bc

Hasrat Panas Suami Sahabat

book_age18+
1
FOLLOW
1K
READ
forbidden
love-triangle
family
HE
drama
serious
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Blurb

"Aku tahu ini salah.

Aku tahu aku sedang menghancurkan segalanya.

Tapi setiap kali Rangga menatapku, tubuhku lupa cara menolak."

Aruna Prameswari hidup dalam pernikahan yang hambar dan persahabatan yang ia kira suci. Sampai suatu hari, suami sahabatnya — Rangga Aditya Wijaya — mulai menyentuhnya dengan cara yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri. Rangga. Pria yang seharusnya terlarang. Pria yang setiap malam pulang ke pelukan Nadia, sahabat Aruna sejak kuliah. Satu sentuhan di gudang belakang perumahan berubah menjadi ciuman panas di kontrakan. Satu malam penuh nafsu berubah menjadi ketagihan yang tak bisa dikendalikan. Di balik pintu rumah sederhana, di dalam mobil gelap, dan di sudut-sudut kota pinggiran yang sepi — mereka membakar dosa yang semakin lama semakin manis. Aruna terjebak antara rasa bersalah yang menyiksa dan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Semakin ia mencoba berhenti, semakin Rangga menariknya lebih dalam. Karena bagi Rangga, Aruna bukan lagi sekadar istri sahabatnya.

Ia adalah candu.

Dan ia tak berniat melepaskannya.

#HasratPanasSuamiSahabat #CintaTerlarang #SuamiSahabat #SteamyStories #ForbiddenRomance #Perselingkuhan #DramaRomance #NovelDewasa #HasratTerlarang #Affair

chap-preview
Free preview
BAB 1: Pertemuan yang Tak Disengaja
Hujan deras mengguyur perumahan pinggiran kota sejak sore tadi. Aruna Prameswari berdiri di depan jendela kontrakan kecilnya, memandang genangan air yang mulai membentuk danau kecil di halaman depan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi suaminya, Dika, belum juga pulang. Lagi. Aruna menghela napas panjang. Sudah tiga tahun menikah, tapi rasanya seperti hidup sendirian. Dika bekerja sebagai sales lapangan, sering pulang larut, bau rokok, dan langsung tidur tanpa banyak bicara. Sentuhan intim mereka semakin jarang, bahkan hampir tidak ada dalam enam bulan terakhir. “Biasa saja, Run. Kerjaannya lagi banyak,” gumam Aruna pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hati yang semakin rapuh. Ia memeluk tubuhnya sendiri, merasakan dingin yang merayap dari lantai keramik kontrakan yang sudah usang. Cahaya lampu neon kuning pucat di langit-langit membuat bayangannya di jendela terlihat semakin kecil dan kesepian.Suara notifikasi ponsel membuatnya menoleh. Sebuah pesan dari Nadia. Nadia: Run, besok Sabtu pagi ke rumah ya? Aku masak rendang kesukaanmu. Rangga juga lagi di rumah, jarang banget libur bareng. Plisss dateng ya bestie Aruna tersenyum tipis. Nadia Putri Larasati, sahabatnya sejak semester satu kuliah. Satu-satunya orang yang masih membuatnya merasa ada yang peduli. Meski sudah menikah dengan Rangga empat tahun lalu, hubungan mereka tetap erat. Aruna sering datang ke rumah mereka yang hanya berjarak lima blok dari kontrakannya. Aruna: Oke, aku dateng. Bawa es krim ya? Nadia: Deal! See you besok cantik Aruna meletakkan ponselnya, lalu berjalan ke kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin yang sudah agak buram di sudut-sudutnya. Wanita 27 tahun dengan rambut hitam panjang yang biasa diikat asal, mata cokelat yang lelah, dan tubuh ramping yang masih terjaga meski jarang olahraga. Ia menyentuh pipinya sendiri, merasakan kulit yang sedikit kering karena kurang perawatan. “Kamu masih cantik, Run. Tapi buat siapa?” bisiknya pelan. Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. Dika hampir tidak pernah lagi memujinya. Pagi-pagi buru-buru ke kantor, malam pulang capek, akhir pekan seringnya meeting atau tidur seharian. Pernikahan yang dulu penuh tawa kini tinggal rutinitas kosong. Malam itu ia tidur dengan gelisah, mimpi buruk tentang pernikahan yang semakin dingin. Dalam mimpi, Dika berjalan menjauh sementara ia berteriak memanggil namanya, tapi suaranya tak terdengar. Pagi Sabtu datang dengan cerah setelah hujan semalaman. Langit biru cerah, udara segar bercampur aroma tanah basah. Aruna memilih dress casual berwarna krem yang sedikit ketat di bagian d**a dan pinggul. Ia tidak ingin terlalu cantik, tapi juga tidak mau terlihat lusuh seperti biasanya. Setelah membeli es krim vanila kesukaan Nadia di minimarket dekat perumahan, ia berjalan kaki menyusuri trotoar yang masih basah. Angin pagi menyapu rambutnya yang tergerai sedikit. Rumah satu lantai milik Rangga dan Nadia terlihat sederhana tapi rapi. Cat temboknya putih agak pudar, halaman depan ditanami beberapa pot bunga mawar dan melati, dan garasi kecil di samping tempat Rangga biasa menyimpan mobil pick-up kontraktornya. “Runaaa!” Nadia langsung memeluknya begitu pintu dibuka. Wangi rendang langsung menyeruak dari dalam rumah, membuat perut Aruna keroncongan. “Kamu tambah cantik aja sih! Kok kurusan? Jangan-jangan Dika lupa kasih makan ya?” Aruna tertawa pelan, balas memeluk sahabatnya erat. “Kamu juga tambah glowing. Mana suami idamanmu?” “Di belakang, lagi benerin pagar yang kemarin roboh kena angin kencang. Masuk yuk!” Nadia menarik tangannya masuk. Rumah itu terasa hangat, penuh aroma masakan dan suara Musik yang menyala pelan memutar lagu-lagu lawas. Aruna meletakkan es krim di meja makan, lalu membantu Nadia menata piring-piring keramik putih yang sudah agak usang tapi terawat. Tak lama kemudian, pintu belakang terbuka. Rangga Aditya Wijaya masuk sambil membawa palu dan beberapa papan kayu. Kaos hitamnya basah keringat menempel di tubuh tegapnya. Tinggi, bahu lebar, rahang tegas, dan kulit agak gelap karena sering kerja di lapangan. Usianya 32 tahun, tapi terlihat lebih dewasa dan berwibawa. Rambutnya agak acak-acakan, ada sedikit debu di lengan bawahnya. “Eh, Aruna,” sapanya ramah, suaranya rendah dan berat seperti biasa. “Lama nggak ketemu. Sehat?” Aruna merasakan sesuatu bergetar di d**a. Bukan pertama kalinya ia bertemu Rangga, tapi pagi ini tatapannya terasa berbeda. Mungkin karena sinar matahari yang masuk dari pintu belakang menyinari wajahnya, atau mungkin karena ia sedang sensitif akhir-akhir ini. “Iya, Mas. Sibuk ya?” Rangga mengangguk sambil meletakkan palu di meja samping. “Proyek renovasi lagi banyak. Musim hujan gini banyak rumah yang perlu diperbaiki. Kamu sendiri? Dika mana?” “Kerja,” jawab Aruna singkat. Nada suaranya tanpa sadar datar dan lelah. Rangga menatapnya sesaat lebih lama, mata hitamnya seolah sedang membaca sesuatu yang tak terucap. Tapi ia tidak berkomentar. Ia mencuci tangan di wastafel dapur, lalu bergabung dengan mereka di meja makan. Nadia sibuk bolak-balik mengambil nasi hangat, rendang yang empuk, dan sayur nangka, tak menyadari keheningan yang tiba-tiba tercipta di antara suaminya dan sahabatnya. Makan siang berlangsung hangat di permukaan. Nadia bercerita tentang murid-muridnya di SD negeri dekat situ—ada yang lucu, ada yang nakal, sampai gosip tetangga yang rumahnya baru direnovasi. “Eh, tetangga sebelah kan, Bu Siti, katanya suaminya lagi punya simpanan lho. Tiap malam pulang bawa bunga tapi bukan buat dia!” cerita Nadia sambil tertawa. Aruna tertawa di tempat yang tepat, sesekali mencuri pandang ke arah Rangga. Pria itu makan dengan tenang, mengunyah perlahan, tapi Aruna merasa tatapannya sesekali singgah padanya. Bukan tatapan biasa seorang suami sahabat. Ada sesuatu yang lebih dalam, seperti sedang mengamati, khawatir, atau... entahlah. Aruna buru-buru mengalihkan pandangan ke piringnya. Setelah makan, Nadia tiba-tiba diminta tetangga sebelah untuk membantu memotong kue ulang tahun anaknya sebentar. “Aku balik lima belas menit ya! Kalian ngobrol dulu aja, jangan pada bosen,” kata Nadia sambil buru-buru keluar sambil membawa pisau kue kecil. Ruangan mendadak sepi. Hanya ada suara jam dinding dan angin pagi yang masuk lewat jendela. Aruna berdiri untuk membereskan piring, berusaha mengusir kegelisahan yang tiba-tiba muncul. Rangga ikut berdiri, membantu mengangkat gelas-gelas. “Aruna,” panggilnya pelan saat mereka berada di dekat wastafel. “Iya, Mas?” Aruna menjawab tanpa menoleh, sibuk membilas piring di bawah air mengalir. Rangga berdiri cukup dekat. Aruna bisa mencium aroma sabun mandi bercampur keringat pria yang masih segar, aroma maskulin yang entah kenapa membuat dadanya sesak. “Kamu baik-baik aja?” Pertanyaan sederhana, tapi nada suaranya—lembut, penuh perhatian—membuat Aruna merasa ada yang tercekat di tenggorokannya. Sudah lama sekali tak ada yang bertanya seperti itu dengan sungguh-sungguh. “Baik,” jawabnya cepat. “Kenapa memangnya?” Rangga tidak langsung menjawab. Ia meletakkan gelas di tempat cuci, lalu bersandar di meja dapur dengan santai. Tatapannya turun sebentar ke bibir Aruna sebelum kembali ke matanya. “Kamu kelihatan… capek. Dan Dika jarang kelihatan akhir-akhir ini. Kalau ada apa-apa, bilang aja. Kita kan sudah kayak keluarga.” Aruna tersenyum kecut, mengeringkan tangannya dengan lap dapur. “Biasa lah, Mas. Kerja. Kadang aku juga sibuk ngajar les privat online. Rumah tangga emang gitu, nggak selalu mulus.” Hening sejenak. Udara di antara mereka terasa lebih berat, penuh kata-kata yang tak terucap. Aruna merasa jantungnya berdetak lebih kencang. Ini salah. Ia seharusnya mundur, kembali ke meja makan, menunggu Nadia pulang. Tapi kakinya seperti tak mau bergerak. Ada rasa nyaman yang aneh di dekat Rangga, sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan di dekat Dika. Rangga mengulurkan tangan, seolah mau mengambil piring dari tangan Aruna. Jari mereka bersentuhan. Hanya sebentar, tapi cukup untuk membuat listrik kecil menjalar di kulit Aruna. Hangat, kuat, dan menenangkan sekaligus menggelisahkan. “Maaf,” gumam Rangga, tapi ia tidak langsung melepaskan. Matanya menatap Aruna lekat, seolah ada ribuan pertanyaan di sana.Aruna menarik tangannya pelan. “Nggak apa-apa, Mas.” Saat itu pintu depan terbuka. Nadia kembali dengan wajah ceria, tak menyadari apa pun. “Udah diberesin? Wah, kalian kompak banget sih! Piringnya udah bersih semua. Makasih ya!” Aruna memaksakan senyum lebar. Dadanya terasa sesak. Ia melirik Rangga sekilas. Pria itu sudah kembali ke ekspresi biasanya, tenang dan ramah, sedang mengambil gelas air untuk minum. Tapi Aruna tahu. Sesuatu baru saja berubah.Mereka melanjutkan obrolan di ruang tamu. Nadia mengeluarkan album foto lama mereka saat kuliah. “Lihat ini, Run! Waktu kita camping di gunung, kamu takut banget sama ular kecil itu!” Nadia tertawa terbahak-bahak.Aruna ikut tertawa, tapi pikirannya melayang. Rangga duduk di kursi seberang, sesekali memberi komentar pendek, tapi tatapannya sering kembali ke Aruna. Ketika Nadia ke dapur mengambil camilan, Rangga bertanya pelan, “Kamu masih suka baca buku? Dulu Nadia bilang kamu suka novel-novel klasik.” Aruna terkejut. “Masih, Mas. Tapi jarang. Waktu habis buat kerjaan rumah dan les.” “Kalau ada rekomendasi, kasih tau aku. Kadang aku butuh bacaan setelah capek kerja lapangan,” kata Rangga sambil tersenyum tipis. Senyum itu membuat kerutan halus di sudut matanya terlihat, membuatnya terlihat semakin dewasa dan menarik. Nadia kembali, dan obrolan mengalir lagi tentang rencana liburan akhir tahun. “Kita berempat liburan bareng yuk! Ke pantai atau villa di pegunungan. Dika pasti bisa ambil cuti kan, Run?” Aruna hanya mengangguk samar. “Semoga ya.” Waktu berlalu cepat. Jam menunjukkan pukul dua siang ketika Aruna pamit pulang. Nadia memeluknya erat di depan pintu. “Besok-besok dateng lagi ya. Jangan hilang kontak!” Rangga berdiri di belakang Nadia, mengangguk. “Hati-hati di jalan, Run. Kalau ada apa-apa, telepon aja.” Aruna berjalan pulang dengan langkah lambat. Matahari siang menyengat, tapi hatinya lebih panas lagi. Ia meraba jari yang tadi bersentuhan dengan jari Rangga. Rasanya masih hangat. Sesampainya di kontrakan, Dika sudah pulang. Ia duduk di sofa sambil main game di ponsel, bau rokok menyelimuti ruangan. “Baru pulang? Dari mana?” tanyanya tanpa menoleh. “Dari rumah Nadia,” jawab Aruna pelan sambil meletakkan tas. “Oh.” Hanya itu. Tak ada tanya kabar, tak ada pelukan, tak ada apa-apa.Aruna masuk ke kamar, duduk di tepi ranjang. Ia mengambil cermin kecil dan menatap wajahnya lagi. “Apa yang kamu lakukan, Run?” bisiknya pada diri sendiri.Tapi di balik rasa bersalah, ada getar kecil yang tak mau hilang. Getar yang muncul saat Rangga memanggil namanya dengan lembut, saat jari mereka bersentuhan, saat tatapannya yang penuh perhatian.Ia takut. Karena bagian dari dirinya… justru ingin tahu ke mana arah perubahan itu. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa hidup lagi.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
749.4K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
982.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
361.7K
bc

Not just, the Beta

read
349.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook