Ancaman CEO culun

1020 Words
"Senang bertemu dengan kalian." Senyuman lebar Rendra merekah lebar, matanya terus mengamati satu persatu wajah karyawan di tempat kerjanya, senyuman pria tampan itu memudar saat indra pengelihatannya menemukan sosok gadis yang baru saja ia tiduri semalam, wajah pria tampan itu berubah menjadi pucat. Pikiran pria itu terbang kemana mana, dan tanpa disadari keringat dingin mulai membasahi kening pria itu. "Silahkan pak." Ucapan pria berdasi abu itu menyadarkan Rendra dari lamunannya, pria itu dengan sedikit gugup membuka mulutnya, dengan tangan sedikit bergetar Rendra memberikan diri memperkenalkan dirinya kepada para karyawan. "Se-selamat pa-gi, perkenalkan nama saya Rendra Pradipta, kalian bisa memanggil saya Rendra." Tanpa pria itu sadari suaranya bergetar, matanya terus menatap apapun asalkan bukan mata bulat milik gadis yang kini menatapnya heran. "Kalian bisa kembali bekerja." Ucap salah satu pemimpin yang membuat semua karyawan membubarkan diri Sebagian karyawan berbisik bisik, semula mereka memuji ketampanan Rendra, sangat tampan dan begitu gagah, namun saat mendengar sang ceo membuka suara membuat semuanya keheranan. "Dia gugup?" "Terlihat cupu." "Terbata-bata?" "Tak ada wibawa." Bisikan dari karyawan sampai terdengar di telinga Giselle, membuat gadis itu membuka mulutnya tak percaya. Dalam pikiran gadis itu merasa heran, bagaimana bisa berbeda dengan apa yang ia temui, mengapa terlihat sangat cupu? Srrttt... Anala menarik cepat kursi di samping Giselle, membuat gadis itu menatap temannya heran. "Se-selamat pa-gi? Apa apaan itu, tak ada wibawa sama sekali, cupu!" Maudy terkekeh mendengar apa yang baru saja ia dengar, Anala tak pernah bosan mengeluh jika pria yang ia temui berbeda dengan ekspektasinya Dalam benak gadis itu, ceo baru yang akan ia temui memiliki tubuh gagah, berwibawa, memiliki karisma kuat, namun apa yang ia dapatkan sangat berbanding terbalik, hal itu membuat anala kesal bukan main. "Mungkin ini kali pertamanya menemui banyak orang." "Engga engga, seorang CEO harus memiliki karisma kan?" "Udahlah, gugup seperti itu wajar." "Engga bisa gitu Maudyyy." Berbeda dengan Giselle dan teman temannya, Rendra merasa cemas di dalam ruangannya, dengan cepat Rendra mengambil ponsel miliknya, ia segera mencari nama gadis itu, untung saja ia sudah menyimpan nomor tersebut kedalam ponselnya. Dalam hitungan dering ketiga, panggilan tersebut sebuah suara gadis yang amat ia kenali masuk kedalam telinganya. 'halo?' Rendra berusaha mengatur nada suaranya, walaupun kini ia berada di ruangannya, tetap saja ia harus berhati-hati. "Keruangan saya sekarang." Tanpa menunggu lama, Rendra memutuskan panggilan tersebut, dan dengan perasaan campur aduk, ia memasukkan ponselnya kedalam saku. Klek~~ Pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok gadis yang dengan langkah penuh percaya diri, sebuah senyum lebar tercetak jelas di bibir Giselle. Rendra yang sibuk dengan komputernya tak menyadari akan kehadiran Giselle, sehingga saat gadis itu benar benar berada di hadapannya barulah pria itu menyadari kehadiran gadis itu. Rendra tersenyum tipis, kedua tangannya di lipat ke depan d**a sebelum membuka suaranya. "Pagi." "Kau sudah mengatakan hal itu ta-" "Apa yang kau bicarakan?" Giselle sedikit terkejut, ia yakin betul jika pria itu adalah Rendra namun bagaimana bisa Rendra merespon seperti itu. "Kau pikir aku memanggil mu karena apa." Masih dengan nada yang sama, perkataan Rendra benar benar membuat Giselle terkejut bukan main. Pria itu memajukan tubuhnya, meletakkan tangannya di atas meja, matanya menatap lurus kearah Giselle. "Masalah semalam, aku akan memperingatkan mu, jika sampai cerita itu bocor atau seseorang mengetahuinya, maka aku tak segan-segan memecat mu, mengerti?" Giselle masih terdiam, gadis itu menatap lawan bicaranya dengan tatapan tak percaya, semua masih terekam sangat jelas di otaknya. "Mengerti?" Ulang Rendra. Mata Giselle melotot, ia sama sekali tak menyangka, dalam hatinya ia sudah mengira jika pria itu kesemsem dan meminta untuk di rayu lagi, namun apa yang terjadi benar benar melukai harga dirinya, apa pria itu menganggap hubungan mereka aib? Padahal sudah sangat jelas ia mengingat jika Rendra sangat menikmati permainan tadi malam. Tangan Giselle terkepal, ingin sekali ia mengatakan pada pria sombong dihadapannya, jika dirinya memiliki rekaman tadi malam, hanya saja semua hanya tertahan dalam tenggorokan, gadis itu hanya diam menahan amarahnya. "Saya bertanya!" "Baik pak." "Kau harus berjanji, jika satu karyawan saja tahu, maka aku tak akan segan untuk memecat mu, tak perduli dengan kemampuan dan kecerdasan mu. Intinya, jangan sampai ada yang mengetahui hal itu." Nafas lelah keluar begitu saja, mau tak mau ia harus mengikuti apa yang atasannya ucapkan. Kepala gadis itu mengangguk. "Baik pak." Setelah mengucapkan kata itu, Giselle kembali menuju ruangannya, dalam hati ia menggerutu kesal karena sikap Rendra yang sama sekali tak menghargai dirinya. "Lihat saja, sombong." Klek~~ Kedatangan Giselle di sambut oleh tatapan penasaran dari kedua temannya, hal itu membuat Giselle hanya menatap kesal. "Muka mu kusut amat, kenapa? Si CEO cupu ngasi kamu banyak pekerjaan" Anala terbahak, mimik wajah Giselle benar benar lucu di matanya. Giselle hanya diam melangkah menuju tempat kerjanya, tangan gadis itu melambai ke udara menandakan tak ada yang terjadi, namun bukan Anala namanya jika tak memiliki rasa penasaran yang tinggi. Bruk!! Dengan kasar Giselle membanting dirinya ke kursi, "Dia cuman mau ketemu kepala divisi periklanan doang, ngga lebih." "Yakin ngga tu, muka kamu aja lecek sehabis dari ruangan dia." "Kayanya, cowok itu nggak pernah membahas hal selain pekerjaan, sangat kaku, aduh gimana ini atasan gua kaku." "Nasib buruk banget, cowo kaku plus cupu jadi atasan kita." Anala kembali menatap Giselle, sedangkan gadis yang di tatap hanya terfokus pada layar monitor di hadapannya. "Lucu sekali CEO kita, haha." Maudy mengangguk, "Pria kaku, yang cukup cupu, tipe tipe suami takut istri." Anala terkekeh, apa yang ia pikirkan sama seperti apa yang Maudy ucapkan. di lihat dari penampilan Rendra dan gaya bicara pria itu membuat dirinya yakin, pria seperti Rendra adalah anak mama dan selalu menurut apapun yang orang tua katakan. "Pasti anak itu selalu memiliki bekal." Maudy tergelak, membayangkan jika pria itu membawa bekal didalam tas kerjanya, dan memakannya di saat jam istirahat, lucu sekali. "Tipe anak manja." Lanjut Anala. "Pasti kalo jadi istrinya, mudah banget ngancam pria itu, benar benar cupu, apa ngga ada cowo lain selain dia yang bisa di jadiin ceo." kedua gadis itu terus bergosip tentang Rendra, hal itu membuat Giselle yang diam diam mendengarkannya hanya memutar bola matanya malas. Andai kalian tahu, ia bukan pria seperti itu, ia adalah pria binal. Jika bukan karena janjinya pada Rendra, sudah pasti ia dengan senang hati membuka semua kelakuan Rendra yang sesungguhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD