Bab : 3 Pertemuan Yang Tidak Terduga

1036 Words
"Ya Allah aku harus kemana, tega kamu, Mas!” air mata Lina terus saja mengalir tanpa henti Hujan semakin deras,membasahi tubuh Lina yang terduduk di teras rumah mewah yang bukan lagi tempat tinggalnya. Air mata bercampur air hujan terus mengalir di pipi nya. Dia tidak percaya hidupnya cepat sekali berubah. Pria yang menjadi suaminya, yang harus nya dia hormati meskipun tanpa cinta, tega mengusir nya tanpa bisa memberi penjelasan. Tak ada tempat yang bisa Lina tuju, Rumah orang tuanya? Tidak mungkin. Mereka sudah menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Reynaldi. Dengan langkah lemas, Lina berjalan tanpa tujuan. Perut nya mulai terasa mual, kepalanya pusing dan badannya menggigil tidak karuan. Lina berjalan tanpa tujuan. Sampai akhirnya dia sampai di terminal bus. Dengan uang yang tersisa di saku, Lina membeli tiket bus, untuk pergi ke Kota lain. Dia harus pergi sejauh mungkin dari orang-orang yang sudah menghancurkannya. Sampai di kota yang baru kehidupan yang Lina jalani tidaklah mudah. Semuanya seperti neraka. Saat itu tidak ada sedikitpun uang di tangannya. Dengan susah payah lina terpaksa tidur di masjid yang iya singgahi. Suatu malam saat dia hampir pingsan, pemilik warung di samping masjid memberinya sepiring nasi. “ Nak! Apa kamu lapar? Saya bawa nasi untuk kamu, makanlah!” ujar seorang Ibu dengan lembut Dengan tatapan haru, Lina menerima nasi dalam piring itu, lalu memakannya. “Bu maaf apa ada lowongan kerja disini?” tanya Lina saat Lina berhasil menghabiskan makanan nya “ Kamu sendirian? “ tanya wanita itu dengan lembut Lina mengangguk sambil mengusap air matanya. “Kalau kamu butuh pekerjaan, saya butuh seseorang untuk membantu di warung saya, apa kamu mau? Bayarannya kecil, tapi setidaknya bisa untuk kamu makan setiap hari. “ kata nya lagi Hari- harinya menjadi lebih baik, meskipun masih sulit. Lina bekerja di warung, Dia harus menyapu, mengepel, melayani pelanggan, mencuci piring. Bukan hanya itu, Lina juga harus bekerja menjadi pembantu rumah tangga di siang hari. Dan bekerja di warung pada sore hingga malam hari, bahkan menjual kerupuk di pinggir jalan. Apapun yang membuatnya menjadi lebih banyak uang. Kerja keras sepanjang pagi dan sore hari hanya untuk makan dan sewa rumah satu petak di pinggir kota. Dunianya terasa runtuh, saat mengetahui kalau dirinya sedang hamil. Bayi dalam perutnya adalah anak dari orang yang mengkhianatinya. Beruntung Lina selalu didampingi oleh ibu pemilik warung. Yang terus memberinya kekuatan. “Anak ini tidak berdosa. Suatu saat dia yang akan menjagamu, Dia yang akan menyayangimu dengan tulus. Percaya padaku.” kata wanita itu Beberapa kali Lina ingin menyerah tapi saat merasakan detak jantung bayi dalam perutnya, hatinya berubah. Dan terkadang setiap malam dia menangis, kelelahan, kesepian. Tapi bila mengingat bayinya, dia bangkit kembali. “Aku.akan bertahan. Aku akan menjagamu. Aku akan membesarkanmu dengan baik.” katanya sambil mengelus perutnya Lina merasa mempunyai semangat baru. Dia berusaha bangkit demi anak dalam kandungan ya. Lina mulai mengambil kuliah di universitas terbuka, dia juga mengambil beberapa kursus on line. Mempelajari berbagai hal di antara waktu kerjanya. Dia tidak ingin hidup dalam keterpurukan. **** Saat usia kandungannya berusia delapan bulan, dia mulai merasa lemah. Lina sering merasa pusing, tapi dia tetap memaksakan diri untuk bekerja. Suatu malam saat dia sedang bekerja di warung, perutnya terasa mulas. Sakitnya sangat luar bisa. Dan ternyata air ketubannya pecah. “Aduh!” Lina memegangi perutnya, seluruh badannya bergetar karena sakit yang luar biasa. Pemilik warung panik dan bingung. “Lina! Kamu harus ke rumah sakit sekarang!” Beruntung saat itu ada mobil pick up milik yang punya warung. Mereka membawa lina kerumah sakit. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit air mata Lina tidak berhenti mengalir, antara menahan sakit juga menahan sedih. Tidak ada suami di sisinya, Tidak ada.keluarga.yang mendampinginya. Lina benar-benar sendirian. Beberapa jam kemudian setelah bertarung nyawa, antara hidup dan mati, seorang bayi laki-laki pun lahir. “Owe…Owe!” tangisan bayi memenuhi seluruh ruangan Sementara Lina terbaring lemah tak berdaya. Tidak lama kemudian suster menyerahkan bayi kepada ibunya. Lina menatap wajah kecil itu. Air matanya kembali mengalir deras. Kulit yang masih merah, tangannya mungil, matanya masih terpejam, badannya bergerak- gerak mencari kehangatan tubuh ibunya. Lina mengecup kening bayinya sambil berkata, “ Bima, “ bisiknya Namamu, “ Bima, “ Mengurus Bima seorang diri bukanlah hal yang mudah buat Lina. Dia harus terbangun ditengah malam Walaupun dia harus bekerja di siang dan malam hari. Beruntung ada ibu pemilik warung dan beberapa tetangga yang baik padanya. Tapi terkadang Lina juga ingin menyerah, saat Bima sakit, tapi dia tidak bisa membawanya ke dokter. Lina berusaha kuat, Dia tidak menyerah. Lina juga harus membawa Bima kemanapun dia pergi. Beruntung dia kuliah dan kursus online saat itu. Semua bisa dilakukan saat Bima tidur. Tahun demi tahun berlalu, Lina berhasil menyelesaikan kuliahnya, meskipun terseret-seret oleh keadaan. Dengan kerja kerasnya Lina berhasil.mendapatkan pekerjaan sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Gajinya cukup untuk menyewa sebuah rumah sederhana dan pengasuh untuk Bima. “Sayang lihat, Ibu dapat pekerjaan baru!” katanya dengan bahagia kepada Bima kecil Saat itu Lina mendapat tawaran baru di sebuah perusahaan besar di kota. Kesempatan yang akan mengubah kehidupan mereka. **** Hari ini Lina datang setelah mendapat surat diterima bekerja diperusahaan besar itu. Di Sebuah gedung besar pencakar langit di pusat kota. Lina berdiri di depan lift dengan perasaan gugup. Karena hari ini hari pertama nya bekerja di perusahaan ini. Salah satu perusahaan besar di bidang keuangan. “Ting…Tong” pintu lift terbuka Lina segera masuk kedalam, beberapa orang sudah berada di dalam, dan Lina berdiri di sudut ruangan lift itu sambil menatap lantai. Tapi kemudian, suara berat yang sangat dia kenal terdengar jelas di belakangnya. “Reynaldi, kita harus membahas proyek ini dengan staf sebelum kita meeting dengan dewan direksi.” “Iya, coba kamu atur waktunya, nanti kita bicarakan lagi!” Lina diam, badannya terasa bergetar semua, perutnya mendadak menjadi mulas. Perlahan dia melihat kearah samping. “Deg!” jantung nya benar-benar mau copot Disitulah mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti. Reynaldi terkejut, matanya melotot, seakan melihat hantu dari masa lalunya. Lina, yang dianggap nya sudah menghilang, kini berdiri di hadapannya. Dengan penampilan yang cantik dan elegan berbalut setelan blazer kerja yang cantik. Wajahnya cantik, lebih matang dan terlihat penuh percaya diri. “K_kamu! Lina! Benar kamu Lina!” kata nya terbata-bata “Anda baik-baik saja, Pak Reynaldi?” tanya teman nya kebingungan
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD