Bab : 10 Ancaman

1092 Words
“Aku ingin kau menyelidiki siapa pengirim pesan ini. Gunakan semua kemampuan dan koneksi mu.” perintah Reynaldi dengan dingin Reynaldi menghubungi salah satu orang kepercayaannya. Salah satu mantan agen keamanan negara. Bernama Arnold “Akan aku urus.”jawab Arnold dari sebrang sana Setelah menutup teleponnya,Reynaldi berbalik menatap Lina. Yang masih berdiri di pintu kamar Bima. Wajahnya terlihat sangat tegang. Matanya masih terus memandang anaknya yang masih tertidur pulas. “Aku tidak bisa bertahan disini. Aku harus membawa Bima pergi jauh.” ucap Lina pelan “Aku akan membawamu ketempat yang lebih aman.” bisik Reynaldi Lina mengangkat wajahnya. Menatap Reynaldi penuh keraguan. “Aku tidak mau berhutang budi padamu lagi.” Reynaldi menatap mata Lina tajam. “ Ini bukan masalah hutang budi, Lina. Ini tentang keselamatan Bima. Hati lina melembut saat nama anaknya disebut. Sampai akhirnya dia melemah dan berkata,” Baiklah.” **** Di tempat lain, Fanny duduk didepan.meja riasnya. Menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajahnya masih sangat cantik. Tapi penuh dengan aura hitam penuh dengan kebencian. Ponselnya bergetar, dan dia cepat mengangkatnya. “Ada berita apa? Apa ada perkembangan?” tanya nya penasaran Disebrang sana Alek menjawab, “Reynaldi bergerak sangat cepat. Dia membawa Lina dan anaknya pergi dari rumah itu.” Fanny mengepalkan tangannya marah,” Kemana?” “Aku masih menyelidiki nya, tapi sepertinya dia membawa Lina dan anaknya ke rumah pribadinya keluar kota. Aku masih menari tahu.” jawab Alek dingin Kening Fanny mengernyit, “ Bahkan kamu memberikan perlindungan untuk mereka, Reynaldi!” “Pastikan aku mengetahui semua khabar tentang mereka.” ucap Fanny sebelum menutup telponnya Fanny tidak lagi tenang. Entah sudah berapa kali dia berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya yang.mewah. Hatinya benar-benar sudah terbakar cemburu dan emosi *** Lina duduk di samping kemudi mobil.mewah Reynaldi. Wajahnya lurus menatap ke jalan. Walaupun tak ada alasan apapun untuk dilihat di luar jendela. Karena suasana yang sepi dan gelap. Mereka berkendara sudah hampir dua jam, menuju villa milik Reynaldi di pinggir kota. Bima masih tertidur di kursi belakang mobil. Nafasnya sangat teratur dan tenang. Di Dalam mobil suasana begitu hening. Sesekali Reynaldi melirik kearah Lina. Tapi wanita itu tetap melihat ke arah lain. Seolah sengaja menghindari tatapan mereka agar tidak bertemu. “Apa kau masih sangat membenciku.” tanya Reynaldi tiba-tiba, memecah keheningan. Lina diam tidak langsung menjawab. “Benci? Bahkan aku tidak tahu kata apa yang tepat untukmu.” Reynaldi diam hanya mengangguk saja. “Bahkan kau tidak pernah benar-benar minta maaf.” ujar Lina pelan hampir tidak terdengar “Kalau aku meminta maaf, apa kau akan memaafkan?” tanya Reynaldi balik “Bahkan meminta maaf pun tidak akan merubah keadaan. Luka ku sangat dalam.” ujar Lina Reynaldi melirik Lina sepintas, sebelum kembali fokus ke jalan. “ Tapi aku ingin melakukan yang lebih dari sekedar meminta maaf.” tegas Reynaldi tiba-tiba Lina menelan ludah. Kerongkongannya seakan kering tiba-tiba. Tapi tidak sedikit pun ada keinginan untuk bertanya apa maksud perkataan Reynaldi. Setelah beberapa jam kemudian mereka sampai di villa milik Reynaldi di pinggiran kota. Villa yang bagus dan luas, dengan desain modern minimalis. Jauh dari kebisingan kota. Namun bagi Lina, tempat ini begitu asing dan dingin. Begitu mereka masuk, Bima yang masih dalam gendongan, mulai bangun dan mengucek matanya. “Ini rumah siapa, Mamah?” Katanya dengan suara masih mengantuk Sebelum Lina menjawab, Reynaldi terlebih dahulu menjawabnya,” Ini rumah Papah, sayang.” Bima menatap wajah papanya dengan wajah polos, kemudian berganti melihat ke wajah Lina, seolah ingin penjelasan dari mamanya. “Mamah?” tanya Bima Lina tersenyum tipis, berusaha tetap tenang, lalu berkata,” Untuk sementara kita tinggal disini.” Bima mengangguk pelan, lalu tiba-tiba meraih tangan Reynaldi. “ Kalau ini rumah papah, boleh aku lihat kamar untukku?” Reynaldi terkejut sesaat sebelum akhirnya dia berkata,” Tentu saja, sayang.” Kedua orang beda usia itu berjalan bergandengan tangan. Sementara Lina hanya bisa menatap mereka dengan perasaan terharu. Mereka seperti ayah dan anak pada umumnya, meskipun mereka sudah berpisah cukup lama. Ada ikatan batin yang tidak bisa dipisahkan oleh jarak dan waktu. “Hem….” Lina menggelengkan kepalanya, dia tidak mau terlalu larut dalam suasana Malam semakin larut, Bima tertidur kembali di kamar barunya. Lina keluar ke balkon villa. Angin Malam terasa sejuk meniup seluruh rambutnya, hingga berkibar indah. Menghilangkan sedikit kekacauan dalam pikiran nya. Lina tidak tahu, apakah keputusan untuk menerima perlindungan dari Reynaldi sudah benar. Tapi paling tidak Lina melakukan semua ini demi keselamatan putranya, Bima. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari belakang. “Kau terlihat gelisah.” ujar Reynaldi berdiri di samping Lina “Kau pikir aku bisa tenang, setelah semua yang terjadi.” katanya tanpa menoleh ke arah Reynaldi “Aku hanya ingin memastikan, kau dan Bima aman.” ujar Reynaldi sambil merentangkan tangannya sekilas “Lucu. Sangat lucu! Bahkan kau dulu tidak peduli, apakah aku aman atau tidak.” ujar Lina sambil tersenyum sinis Ekspresi wajah Reynaldi menjadi tegang. “ Lina…!” Lina berbalik, menatap mata Reynaldi tajam. “Kenapa kau melakukan semua ini, Reynaldi.” Kenapa kau tiba-tiba ingin melindungi kami.” tegas Lina Reynaldi terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Lina. Suaranya lebih lembut dari semula. “Karena aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.” “Hai tuan Reynaldi, apa tuan lupa, kesalahanmu bukan hanya tidak melindungi ku. Tapi juga membiarkan aku hancur dan mengusirku. Tanpa mau mendengar dan percaya perkataan ku sedikit pun.” ujar Lina marah Ekspresi wajah Reynaldi mendadak berubah murung. “ Aku menyesal, maafkan aku.” Lina menggeleng, wajahnya mendadak menjadi murung, lalu air mata menetes di pipinya. “Penyesalanmu tidak akan merubah apapun. Semua sudah terjadi.” Mereka berdua terdiam, hening. Lalu, dengan suara pelan Lina berkata,” Aku tidak akan masuk kedalam hidupmu. Dan akupun tidak akan membiarkanmu masuk ke hidupku. Itu terlalu beresiko. Aku tidak mau Bima terus-terusan hidup dalam ancaman.” “Kamu tidak perlu takut, Bima anakku, akan aku pertaruhkan nyawaku untuk hidupnya.” Reynaldi berusaha meyakinkan Lina Lina menarik nafas panjang kemudian meninggalkan Reynaldi sendirian di balkon. Reynaldi hanya bisa menatap punggung Lina. Dan Lina berlalu meninggalkannya. Malam itu Lina benar-benar tidak bisa tidur. Begitu juga dengan Reynaldi. Berkali-kali Reynaldi menyalakan rokoknya dan membuang asapnya ke udara. Hatinya gelisah, memikirkan nasib Lina dan Bima putra nya. Pria itu mengeluarkan ponselnya. “ Info apa yang sudah kamu dapat?” katanya tegas dan dingin “Tuan pria pengirim pesan itu orang bayaran. Dia bahkan biasa menghabisi nyawa orang lain tanpa jejak” ujar suara dari seberang sana “Apa? Kamu yakin sama laporan kamu! Berarti ada seorang yang.sengaja menyewa orang bayaran untuk mencelakai Lina dan anaknya.” .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD