Bima memandang Reynaldi, anak kecil itu mulai tertarik dengan sosok di depannya.
Kemudian dia melirik ke arah Lina, seolah minta izin. Tapi Lina diam saja, tanpa ekspresi sedikit pun.
Reynaldi berdiri dan mengambil bola di tangan Bima. Lalu dengan gerakan terlatih dia menendang nya perlahan.
Bola melambung tinggi kemudian ditangkap dengan mudah oleh Reynaldi.
Mata Bima membulat dan bersinar senang, “ Wow! Ajari aku, Tuan! Janji mau ajari aku!’
Reynaldi tertawa, tawa yang tidak pernah terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri selama ini. Karena hidupnya yang terlalu serius.
“Tentu lain kali aku akan ajari kamu lebih banyak teknik bermain bola sampai kamu jadi juara.”
Bima tertawa girang, tapi tiba-tiba wajahnya berubah menjadi serius, kemudian memandang wajah Reynaldi, lalu Bima bertanya, “ Tuan kenapa mata nya mirip dengan ku, wajah tuan juga sama seperti wajahku, apa aku salah?”
Tubuh Reynaldi berubah menjadi kaku, dia langsung diam membisu.
Lina sempat kaget dengan perkataan anaknya, tapi dia hanya diam tidak berkata apa-apa.
Bima kecil seperti berpikir, lalu berkata, “Mama?”
Lina menarik nafas dalam-dalam. Lalu berlutut di hadapan anaknya. Dia membelai rambut bocah laki-laki itu dengan lembut dan berkata, “ Bima, dengarkan Mama baik- baik.”
Bima diam menatap mata mamanya.
Lina menggigit bibirnya, ekspresi wajahnya.menjadi tegang. Dengan suara lirih hampir tidak terdengar Lina berkata, “ Tuan ini adalah…papamu.”
Hening, suasana menjadi tegang.
Bima menatap mamanya, kemudian beralih menatap Reynaldi. Wajah bocah kecil itu kebingungan.
“ Tuan ini…papaku?”
Lina mengangguk pelan, sementara Reynaldi menahan nafas.
Bima menatap Reynaldi tajam, wajahnya benar- benar kebingungan.
“ Kalau dia papaku, kenapa dia baru datang sekarang?”
Pertanyaan dan ekspresi wajah Bima seperti seribu pisau yang menusuk jantung Reynaldi seketika. Perih, dan berdarah.
Dan dia tidak tahu harus menjawab apa.
Lina diam di tempatnya. Matanya menatap Reynaldi tajam, seolah-olah menuntut pria itu untuk memberi penjelasan kepada anaknya, kemana dia lima tahun belakangan ini.
Reynaldi berlutut di depan Bima. Mencoba menatap anak itu lembut, meskipun dadanya terasa sesak dengan penyesalan
“Papah…!” tiba-tiba suaranya serak dan hilang
“Papah…! Papah tidak tahu kalau kamu ada, Nak!” ujar Reynaldi dengan suara lirih
Bocah kecil itu menatap Reynaldi dengan bingung.
“Papah tidak tahu kalau aku ada?”
Reynaldi mengangguk pelan sambil berkata, “ Kalau aku tahu kamu ada, Papah pasti akan mencarimu. Papah tidak akan diam saja. Papah tidak akan meninggalkanmu.”
Bima kelihatan bingung, tidak lama kemudian dia seperti sedang berpikir. Kemudian dia menoleh ke arah Lina, Mamanya.
Lina mengambil nafas panjang dan mengelap keringat dingin yang menetes di keningnya, sebelum berkata, “ Dia memang tidak tahu kalau kamu ada, Nak.”
Reynaldi menatap Lina tidak percaya. Dia tahu betul bagaimana sakit hatinya. Tapi dia masih mau membela reputasi nya didepan anaknya
“Sekarang Papah sudah tahu, apa Papah akan pergi lagi?”
Reynaldi menahan nafasnya, jantung nya seakan diremas, mendengar anak nya bicara.
“Papah tidak akan pergi, Papah mau mengenalmu, Bima!”
“Baiklah!” Bima mengangguk sesaat matanya terus saja melihat ke arah dua orang di hadapannya
Reynaldi tersenyum tipis, belum sempat dia bicara banyak, tiba-tiba sudah dipotong oleh Lina.
“Sudah cukup, Bima. Masuk kedalam. Mama mau bicara dengan Tuan Reinaldi.”
Bima menatap Lina, lalu menatap Reynaldi, dan berkata, “ Sampai jumpa lagi, Papah!”
Reynaldi merasa sangat terharu, air matanya menetes dipipi nya, “ Sampai jumpa lagi, Nak!”
“Sekarang apa maumu?” Lina berkata dengan tegas
Reynaldi berkata dengan serius sambil menatap mata Lina, “ Aku ingin anakku!”
“Oh, jadi setelah lima tahun menghilang, tidak peduli, sekarang kau tiba-tiba ingin menjadi seorang papah?” kata Lina sambil mendengus kasar
“Lina, kamu jangan berkata seperti itu, bahkan aku tidak pernah tahu keberadaan nya.”
“Tidak usah banyak bicara, itu bukan suatu alasan!” ujar Lina tajam
“Aku melahirkan nya sendirian, aku membesarkannya sendirian, aku melihatnya sakit sendirian, tidak ada yang membantuku. Tiap malam aku menangis karena takut, kalau dia kelaparan, tidak bisa hidup dengan layak. Dan kau! Bahkan kau tidak pernah peduli, aku masih hidup atau sudah mati!” Lina meluapkan semua emosinya, air matanya tidak bisa tertahan lagi
Sementara Reynaldi diam di tempatnya, sebenarnya dia ingin membela diri, dia juga ingin mengatakan kalau dia juga merasa kehilangan, tapi itu tidak mungkin. Karena memang dia di posisi bersalah.
Bahkan kesalahannya sangat besar.
“Lina maafkan aku, setidaknya beri aku kesempatan. Aku ingin mengenal anakku. Aku ingin ada dan berarti dalam hidupnya.” ujar Reynaldi memohon
“ Aku tidak ingin kau menyakiti Bima, seperti kau menyakiti aku.” kata Lina lirih
“Aku bersumpah, aku tidak akan pernah menyakitinya, dia anakku, darah dagingku, Lina!” kata nya berusaha meyakinkan Lina
Lina mengambil nafas panjang lalu berkata, Baik! Tapi jangan harap kau bisa masuk ke dalam hidupnya, sebelum kau membuktikan, kalau kau memang layak menjadi papanya.”
Reynaldi menatap mata Lina dengan tajam, dia berjanji dalam hati, akan berusaha membuktikan semuanya.
Karena sekarang ada yang paling berarti dan berharga dalam hidupnya, anak.
“Aku pulang! Sampaikan salamku untuk Bima. Aku akan datang lagi nanti.” ujar Reynaldi sebelum membalikan badannya dan meninggalkan Lina sendiri.
***
Reynaldi duduk di kursi belakang, mobilnya yang mewah. Supir pribadinya, Anto. Diam saja tidak berani bicara satu kata pun
“Anto! Jangan pernah bicarakan ini dengan siapapun! Termasuk Nyonya mu!” perintah Reynaldi tegas
“Siap Tuan!” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan
Sepanjang perjalanan Reynaldi diam, kepalanya terus saja berputar-putar, dadanya terasa perih dan sakit. Karena rasa bersalah yang sangat besar.
“Bodoh! Bodoh sekali!” sesekali mulut nya berkata kasar
Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri, yang terlalu naif. Percaya apa kata-kata Fanny, istri nya.
“Bodoh kamu Lina! Bagaimana kau bisa membesarkannya sendirian. Bagaimana bisa kau tidak minta pertanggungjawaban aku! Aku papahnya. “
“Kau juga bodoh, Reynaldi! Bagaimana bisa kau tidak mencarinya! Bahkan kau tidak tahu kabarnya sedikit pun. “
Terus saja Reynaldi berkata sendirian seperti orang gila.
Supir pribadinya, Anto, hanya diam tidak berani berkata apapun.
Melihat bosnya sudah seperti orang gila.
“Anto jangan pulang dulu, antar aku ke toko mainan!” katanya tiba-tiba
“Sekarang, Tuan?” tanya Anto binggung
“Sekarang! Kamu pikir tahun depan!” kata Reynaldi kasar dan dingin
Anto langsung berbelok arah, mencari pusat perbelanjaan terbesar dikota mereka.
Tidak berapa lama kemudian mereka sampai di tempat itu.
“Mbak saya mau mainan untuk anak laki- laki berumur kurang lebih enam tahun.” katanya pada penjaga mall itu
Reynaldi memborong hampir semua jenis mainan untuk anak laki- laki. Dan pemilik toko membantunya membawa ke dalam mobil.
“Kamu antar saya pulang! Terus kamu balik lagi kerumah anak saya. Bilang itu dari papanya.” katanya penuh semangat