Kuda besi yang gagah milik Reynaldi berhenti didepan rumah mewah. Pria itu turun setelah supir pribadinya membukakan pintu mobilnya. Entah pesan apa yang dikatakan tuannya, supir itu mengangguk dan kembali ke mobil nya dan berlalu keluar dari halaman rumah mewah itu.
Reynaldi masuk kedalam rumah mewah itu dengan langkah berat.
Sejak pertemuannya dengan Lina dan Bima. Pikirannya tidak bisa tenang. Selalu dipenuhi oleh bocah kecil itu,
Anaknya, darah dagingnya.
Bagaimana mungkin selama ini dia tidak tahu. Bagaimana mungkin selama ini Lina membesarkannya seorang diri. Tidak meminta bantuannya sedikitpun.
Tok tok tok
Langkah sepatu pantofel hitam Reynaldi beradu dengan lantai marmer rumahnya.
Kemudian langkah sepatunya langsung disambut oleh suara yang sudah biasa dia kenal dan dengar bertahun-tahun.
“Kamu dari mana, Mas? Sudah beberapa hari ini kelihatannya sibuk dan pulang terlambat terus. Apa ada yang belum kamu ceritakan ke aku, Mas?”
Reynaldi menatap wanita yang sudah menjadi istrinya bertahun-tahun.
Dulu, dia pernah menyayangi Fanny, Dia juga pernah berharap kalau pernikahan nya akan baik-baik saja.
“Aku sibuk!” jawab Reynaldi singkat.
"Sibuk? Atau kau sedang bertemu dengan wanita itu!” ujar Fanny kasar.
Reynaldi menatap Fanny tajam. “Wanita siapa maksud kamu?”
Fanny melangkah lebih dekat, wajah mereka hampir saja tanpa jarak.
“Jangan pura-pura bodoh, Reynaldi! Aku tahu Lina sudah kembali. Aku tahu Lina bekerja di perusahaan mu sekarang!”
Wajah pria itu menjadi merah, tangannya mengepal sempurna. Entah siapa yang berani membocorkan semuanya kepada istrinya.
“Aku tidak mau berdebat tentang ini!” tegasnya sambil berlalu dari hadapan Fanny.
“Oh? Tentu saja tidak mau, karena kau punya alasan untuk bertemu dengannya setiap hari, bukan?” suara Fanny bergetar menahan marah.
“Katakan padaku, Mas! Apa yang kamu rasakan saat pertama kali melihatnya lagi.”
Reynaldi terdiam, tidak ingin menjawab pertanyaan Fanny.
“Lihat dirimu, kamu tidak bisa berbohong, Mas. Bahkan kamu tidak bisa menyangkalnya.” ujar Fanny sinis.
Fanny melangkah lagi, mendekati suaminya, lalu berkata, “ Kau masih mencintainya bukan?”
Reynaldi diam tidak berkata apapun, karena sesungguhnya dia sendiri tidak tahu, apakah dia mencintai Lina, atau tidak.
Dulu, pernikahan mereka memang terjadi
tanpa cinta. Dan cinta itu baru saja mulai tumbuh, saat Lina pergi dari hidupnya. Sekarang Lina datang lebih dewasa, lebih cantik, lebih mandiri. Dan dia menyukainya.
Fanny tersenyum sinis. “ Huh! Harusnya aku sudah tahu jawabannya, kenapa aku masih bertanya! Bodoh!”
Suasana menjadi tegang. Mereka diam. Tak ada yang bicara. Sampai akhirnya Fanny bicara dengan nada yang pelan tapi penuh penekanan. “ Kalau kau berpikir aku akan membiarkanmu, kembali pada wanita itu, kau salah, Mas! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!”
Reynaldi mendekat, lalu menatap wajah Fanny dengan ekspresi dingin lalu berkata, “ Aku tidak pernah meminta izin mu, tidak akan pernah terjadi!”
Mata Fanny melotot dengan tajam sambil berkata, “ Apa maksud kamu?”
Reynaldi menarik nafas dalam, lalu menghembuskan perlahan sebelum berkata, “ Aku tidak akan meninggalkan Bima lagi, Aku sudah sangat bersalah pada anak itu.”
Wajah Fanny langsung tegang, ekspresi nya berubah seperti melihat hantu.
“Jadi wanita itu benar-benar sudah melahirkan anakmu?”
Reynaldi menatap nya tajam dan berkata, “ Ya, apa kau juga tahu itu?”
Fanny diam kehilangan kata-kata. Ekspresi wajahnya berubah. Matanya yang semula penuh dengan emosi, sekarang berubah penuh dengan kebencian.
“Jadi kau ingin kembali pada Lina. Kau ingin meninggalkan aku demi anak itu!”
Reynaldi menggeleng lemah.
“Aku tidak akan meninggalkan siapa-siapa Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan ku dimasa lalu.”
Fanny semakin emosi, dia tidak bisa mengendalikan dirinya dan berkata , “ Aku tidak akan diam saja, melihat apa yang akan kau lakukan, Mas!”
“Lakukan apa yang kau mau, Fanny. Aku tidak peduli. Tapi satu yang harus kau ingat…kau akan berhadapan dengan ku, kalau sampai kau menyakiti anakku.” ujar Reynaldi tegas
Tanpa menunggu jawaban dari istrinya Reynaldi berlalu pergi. Meninggalkan Fanny yang berdiri kaku penuh dengan kebencian.
Dua hal yang ada di pikiran Reynaldi, bagaimana Fanny, istrinya bisa tahu segalanya tentang Lina. Kalau sudah begini, Fanny tidak akan diam saja. Pasti wanita itu akan melakukan segala cara untuk mewujudkan keinginannya.
*****
Semenjak pertemuan antara Reynaldi dan Lina di kantor itu. Hari-hari Lina menjadi sulit. Karena Reynaldi selalu mencari cara untuk bisa bertemu dan bicara pada Lina.
Reynaldi sering kali memanfaat kekuasaannya untuk bisa berinteraksi dengan Lina. Bertanya tentang sesuatu hal, yang seharusnya bisa ditanyakan pada stafnya yang lain.
“Bu Lina, ada di panggil, Pak Reynaldi ke ruangannya.” suara pesawat monitor terdengar di meja kerja Lina.
Lina mengambil nafas berat, sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan nya, menuju ruangan pria itu.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk!” terdengar suara tegas dari dalam ruangan
Pintu terbuka, dan seperti dugaan Lina. Pria itu duduk disana. Pria itu tampak berwibawa dengan setelan jas warna hitamnya. Tapi Lina tidak akan terpengaruh.
“Ada yang bisa saya bantu Pak Reynaldi?”
tanya Lina dengan nada formal
“Kita harus bicara!” kata Reynaldi tegas dan datar
Lina menarik nafas panjang lalu berkata, “ Kalau ini soal pekerjaan, silahkan, Pak! Tapi kalau bukan, saya tidak tertarik.”
Reynaldi menggeram marah, “ Aku serius, Lina!”
“Aku juga serius, Pak!” jawabnya cepat
“Aku disini untuk mencari nafkah, Pak! Bukan untuk mengurus apapun itu, apalagi tentang masa lalu.” ujar Lina lagi
Reynaldi bangkit dari duduknya. Mengepalkan kedua tangannya diatas meja. Kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Lina.
“Bima anakku! Aku ingin menghabiskan waktu dengan anakku. Kamu tidak bisa melarangku.
Lina diam tak bicara, dia tahu hal ini pasti terjadi. Tapi mendengar semua itu langsung dari mulut Reynaldi membuat dadanya sesak.
“Maaf Pak Reynaldi yang terhormat, mudah sekali anda bicara. Anakku bukan mainan, yang bisa segampang itu anda pinta.” ekspresi wajah Lina benar-benar tegang dan marah
“Aku tidak pernah menganggap nya mainan, dia anakku, darah dagingku!” teriak Reynaldi lepas kendali
Lina tertawa tipis, lalu berkata, “ Bagus kau ingat sekarang, Pak! Kemana kau saat aku berjuang hidup dan mati, Dimana kau, saat aku harus banting tulang siang dan malam, untuk membeli susunya. Dimana kau saat aku harus begadang saat dia sakit?”
Wajah Reynaldi semakin merah menahan marah. Dia tahu kalau dirinya memang bersalah. Tapi sifat egoisnya tetap saja membuat dia tidak ingin mengalah dan terlihat lemah.
“ Aku tahu, dan aku akan berusaha menebus kesalahanku. Beri aku kesempatan. Dia anakku.” ujar nya lagi
“Aku ingin kamu membuktikan nya, bukan hanya asal bicara.” Lina berkata tegas sambil bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan itu.