Pagi harinya, Giselle terbangun dalam keadaan badan yang begitu lengket. Matanya menemukan sosok pria di samping ranjang. Pria yang semalam menghabiskan malam panas bersamanya di kamar ini.
Giselle yang merasakan kepalanya mulai pusing dan sedikit mual karena hangover itu terpaksa menghentikan lamunannya guna berlari menuju ke kamar mandi. Dia perlu membersihkan bagian bawah tubuh yang lengket bekas percintaan semalam. Hingga lima belas menit kemudian, Giselle pun keluar dari kamar mandi sudah dalam keadaan berpakaian.
Rupanya pria itu sudah terbangun sembari bersandar di kepala ranjang. Giselle tersenyum mendekati pria itu lalu memberi ciuman singkat di bibirnya.
"Selamat pagi."
Pria itu membalas sapaan Giselle disertai senyuman tak kalah manis. "Selamat pagi, seksi."
Tangannya menarik pinggang Giselle mendekat. Baru semalam dia menikmati wanita ini, rindunya kembali ingin terbalaskan dengan satu ronde lagi. Ketika dia sedang sibuk menciumi leher Giselle, kegiatannya terpaksa berhenti karena Giselle lebih dulu menjauhkan tangan yang sedang bekerja meremas bagian depan wanita itu.
"No, honey. Aku harus pergi sekarang."
Melihat Giselle telah mengenakan pakaian sepenuhnya membuat kening pria itu berkerut. "Pergi kemana?"
"Tentu saja pergi bekerja."
Sebelum Giselle meninggalkan kamar, pria itu buru-buru bersuara. "Kapan kita bisa bertemu lagi?" ujarnya setengah berteriak.
Giselle berbalik, kemudian meraih tisu hotel dan menuliskan sesuatu di atas sana. "Ini nomer ponselku. Kamu bisa menghubungiku kapanpun kamu mau," ujar Giselle sambil menyodorkan tisu yang telah ia beri kecupan lipstik merah seraya mengedipkan satu matanya.
Gadis itu segera pulang menuju apartemennya, ia harus segera berganti pakaian, walaupun kepalanya masih sedikit terasa pusing akibat ia meminum terlalu banyak alkohol namun itu bukan berarti Giselle bisa ijin bekerja. Gadis itu baru saja naik jabatan.
Untung saja, hotel tempat ia menginap dengan apartemen miliknya tak berjarak jauh, jadi hanya memakan waktu sepuluh menit, sesampainya di apartemen, gadis itu segera melempar tubuhnya ke atas sofa, satu tangannya memijit pangkal hidung berusaha menghilangkan rasa pusing.
Gadis itu menggeleng beberapa kali sebelum berdirinya, ia harus meminum aspirin untuk menghilangkan rasa pusing, ia tak boleh oleng di hari pertamanya. Setelah meminum obat tersebut, dengan langkah cepat Giselle berjalan menuju lemari, dengan cekatan gadis itu mengambil sepasang jas kerja dan segera berganti.
Setelah siap dengan penampilan, gadis itu melihat kearah jam, mata gadis itu sedikit melotot saat melihat jam telah menunjukkan pukul tujuh pas, ia hanya memiliki waktu satu jam, ia harap jalanan pagi ini tak macet, agar ia tak terlambat.
Sesampainya di kantor, gadis itu segera berjalan santai, satu tangannya memegang ponsel, matanya terus membaca pesan yang masuk. Kini langkah Giselle terhenti saat berada di depan ruang kerjanya, dengan senyum merekah gadis itu memandangi meja yang berada di hadapannya, semua masih terasa mimpi.
"Giselle!"
Gadis itu menoleh saat mendengar namanya di panggil, di sana terdapat Anala yang berdiri dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Kenapa?" Giselle berjalan mendekat.
Mendengar pernyataan temannya Anala hanya memutar matanya malas, "Upacara."
Giselle terkekeh, upacara yang Anala maksud adalah bergosip sebelum bekerja, kegiatan itu telah mereka lakukan sejak lama, dan akan tetap mereka lakukan sampai kapan pun.
Kini keduanya berjalan menuju pantry, di mana di sana sudah ada Maudy yang sedang membikin teh hangat.
"Ada gosip apa pagi ini?" Tanya Giselle tanpa mau basa basi.
"Anala yang tahu, apa si an, kepo banget aku."
Anala memberi kode kedua temannya untuk mendekat, setelah ketiganya duduk berdekatan, gadis cantik itu segera membuka suaranya.
"kamu tau, CEO lama di pecat!"
"Ha?" Respon Maudy dan Giselle membuat gadis itu memutar matanya kesal.
"Iya di pecat, dia gelapin dana gede lah intinya, terus buuus," Anala menghempaskan tangannya ke udara. "Terhempas."
"Hoax kali tuh." Maudy bersuara seraya meminum teh yang baru saja ia buat.
"Lu masih meragukan kemampuan gosip ku?"
Giselle terbahak, memang tak ada yang meragukan bakat Anala, gadis dengan telinga tertajam yang pernah ia temui.
"Mendadak gitu? Ngga kaya biasanya, kok bisa semalam di ganti?"
Anala menjentikkan tangannya, mimik wajahnya di buat sedemikian menyakinkan. "Nah maka itu, dia itu anak temen pemimpin perusahaan, jatuhnya nepotisme dong."
"Ckck," Maudy menggeleng kepalanya, cerita yang baru saja ia dengar benar benar mengejutkan.
Bagaimana bisa mengganti pimpinan dalam satu malam tanpa di adakan rapat pemimpin terlebih dahulu.
"Berita yang menghebohkan." Giselle masih sedikit bingung, dan juga khawatir.
Gadis itu khawatir jika ceo kali ini memiliki kepribadian rese, bagaimana jika ia membikin peraturan tak jelas. Gadis itu hanya mengkhawatirkan itu, terlebih ia baru saja naik jabatan, ia tak tahu bagaimana cara CEO barunya bekerja.
"Woi! Kumpul bukan ghibah."
Ketiga gadis itu menoleh, terlihat seorang karyawan menatapnya dengan tatapan datar, setelah pria itu menghilang ketiga gadis itu kembali menatap satu sama lain.
"Pasti orangnya." Ucap Anala penuh keyakinan.
Ketiganya lalu melangkah dengan perasaan campur aduk, antara penasaran dan juga was was.
"Kalo bapak bapak perut buncit gimana?"
Giselle terbahak, Maudy dan imajinasinya. Gadis itu memang begitu lugu, walaupun ia juga sering ikut mabuk bersama dirinya dan juga Anala, namun Maudy masih memiliki sisi lugu, berbeda dengan dirinya dan Anala.
"Beritanya dia tampan, cuman tampan kalau kolot juga percuma." Timpal Anala, gadis itu kini sedang sibuk menyisir rambutnya kebelakang.
"Serius?!" Maudy dan Giselle bertanya bersamaan, hal itu membuat anala segera membekap mulut kedua temannya.
Bukan karena kenapa, kini keduanya telah berada di barisan para karyawan, bagaimana bisa mereka bergosip tentang atasan di sini.
"Selamat pagi semua, perkenalkan saya Rendra CEO baru perusahaan ini."
Beberapa karyawati di sini tersipu malu dan ada yang sebagian berbisik bisik, hal itu membuat ketiganya mengerutkan keningnya heran, posisi sang ceo membelakangi mereka membuat tak bisa melihat dengan jelas bagaimana penampilan CEO baru perusahaan mereka.
Jika dilihat dari belakang, bahu besar dan juga tubuh tinggi sang ceo membuat ketiganya yakin jika usia sang ceo masih terbilang muda, dan dari penampilan pria itu bisa di yakinkan jika termasuk kategori tampan.
"Kepo banget, kapan sih noleh ke sini." Anala mulai menggerutu, gadis itu sangat tak bisa menahan rasa penasaran jika menyangkut pria tampan, bagi gadis itu, wanita tampan harus di utamakan.
Giselle menyenggol lengan Anala, memberi peringatan jika gadis itu jika suaranya bisa saja terdengar oleh CEO barunya, Anala hanya tersenyum lebar tanpa merasa bersalah.
Dan tanpa mereka duga, kini sang ceo berbalik badan dan membuat ketiganya menahan nafas, Anala dan juga Maudy terpesona dengan wajah tampan sang ceo berbeda dengan Giselle, gadis itu terkejut karena ceo barunya adalah pria yang baru saja tidur dengan dirinya.