Dan disaat semuanya usai, Lina menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sementara Reynaldi sudah turun dari ranjang mewahnya kemudian mengenakan pakaiannya.
Tanpa menoleh ke arah Lina dia berkata, “Mulai sekarang, kau tinggal disini! Ini kamar mu! Jangan mengganggu hidupku. Aku akan datang jika aku memerlukanmu. Lakukan saja kewajibanmu.” katanya dingin lalu pergi berlalu meninggalkan kamar mewahnya.
Sementara di ruangan lain. Dia duduk di sofa didalam kamarnya, tangannya mengepal, sesekali memukul-mukul meja rias tanpa disadari. Dia tidak bisa tidur. Meskipun semua dia yang merencanakan. Tapi tetap saja dia cemburu.
Pikirannya penuh dengan bayang-bayang suaminya sedang tidur dengan wanita lain.
Walaupun semua skenario ini dia yang mengatur, tapi hatinya merasa terbakar.
“Dia suamiku, dan dia miliku, dan akan selamanya menjadi milikku.” ucapnya berusaha meyakini perasaannya.
****
Hari berlalu, seiring berjalanya waktu, ada sesuatu yang berubah dalam rumah tangga mereka. Lina, yang awalnya dianggap hanya sebagai alat untuk melahirkan keturunan mereka, mulai menarik perhatian Reynaldi.
“Apa yang kamu lakukan, apa tidak ada yang bisa kamu lakukan selain duduk diam disitu?” ujar Reynaldi perhatian tapi tetap dengan sikap dinginnya.
Dan terkadang Fanny melihat ada sesuatu di tatapan suaminya saat mereka sedang makan bersama di meja makan.
Dan Fanny melihat ada sesuatu gelagat aneh pada suaminya. Tatapan itu. Tatapan yang dulu hanya diberikan kepadanya.
Fanny mulai merasa gelisah. Ia menyadari kalau suaminya melihat Lina bukan hanya alat pencetak keturunan. Ada sesuatu yang masih samar, dan belum Fanny mengerti. Tatapan yang berbeda, dan semakin hari semakin berbeda.
Tapi cukup membuat Fanny merasa takut kehilangan suaminya. Dia cemburu.
Hingga akhirnya, Fanny memutuskan bahwa skenario ini tidak bisa dilanjutkan, Fanny mulai membuat skenario jahat untuk Lina. Yang penuh dengan tipu muslihat yang keji.
“Ini tidak bisa dibiarkan, dia harus diusir!” nyala api cemburu dalam hatinya terus saja berkobar.
“ Aku harus membuat skandal, agar perempuan kampung itu diusir selamanya dari rumah ini.” lagi-lagi dia bicara sendiri.
Suatu malam ketika Reynaldi pulang larut malam dari perusahaannya. Fanny sudah menunggu di kamarnya, dengan wajah pucat yang dibuat-buat dan air mata yang terus mengalir.
“Ada apa, aku lelah, jangan buat masalah lagi dengan Lina?” katanya dengan suara lelah.
“Aku tidak bisa mengatakan ini,tapi aku…tidak bisa diam saja.” kata Fanny membuat suaminya penasaran.
Reynaldi menatap kearah Fanny dengan tajam dan dingin.
“Katakan!”
Fanny berusaha membuat ekspresi yang meyakinkan suaminya, lalu berkata, “ Aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya terjadi…Lina, Aku melihatnya sedang bersama seseorang,...di kebun belakang. Mereka b******u tidak tahu malu.”
Ekspresi wajah Reynaldi berubah, Seketika keningnya berkerut, dan matanya melotot tajam, “ Sama siapa? Katakan!”
Fanny terus saja membuat drama, wajahnya dibuat seolah-olah semuanya benar terjadi, “ Dengan Umar! Satpam rumah kita yang masih muda dan tampan!”
Suasana diam sesaat. Hening.
“Apa kau yakin? Kau tidak salah lihat, ‘ kan?” katanya sambil mengepal kan kedua tangannya
“Aku tidak ingin percaya, tapi aku melihat semuanya sendiri. Mereka duduk berdekatan, lalu mereka berbisik- bisik, berpelukan, lalu mereka berciuman. “ ujar Fanny dengan suara pelan berusaha meyakinkan suaminya
Wajah Reynaldi mulai memerah, nafasnya tersengal- sengal, bukan karena cemburu tapi mungkin karena marah, karena merasa harga dirinya diinjak-injak.
“Dimana mereka?” kata Reynaldi dengan suara bergetar
“Di taman belakang.” jawab Fanny.
Tanpa berkata lagi, Reynaldi langsung melangkah ketaman belakang rumah.
Lina saat itu memang berada ditaman belakang rumah. Dia sedang menatap bintang yang ada diatas langit, Hatinya sedang rindu pada kedua orang tuanya, juga adik-adiknya.
“Brak!” Reynaldi membuka pintu pembatas rumah dengan kasar.
Wajah pria itu terlihat sangat marah. Lina belum pernah melihatnya seperti itu.
“Masuk kamu!” perintahnya kasar.
Lina yang masih kebinggungan, malah bertanya, “ Ada apa?”
“Aku bilang masuk!” katanya kencang penuh dengan penekanan.
Lina tidak punya pilihan selain mengikuti suaminya masuk kedalam rumah.
Sampai didalam rumah, Fanny melihat kearahnya dengan senyum sinis dan puas.
Reynaldi yang melangkah lebih dulu membalik kan badannya sambil berkata, “ Kau selingkuh!”
“Apa?” Lina berkata sambil terkejut tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Ya, Kau berselingkuh dengan satpam. Memalukan! Tidak tahu diuntung!” katanya semakin kasar.
“Aku tidak pernah melakukan hal itu!” ujar Lina sambil menggeleng lemah.
“Jangan berbohong! Masih mau mengelak!” bentak Reynaldi tanpa ampun.
“Mana mungkin aku melakukan hal memalukan itu!” Lina berusaha membela diri
“Fanny jadi saksi! Dia melihatnya sendiri! Kau membuat malu! Kau mencoreng wajahku, di rumahku sendiri!” terus saja Reynaldi berkata kasar.
Air mata Lina mulai berjatuhan, “ Aku tidak melakukan itu…aku bersumpah!”
Hati Reynaldi sudah gelap, Tertutup dengan segala tipu muslihat Fanny. Tanpa rasa iba, Reynaldi menarik tangan Lina kasar, dan menyeretnya hingga dipintu utama. Lalu mendorong nya hingga tersungkur jatuh dilantai.
“Keluar dari rumah ini! Jangan pernah kamu berani menampakan wajah di depan aku! Cuh!” dengan keji Reynaldi berkata sambil meludahi wajah Lina.
“Tolong dengarkan aku! Aku tidak pernah berselingkuh! Bahkan aku tidak pernah bicara dengannya.” Lina berusaha melepaskan tangannya sambil terus menangis
Tapi Reynaldi tidak peduli, dengan tatapan penuh kebencian, dia mendorong tubuh Lina keluar dari pintu. Membiarkan Lina jatuh di ubin keramik yang berkilau dan dingin.
Malam itu hujan turun, Membasahi tubuh Lina yang masih duduk tersungkur di ubin teras, menatap wajah Reynaldi dengan penuh kebencian.
“Kenapa kau begitu percaya dengannya, tapi tidak sedikitpun percaya denganku?” katanya lirih hampir tidak terdengar.
Mendengar itu Fanny menjadi murka lalu berkata, “ Terang saja dia percaya padaku, karena aku sudah mendampingi nya bertahun-tahun. Apa yang kau harapkan? Dia mempercayaimu? Jangan ngimpi, Lina!”
Reynaldi tidak berkata apa-apa lagi sebelum akhirnya dia menutup pintu dengan kasar, dan meninggalkan Lina basah kuyup kehujanan di luar rumah.
Di balik pintu Fanny tersenyum puas, karena rencananya berhasil.
Sementara Reynaldi masih menyimpan amarah yang belum tuntas, Dan itu akan dilampiaskannya besok buat satpam rumahnya yang masih muda, dan baru beberapa hari kerja di sana.
“Awas kamu, ya! Aku bukan hanya memecatmu, tapi aku juga tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang.” ujar Reynaldi sambil mengepal kan kedua tangannya.
Mendengar itu semua membuat Fanny takut. Dan tentu saja Fanny sudah menyiapkan semuanya.
Fanny sudah mengatur semuanya. Bahkan sebelum semuanya terjadi malam ini. Fanny sudah memecat satpam rumahnya dengan uang pesangon cukup banyak. Sehingga tidak ada lagi yang bisa menjadi bukti. Dan penghalang buat skenario yang di buatnya.