Dua orang itu terus saja bersitegang di dalam ruangan. Mereka tidak tahu kalau ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka.
“Nyonya mereka sedang bertengkar sepertinya.” adu Agnes sekertaris Reynaldi pada Fanny
Agnes adalah tangan kanan Fanny, Apapun gerak gerik Reynaldi pasti tidak luput dari perhatian Agnes.
Fanny tidak akan menyerang Lina secara terang- terangan. Dia tahu jika ingin menghancurkan wanita itu, dia harus menggunakan cara yang halus tapi mematikan.
Salah satu caranya menggunakan keberadaan Anges.
Baru saja Lina keluar dari ruang direktur, Sesampai di mejanya, tiba-tiba salah satu rekan kerjanya menghampiri nya dan berkata, “ Lina kamu dipanggil ke ruang manager.” ucap wanita itu pelan
Lina.mengernyitkan keningnya lalu berkata, “ Kenapa?”
“Aku tidak tahu, tapi hati- hati seperti nya ada yang mengajukan laporan tentang
kamu, ada yang ingin fitnah kamu, mereka langsung ke manajer keuangan.
Hati Lina berdegup kencang. Selama dia bekerja disini, Lina selalu mengutamakan ketelitian. Jadi rasanya tidak mungkin kalau ada yang mengeluhkan kinerjanya. Dia sudah berusaha seprofesional mungkin.
Dengan langkah mantab Lina berjalan ke ruang manajer.
“Silahkan duduk, Bu Lina! Kami Menerima laporan bahwa ada ketidak cocokan dari laporan keuangan yang sudah ibu buat.
Beberapa dokumen ada beberapa kesalahan angka yang cukup fatal.” ujar manajer keuangan.
Lina tertegun, bingung, “ Apa? Itu tidak mungkin!”
Manajer keuangan itu tersenyum tipis.
“Kalau tidak mungkin kenapa ada buktinya!” dengan kasar dia menaruh semua laporan di atas meja.
Lina meraihnya nya kemudian membacanya dengan cepat.
Itu memang laporan yang dia buat, tapi semua angkanya sudah berubah.
“ Ada yang merubah laporan ini, ini jebakan!” ujar Lina marah.
“Kami tidak bisa menuduh sembarang, tapi ini berkaitan dengan laporan keuangan, berkaitan dengan keuangan perusahaan, kami harus menonaktifkan anda sampai penyelidikan ini selesai. Kami harus menyelesaikan ini semua, sebelum tercium oleh Direktur perusahaan , Pak Reinaldy.”
“Saya akan buktikan kalau saya tidak bersalah!” ujar Lina sebelum keluar dari ruangan.
****
Hari itu Lina tidak berangkat bekerja, dia duduk di meja makan kecil di rumahnya. Menatap layar laptop yang terbuka di depannya. Surat pemberitahuan skorsing terbuka jelas di depannya.
Yang lebih menyakitkan lagi ada tanda tangan Reynaldi disana sebagai direktur utama yang mengetahui hal ini.
“Maafkan aku Lina, walaupun aku pemimpin di perusahaan ini, tapi.aku tidak bisa seenaknya, aku harus profesional. Aku bisa saja membatalkan surat skorsing mu, tapi itu bukan jalan keluar yang benar.
Ikuti saja permainannya. Aku hanya ingin divisi mu bisa menyelesaikan masalah ini. Kamu tenang saja, ini tidak akan lama! Semua akan segera diselesaikan.” ujar Reynaldi tenang saat itu.
“Cari tahu siapa dibalik semua permainan ini!” perintah pria itu lewat sambungan telepon.
Sementara itu di tempat lain Reynaldi duduk di sebuah cafe di dalam Mall dengan Bima di depannya..
Hari ini susah payah Reynaldi berusaha meyakinkan Lina, untuk membawa Bima jalan-jalan. Butuh perjuangan yang panjang untuk membujuk Lina agar mengizinkan mereka pergi berdua.
Lina memberi syarat kepada pria itu, harus bersumpah tidak akan membahas masa lalu mereka dan tidak membuat Bima bingung.
“Jadi apa makanan kesukaan, Papa?” tanya Bima bingung ketika mereka akan memesan menu di cafe itu
Reynaldi tersenyum tipis, “ Dulu aku suka sekali makan ayam goreng, tapi sekarang aku suka steak.”
Bima mengangguk-angguk, “ Dulu aku suka sekali pizza, tapi mamah melarangku makan pizza banyak-banyak.”
“Seorang ibu memang seperti itu!” kata Reynaldi lagi
“Mama memang banyak melarang aku, tapi mama itu baik, dia selalu ada buat aku.”
Deg
Jantung Reynaldi seakan berhenti berdetak. Malu rasanya. Dia tidak pernah ada buat anaknya.
“Sekarang Papa juga ingin selalu ada buatmu juga, Bima.” ujar Reynaldi pelan
Bima menatap pria yang duduk di hadapannya, “ Benarkah?”
Lagi-lagi Bima menunduk sambil berkata pelan. “ Tapi kata Mama, Papa sibuk.”
Reynaldi terdiam. Dia tahu pasti wanita itu ingin melindungi anaknya dari rasa kecewa.
“Papa memang sibuk, tapi bukan berarti
Papa tidak bisa meluangkan waktu untuk mu.”
Reynaldi menatap anaknya serius,” Papa janji akan selalu ada buat kamu sayang. “
Wajah Bima langsung tersenyum sumringah. “ Baiklah kalau begitu Papa harus datang Minggu depan. Papa harus menepati janji, kita main bola,ya.”
“Tentu, sayang.” ujar Reynaldi sambil tersenyum lebar
Kali ini usaha Reynaldi berhasil. Bima sudah mulai akrab dengannya, sudah bisa tersenyum santai tanpa takut-takut.
Satu langkah yang bagus untuk kedepannya.
Tapi satu lagi pr Reynaldi, dia harus menyelesaikan masalah Lina secepatnya.
****
“Kurang ajar! Siapa yang berani bermain-main denganku!”
“Brag!!!” Reynaldi menggebrak meja keras.
“Agnes! Panggil manajer keuangan kesini, sekarang!!!” jerit pria itu pada sekertarisnya.
Tergopoh-gopoh Agnes menekan pesawat telepon yang ada di mejanya.
Tidak lama kemudian.
Tok tok tok
“Masuk!Duduk kamu!Bisa kerja tidak! “ tanya Reynaldi geram.
Manajer keuangan tertunduk diam.
“Jelaskan bagaimana dengan kasus divismu! Mana laporannya!”
Sebenarnya Reynaldi sudah menyelidiki kasus Lina, semenjak kasus itu sampai ke telinganya. Dan dia menemukannya.
Manager keuangan memberikan laporan yang di maksud.
“Kamu tahu laporan ini sudah direvisi seseorang, setelah Lina menyerahkannya. Kenapa bisa seperti ini, bagaimana menurut kamu, siapa yang harus bertanggung jawab.” cecar Reynaldi tegas.
“Maaf, Pak! Saya masih menyelidikinya. Kasih saya waktu satu hari ini, Pak. ujarnya memohon.
“Baik! Saya kasih waktu satu hari, selesai kan masalah ini, kalau kau tidak bisa menyelesaikan urusan divisi mu, aku pastikan kau akan bekerja di rumah.”
Manager keuangan keluar dari ruangan Reynaldi. Dia menggerutu kesal.
Ternyata semua tidak sesuai skenarionya.
Sebenarnya dia lah orang yang sudah merevisi laporan itu. Dimas terpaksa melakukan itu atas perintah Fanny istri dari atasannya tertinggi di perusahaan itu.
Sekeluarnya Dimas, manajer keuangan dari ruangan nya. Cepat Reynaldi mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
“Aku ingin semua laporan yang pernah dipegang Lina dalam tiga bulan terakhir. Periksa siapa saja yang sudah mengaksesnya setelah dia!” ujar nya marah.
“Pak. Asal Bapak tahu, ada beberapa file yang sudah dikunci aksesnya, Pak!” ujar asistennya.
“Lo, Siapa?” tanya Pak Renaldi bingung.
“ Yang bisa mengakses itu hanya manajer keuangan dan Bapak sebagai kepala Direktur, Pak.” ujar asisten nya.
“Saya? Mana mungkin saya, atau…Agnes! Ya..Agnes!” ujar Reynaldi mengangguk- angguk.
“Tapi apa kepentingan Agnes melakukan ini?” keningnya berkerut, berusaha berpikir. Dan dia menemukan titik merahnya.
Bagaimana Fanny bisa tahu apapun itu aktivitas nya di dalam kantor.
Reynaldi mengangguk- angguk tanda mengerti.
“Fanny!!!” pria itu mengepalkan tangannya. Marah, dia tahu betul, semua ini ulah istrinya
Sementara di sudut lain diruangan yang sama, terlihat Agnes mulai ketakutan. Wajahnya pucat seperti tidak ada darah yang mengalir.
Perasaan nya mendadak menjadi tidak enak, saat Reynaldi menyebut nama istrinya dengan kencang.
Mata Reynaldi menatapnya tajam.
Agnes
Mulai salah tingkah.
“Agnes!!!” teriaknya kencang.
Wanita cantik dengan riasan tebal itu ketakutan setengah mati. Cepat dia berjalan menghampiri meja kerja atasannya.
“Iya, Pak! Saya.” jawabnya gugup
“Apa yang kamu tahu, bisa kamu jelaskan ke saya, apa yang terjadi.
Wajah cantik Agnes tertunduk takut. Berkali-kali dia terlihat gugup, meremas tangannya sendiri.
“Jelaskan apa yang terjadi!” gertak Reynaldi.
"S_saya takut, Pak! Saya terpaksa. Nyonya yang suruh saya, Pak! Saya bisa apa, Pak!" Agnes memohon sambil mengatubkan Kedua tangannya.
" Kamu kerja sama saya, kamu saya juga yang menggaji.