Terbentur, Terbentur, Terbentuk

1651 Words
Setelah kejadian itu, kami tidak pernah lagi berkomunikasi bahkan untuk urusan LSM. Bang Hendra lebih banyak menghubungi Senja jika ingin memberikan pekerjaan untuk kegiatan LSM. Sudah 2 minggu rutinitas seperti itu berlangsung, hingga tadi Senja penasaran dan mencoba menggali peristiwa yang terjadi padaku dan Bang Hendra. Namun aku tidak pernah mengungkapkan, biarlah persoalan ini menjadi kenanganku sendiri, betapa aku telah menang mempertahankan prinsip yang kini menjadi pendamping setiaku. Bunyi telefon itupun berhenti berdering seketika, aku sengaja tidak mengangkat telefon Bang Hendra hanya karena tak ingin egonya terbunuh secara menyakitkan. Kalaupun seseorang harus mengalah padaku, aku tak ingin ia merasa bahwa aku orang yang sungguh menyebalkan. Aku ingin ego mereka juga diberi makan yang cukup, sehingga tidak ada yang merasa menjadi pecundang begitu saja. Sesaat berlalu, aku menelefon balik Bang Hendra. Dari ujung telefon terdengar suara lelaki begitu parau menyapaku dengan resonansi yang sudah akrab kudengar. “Halo, Raka, apa kabar kau?” sambut pria yang menelfonku mengawali pembicaraan. “Baik bang. Maaf tadi tidak terangkat, saya tidak bunyikan suaranya bang,” ucapku membalas sapaanya. “Tidak masalah, bagaimana sudah menerima draft perbaikan proposal dari Senja?” “Sudah bang, malam ini bisa saya selesaikan.” “Tidak perlu terburu-buru Raka, founding program itu sedang berada di Amerika untuk urusan bisnis. Baru kembali minggu depan, tadi sudah saya atur jadwal setelah ia kembali ke Indonesia untuk kita presentasikan bersama. Tapi saya tunggu revisinya 3 hari lagi ya, jadi kalau ada kesalahan masih ada jeda waktu untuk perbaikan.” “Baik bang. Mmm... Bang, soal permasalahan itu, saya minta maaf bang. Saya tidak bermaksud....,” dengan cepat Bang Hendra memotong pembicaraan mengenai rasa sesalku dan seolah semuanya tidak pernah terjadi. Termasuk tidak adanya komunikasi selama dua minggu belakangan ini. “Ah, sudahlah. Biasa itu Raka, tidak perlu ada yang dimaafkan dan dikhawatirkan. Bagaimana kondisi LSM?” tanya Bang Hendra coba mengalihkan pembicaraan. “Baik bang, semuanya dalam kondisi baik. Bukankah abang juga selalu menerima laporan dari Senja?” “Iya, barangkali tidak selengkap apa yang Senja laporkan. Baguslah kalau baik. Saya harap masih banyak hal yang bisa kita kerjakan bersama Raka. Kalau begitu sampai bertemu 3 hari lagi ya, jam 9 pagi di kantor saya,” Bang Hendra mengakhiri pembicaraannya dan menutup telefon tanpa aku bisa menyampaikan banyak hal padanya. Tetapi itu pun sudah cukup untuk bisa meredakan ketegangan antara kami. Bang Hendra tampaknya juga sedikit khawatir jika proyek ekspedisi literasi nasional tidak terlaksana. Pasalnya, program ini merupakan pekerjaan rutin kementerian yang dikelola oleh Hartedjo Winoto serta Bang Hendra berada di dalamnya. Hanya saja, kami di LSM Rangka Karya mencoba memodifikasi teknis program yang diajukan agar lebih efektif dan efisien dirasakan masyarakat manfaatnya. Untuk beberapa poin teknis sudah disetujui oleh Bang Hendra dan Hartedjo, hanya tinggal persoalan anggaran yang menjadi tanggung renteng bersama antara negara serta pihak swasta belum menemui titik temu. Kami berkali-kali melakukan kompromi dan pemotongan anggaran agar tidak begitu memberatkan pihak swasta. Mudah-mudahan perbaikan yang terakhir ini tidak lagi mengalami perubahan. Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, aku melihat ke sekeliling sudah banyak orang-orang sepulang beraktifitas yang menghabiskan waktu sebentar bersama teman-temannya ke cafe ini. Lagu-lagu sedari sore tadi ikut menemaniku di sini juga sudah nyaris tidak terdengar gaungnya, tertutup oleh suara berbisik tamu cafe. Suara mereka begitu rapat dan tidak ada sela bagiku untuk menikmati kesyahduan lagu-lagu yang diperdengarkan di cafe ini. Aku pun memutuskan kembali ke rumah setelah tadi tertunda. Keramaian tidak pernah memberiku rasa nyaman. Di luar tampak gemericik hujan gerimis, padahal sedari tadi sore cuaca cerah menaungi atap bumi. Tapi tak ada pilihan, lagipula bagiku hujan adalah sahabat kehidupan. Di dalamnya ada kesejukan yang membantu menghapuskan sejenak jejak kesedihan. Aku memacu sepeda motorku dengan cukup kencang, jalanan menuju rumah sedikit terlihat lengang. Mobil-mobil pun tak kalah bahagia beradu cepat di jalan yang tak padat. Di pinggir jalan, di bawah jembatan penyeberangan, di bawah atap-atap rumah yang menjorok ke haluan, pengendara sepeda motor banyak yang berteduh. Menyerah pada gemericik hujan. Jarang kudapati ada sepeda motor yang berlalu lalang dengan bebas. Aku lagi-lagi hanya sendiri di jalan ini, berteman dengan lampu jalan yang tak juga kalah sepi. Pendar cahayanya terbias pada basahnya aspal jalan, membuat malam semakin remang. Di samping keremangan berdiri kegamangan, menanti tanya yang tak kunjung menemukan jawaban. Hidup adalah keberanian, jalani saja. ** Sesampainya di rumah, kudapati ibu sudah tertidur lelap di kamarnya. Tidak ada gema suara televisi dari kamar menandakan bahwa ibu memang sudah menikmati mimpinya. Biasanya ibuku selalu menunggu aku pulang, walaupun itu hingga tengah malam dan selama ini aku memegang kunci rumah yang digandakan olehnya. Tetapi aku tahu, Ia hanya ingin memastikan jika aku tidak lupa jalan pulang sampai Ia harus menunggu seperti itu. Malam ini mungkin ibu sudah terlanjur lelah mengerjakan segala pekerjaan rumah dari pagi buta hingga menjelang tubuh ringkihnya menyerah pada debu-debu yang berterbangan. Aku memasuki kamarku yang sering aku sebut sebagai ruang imajinasi. Walaupun aku pria dan masih sendiri, aku termasuk karakter yang tidak suka jika kamarku berantakan. Itu bisa mengacaukan kondisi jiwaku, hanya saja sejak tadi aku tinggalkan memang beberapa buku masih berserak dan di sudut ruangan, gelas-gelas kopi yang saban hari ku minum masih betah di pojokan. Ibuku tidak pernah merapihkan kamarku. Aku yang meminta dengan alasan, aku tidak mau susunan kamarku berubah dan jika aku mencari apa-apa di kamar ini, akan susah mengingat tempat di mana aku meletakkannya. Itu hanya alasan, karena sebetulnya aku tidak ingin merepotkan dirinya. Minimal aku bisa bertanggungjawab dengan apa yang terjadi di kamarku sendiri. Walaupun sudah tidak kuizinkan untuk merapihkan kamarku, jika aku pergi ibu selalu membersihkan debu-debu di lantai, ia ingin menjagaku dari penyakit yang bisa ditimbulkan. Aku tidak pernah lupa, meskipun ia membersihkan, tetapi tak ada satu barangpun di kamarku yang seolah bergerak sewaktu aku berangkat beraktifitas, segalanya masih sama. Buku-buku di lantai, berkas kertas di atas meja kayu, gelas-gelas kopi, asbak rokok dan semuanya. Ibu selalu menjaga posisi barang itu persis sama berantakannya ketika aku meninggalkan kamar ini. Barangkali semata-mata agar aku tidak mencurigai jika kamarku sudah sedikit bersih. Betapa ibu ingin aku tidak tidur dalam balutan debu dan terpapar penyakit. Bagiku, Tuhan selalu memberi kita malaikat untuk menjaga hidup ini, aku bersandar pada malaikat itu, yang sejak lahir kupanggil ibu. Sebelum merebahkan diri dan masuk dalam hakekat manusia yang butuh memejamkan mata, aku membuka kembali ingatan tentang apa yang lakukan hari ini. Dan sejenak aku teringat belum membalas pesan singkat dari Senja yang masuk ke handphone-ku tadi, entah mengapa membalas pesannya terasa begitu penting saat ini. Aku hanya tidak ingin membebaninya dengan perasaan bersalah, seharusnya aku yang memiliki rasa bersalah itu, bukan Senja. Kecanggungan kami tadi sore harus dilenyapkan, dibakar musnah bersama dengan rintik hujan yang tak lelah membasahi tanah sepanjang malam. Saat kulihat handphone-ku, ada dua pesan lainnya yang masuk. Satu dari Erik dan satu lagi dari Senja. Erik hanya menanyakan kabarku dan juga mengingatkan jika aku harus ke kantor besok karena ada beberapa berkas yang harus aku tanda tangani terkait dengan pencairan anggaran untuk gaji bulanan teman-teman lain. Aku mengiyakan apa yang disampaikan Erik, jika tidak diingatkan aku hampir lupa jika ini sudah menjelang akhir bulan dan upah kerja teman-teman harus dilunasi. Sebagai direktur eksekutif lembaga, aku bertanggung jawab pula pada anggaran operasional LSM, jika tanpa persetujuanku maka anggaran operasional tidak akan diturunkan, meskipun itu terkait dengan anggaran operasional bulanan di LSM. Erik sendiri bertugas sebagai Bendahara LSM sekaligus Direktur Teknis LSM Rangka Karya. Bisa dikatakan jika Erik adalah orang nomor dua di LSM setelah aku. Ia aku ajak untuk bergabung merintis dan mengembangkan LSM ini atas dasar kesamaan prinsip, landasan perjuangan serta semangat untuk perubahan. Erik juga sosok yang tidak terlalu neko-neko, ia sedikit banyak mampu mengimbangiku dan menjadi teman bercerita yang cukup adil. Dalam hubungan pertemanan kami selama 5 tahun belakangan ini, ia mampu memahami bagaimana karakter dan kehidupanku. Satu hal yang kusuka dari Erik adalah caranya memandang dunia, dirinya tidak pernah melekatkan penghakiman pada orang lain, apalagi jika itu tujuannya sekedar untuk merendahkan Sejauh apapun temannya berbuat kesalahan, Erik mampu menunjukkan simpati mendalam tanpa harus menekan dengan mencari kesalahan temannya dan mengungkapkan berbagai pembenaran tentang dirinya.  Pada pesan kedua yang dikirimkan Senja, Ia bermaksud kembali mengingatkan untuk segera menyelesaikan perbaikan proposal yang diberikannya tadi sore. Di awal kalimat, Ia menekankan, “Jika sudah pulang dan bisa melihat handphone, tolong kabari karena deadline penyelesaian proposal harus diserahkan besok” disampaikan Senja. Aku tahu, bukan soal deadline perbaikan proposal yang ingin ia dapatkan kabarnya dariku. Tapi soal keberadaanku yang tidak kunjung membalas pesan singkatnya. Untuk kali ini aku ingin sedikit berbasa-basi dalam ucapanku kepadanya, setidaknya itu bisa mencairkan kekakuan tadi sore saat Senja menemuiku. Kami memang biasa bertemu dalam kisah yang penuh masalah, entah itu datang dari masalah pribadiku atau kesulitan yang sedang dihadapinya. Pada satu sisi, aku ataupun Senja sangat suka menuntut kesempurnaan ketika menghadapi sebuah hal. Sore tadi memang aku yang menuntutnya untuk sebentar saja mencoba bersahabat dengan keadaan. Namun mungkin Senja sedikit kalut dan tak bisa keluar dari kerisauannya mengenai pekerjaan. Aku pun mulai mengetik huruf demi huruf di handphone yang sedari tadi hanya kulihat layarnya. Terbentuk sebuah kata yang berisi lagi-lagi kecanggungan, ‘Hei’. Aku berfikir sejenak dan menghapus kata ini. Senja bukan prasangka yang bisa diperlakukan dengan sapaan seperti itu. Aku mulai merambah ke dalam ketenangan batinku, sudah lama sepertinya aku tidak menyapa perempuan dengan perasaan. Biasanya, Senja aku perlakukan sebagaimana rekan kerjaku pada umumnya. ‘Maaf baru dibalas pesannya, di luar hujan dan saya baru saja tiba di rumah. Bagaimana makan malam dengan ayah dan ibu? Semoga menyenangkan ya. Besok saya akan ke kantor, tadi Erik menghubungi ada beberapa hal yang harus saya approve. Soal proposal, Bang Hendra juga sudah memberi tenggat waktu 3 hari untuk perbaikan, jadi tidak perlu terburu-buru. Terimakasih sudah mengingatkan dan maaf selama ini merepotkan kamu. Maaf juga atas sikap saya jika menyinggungmu sore tadi’. Ketikan pesanku ini selesai. Aku baca kembali dari awal hingga akhir untuk memastikan tidak ada kesalahan yang akan membuatnya kembali murka. Baiklah sudah cukup sempurna sepertinya, SEND.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD