Karin pikir, hari-hari beratnya sudah dia lewati, tetapi ternyata salah. Hari-hari buruknya belum usai. Seakan belum puas hanya mengambil calon anak dan merenggut kebahagiaannya, Tuhan mengambil papa juga. Karin sudah seperti orang bodoh, dibohongi berbulan-bulan dengan mengatakan kalau papa sudah sehat dan sudah bisa beraktivitas seperti dulu. Dia percaya. Kalau tahu begitu, harusnya dia mati betulan saja saat kecelakaan supaya gak perlu menghadapi kenyataan sesakit ini. ‘Kenapa Tuhan jahat? Kenapa Dia gak adil?’ Dua pertanyaan itu sudah sejak tadi menguasai pikiran perempuan yang tertidur di ranjang kamar dengan airmata yang gak bisa berhenti mengalir. Karin sampai pingsan dua kali di makam dan histeris, gak mampu mengendalikan emosinya. Dia menjerit-jerit memanggil papa berulang kali,

