Siapa Kamu?

1915 Words
Novia berjalan kearah Indah dan menyapa sahabatnya tersebut, “Good morning Indah cantik, pagi-pagi senyum ngapa, butek amat.” “Enak wae, butek, butek emange banyu kali butek, hahhaha (enak aja, butek, butek, emang air sungai butek).” “Yuk ke kelas” imbuh Novia. “Ayo, eh PR Matematik sudah selesai?” tanya Indah. “Sudah dong, mau nyontek?” jawab Novia sekaligus meledek sahabatnya. “Aku masih kurang nomor 3, boleh dong nirun(menyalin)” minta Indah. “Iya boleh.” Seperti biasa ketika menuju ke kelas, Elsa sudah menghadang bersama ketiga temannya. “Pagi-pagi udah kecentilan, sok kecakepan, padahal cuma pembantu.” Sinis Elsa. Novia tidak menanggapi Elsa, itulah yang selalu dilakukan Novia ketika Elsa hampir setiap pagi selalu mencari gara-gara dengannya. Namun, kaki Elsa mencoba menghalangi langkah Novia, hingga membuat Novia terjatuh. Geeddeeebbbrruuuukkk. Sontak membuat pandangan para siswa yang berada disekitar mereka memandang kearah mereka, tak terkecuali Angga. “Astaghfirullah.” Ucap Novia. “Ya ampun Nov, kwe gapopo (kamu ga papa)?” tanya Indah sembari menolong Novia. “Ga papa Ndah.” Jawab Novia. “Elsa, kamu ni pagi-pagi sudah cari ribut aja.” Kesal Indah. “Sudah, sudah, Ndah. Ayo kita ke kelas, tidak perlu diladeni.” Ajak Novia sembari menarik tangan Indah menuju ke kelas. Merasa tidak digubris oleh Novia, Elsa tambah kesal, ia meraih botol air mineral yang baru diminum oleh Nita salah satu temannya, kemudian melempar kearah Novia. Sontak para siswa yang masih melihat mereka pun berteriak. “Aaaaaa” “Aaaawwaaasss” Praaakkkk, botol tersebut mengenai kepala Novia, beruntung karena air yang ada di dalam botol tinggal sedikit, Novia tidak terlalu basah. “Astaghfirullahaladzim.” Ucap Novia sembari mengelus d**a dan menarik nafas agar tidak terprovokasi. Indah yang tidak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu, langsung mengambil botol tersebut dan ingin melempar balik kearah Elsa, namun dihalangi oleh Novia. “Sudah Ndah, biarkan saja, jangan terprovokasi.” Ucap Novia, sembari mengambil botol yang ada ditangan Indah kemudian membuang ketempat sampah. “Kamu keterlaluan El, kamu ….” “Sudah Ndah, ayuh ah kita ke kelas.” Novia menarik Indah menuju ke kelas. Siswa yang awalnya menjadi penonton pun bubar seiring Novia yang menuju ke kelas. Di dekat lapangan Angga masih diam termangu melihat kejadian tadi. Ia benar-benar tidak percaya kalau Elsa teman sedari kecilnya bisa berbuat seperti itu kepada Novia. Ia hanya bisa menggelengkan kepala, karena selama ini Angga tidak tau Novia sering dibully. Ketika ia masih sibuk dengan pikirannya tiba-tiba Sam menepuk bahunya. “Pagi-pagi kamu udah bikin anak orang dilempar botol.” Seloroh Sam. Dan yang diajak bicara hanya bengong dengan ucapan Sam. “Maksudnya gimana Sam?” tanya Angga yang tak paham, yang hanya dibalas kekehan oleh Sam dan berlalu menuju ke kelasnya. “Nov, hati kamu itu terbuat dari apa sih?” Novia menatap Indah bingung. “Bisa-bisanya kamu ga balas sama sekali perbuatan Elsa. Kalau kamu diam terus dia akan semakin menjadi-jadi Nov, ‘mbungahi’ kalau kata orang jawa. Aku tu sampai gregetan. Hhuuuhhh pingen tak pites-pites (mungkin bahasa Indonesanya becek-becek, wkwkwkwk). “Sudahlah Ndah, kamu ndak usah ambil pusing si Elsa. Aku ga mau terprovokasi, kalau aku balas dia, apa bedanya aku sama dia. Iya ga? Calm down, babe.” Ucap Novia sembari memainkan pelipis matanya naik turun, membuat Indah tambah kesel. “Kerudungmu basah, kamu bawa ganti ga?” “Bawa alhamdulillah, selalu ada di tas.” “Aku ke toilet dulu ya, kamu bisa ke kelas dulu ga papa.” Lanjut Novia. “Ga mau, aku ikut. Aku ga mau nanti si Elsa tiba-tiba nyusulin kamu, nanti kamu diapa-apain lagi.” Akhirnya mereka berdua bergegas menuju toilet. Selesai berganti mereka langsung ke kelas dan teman-teman sekelas sudah heboh dengan menjejali banyak pertanyaan. “Nov, kowe ra popo? (Kamu ga papa)” tanya Keisha “Nov, gowo ganti ra, teles kepes? (Bawa ganti ga, basah kuyup)” sambung Aish. Dan masih banyak pertanyaaan dari teman-teman yang lain, bahkan ada yang mengumpat si Elsa. Kelas Novia memang kelas yang kompak dan jiwa korsa, kalau ngeroyok orang ga dosa, pengen banget mereka ngeroyok Elsa ramai-ramai. Teng teng teng. Bel tanda masuk berbunyi. Teman-teman yang berkerumun di meja Novia pun bubar kembali ke tempat duduk masing-masing. Dan siswa siswi yang masih di luar kelas pun masuk ke kelas masing-masing begitu juga dengan Sam. Ia masuk ke kelas sengaja menuju ke meja Novia dari belakang, dan menempelkan s**u kotak rasa coklat dingin di pipi Novia. “Minum, kamu butuh kekuatan buat melawan ketidak adilan.” Ucap Sam dingin dan datar. “Eh.” Ucap Novia kaget. “Sam, kamu kesambet apa? Gemati temen karo Novia, go aku endi? (Perhatian banget sama Novia, buat aku mana?)” cerocos Indah. “Tuku dewe (beli sendiri).” Jawab Sam datar, ia menuju ke tempat duduknya. “Medit (pelit).” Ucap Indah. Yang membuat Novia terkekeh, melihat tingkah laku mereka bedua. Guru pun akhirnya masuk kelas dan pelajaran dimulai. *Om hari ini Novia dibully lagi oleh Elsa anak pak Beni* sebuah pesan whatapps dikirim oleh seseorang. *** Kelas Elsa saat istirahat. “Teman-teman ada yang lihat Elsa ndak?” tanya Radit teman satu kelas Elsa sekaligus ketua kelas. “Biasanya kalau istirahat gini dia ke kantin Dit.” Jawab salah satu teman mereka. “Titip pesan ya, kalau dia kembali ke kelas, dicari pak Bambang BP suruh keruangan BP.” Lanjut Radit. “Ok siap Dit.” “Ya udah aku mau cari dia di kantin dulu.” Radit pun keluar dari kelas dan mencari Elsa ke kantin. *** Sebelum Radit mencari Elsa. “Eh Radit, kamu sekelas sama si Elsa Mayuri ya?” tanya pak Bambang BP. “Enggeh pak.” Jawab Radit yang tak sengaja bertemu dengan pak Bambang BP di ruang guru saat ia mengantar buku tugas para siswa. Kenapa BP karena pak Bambang di Sekolahan ini ada 3 ceritanya, hehehe. “Kebetulan, aku mau panggil dia. Titip pesan sama kamu aja kalau gitu. Bilang ke Elsa suruh ke ruangan saya segera, saya tunggu.” “Baik pak, laksanakan.” Sembari memberi hormat ala hormat ke komandan upacara dan pak Bambang hanya terkekeh. *** Akhirnya Radit melihat Elsa di meja pojok biasa ia dan teman-temannya makan di kantin. Radit bergegas menuju ke arah Elsa. “El.” Panggil Radit. “Iya Dit?” “Kamu dipanggil pak Bambang BP, disuruh ke ruangannya segera.” Deg. Elsa pun terkejut, begitu juga dengan ketiga temannya. ‘Aduh mati aku, kenapa harus sampai ke BP sih, kalau papi tau gimana ini.’ Batin Elsa cemas. “Ok Dit. Thanks ya.” balas Elsa datar. “Ditunggu yaa, aku mau kembali ke kelas dulu.” Dddrrrttt Ddddrrrttt. Handphone Elsa berdering, muncul nama Papi di layar. “Teman-teman aku angkat telepon dulu, sekaligus ke ruang BP, duluan ya.” Pamit Elsa. “Eh iya El, ga dihabisin dulu baksonya?” Balas Nita. “Engga ah Nit, mendadak hilang nafsu makannku.” Jawab Elsa. “Buat aku ya kalau gitu.” Imbuh Nita. Yang dibalas anggukan oleh Elsa dan sorakan dua teman lainnya. “Hhhuuuuu, dasar maruk.” Sorak Jenny dan Alya bersamaan. Hanya dibalas cengiran oleh Nita. Elsa mengangkat telepon papinya yang sudah dua kali menelepon. “Hallo papi.” “Elsa, kamu bikin ulah lagi, hah?” tanya papi Elsa penuh dengan kemarahaan. Elsa hanya terdiam. “Elsa, sudah berapa kali papi bilang, jauhi Novia, jangan buat masalah dengannya. Masih saja ngeyel.” Suara papi Elsa tersengal. “Kamu mau dikeluarkan dari sekolah?” “Tapi pi, sepertinya ga harus sampai dikeluarkan dari …” “Papi engga mau tahu, kamu harus selesaikan sendiri masalahmu. Papi angkat tangan. Punya anak perempuan kok petakilan, bisanya bikin masalah terus.” Panggilan telepon akhirnya berakhir, belum sempat Elsa membela diri. “Ya ampun, papi kenapa sih selalu belain si pembantu. Huhh.” Elsa lanjut jalan menuju ruang BP. Tok tok tok. “Masuk.” “Permisi pak.” Elsa masuk keruangan. “Duduk Elsa.” “Ada apa ya pak?” “Ndak usah pura-pura ndak tahu gitu El.” Ucap pak Bambang yang masih sibuk dengan gawainya. “Kamu pagi-pagi sudah bikin masalah saja. Dan sepertinya hampir setiap pagi kamu membuat masalah dengan Novia.” Lanjut pak Bambang. “Sudah berapa kali Elsa kamu masuk ruang BP dengan kasus yang sama, dan berapa kali juga papimu harus dipanggil ke sekolah?” Elsa hanya diam menundukkan kepala. “Tadi bapak sudah telepon papi kamu. Katanya dia menyerahkan semua ke bapak.” “Kamu tahu El, tadi pagi bapak dapat telepon dari wali Novia, dan beliau sangat marah. Untung masih bisa diajak negosiasi.” Pak Bambang menghela nafas panjang. “Elsa, beliau bahkan meminta kamu untuk dikeluarkan dari sekolah ini.” “Tapi bapak masih memikirkan masa depan kamu, mengingat ini tahun terakhir dan tinggal beberapa bulan lagi ujian nasional.” Lanjut pak Bambang. “Elsa, bapak ndak tahu kamu ada masalah apa dengan Novia, karena sedari kelas X kamu sudah tak bersikap baik dengannya. Tapi tolong pikirkan orang tuanmu yang menyekolahkanmu, papimu banting tulang demi kamu bisa bersekolah, tapi kelakuanmu tidak mencerminkan anak yang berpindidikan. Kamu sudah melakukan bullying Elsa, bahkan bertahun-tahun Elsa. Dimana pikiranmu?” walau nyelekit pak Bambang tetap santai dalam berbicara. “Maaf pak.” Hanya itu yang bisa Elsa ucapkan. “Kalau kamu ingin minta maaf bukan ke bapak, Elsa, tapi ke Novia.” “Kamu masih bisa menyelesaikan sekolahmu di sekolah ini dengan beberapa syarat, yang harus kamu sepakati.” Elsa masih tertunduk menahan kesal. “Pertama, kamu harus meminta maaf pada Novia dan itu disaksikan oleh papimu, kakak Novia, bapak, dan juga kepala sekolah. Kedua, kamu harus menandatangani surat perjanjian hitam diatas putih dengan materai, yang berisi kamu tidak akan lagi melakukan perundungan atau pembullyan atau mengganggu Novia dalam bentuk apapun, bahkan hanya dangan kata-kata. Jika itu kamu lakukan, dapat dipastikan kamu akan dikeluarkan dari sekolah ini, dan tidak akan bisa mendapatkan sekolah di Yogyakarta ini. Perjanjian itu akan kamu tanda tangani setelah kamu meminta maaf dan juga kami saksikan. Mungkin kamu juga akan diskorsing.” Jelas pak Bambang. “Kamu paham Elsa?” “Iya pak.” “Besok kita akan melakukan pertemuan itu, bapak dan terutama papimu berharap kamu benar-benar bisa introveksi diri dan sadar akan kesalahanmu kali ini Elsa.” Lanjut pak Bambang. Elsa mengeratkan kepalan tangannya. Amarah sudah memuncak. “Ada yang ingin kamu tanyakan atau kamu sampaikan Elsa?” “Pak, saya rasa ini berlebihan, tidak adil untuk saya. Saya merasa diancam. Saya akan minta papi saya untuk mengurus ini semua.” “Elsa, sudah bapak bilang tadi, papi kamu saja menyerahkan semua ke bapak, sudah saking muaknya dengan kelakuan kamu. Dan ingat ya Elsa kamu melakukan perundungan kepada Novia sudah bertahun-tahun. Dari awal kalian masuk, ingat itu Elsa. Dan selama ini dari pihak Novia tidak pernah memperbesar masalah dan selalu memaafkanmu, mungkin kesabaran mereka sudah pada batasnya.” Pak Bambang menghela nafas. “Renungkanlah kesalahanmu Elsa.” ‘Selalu saja Novia, Novia. Minta maaf ke pembantu itu? Dimana harga diriku. Hhuuuhh.’ Batin Elsa. “Sudah paham Elsa?” “Kalau sudah paham kamu boleh kembali ke kelas, dan renungkan baik-baik kesalahanmu.” “Baik pak, saya permisi.” Elsa keluar dari ruang BP dan banyak mata memandangnya bahkan ada yang terang-terangan bisik-bisik bahwa ia adalah tukang bully. Elsa tidak menuju ke kelas, melainkan taman belakang. Disana ia meluapkan semua amarah dan kekesalannya. Ia merasa diancam, dan itu oleh pembantu? Konyol. Pikirnya. “Aaaaahhh… Sialan! Pembatu sialan!” umpat Elsa. “Siapa kamu Novia, sampai berbuat seperti ini.” Gumam Elsa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD