Malam itu Lina benar-benar tidak bisa tidur. Membayangkan besok pagi dia akan kembali bekerja.
Semua sudah dipersiapkan sejak dia selesai menerima telpon dari Reynaldi.
Tak lupa dia juga sudah menghubungi pengasuh Bima, supaya datang esok hari dan bekerja seperti biasa.
Lina melangkah masuk ke kantor dengan langkah percaya diri. Menggunakan setelan blazer dengan warna yang pas di kulitnya. Menambah kesan elegan dan menawan
Seisi ruangan langsung memperhatikannya. Sebagian berbisik-bisik. Ada juga yang menatapnya dengan rasa bersalah.
Rekan kerjanya tahu bagaimana dia harus diskorsing. Karena kesalahan yang bukan dia buat.
Semua orang juga tahu bagaimana Reynaldi mati-matian membersihkan namanya.
Tapi Lina tidak peduli, dia datang untuk bekerja dan mencari nafkah.
Saat tiba di ruangan, tiba-tiba dia mendengar suara yang sangat dia kenal.
“Selamat datang kembali.” ujar Reynaldi sambil bersandar di pintu dan tangan melipat santai di depan dada
Lina menatapnya sekilas. Tersenyum tipis dengan ekspresi datarnya.
“Maaf ada apa di ruanganku, Pak Reynaldi, aku sedang tidak mau berbasa-basi.”
“ Aku juga tidak mau berbasa-basi. Pekerjaanku lebih penting.” Reynaldi berjalan mendekat ke arah meja kerja Lina
“Brak”
Reynaldi menyerahkan berkas diatas meja kerja Lina.
“Ini proyek baru yang akan langsung kau tangani denganku.”
Lina menatap Reynaldi tajam. Keningnya mengernyit.
“Pekerjaan ku sudah banyak, Pak. Kenapa aku?”
“Aku lebih tahu apa pekerjaanmu. Apa kau takut bekerja dibawah tekanan ku langsung, Lina?” tanya Reynaldi menantang
Lina menghela nafas panjang. “ Apa pekey baru ku, Pak?”
Perluasan perusahaan keluar negeri. Dan aku ingin kau yang menangani semua aspek keuangannya.
Lina mengambil dokumen dari atas mejanya. Kemudian membaca dengan cepat seluruh isinya. Dan ini berarti dia akan sering bertemu dengan Reynaldi.
“Kenapa aku, tidak adakah stafmu yang lebih pantas?” tanya Lina penasaran
Reynaldi mendekatkan wajahnya ke wajah Lina.
“Karena aku percaya padamu.” ujarnya
Lina berusaha menormalisasikan jantungnya yang sedang berdegup dengan kencang. Berusaha biasa saja.
“Baik. Aku akan menerima tugas ini.” katanya tegas, walaupun dia tahu betul kalau proyek ini memungkinkan dia lebih sering bertemu Reynaldi.
Sementara dirumah Fanny terus saja menatap layar ponselnya dengan mata yang dipenuhi dengan amarah dan emosi.
Berita tentang Lina yang kembali ke kantor sudah menyebar. Bahkan berita tentang Lina yang akan menangani satu proyek bersama Reynaldi.
“Kau mulai bermain api Reynaldi, bahkan kau juga yang menyiram api itu dengan bensin, kau mau bermain-main denganku Reynaldi!”
Dengan cepat Fanny mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang entah siapa itu.
“Lakukan apa yang aku pinta sekarang!” terdengar Fanny.memerintahkan seseorang dengan nada tegas dan marah.
“Apa kau ingin dia mati atau hanya.keluar dari perusahaan itu, Nyonya!” ujar suara dari seberang sana
“Aku tidak hanya ingin Lina keluar dari perusahaan, tapi dia juga harus keluar dari hidup Reynaldi.” kata Fanny dingin
Terdengar tawa dingin dari seberang sana.
“Siap Nyonya, kami akan lakukan sesuai yang Nyonya mau.”
“Rasakan kamu Lina, Kamu dan anakmu bukan hanya keluar dari kota ini, kamu juga harus keluar dari hidup Reynaldi. Dia suami. Selamanya hanya suamiku. Walaupun tanpa seorang anak sekalipun.” kata Fanny dengan suara dingin dan kejam
****
Malam itu setelah Lina menidurkan anaknya di dalam kamarnya. Dia membuka laptopnya. Dan membaca dokumen kerja sama nya bersama Reynaldi nanti. Tiba-tiba ada pesan masuk ke ponsel nya.
“Lina! Lebih baik kamu berhenti sebelum terlambat! Bahkan kamu tidak tahu, siapa yang sedang kamu .hadapi sekarang!”
Seketika wajah Lina menjadi tegang. Dia berusaha mencari no pengirimnya, tapi tidak ada petunjuk sama sekali.
Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi. Takut-takut Lina membukanya. Kali ini sebuah video terkirim entah dari mana
Video waktu dia mengantar Bima sekolah tadi pagi, sebelum dia berangkat kee kantornya.
Sekujur badannya kaku, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya nya. Ini bukan sekedar ancaman biasa.
Cepat Lina menghubungi satu nomor yang tidak pernah ingin dia hubungi. Tangannya gemetar hebat. Tapi dia berusaha untuk tenang.
Belum ada satu menit, Reynaldi langsung menjawab telepon dari Lina.
“Lina?”
“Reynaldi, Bima dalam bahaya!” nafas Lina seolah tercekat di tenggorokan
“Tunggu aku, aku akan sampai disana dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Baru kali ini Lina merasa benar-benar takut. Dia takut kehilangan putranya.
“””
Ditempat lain diruangan yang gelap dan remang-remang. Seseorang bertubuh tinggi dan tegap. Dia duduk di kursi sambil membaca ulang pesan yang sudah dikirimnya ke Lina dengan senyum dinginnya.
“Perintah Nyonya sudah mulai aku jalankan, aku baru saja mengancamnya.
Pasti dia sedang berdiri kaku dan ketakutan sekarang. Ha…ha..ha.!” tawa pria itu puas lewat telepon.
Sementara dirumah Fanny di ruangan tertutup sebagai lawan bicaranya membalas, “ Bagus. Aku ingin dia ketakutan. Jangan lakukan apa-apa dulu. Aku ingin dia tau kalau kita tidak pernah main- main. Jadi dia harus berpikir dua kali untuk tetap bertahan di kota ini.”
Pria itu adalah Alek, Seorang pembunuh bayaran.
“ Kalau kau ingin dia benar- benar menghilang, aku bisa membunuhnya tanpa jejak.” katanya sambil tersenyum dingin
Di Ruangan tertutup Fanny diam sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya.
“Jangan sekarang. Aku ingin dia pergi dengan kehancurannya. Aku ingin dia menyerah dan pergi jauh.”
Di Ruang gelap lelaki itu dengan telponnya mengangguk,” Baiklah! Tapi kalau dia tidak menyerah bagaimana?”
“Kalau itu yang dia pilih. Aku akan pastikan dia akan menyesal.” ujar Fanny bicara lewat ponselnya di ruang tertutup
Mereka pun mengakhiri pembicaraan nya. Dengan satu kesepakatan.
***
Usai bicara dengan Reynaldi, Lina menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegup dengan kencang. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
Dia segera berdiri. Dengan langkah tergesa-gesa berjalan ke kamar Bima.
Pelan-pelan dia membuka kamar Bima. Dilihatnya Bima tertidur pulas sambil memegang robot kesayangannya.
Melihat Bima tidur pulas seperti itu membuatnya semakin lemah dan ketakutan. Tidak terasa air mata jatuh bercucuran di pipinya.
“Aku tidak boleh panik. Aku harus tenang. Aku harus berpikir jernih. “ katanya bicara sendiri
Bukannya tenang, tapi ketakutannya semakin menjadi-jadi ketika mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.
Jantungnya terasa akan melompat dari dadanya.
“Siapa dia?”
Dia mendekati pintu perlahan. Mencoba mengintip dari lubang kunci. Begitu dia tahu siapa yang ada disana ternyata Reynaldi. Dia langsung membuka pintunya.
Reynaldi berdiri di depan pintu dengan ekspresi bingung.
“Dimana Bima?” tanyanya penuh kekhawatiran
*Dia tidur.” jawab Bima dengan suara pelan
Reynaldi melihat wajah Lina. Lalu masuk kedalam rumah tanpa menunggu izin. Lalu mengunci pintu di belakangnya. Kemudian berbalik menghadap Lina.
“Ceritakan semua pada ku.” ucapnya tegas
Lina menyerahkan foto dan pesan di ponselnya. Reynaldi melihat nya dengan wajah tegang
“Ini bukan ancaman biasa, seseorang ingin kau benar- benar takut.” ujar nya
Lina mengangguk pelan lalu berkata,” Iya aku tahu, dan mereka berhasil.”
Reynaldi menatap Lina dalam.” Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu ataupun Bima.
Lina mengepalkan tangannya. “ Aku tidak peduli kalau mereka mengancam ku, tapi ini tentang Bima, aku tidak mau terjadi apapun pada Bima…” suaranya tercekat hampir hilang
Reynaldi mendekat, Suara nya melembut.
“Aku akan mencari tahu, siapa yang ada dibalik ini semua.’
Lina menatap Reynaldi sepintas, matanya tidak bisa berbohong, dia takut dan cemas, sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Aku tidak tahu harus percaya pada siapa sekarang.” ujar Lina lirih
Reynaldi menyentuh tangannya perlahan.
“Percayalah padaku.”
.