegoisan, aku bisa menjadi makhluk paling sinis sedunia. Kata-kataku pun bisa menjelma menjadi seruan paling s***s yang hendak menyayat hati siapapun, bahkan itu Senja. “Tidak usah,” jawabnya ketus. “Kamu tetap saja bersama lamunanmu, lagipula lagu Bon Iver ini cukup untuk menemani imajinasimu. Aku takut kamu justru terbawa keadaan di tengah waktu padat lalu lintas begini. Aku tidak mau mati konyol bersama pria yang sedang termakan egonya,” sambil berlalu dengan tatapan mata yang tak kalah tajam dari anak panah Robin Hood. Sejauh telinga mendengar alunan suara Bon Iver menuju senja di sore hari, aku hanya mampu melihatnya melangkah keluar bersamaan dengan terdengarnya derit pintu kayu yang menutup perlahan. Tak ada keinginan untuk mencoba menahan kepergiaannya, tak ada pula usaha untuk memperbaiki senyumannya. Kutolehkan lagi pandanganku menuju daun jendela bercat cokelat dengan rangka pernis mengkilat. Di ujung sana matahari sudah semakin menampakkan pesonanya, tak kalah indah dengan rupa wanita yang bersamaku barusan. Serupa Senja, mentari yang mulai memenuhi batas cakrawala, kemilau jingganya terasa membahagiakan. Ia datang bersisian dengan kepergian Senja Utari, wanita yang entah sejak kapan mampu mencuri sekat hatiku, membangun harapan di ruang terdalam fikiranku, hingga sampai menghabiskan hari-hariku bersama lamunan yang semakin membiru. Sementara itu, di balik langit, sinar jingga itu telah berpendar, menyeruak ke balik awan yang berarak. Perjalanan hari ini sudah cukup melelahkan untuknya, mentari akan kembali lagi esok, melintasi langit yang sama dengan wajah yang juga serupa. Mentari tiada lelah berotasi, memberikan cahaya sebagai energi yang menghidupi. Bersamanya, tumbuhan menjelma menghijaukan panorama dan air laut membiru membiaskan gelombang cahaya. Adakah yang lebih indah dari rupa mentari menjelang detik-detik terakhirnya meninggalkan sebelah bumi? Kulihat ke bawah, Senja menolehkan wajahnya ke arahku duduk, dengan raut wajah kesal ia membuka pintu kendaraan yang dikemudikannya sendiri. Nampak dari kejauhan, Senja mendenguskan sedikit nafas, dan masuk ke dalam mobilnya. Aku membayangkan, memang betapa mengesalkannya aku. Tidak pernah mampu berucap bahagia bahkan menciptakan senyum sungging di bibir wanita yang kucinta. Tapi itu yang kukira semakin mendekatkan Senja padaku. Ia yang terbatas, seolah tak memiliki batas untuk menjadi dirinya sendiri, bahkan menumpahkan segala pekat emosinya pada hari-hari yang pernah ia lalui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD