Dddrrrtttt
Notifikasi w******p milik Novia berbunyi.
*Mas Amir : Dek, Elsa merundungmu lagi?
*Novia : Mas tau dari mana?
*Mas Amir : Tadi pak Bambang telepon, besok siang mas diminta ke sekolah untuk kasus perundunganmu.
*Novia : Yang bener mas? Novia malah ga tau kalau sampai ke BP dan sampai sekarang Novia ga ada panggilan ke BP.
*Mas Amir : Sepertinya mas tau ini ulah siapa.
‘Ya Allah, apalagi ini.’ Batin Novia sembari menepok jidatnya, membuat Indah dan teman-teman yang ikut makan bersama Novia penasaran.
“Kenapa Nov?” tanya Indah.
“Eh, ini kakakku wa katanya besok disuruh ke sekolah buat urus masalah tadi pagi.”
“Eh siapa yang laporan ke BP, Nov?” Tanya Aish.
“Ga tau juga aku Aish.” Jawab Novia.
"Lagian tadi banyak juga yang lihat." timpal Indah.
“Sampai ke BP lagi? Eeemmm tebak-tebakan deh, kira-kira si Elsa itu bakal kesini ga nyari Novia?” Ucap Keisha, yang langsung mebuat semua yang ikut makan di kelas itu fokus ke Keisha.
“90% dia bakal kesini, pasti.” Teriak Leo dari belakang.
“Ah, kamu nyambung-nyambung aja Le.” Sahut Keisha.
“Banyak kuping ah ternyata.” Ungkap Keisha kesal.
“Gimana ga pada nguping, kita ngobrolnya kencang.” Seloroh Indah.
Membuat semua tertawa.
Pucuk dicinta ulampun tiba. Elsa sudah masuk ke ruang kelas Novia dengan wajah yang terlihat kesal.
“Heh pembantu, beraninya kamu lapor ke BP.”
“Maaf ya Nona Elsa yang terhormat, saya tidak merasa melaporkan Anda ke BP.” Jawab Novia.
“Halah, sok suci kamu. Kalau bukan kamu pasti cecunguk-cecunguk yang ada disini kan? Ayo ngaku.”
“Astaghfirullah Elsa, mereka itu teman aku, bukan cecunguk. Jaga bicaramu, apalagi kamu itu perempuan. Tidak pantas berkata seperti itu dan bersikap seperti ini.” Novia menasehati.
Tanpa mereka sadari, mereka sudah menjadi tontonan dari luar kelas.
“Halah, ga usah sok ceramah kamu. Beraninya kamu ngancam aku ya. Kamu lupa kalau papi ku masuk jajaran penyumbang tertinggi di sekolah ini?”
“Mengancam apa Elsa? Aku bahkan baru tau kalau yang tadi pagi sampai ke pak Bambang.”
“Banyak alesan kamu.” Elsa mencoba menarik kerudung Novia, namun berhasil dihalau, tak habis akal Elsa pun mendorong Novia, Novia yang tak siap akhirnya limbung dan terjatuh.
Ggedduubbrruuggg.
“Heh, Elsa. Keterlaluan kamu.” Umpat Indah.
“Denger ya pembantu miskin, jangan coba-coba mengancam aku, jangan sok-sok berkuasa. Camkan itu.” Ucap Elsa penuh emosi.
Elsa ingin meninggalkan kelas Novia sambil sedikit membanting kursi kearah Novia. Namun pintu keluar sudah diblokade oleh Wulan dan teman Novia yang lain.
“Hei Elsa, kamu lupa ini kelas siapa?” tanya Wulan yang menghalangi jalan Elsa, mereka sudah sangat geram dengan kelakuan Elsa.
“Minggir.” Teriak Elsa.
“Tidak akan nona Elsa, berani kamu menyakiti teman kami, jangan harap kamu bisa keluar dari sini.”
“Heh, minggir jangan halangi aku, sok-sokan setia kawan. Berani hah?” tantang Elsa.
“Das …” ucapan Wulan langsung dipotong oleh Novia.
“Wulan, sudahlah, jangan memperpanjang masalah dengan dia.” Ucap Novia seraya meringis karena pinggulnya sempat terkena kursi.
Akhirnya Wulan dan teman-temanya pun melepas Elsa.
“Oohh, jadi namamu Wulan. Awas kamu Wulan.” Ancam Elsa, Elsa pun keluar dari kelas Novia.
“Jangan sampai kalian ikut terkena masalah dan berurusan dengan Elsa.” Ucap Novia pada Wulan dan teman yang lain.
“Wwooiii bubar wooiii, dipikir ini bioskop.” ucap Leo kepada para Siswa yabg berada diluar kelas.
“Uedan iku arek wadon, bar bar tenan (gila itu anak perempuan, bar bar sekali).” Ucap Leo dengan ciri khas logat Surabayanya.
***Video send***
Ternyata selama kejadian tadi ada yang merekam dan mengirimkan kepada seseorang.
Pak Bambang menuju kelas Novia sebelum bel masuk berbunyi, setelah kajadian tadi, kelas Novia masih ramai.
“Ada apa ini ramai-ramai?” tanya pak Bambang.
“Barusan Novia dihajar Elsa pak.” Seloroh Leo dari belakang.
“Benar itu Novia?” alih-alih menjawab pertanyaan pak Bambang, Novia malah nyengir.
“Bapak kesini mau manggil kamu, tapi sepertinya bapak telat datangnya. Ayo keruangan bapak.”
“Baik pak.” Novia pergi mengikuti pak Bambang sembari menatap tajam kearah Leo dan mengacungkan kepal, yang hanya dibalas dengan menjulurkan lidah oleh Leo.
Sesampai di ruangan Pak Bambang dan Novia sudah duduk diposisi masing-masing.
“Ada apa pak manggil saya?”
“Hhhmmm… Novia ini berat.” Pak Bambang menghela nafas kemudian melanjutkan.
“Tadi pagi walimu menelepon.”
“Wali saya pak? Mas Amir.” Potong Novia.
“Sek to Nov, bapak ki urung sido cerito (Sebentar Nov, bapak itu belum jadi cerita).”
“Eh maaf pak.”
“Jadi walimu itu sudah geram dengan tindak pembullyan terhadap kamu. Beliau ingin Elsa ditindak lanjuti dengan tegas, yaitu mengeluarkan Elsa dari sekolah ini, dan dapat dipastikan dia tidak akan bisa bersekolah lagi di Jogja.” Pak Bambang menjeda, menarik nafas, kemudian melanjutkan.
“Tapi bapak mengingat dan menimbang bahwa kalian ini kan tinggal menunggu hitungan bulan saja untuk ujian nasional, jadi bapak melakukan negosiasi yaitu pertama Elsa harus meminta maaf kepada mu. Kedua ia harus menandatangani perjanjian hitam diatas putih, bahwasannya dia tidak akan melakukan pembullyan lagi terhadapmu.”
“Oohh begitu, ceritanya.” Novia manggut-manggut.
“Apa mungkin ada yang mau kamu sampaikan Nov?”
“Saya nderek saja pak, bahaimana baiknya, ya sejujurnya saya sudah jengah. Takut-takut hilang kesabaranan saya. Hehhee.”
‘Pantas saja dia datang ke kelas terus marah-marah.’batin Novia.
“Kakakmu dan papinya Elsa sudah bapak undang untuk datang ke sekolah besok siang, bapak juga sudah memberi tahu perihal ini ke kepala sekolah. Semoga kedepannya Elsa menjadi lebih baik.”
“Baik pak. Terima kasih untuk bantuannya.”
“Masih ada lagi pak?” imbuh Novia.
“Bapak rasa cukup Nov. Kamu bisa kembali ke kelas, bel sudah berbunyi dari tadi.”
“Baik, pak saya permisi.” Novia segera menuju ke kelas untuk mengikuti dua mata pelajaran terakhirnya.
Ttteeettt ttteeettt ttteeettt.
Bel pelajaran berakhir, guru menutup pelajaran. Siswapun berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Begitu juga dengan Novia dan Indah.
“Nov, aku anterin kamu pulang ya.” Tawar Indah.
“Ga usah Ndah, ngerepotin.” Tolak Novia.
“Ga ngerepotin kok, ya ya ya. Biar kamu sampai rumah majikanmu lebih cepat, kalau nunggu busway nanti kelamaan.” Bujuk Indah.
Setelah menimang dan berfikir akhirnya Novia menerima tawaran Indah.
“Baiklah nona Indah, jika nona memaksa saya tidak sanggup menolak.” Canda Novia.
“Nah gitu dong. Come on. Pak supir sudah menunggu.” Mereka berduapun begegas menuju gerbang sekolah.
Indah dan Novia menaiki mobil ke arah rumah bu Endang majikan Novia.
“Nov, emang kamu ga keteteran apa masih harus kerja? Tapi nalaimu kok masih bagus aja, PR juga selalu dikerjain.” Tanya Indah.
“Yaa harus bagi-bagi waktu Ndah.”
“Iya sih, hehhee “
“Nov, sebenarnya kamu dan Elsa itu ada masalah apa sih? Bukannya dulu kalian satu sekolah ya?” lanjut Indah.
“He’em kita satu sekolah dari SD malah. Dulu aku anak pindahan, sekelas sama Elsa mulai dari kelas 5 aja. Pas SMP ga pernah sekelas dan kami baik-baik saja pas SMP, tapi pas kelas 3 dia pindah sekolah. Pas SMA aja dia berubah. Aku ga paham kenapa dia bisa berubah 180°. Padahal Elsa itu anak yang baik lho.”
“Oohh gitu, aku pikir dia emang udah jadi tukang buli sedari kecil. Wkwkwkkw” seloroh Indah. Novia hanya mengangkat bahunya.
Sepenjang perjalanan mereka mengobrol dengan asiknya, Novia mengirim pesan wa.
*Novia : Mas, tadi Novia udah dipanggil pak Bambang. Katanya besok Elsa mau ditindak lanjuti.
*Mas Amir : Iya dek, moga itu menjadi efek jera buat dia.
*Novia : Moga aja mas, tadi dia abis nyamperin Novia pas jam istirahat kedua, marah-marah kesetanan. Wkwkwkwk… lucu deh mas. Tapi yaa pinggang sama p****t aku jadi korban. (Emot tepok jidat)
*Mas Amir : Kamu diapain lagi? Dilempar kursi? Wkwkwkkw. Lawan dong, mana Novia si super girl?
*Novia : No… keep calm mas bro. Kan bersabarlah maka bagimu syurga.
*Novia : Mas Weekend Novia mau main ke rumah ya, mau ada yang diomong. Kangen juga sama Safa dan Marwah.
*Mas Amir : Nah gitu dong, anak-anak pasti senang. Nanti biar mas bilang ke mbakmu buat masakin masakan kesukaanmu.
*Novia : Aassiiiaappp.
Tidak terasa akhirnya mereka sampai juga di rumah majikan Novia.
“Alhamdulillah sudah sampai, makasih Indah cantik, makasih pak.” Ucap Novia.
“Sama-sama non.” Jawab pak Supir.
“Sama-sama Nov.” jawab Indah.
“Mau mampir dulu Ndah?”
“Eh, mau banget tapi lain kali aja yaa, aku udah janji sama mama mau nemenin belanja.” Jawab Indah sambil berlaga sedih.
“Alah sok-sok berlaga sedih. Ya udah yaa aku turun. Assalamualaykum.”
“Waalaykumussalam.” Jawab Indah dan pak Sopir berbarengan.
Novia melambaikan tangan kearah Indah dan mobil pun melaju.
“Assalamualaykum.” Salam Novia saat memasuki rumah majikannya.
“Waalaykumussalam.” Jawab bu Endang dari ruang tengah dan segera menuju ke belakang dimana Novia masuk.
“Sudah pulang nduk. Sini ikut ibu dulu.”
“Iya bu.” Novia mengekori bu Endang.
“Nah sini nduk, kenalin ini mbak Yana yang akan gantiin kamu kerja disini.”
“Novia mbak.” Novia mengenalkan diri kemudian mengulurkan tangan memgajak salaman Yana.
“Yana mbak.”
“Tadi ibu sudah banyak ngomongin kerjaan juga ke Yana.” Lanjut bu Endang.
“Novia bisa bicara sama ibu sebentar?” pinta Novia.
“Ayo nduk ke kamar ibu.”
“Mbak Yana, kamu bisa ke kamar dulu kalau mau rapi-rapi. Kamarnya jadi satu sama Novia, yang sudah ibu tunjukan tadi. Ibu mau ada bicara dulu sama Novia.” Lanjut bu Endang.
“Nggeh bu.” Jawab Yana.
“Ayo nduk.” Ajak bu Endang, yang diikuti Novia dari belakang.
“Mari mbak.” Ucap Novia pada Yana, yang dijawab dengan senyum dan anggukan.
Setelah sampai di kamar, bu Endang mengajak Novia duduk di sofa panjang yang ada di kamarnya kemudian memulai percakapan.
“Maafin ibu ya nduk, baru menyarikan pengganti sekarang.” Ucap bu Endang sembari menggenggam tangan Novia.
“Ibu berharap kamu sekarang bisa fokus untuk belajar. Ibu harap kamu enggak tersinggung dengan keputusan bapak dan ibu. Mungkin terkesan mendadak, tapi sebenarnya ibu sudah lama nyari-nyari, tapi memang susah nyari yang klik.” Lanjut bu Endang.
“Iya bu, Novia paham maksud ibu.” Jawab Novia.
“Apapun keputusan bapak dan ibu, Novia tau itu yang tebaik untuk Novia.” Lanjut Novia.
“Alhamdulillah nduk kalau kamu paham, ibu lega.”
“Iya bu. In syaa Allah weekend Novia pindah ke rumah ya bu.”
“Lho kamu disini aja ga papa nduk.”
“Engga bu, terima kasih. Novia nemani ibu saja di rumah.”
“Baiklah nduk kalau keputusanmu begitu.”
“Ya sudah bu, Novia pamit ke kamar, sekalian beres-beres. Sekali lagi Novia dan ibu Minah mengucapkan terima kasih banyak sama ibu dan bapak yang sudah baik banget terhadap kami.” Novia menyalami bu Endang dan mencium tangannya sebelum pergi meninggalkan kamar bu Endang dan menuju ke kamarnya.
“Assalamualaykum.” Ucap Novia sebelum memasuki kamarnya, karena memang sudah menjadi kebiasaan Novia mengucapkan salam sebelum masuk kamar terlebih lagi sekarang ada Yana di kamarnya.
“Waalaykumussalam, mbak. Maaf ya saya ikut di kamar.”
“Ga papa mbak, memang disini kamar pembantunya cuma satu, lagian ini juga luas, kasur bisa buat berdua.” Jawab Novia.
“Mbak mau masuk-masukin barang kelemari? Yang itu kosong kok mbak. Dulu aku disini sama ibu jadi lemarinya ada dua. Dipakai saja.” Lanjut Novia.
“Eh iya mbak.”
“Jangan panggil aku mbak lah mbak, mbak Yana cukup panggil aku Novia.” Ucap Novia.
“Aaassiaaapp Novia.”
“Kamu kenapa kok malah keluar?” Lanjut Yana.
“Aku kan masih sekolah mb, sebentar lagi mau ujian nasional, aku pengen fokus belajar.”
“Oohh gitu, kamu hebat ya masih sekolah tapi udah nyambi kerja. Salut deh aku.”
“Hehehehe, ya begitulah kehidupan mbak. Mbak yang nyaman ya, in syaa Allah weekend aku udah pulang ke rumah ibuku.”
“Secepat itu?”
“Iya mbak. Ya sudah aku mau ganti baju dulu, terus beberes.” Novia menuju kamar mandi, mengganti pakaian kemudian melakukan pekerjaannya bersama dengan Yana.