BAB 6

1070 Words
Sheeran menolak Alfdrein karena ia belum jatuh hati pada iblis berwujud lelaki tampan itu? Omong kosong! Sudah dikatakan sejak awal, Alfdrein memiliki pesona yang sangat luar biasa. Tidak akan ada satu manusia pun yang akan melewatkannya begitu saja. Itu sangat tidak logis. Sheeran menolak Alfdrein sebab ia trauma menjalin hubungan dengan lelaki. Ia pernah beberapa kali berkencan dengan teman sekolah sewaktu sekolah menengahnya dulu atau ketika ia sudah bekerja. Semua lelaki yang pernah memasuki hidupnya sama saja, hanya memanfaatkan otak juga kepolosannya yang gampang percaya pada orang baru, sampai-sampai ia tak tahu kalau ternyata ia ditipu. Dan semua yang telah terjadi padanya kini adalah hasil pembelajaran dari masa-masa pahit yang sudah ia lalui. Ia akan berpikir untuk ke sekian kalinya, memikirkannya dengan matang-matang, dan berusaha seselektif mungkin untuk menghindari kejadian di masa lalu terulang kembali. Sheeran tidak akan mudah dibodohi lagi, ia sudah semakin cerdas sekarang. Dan ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh untuk entah yang ke berapa kalinya. Ia sendiri pun adalah orang yang mudah mencintai seseorang sebenarnya. Tapi ia tidak berbohong soal cinta adalah sesuatu yang paling ia anggap suci. Ia tidak akan mau diajak bermain-main dengan perasaan mulia itu. "Jatuh cinta itu menyakitkan, berhati-hatilah dengan perasaan itu, Sheeran. Jangan sampai kau dibodohi lagi. Kasihan dirimu," gumam Sheeran dengan mata yang mengawasi Alfdrein. Iblis itu sedang duduk di pojok tokonya dengan wajah yang terlihat tegang. Entah apa yang sedang ia pikirkan, Sheeran pun juga tidak mengerti jika ditanya. Merasa penasaran, ia lalu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati iblis itu. "Ada apa denganmu, Alf? Kau tampak tak baik-baik saja." Alfdrein mendongak, menatap Sheeran dengan mata yang berkilat marah. Ia lalu berdiri, berjalan selangkah, lalu menggapai tangan gadis itu. "Kita perlu bicara, Sheeran. Sekarang, tapi tidak di sini," katanya dengan tegas. Dan Sheeran hanya mampu membuat celah di kedua bibirnya, sementara kedua matanya memandang dengan sorot penuh tanda tanya. "Sebenarnya, apa yang ingin kau bicarakan, Alf?" tanyanya bingung. Alfdrein tak menjawab, iblis itu lebih memilih bungkam dan membawa Sheeran mengikuti langkahnya menuju dapur toko. "Alf, sebenarnya kau kenapa? Kau terlihat tidak seperti biasanya, kau sangat aneh," kata Sheeran sambil berusaha berpikir positif. Ia agak ketakutan sejujurnya, sebab aura aneh yang ia rasakan di sekeliling Alfdrein. Rasanya sangat berbeda dan ia sama sekali tak mengenalinya. "Kau tidak bisa menyamakan satu orang dengan orang lain, Sheeran. Aku bukan lelaki b******k seperti mantan-mantanmu. Aku berbeda dari mereka. Aku tidak akan menyakiti wanita yang kucintai, aku tidak akan membodohinya atau sampai memanfaatkannya Sheeran. Aku bukan orang yang seperti mereka, kau harus itu," kata Alfdrein panjang lebar dengan kedua rahang yang mengeras, terlihat sekali bahwa ia tengah menahan emosi. Mata Sheeran membulat lebat, antara percaya dan kelu dengan ucapan sosok iblis berwujud manusia di depannya itu. Maksudnya, dari mana Alfdrein tahu tentang hal itu, bahkan ia belum sekali pun menceritakannya kepada orang lain. Tidak mungkin kan, Alfdrein bisa membaca pikirannya? Ah, itu hanya pikiran konyol Sheeran saja. "Tapi Alf, kenapa kau berpikir begitu? Kenapa kau seolah-olah tahu masa-laluku?" cecar Sheeran. Alfdrein terlihat semakin mengeraskan rahangnya. Dari mulutnya bahkan terdengar geraman yang terasa menakutkan. Ini aneh, Sheeran tidak tahu apa penyebab lelaki di depannya bertingkah sedemikian murka. Padahal, yang ia lakukan sejak tadi juga bukan hal yang penting sehingga bisa merugikan orang lain. Oh atau sebenarnya Alfdrein marah karena penolakannya? Tapi bukankah pria itu bilang tidak masalah ya sebelumnya? Lalu, apa yang membuat Alfdrein terlihat sangat marah? Entahlah, Sheeran sendiri bukan orang yang mampu membaca pikiran orang lain. "Aku tahu Sheeran, aku tahu. Kau juga mencintaiku kan? Hanya saja kau takut aku seperti lelaki b******k di masa lalumu. Perlu kau tahu, aku tidak seperti itu dan tidak akan pernah seperti itu. Kau bisa pegang kata-kataku ini." "Aku masih bingung dari mana kau tahu tentang masa laluku. Tapi satu yang perlu kau tahu, menyembuhkan hati yang terluka, tak semudah menyembuhkan luka pada jari tanganmu. Ya, aku bilang kau benar soal perasaanku. Aku akui, aku jatuh hati padamu. Kau sangat tampan dan juga mapan, tidak akan ada wanita yang mau menolakmu. Tapi aku sangat tahu, tipe-tipe pria sepertimu memiliki kemungkinan sangat tinggi untuk melukai seseorang sepertiku." "Alf, aku tidak berharap lebih atas hubungan kita. Kita bahkan baru mengenal satu sama lain. Jadi, rasanya semua terasa tak masuk akal juga sebenarnya untuk bisa disebut jatuh cinta. Mungkin hanya perasaan sesaat yang akan hilang jika ditelan waktu." Alfdrein mendengkus keras dengan wajah yang mendongak. Iblis satu itu terlihat mengusap kasar wajahnya sebelum menatap Sheeran dengan tatapan nanar. "Dengar," ia pegang kedua pundak si gadis. "Perasaanku bukan main-main, Sheeran. Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Kau tidak tahu berapa sulitnya aku menahan segala rasaku setelah bertahun-tahun lamanya. Kau tidak tahu itu. Mungkin, ya, kau hanya merasakan perasaan sesaat padaku, tapi kutekankan sekali lagi, aku benar-benar mencintaimu." "Aku tidak mengerti. Bertahun-tahun, apa mak--" Ucapan Sheeran terpotong begitu saja ketika Alfdrein mencium tepat di bibirnya dengan membabi-buta, seolah tidak ada hari esok untuk mereka. Sheeran ingin meronta, tapi kedua tangannya kadung dicekal oleh iblis itu dan tubuhnya juga sudah terapit antara tembok dan tubuh Alfdrein sendiri. "Alf---mphh---" Ia sama sekali tak dapat berucap, sebab bibir Alfdrein yang menempel erat di bibirnya. Melumat dan mencecap setiap bagiannya hingga menimbulkan suara kecapan di ruang hening itu. Lama kelamaan Sheeran luluh juga, ia bahkan tanpa sadar sudah membalas ciuman pria itu. Tangannya yang sudah bebas ia kalungkan pada leher Alfdrein, dan mulutnya turut melumat bibir Alfdrein dengan sama nafsunya. Ah, Sheeran mulai merasakan tubuhnya yang panas dingin sendiri, ia benar-benar terlihat menikmatinya ngomong-ngomong. Alfdrein menyudahi ciumannya terlebih dulu sebab tahu bahwa lawan mainnya hampir kehabisan napas. Ia lalu satukan keningnya dengan kening Sheeran. Napas Sheeran yang panas dan memburu, saling beradu dengan napas tenangnya. "Bahkan, nalurimu saja enggan menolakku. Aku tahu, kau juga sama cintanya denganku. Kau tidak trauma, kau tidak sakit, hanya goresan luka kecil yang tak seberapa. Kau hanya takut, takut untuk memulai hal yang sudah lama berakhir. Perihal waktu, waktu bukan jaminan atas rasa yang timbul. Rasa lahir sebab naluri yang ingin saling mengikat, bukan terikat. Kau tidak bisa menggunakan waktu sebagai alasanmu untuk lepas dariku. Kau hanya perlu mencoba membuka hati agar seseorang mau memasukinya dan mengobati goresan yang melukai hatimu." "Jadi, Sheeran. Kau tidak punya alasan lagi untuk menolakku," bisik Alfdrein tepat di depan bibir gadis itu, sebelum kembali melumatnya dengan sangat panas. Sheeran tak mampu mengeluarkan usaha apa pun. Ia bahkan hanya pasrah dengan apa yang Alfdrein lakukan bahkan hanyut dalam permainan memabukkan iblis satu itu. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD