Siapa Kongsi Siapa

1335 Words
Waktu adalah kenangan, bisa juga menjadi masa depan, tetapi yang selalu kita hadapi adalah waktu bersama kenyataan. Bentuknya hanyalah perputaran, dari arah dua belas kembali ke dua belas lagi. Begitu seterusnya sampai bosan menanti, sampai Tuhan berkata mati. Tetapi waktu adalah denyut nadi kehidupan, bersamanya lintasan-lintasan perjalanan didapatkan, sebagian meninggalkan kesan, sebagian menitipkan pesan. Tak lama mentari terbenam sekira satu jam kepergian Senja, aku berniat untuk kembali ke rumah, menyelesaikan pekerjaanku yang tadi diberikan Bang Hendra melalui Senja. Belum sempat aku terbangun dari kursi, ada pesan masuk ke telefon selulerku, kulihat dari Senja. Aku urungkan sejenak niatku untuk beranjak dari sini. Aku mencoba menebak untuk apa ia mengirimkan pesan ini, adakah yang tertinggal di sini selain rasa sebal padaku? Bukan, tak ada yang tertinggal, bahkan secarik kertas pun. Aku membuka pesannya, dan Ia hanya berujar, “Maaf, soal tadi barangkali aku yang egois.” Aku tutup kembali telefonku, tanpa mencoba membalas pesannya barusan. Aku merasa bersalah, memang sepatutnya perasaan ini yang menghinggapiku. Aku lupa bagaimana cara memahami perempuan, sejak saat itu. Senja adalah perempuan pertama yang berkali-kali mencoba menenangkanku setelah rasa terkhianati datang menghampiri. Ia dan jiwanya merasuki alam bawah sadarku dengan keceriaan, tawa gembira sekaligus tangis atas kedukaan. Segalanya tidak pernah ada yang ia tutupi. Aku jatuh cinta pada caranya membuka diri padaku, tetapi hingga saat ini aku tak pernah bisa lebih jauh membuka diri sepenuhnya pada ia. Aku rasa itu tidak adil, segala tentang Senja telah menggenapi kehidupanku, tetapi justru aku yang kini membuahinya dengan perasaan ganjil. Sesaat tadi aku berbicara dengan keangkuhanku, ada dering telefon berbunyi memanggil. Aku lihat itu panggilan dari Bang Hendra. Tidak biasanya Ia menelfon, apalagi waktu masih sore. Kalaupun Bang Hendra menelfon, biasanya dilakukan tengah malam, diantara jam 11 sampai jam 3 pagi. Terlebih aku sudah hampir 2 minggu tidak berkomunikasi dengannya. Aku agak tersinggung ketika Bang Hendra ikut menyetujui proyek pembebasan lahan dan hutan konservasi untuk pabrik semen di Bogor, di bawah kaki Gunung Salak, tak jauh dari pegunungan kapur. Kebetulan untuk urusan sosialisasi serta relokasi masyarakat di sana diserahkan oleh presiden kepada Hartedjo Winoto selaku Menko Kesra dan lembaga kementerian yang berada di bawah koordinasinya. Tak pelak lagi, urusan menyingkirkan masyarakat diserahkan kembali pada Bang Hendra sebagai bawahannya. Bang Hendra menyanggupi permintaan Hartedjo. Menurut Bang Hendra, proyek ini akan membantu PHS yang sedang kesulitan dana, apalagi menjelang Pemilu tahun depan. Ia mau tidak mau harus menyetujui proyek dengan nilai investasi triliunan rupiah itu. Dari nilai investasi sebesar itu, bisa dipergunakan 10% sebagai fee jasa kementerian untuk masuk ke rekening partai menurutnya. Tetapi itupun tidak utuh karena masih harus dibagi ke beberapa pihak. Tentu persoalan fee seperti itu ada di balik meja, mereka melakukan penyusunan anggaran dengan melebihkan jumlah yang harus dialokasikan, tak terkecuali bagi sektor swasta yang hendak menyalurkan investasi. Aku menolak dengan keras ketika Bang Hendra memintaku datang ke sana dan membujuk warga masyarakat agar mau mengikuti kemauan pemerintah. Bang Hendra mengetahui jika aku mengenal dengan baik masyarakat di sana. Daerah yang hendak dirubah menjadi timbunan debu itu adalah salah satu tempat favoritku, aku suka menghabiskan waktu sendiri di sana jika kota membawaku pada kejemuan. Jika memenuhi apa yang diminta oleh Bang Hendra, jelas aku tak akan pernah tega menggadaikan surga bumi di tempat itu. Sudah tergambar di kepalaku bagaimana timbunan limbah dan kehancuran pegunungan kapur yang menahan laju air untuk diendapkan di dalam tanah akan merubah segala keadaan di sana. Dalam pertemuan itu, sempat aku berkata kasar dengan mengecap Bang Hendra sebagai p*****r idealisme, tetapi Ia tidak membalas bahkan sama sekali tidak menunjukkan luapan emosi di hadapanku. Soal cara membujuk orang dan melakukan lobby, Bang Hendra sudah seperti infiltrator profesional, tetap dingin meskipun didesak untuk bisa meletupkan amarahnya. Menanggapi kemarahanku saat itu, ia hanya mengambil secangkir air putih dingin, menaruh di depan mejaku dan lalu menatap mataku dalam-dalam. Jika sudah begini, Bang Hendra dapat dipastikan berhasil menguasai situasi. Aku kalah dalam persoalan ketenangan menghadapi persoalan, hanya kalah pengalaman. Lalu perlahan Ia meyakinkanku dengan segudang alibi yang tentu aku tidak pernah mau mengetahui persoalan itu. “Tahu apa kamu soal perjuangan dan ideologi, semua sudah sepantasnya berada. Termasuk kamu dan saya yang sudah pantas berada di ruangan ini membicarakan nasib orang-orang di luar sana. Sekarang negara kita butuh pertumbuhan ekonomi dengan mengundang banyak investor. Ada investor yang tertarik menanamkan modal dengan jumlah besar, lalu apa kita akan tolak itu? Tidak mungkin. Presiden juga sudah mengarahkan menterinya untuk mengeksekusi segala kebutuhan investor di sana,” ungkap Bang Hendra sambil menyalakan lalu menghisap sebatang lisong, persis seperti Don Juan ala kartel n*****a di Amerika bagian selatan. Hanya saja Bang Hendra tidak menggunakan stelan jas necis serta sepatu kulit yang mengkilat. “Itu berbicara negara, mengenai kita, kamu tahu kalau ada anggaran investasi yang bisa digunakan. Semacam fee anggaran untuk memuluskan investasi. Menjelang Pemilu seperti sekarang partai butuh anggaran besar. Kita butuh mendistribusikan banyak anggaran ke daerah. Saya dan Hartedjo memiliki pandangan yang serupa kalau proyek ini akan bisa memberikan keuntungan bagi PHS,” sambungnya. Aku bersikeras menganggap bahwa proyek itu bertentangan dengan semangat perjuangan Rangka Karya dan juga ideologi pro lingkungan yang selama ini kami anut. Bagiku, atau bagi kami seharusnya, pembangunan tidak melulu harus meluluhlantakkan tatanan kehidupan, justru pembangunan haruslah memberikan arti bagi kehidupan. Itu yang pernah dikatakan Bang Hendra padaku. “Abang lupa pernah berkata di kaki Gunung Salak sewaktu memperhatikan Bogor dari pinggir tebing di Pamijahan? Saat itu abang mengatakan, udara yang kita hirup, air yang kita hisap, atau sinar mentari yang kita dekap adalah anugrah semesta. Mereka sekarang mulai lelah menghidupi manusia akibat telah terebut tempatnya b*********a dengan bentala. Sebentar lagi, hutan di belakang kita akan seperti rimbunan beton di bawah sana. Tugas kita melindunginya, memberi ruang dan memastikan mereka masih ada sampai kita meninggalkan dunia. Sekarang abang sendiri yang ingin meruntuhkan, merusak, menghancurkan kehidupan di sana,” seruku mencoba menanggapi apa yang disampaikan Bang Hendra sebelumnya. Aku mencoba tetap tenang, tidak gusar dan sebisa mungkin tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan padanya. Aku takut jika harus menyakiti perasaan orang lain, siapapun itu.   Bang Hendra kembali menanggapi dengan dingin seruanku, ia tak bergeming, tidak merasa bersalah juga tidak merasa takut sedikitpun dengan apa yang pernah disampaikannya. Ia kemudian mengusirku secara halus dari ruangannya, perdebatan kami tidak pernah menemui akhir pada saat itu. Aku pun enggan untuk meminta maaf dan menarik ucapanku atasnya dalam perdebatan kami tadi. Bang Hendra juga tidak kalah egois sebagai kakak sekaligus senior yang pasti sudah lebih memahami harus bersikap seperti apa guna mengobati rajukan anak kecil yang menceramahinya barusan. Bang Hendra mematikan lisong di ujung jarinya yang hanya tinggal filter busa untuk menyaring asap yang hendak masuk ke paru-paru meracuni diri dan hidupnya. Lantas ia berdiri, sambil tatapannya tak pernah lepas ke arah mataku. Ditatap seperti itu membuatku salah tingkah. Ternyata tidak hanya saat ditatap wanita yang dapat membuat diri ini menjadi ambigu, tetapi tatapan lelaki yang sedang memendam kekecewaan ternyata jauh lebih menakutkan. Seolah ia siap menerkam, tetapi dalam persoalan ini, aku tidak takut menjadi santapan seorang pria yang tengah kelaparan akan pengakuan. Tidak selamanya apa yang diajarkan senior selalu benar, jika salah aku tak ragu untuk menentangnya. Tentu bukan tanpa resiko, namun dibanding harus melawan kehendak diri dan hati nurani, aku lebih baik hilang tanpa arti. “Oke saya rasa pembahasan kita cukup sampai di sini. Apa yang kamu sampaikan sudah saya tangkap, akan saya cari orang lain untuk melakukannya. Proyek itu bagaimanapun juga harus berjalan, ini persoalan yang besar dan tidak mungkin anak kecil sepertimu memahami betapa besarnya masalah seperti investasi dan pembangunan,” tegas Bang Hendra. Kali ini sudut matanya merasakan kekalahan. Ia mulai mengalihkan pandangan pada ujung daun pintu di salah satu sudut dinding ruangannya. Mulutnya tidak banyak mengartikan keadaan, tetapi intonasi suara beserta gestur tubuh yang menekan atmosfer ruangan mulai membekapku dalam rasa ketidaknyamanan. “Baik bang, saya ucapkan terimakasih atas waktu luangnya dan pelajaran yang abang berikan hari ini. Memang idealisme hanya khayalan dari filsuf-filsuf pengangguran. Harusnya mereka tidak pernah hidup agar fikirannya tidak mewarisi gangguan bagi arus modal dan timbal balik keuntungan. Saya pamit bang,” ucapku sambil bergegas keluar pintu ruangan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD