“Mamah! Sini! Papah masak omelet, enak banget. Coba mamah lihat, ini enak banget, Lo!” seru Bima dari meja makan
Lina terbangun dengan mata yang masih mengantuk dan kepala yang sedikit pusing.
Dan ternyata tidur di villa yang mewah dan luas, bukan sesuatu yang nyaman yang bisa dinikmati oleh Lina saat ini.
Saat di berjalan ke ruang makan ternyata anaknya Bima sudah duduk manis di meja makan, bersama Reynaldi di sebelahnya.
“Kau bisa masak? Sejak kapan?” Lina menatap Reynaldi curiga
“Aku belajar beberapa tahun terakhir, lagipula ini bukan sesuatu yang istimewa.” ujar Reynaldi mengangkat bahunya santai
“Aku tidak percaya. Seingatku, kau bahkan tidak tahu bagaimana menghidupkan kompor.” ujar Lina cuek tak peduli
Reynaldi tertawa tipis lalu berkata,” Sudah terlalu lama Lina, banyak yang berubah. Lagi pula semua orang juga pasti berubah kan?
Lina terdiam, tidak ingin berdebat lagi dengan pria di depannya. Dia memilih pergi ke dapur dan membuat kopi s**u untuk dirinya sendiri.
Usai sarapan pagi dengan putranya Reynaldi pamit untuk pergi kekantor. Setelah sebelumnya menerima panggilan telepon, entah dari siapa.
“Aku harus pergi kekantor sekarang.” pamit Reynaldi pada Lina
“Ada apa?” tanya Lina bingung melihat ekspresi wajah Reynaldi yang tegang.
Reynaldi tidak menjawab, Dia cepat menyiapkan dirinya. Tatapannya dingin.
“Fanny datang ke kantor.” katanya singkat
Lina menarik nafas panjang. Mendengar nama itu disebut rasanya sakit hatinya kembali berdarah lagi.
“Menurutmu, apa dia terlibat dalam ancaman ini?” tanya Lina gelisah
“Aku tidak bisa menuduhnya tanpa bukti yang pasti, tapi aku akan menyelidiki nya, aku pasti akan mencari tahu.”ujar Reynaldi terburu-buru
Masih banyak yang ingin Lina bicarakan dengan Reynaldi. Tapi melihat pria itu tergesa-gesa, Lina menahan diri untuk tidak bicara lagi.
Setelah pamit dengan Bima, Reynaldi cepat masuk kedalam mobil mewahnya, dan pergi meninggalkan villa nya.
****
Setelah sampai di kantor nya, Reynaldi berjalan dengan cepat masuk ke dalam ruangannya.
Sampai di ruangannya, Fanny sudah duduk dengan anggun di kursi hitam miliknya.
“Akhirnya kau datang juga, kau lama sekali, apa mereka berdua membuat kau sibuk?” tanya Fanny sinis
“Apa maumu, Fanny?” tanya Reynaldi langsung dengan suara dingin dan tegas
Fanny tersenyum sinis, “ Aku ingin membicarakan keluarga kecilmu yang baru.”
“Apa maksudmu?” tanya Reynaldi
Fanny berdiri, dan berjalan mendekat. “ Kau pikir aku tidak tahu, kalau kau membawa Lina dan anaknya ke rumah pribadimu di luar kota?”
Reynaldi tidak menjawab, tapi ekspresinya cukup menggambarkan kalau dia benar-benar emosi.
Fanny mendengus marah, lalu berkata,” Kalau aku tidak salah, waktu itu kau bilang ini hanya tentang anakmu. Tapi aku rasa tidak seperti itu. Jangan bilang kau sedang merasakan jatuh cinta lagi dengan wanita itu. Tidak begitu kan?”
Reynaldi terdiam kaku.
Fanny tertawa sinis.” Ini sangat lucu Tuan Reynaldi, Apa kau lupa, dulu kau mengusirnya tanpa perasaan. Sekarang seolah-olah kau seperti suami yang sangat perhatian pada istrinya.”
“Kau! Semua kau yang memulai. Semua juga kau yang.membuat skenario nya.” ujar Reynaldi mulai geram
“Aku?” tanya Fanny tanpa merasa bersalah
“Kau yang menyuruhku mencari rahim pengganti, Fanny. Kau yang menyuruhku menikah lagi. Sekarang kau berpikir seolah-olah aku yang menghancurkan semuanya.” Reynaldi mulai terpancing emosi
Wajah Fanny berubah menjadi dingin dan datar.” Aku tidak masalah kalau kau peduli pada anak itu. Tapi aku tidak akan tinggal diam, kalau kau sampai kau jatuh cinta lagi pada dia.”
Reynaldi menatap wajah Fanny tajam.” Kalaupun itu terjadi, kau bisa apa, itu hak ku!”
Lina tertawa sinis dan dingin. “ Kau meremehkan ku Reynaldi. Kau pikir aku tidak bisa menyingkirkan dia dari hidupmu lagi seperti dulu.”
Reynaldi mengepalkan tangannya, lalu menggebrak meja dengan keras.
“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh mereka sedikit saja!”
Fanny tertawa menyeringai,” Kita lihat saja.”
Fanny keluar dari ruangan Reynaldi suaminya. Berjalan santai dengan langkah yang elegan. Meninggalkan Reynaldi yang masih dipenuhi emosi di dadanya.
Sementara itu Lina yang sedang berada di depan laptop nya. Bekerja menyelesaikan semua dokumen dari rumah. Tiba- tiba.mendapatkan panggilan masuk dari ponsel nya. Takut-takut Lina mengangkat panggilan itu.
“Senang akhirnya bisa bicara langsung denganmu, Nyonya.”
“Siapa, kau?”
“Aku Alek. Seseorang yang bekerja untuk Fanny.”
Nafas Lina tercengat. Diam. Hening.
“Aku hanya ingin memberimu peringatan. Kau pikir kau akan aman, setelah bersembunyi di balik Reynaldi. Apa kau merasa aman? Kau salah. Fanny tidak akan tinggal diam.”
“Aku tidak takut padanya.” jawab Lina tegas
Alek tertawa kecil dari seberang sana.” Tapi kau takut kehilangan anakmu, Bima kan?”
“Kau mengancamku!” Lina berusaha untuk berani, walaupun sesungguhnya dia benar-benar ciut.
“Fanny bisa melakukan apa saja, bahkan bukan hanya sekedar mengusirmu dari perusahaan dan dari kota ini, bahkan bisa membunuh anakmu.” bisik suara dari seberang sana terdengar pelan tapi mengancam
Mata Lina membelalak sempurna, tubuhnya bergetar hebat.
Panggilan terputus begitu saja, tanpa kata penutup sedikitpun.
Fanny tersadar, cepat dia mencari anaknya, dan memanggil nya berkali-kali.
“Bima! Bima! Kamu dimana, Nak?”
Saat itu juga Lina tersadar, kalau dia harus berbuat sesuatu sebelum terlambat.
“Iya, Mamah!” jawab Bima sambil berlari menghampirinya
“Sayang dengar Mamah ya, Jangan main keluar, diam saja di dalam rumah, ya. Jangan membukakan pintu sembarangan. Biar Mamah aja yang buka pintu, kalau memang ada tamu.” ajar Lina pada Bima anaknya
Bima mengangguk polos, lalu berlari kembali ke kamarnya membawa robot kesayangannya.
Lina masih berdiri membeku di depan kamarnya. Pikirannya kacau. Fanny bukan hanya ingin mengusirnya kembali. Tapi ingin mengambil Bima darinya.
Tangannya gemetar hebat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Saat dia meraih ponselnya, dan menghubungi Reynaldi yang ada di kantornya.
“Ada apa?” Reynaldi menjawab panggilan Lina dengan cepat
Nada suaranya masih tegang dan keras, mungkin karena habis bertengkar dengan Fanny tadi.
“Kita harus bicara sekarang!” ujar Lina tegas
Reynaldi menangkap ada sesuatu yang sedang terjadi.
“Aku masih dikantor sekarang, Bicaralah!” ujar pria itu tegas
Lina terdiam sesaat, berusaha menenangkan dirinya.
“Apa yang terjadi,Bima baik- baik saja, kan?” tanya pria itu dari seberang sana
“Tadi ada pria yang menelponku. Alek namanya. Dia bekerja untuk Fanny.”
“ Apa yang dia katakan, apa yang terjadi?” tiba-tiba suara Reynaldi meninggi dan terdengar tegang
“Pria itu mengancamku, Dia bilang Fanny bisa melakukan apapun. Lebih dari sekedar mengusirku dari perusahaan atau pun dari kota ini. Tapi dia bisa membunuh Bima, tanpa jejak sedikitpun.” Lina tidak bisa lagi menahan air matanya, suara nya bergetar sambil menangis
Lina.mendengar suara keras.
Gubrak!
Reynaldi meninju meja kerjanya dengan keras sambil berkata, “ Sialan!”
Lina terkejut mendengar reaksi Reynaldi dari seberang sana.
“Reynaldi…!” ucapnya