Bab : 8 Penyelidikan

1156 Words
Sepulang dari kantor Reynaldi tidak pulang ke rumahnya, dia bahkan menyuruh supir pribadinya untuk melaju mobilnya ke arah rumah Lina dan Bima. Urusan Agnes bukan lagi masalah buatnya, Agnes sudah di bripping sebelumnya, agar mengikuti semua perintah nya, dan mengabaikan perintah Fanny, istrinya. Reynaldi bahkan mengancam Agnes, kalau saja dia masih menuruti keinginan Fanny. Sore menjelang malam Reynaldi sudah berdiri di depan rumah Lina. Saat wanita itu membuka pintu dan melihat siapa yang datang, mendadak wajahnya menjadi dingin dan datar. “Mau apalagi sekarang, kemarin kau sudah menghabiskan waktu sepanjang hari dengan anakku.” “Aku tahu kau tidak bersalah.” ujar pria itu sambil mencoba melongok ke dalam. Lina mengerutkan dahinya bingung. “Sebenarnya kau kesini, mau bertemu Bima, atau membahas kasus ku.” “Hem…Aku sudah menyelidikinya. Seseorang mengubah laporan mu, setelah kau menyerahkannya. Dan aku yakin orang itu bekerja atas perintah Fanny. Lina tertawa sinis. “ Bagus sekali, kau mau membantuku sekarang. Setelah dulu kau selalu berpihak padanya. Bahkan kau tega mengusirku, karena hasutan dia. Tanpa mau mendengarkan penjelasan ku sebelumnya. Reynaldi menatap Lina tajam. Sebelum akhirnya.menarik nafas panjang, lalu berkata, “ Aku tidak akan diam melihat kau dijatuhkan, Lina.” Lina menatap pria didepannya lama. Mencoba mencari kejujuran di bola matanya. “Kalau kau benar- benar ingin membantu, tolong buktikan kalau aku tidak bersalah.” Reynaldi mengangguk mantab, “ Tenang! Pasti aku lakukan.” Untuk pertama kalinya sejak bertemu. Reynaldi menemukan sesuatu di mata Lina. Bukan harapan yang biasa. Tapi kepercayaan. Dan dia akan berikan itu. Dan pria itu bersumpah di dalam hatinya, tidak akan mengecewakannya lagi. Keesokan harinya di kantor Reynaldi duduk di meja kerjanya dengan serius. Di hadapannya, Athar, menyerahkan beberapa lembar berkas penting. “Maaf Pak, Ini semua data yang anda pinta. Kami menemukan ada beberapa perubahan dalam laporan keuangan setelah Lina menyerahkannya. Akses terakhir dilakukan dari komputer Dimas, manajer keuangan. Reynaldi mengepalkan tangannya. Rahangnya bergemeretak menahan marah. “Jadi dia pelakunya!” Athar mengangguk, “ Kami juga menemukan kalau email itu dibuat dengan sengaja sebelum laporan diserahkan ke direksi.” Reynaldi tidak bisa lagi menahan diri. Dia mengambil jas yang ada di kursi kerjanya, kemudian berlalu pergi keluar ruangan. Meninggalkan Athar yang masih diam di bangkunya. “Gubrak!” Pintu ruangan manajer keuangan, di dorong paksa oleh Reynaldi. Melihat Reynaldi masuk keruangannya dengan kasar membuat Dimas bangun dari duduknya. Belum sempat Dimas mengeluarkan kata-kata apapun, Reynaldi mendekat dan menarik kerah kemeja Dimas. “Kurang ajar! Ternyata kamu pelakunya!” “Bug!” Reynaldi membabi buta, menonjok Dimas dengan brutal. Beruntung Athar masuk.ke ruangan itu. Dan berusaha menenangkan Reynaldi. “Sabar Pak! Bisa kita selesaikan baik-baik!” ujar Athar berusaha menenangkan bosnya. Reynaldi menarik nafas berat, pelan-pelan melepaskan tangannya dari kerah baju Dimas. “Coba jelaskan alasan apa kamu melakukan semua itu, Kurang ajar!” mata Reynaldi menatap tajam kearah Dimas. “Maaf Pak! Saya tidak bermaksud berbuat seperti itu. Tapi nyonya yang memaksa.” kata nya susah payah berusaha menjelaskan. “Maksud kamu? Istri saya Fanny?” tanya Reynaldi dengan nada tinggi. Akhirnya Dimas menjelaskan, bagaimana Fanny memaksanya untuk membuat skenario agar Lina dikeluarkan tidak hormat oleh perusahaan. Dimas juga menjelaskan bagaimana Fanny mengancamnya, kalau saja dia tidak menuruti keinginannya. Justru hal.yang lebih parah akan terjadi pada dia dan keluarganya. ***** Sore itu Reynaldi pulang dengan keadaan marah. Bahkan dia menyuruh supirnya untuk mengemudikan mobil dengan cepat. Rasanya Reynaldi sudah sangat tidak sabar ingin menemui istrinya, Fanny. Sampai di rumahnya yang mewah, Reynaldi langsung masuk dan berjalan ke dalam. Dia tahu dimana harus menemui Fanny istrinya. “Kamu sudah pulang, Mas? Kau kelihatan lelah, sebentar aku ambil secangkir teh hijau buat mengusir lelah mu, Mas!” ujar Fanny dengan nada menggoda. “Tidak perlu! Duduk kamu!” “Kau kelihatan marah, Mas.” ucap Fanny santai Reynaldi menyodorkan berkas kedepan wajah Fanny. “Apa yang sudah kamu lakukan, Fanny?” “Berapa kamu membayar Dimas untuk merubah semua laporan ini! Jelaskan!” dengan suara tinggi Reynaldi terus saja bicara. Fanny menatap berkas itu sekilas, lalu kembali menatap suaminya dengan tatapan polos. “Aku tidak tahu apa maksudmu? Kamu ngomong apa, Mas?” “Jangan pura-pura bodoh di depanku, bahkan Dimas sudah menceritakan semuanya.” Reynaldi mendekat dan menatapnya tajam. “Kau sudah tau rupanya, Memang semua itu skenario aku!” katanya tersenyum tipis. Plak Tanpa ampun Reynaldi menampar wajah Fanny. Mendapat tamparan mendadak dari suaminya membuat Fanny kaget luar biasa. “K_kamu berani menamparku demi wanita itu, Mas!” “Kamu sudah melampaui batas, kamu pantas mendapatkan itu!” ujar pria itu dengan mata yang menyalang emosi “Kamu sangat peduli padanya! Bahkan kamu berani menyakiti aku!” terus saja Fanny bicara tanpa merasa bersalah. “Ini bukan masalah peduli, tapi ini masalah keadilan! “ bentak Reynaldi lagi Reynaldi mengepalkan tangannya, “ Aku akan membersihkan nama Lina, bahkan kalau kau masih mau bermain kotor, aku tidak akan segan-segan membawa kau ke penjara.” Fanny diam dan kaku di tempatnya, “ Apa maksudmu, Mas?” Reynaldi mendekatkan wajahnya dengan istrinya, dengan tatapan tajam dia berkata, “ Aku tahu banyak dari apa yang kamu kira, jadi jangan main-main dengan ku. Fanny!” Fanny hanya bisa menatap suaminya dengan penuh kebencian. Saat suaminya berbalik dan keluar dari kamar mereka. Dengan langkah cepat Fanny menutup pintu kamarnya. Fanny mengambil ponselnya yang sedari tadi tergeletak diatas meja riasnya. “ Hallo Dimas, apa yang sudah kau katakan. Kenapa pria b******k itu bisa sampai tau dan semurka itu. Kita harus bicara!” ujar Fanny pelan. *** Sementara dirumah Lina, terus saja diam memandang ponsel nya dengan gelisah. Dia terus menunggu kabar dari Reynaldi dengan cemas. Tidak lama kemudian ponselnya berdering kencang. Nama Reynaldi terpampang jelas dilayar ponselnya. Ragu-ragu dia mengambil ponselnya, dan menjawabnya. “ Hallo!” “Nama baikmu sudah aku bersihkan.” terdengar suara dari seberang sana. Iina diam sesaat, “ Apa maksudmu?” “Aku sudah membuktikan kalau laporan itu dimanipulasi, mulai besok kamu sudah bisa mulai bekerja lagi.” ujar Reynaldi dari seberang sana. “Lina menelan ludah, kepala dipenuhi berbagai pertanyaan. “ Bagaimana bisa?” “Aku punya banyak anak buah untuk membuktikan kebenaran, kau lupa?” ujar pria itu lagi “Terima kasih!” ujar Lina sambil menghela nafas panjang. “Kau tidak perlu berterima kasih, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan sejak dulu.” ujar Reynaldi dengan suara lembut. Akhirnya mereka sama-sama terdiam. Tak ada lagi yang memulai bicara. “Maaf ada yang harus aku lakukan.” ujar Lina mengakhiri pembicaraan. “Oke. Sampai besok.” jawab Reynaldi lagi Saat pembicaraan mereka selesai, Lina masih saja menatap ponselnya. Dia masih tidak percaya kalau Reynaldi melakukan ini semua untuknya. “Mama siapa yang telepon tadi, apa itu Papa?” tanya Bima mengagetkan Lina. “Oh iya, tapi hanya sebentar.” jawab Lina gugup “ Apa tidak mencari ku. Dia tidak mau bicara denganku?” Akhirnya Lina terpaksa memberi pengertian kepada Bima, kalau papanya menelpon hanya untuk urusan pekerjaan. Yaitu memberi tahu mamanya, kalau besok sudah mulai kerja kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD