COLONI 11:440
“Klik..”Suara kunci pintu dibuka.
Terlihat seorang pria memasuki ruangan gelap yang baru saja di buka.
Ia pun menyalakan lampu ruangan tersbut, kemudian masuk dan mengambil beberapa perlengkapan dari locker di ruangan itu.
“Pelindung muka, rompi, sarung tangan, topi. Udah lengkap semua.” ujar pria itu.
Kemudian ia pun mengambil sesuatu yang bersandar pada lemari, dan keluar dari ruangan itu, dan mengunci kembali ruangan itu.
Sambil berjalan ia pun memaikan anak kunci dengan jemari nya.
Tak lama ia pun sampai di depan pintu besi yang besar dan tebal, tingginya sekitar 3 meter. Dan di sekitar pintu terdapat sebuah menara yang besar dengan tiga tingkat. Di depan pintu itu pun juga sudah ada beberapa orang yang sedang berkumpul disana dan menunggu pintu besi itu dibuka.
“Udah siap lu Dith?” tanya seorang pria di sampingnya.
“Udah siap gue Shinro.” jawab Eidith.
Eidith pun memasukan anak kunci ke dalam saku celannya.
Ia pun menemukan sesuatu di saku celananya, kemudian ia mengeluarkan benda itu.
Ia pun tertawa kecil.
“Kenapa lu Dith?” tanya Shinro.
“Gapapa, cuma inget ini aja. Dulu kita sering banget pake masker ini kemana - mana. Mau keluar rumah kemana pun harus pake masker, belajar gue juga online. Kangen juga gue sama masa - masa itu Shinro.” jawab Eidith sambil memasukan kembali masker nya ke dalam saku celana.
“Iya gue juga kangen masa - masa itu Dithh. Tapi ya sudah lah. Life must go on.” balas Shinro.
“Heii..siap - siap ya semua, pintunya akan segera dibuka.” teriak seorang pria dari tingkat tiga menara.
“Akhirnya dibuka juga.” Kata Eidith sambil menggenggam benda yang diambil di ruangan tadi.
“Akhirnya.” ucap Shinro sambil menurunkan pelindung wajahnya.
Dan tak lama pintu pun di buka, dan orang - orang tersebut pun langsung berlarian keluar ruangan tersebut sambil berteriak dan menghabisi semua yang ada di depannya.
SHELTER
Kota Auburk adalah salah satu safe zone di kota ini.
Dan kami tinggal di kota ini didalam sebuah bunker besar.
Kami menyebutnya sebagai shelter.
Kami tinggal di Shelter 11:440.
11 adalah titik koordinat x dan 440 adalah titik koordinasi , angka ini diberikan agar mudah dikenali oleh shelter lain.
Dan kami hidup sebagai coloni di dalam shelter ini.
Coloni ini berisi semua manusia yang mencoba untuk bertahan hidup karena mereka sudah tidak bisa pulang ke rumah mereka masing - masing lagi, karena sudah tidak bisa Dithinggali lagi dan sudah tidak aman.
Di dalam sinipun mereka dibagi tugas. Ada bercocok tanam, berternak, dan menyuling air serta udara di shelter ini, mengubah semua limbah agar menjadi lebih aman untuk digunakan kembali. Dan mereka pun diajari dasar - dasar untuk bertahan hidup dan bertarung jika terjadi sesuatu dengan mereka atau dengan coloni ini.
Shelter 11:440 berada di kaki gunung Marry dan di kelilingi oleh hutan Bonzo.
Dan Shelter ini sudah diaktifkan selama 10 tahun.
Didalamnya shelter ini dilapisi oleh baja, dan coloni ini hidup didalamya.
Setiap shelter mempunyai tempat masuk yang berbeda- beda dan terdapat sebuah pintu masuk yang terbuat dari besi yang besar dan tebal. Dan di dalamnya terdapat sebuah menara pengawas yang berbeda - beda bentuknya. Dan membutuhkan bahan bakar untuk dapat menyalurkan listrik yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup coloni dalam bertahan di dalam shelter. Di dalam shelter pun kita tidak bisa membedakan mana siang maupun malam, karena setiap sudut shelter di terangi oleh lampu - lampu. Jika tidak ada lampu - lampu yang menerangi, shelter pun menjadi gelap gulita.
Kami hanya mengetahui waktu dari jam besar yang terpampang dari The Square.
The Square sendiri merupakan tempat yang berada di pusat shelter, biasanya digunakan untuk menginformasikan kepada coloni tentang hal yang terjadi di shelter ini.
Untuk saat ini pun tiap shelter melakukan komunikasi melalui gelombang radio, biasanya untuk mengetahui keadaan antar shelter.
Shelter terdekat berada di kota Bresky dengan kode 11:740 yang berjarak 70km dan Amoman dengan kode 11:530 yang berjarak 55km.
Pintu shelter dibuka hanya untuk mengambil supply bahan bakar, obat - obatan dan makanan yang tersisa di luar shelter. Semua shelter mempunyai mata uang yang di beri nama Credit. Dan credit ini bisa di gunakan di semua shelter yang ada.
Shelter ini pun dibangun dengan tujuan agar para “walker” tidak bisa masuk dan menjangkiti coloni yang ada di dalam shelter dengan virus mereka.
“Walker” awalnya adalah manusia biasa. Yang terinfeksi oleh virus buatan yang diberi label C-20.
Dan yang bisa terinveksi bukan hanya manusia saja, semua hewan yang terkana virus C -20 akan berubah menjadi “walker” dalam hitungan jam.
Mereka yang terinfeksi virus ini menjadi lebih aggressive, brutal, dan kanibal.
Para “walker” biasanya sensitif terhadap suara dan lebih agressive di malam hari, siang hari mereka terlihat lambat.
Mereka bisa menularkan virus apa bila tergigit oleh mereka, kalau ada luka akibat bekas cakaran mereka.
Mereka hanya bisa di habisi dengan menghancurkan otaknya. Ketika otak mereka dihancurkan, mereka akan mati. Dan sampai saat ini para ilmuan dari berbagai shelter mencoba untuk menemukan antivirus nya.
Dan sudah banyak shelter yang berhasil ditembus oleh para "walker".
Akibat dari hal ini, para 'walker" semakin banyak dan tidak terkendali.
“Dith..” panggil Shinro
Shinro dan Eidith merupakan dua sahabat yang tumbuh di dalam shelter.
Orang tua Eidith dan Shinro meninggal akibat para “walker”.
Dan mereka di selamatkan oleh seseorang yang membawa mereka ke shelter ini.
Orang yang membawa mereka pun sekarang sudah meninggal akibat di serang “walker” saat sedang mengambil supply bahan bakar untuk shelter ini.
“Oi Shinro.” Balas Eidith.
“Kemana kita hari ini Dith?” tanya Shinro.
“Gue mau benerin saluran pipa tempat gue Shinro, kemaren air tempat gue mampet.” jawab Eidith.
“Gue ikut dong.” ucap Shinro.
“Lu bisa Shinro?” tanya Eidith.
“Ah masalah kecil itu buat gue.” jawab Shinro.
Akhirnya mereka berdua pun ke saluran pipa di dalam shelter.
Saluran pipa berada di lantai paling bawah shelter karena lebih dekat dengan mata air.
Saat mereka tiba mereka pun langsung mengerjakan saluran pipa tempat Eidith tinggal.
Mereka mulai menyalakan lampu untuk menerangi penglihatan mereka, dan mulai membongkar pipa - pipanya.
“Ada yang nyangkut nih Dith, tolong clipper dong Dith buat ngambil apaan gue juga ga tau nih Dith” Ucap Shinro.
Eidith pun segera memberikan clipper ke Shinro.
“Wah, ini apaan nih? Kaya bangkai tikus.” ujar Shinro.
“Arrgh jijik gue liatnya, mana bau lagi” ucap Eidith.
“Kok bisa disini sih?” tanya Shinro.
“Ga tau gue kenapa bias disitu. Biar g check deh.” ucap Eidith.
Eidith pun langsung memeriksa pipa nya dan ternyata menemukan sebuah lubang yang cukup besar dan dari sana merupakan asal dari tikus - tikus itu masuk ke dalam pipa.
“Shinro gue nemu lubang yang lumayan gede nih. Ternyata dari sini tikusnya masuk ke pipa.” ucap Eidith, sambil mengarahkan senternya ke lubang.
“Gue ga keliatan Dith, kehalang sama pipa - pipa. Seberapa gede sih lobangnya?”tanya Shinro.
“Sekepala gue kayanya Shinro. Harus panggil team maintenance nih. Gue ga tau ada apa di balik lubang ini.” balas Eidith.
Mereka pun segera memanggil team maintenance dan menujukan kejadian itu.
“Ini disini lubangnya.” ucap Eidith.
Dan ketiga orang maintenance melakukan pemeriksaan sekitar pipa dan lubang.
“Kita sudah periksa, nanti kita coba beresin ya. Sementara kami beresin masalah ini, kalian buat report ke ruang pengawas ya.” ucap salah satu team maintenance.
“Baiklah. Ayo Shinro” Jawab Eidith.
Mereka berdua pun segera menuju ke ruang pengawas.
Setibanya disana mereka berdua segera melaporkan kejadian itu kepada kepala pengawas.
Dan pengawas mengirimkan beberapa orang untuk melihat seberapa parah lubangnya.
“Kamu bertiga coba segera periksa lubang itu. Jangan sampai ada sesuatu yang tidak kita inginkan masuk dari laur shelter.” ucap kepala pengawas kepada lima orang bawahannya.
Dan mereka ber lima pun langsung menuju lokasi.
Tak lama pengawas itu segera membuka peta shelter.
Dengan wajah bingung Shinro bertanya.
“Petanya buat apa ya?” tanya Shinro.
“Begini karena bagian pipa berada di bagian paling bawah shelter dan itu sangat rentan sekali untuk di tembus. Dan kita tidak menginginkan hal itu terjadi.” jawab kepala pengawas.
“Jangan - Jangan kejadian shelter 11:470….”ucap Eidith cemas.
“Bener. Itu yang kita takutin. Karena itu kita tidak boleh lengah.” balas kepala pengawas.
Dan kemudian mereka bertiga pun memeriksa segala macam kemungkinan yang akan terjadi, sehingga mereka bisa mencegah hal yang tidak diinginkan.
“Baiklah, kita harus kesana. Kita liat situasi sekarang” ucap kepala pengawas.
Mereka ber tiga pun segera berlari menuju ke ruang pipa.
Disana terlihat beberapa maintenance sedang memperbaiki pipa dan lubang yang besar.
“Gimana situasinya?” tanya kepala pengawas.
“Sudah bisa ditangani Pak.” jawab salah satu pengawas disana.
“Bagaimana dengan lubangnya?” tanya kepala pengawas lagi.
“Sedang diperbaiki pak, untungny tidak terlalu besar untuk tembus ke luar shelter.” jawab pengawas.
“Waahh, untung lah.” ucap Eidith.
“Iya, untung aja cepet ketauan ya. Kalo ga bisa gawat.” ucap Shinro.
“Kalian semua telah bekerja dengan baik. Segera buat laporan dan kirim ke pusat shelter.” Ucap kepala pengawas.
“Baik pak.” ucap salah satu pengawas.
“Kalian pergilah, situasi disini biar kami yang tangani sampai ada tindak lanjut dari pusat.” ucap kepala pengawas kepada Eidith dan Shinro.
Eidith dan Shinro pun menganggukan kepala.
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan ruang pipa.
“Untung aja ya Dith, ga sampe parah.” ucap Shinro.
“Iya Shinro, klo sampe parah, shelter ini bisa Dithembus.” balas Eidith.
“Gue penasaran, gimana shelter 11:470 sekarang ya?” tanya Shinro.
“Yang gue tau ancur parah Shinro, dan coloni yang disana ga ada yang selamat. Dan sekarang orang disana udah bukan seperti yang kita kenal.” balas Eidith.
“Serem ya, yang gue denger mereka semua habis dalam hitungan menit ya Dith?” tanya Shinro lagi.
“Iya Shinro. “walker” masuk saat mereka lengah dan ga siap sama sekali.” balas Eidith.
Dalam perjalanan Eidith menemui seorang wanita yang sedang merawat ternaknya.
“Hei Dith, abis darimana?” tanya wanita itu.
“Oh abis dari ruang pipa, soalnya mampet airnya Lyes.” balas Eidith
“Sekarang gimana udah beres? Bareng Shinro ya?” tanya Lilyes.
“Iya Shinro tadi nemenin. Sekarang sih udah beres kok. Udah ga mampet lagi, cuma ada lubang di dinding pipa. Supply untuk ternak masih cukup Lyes?” balas Eidith.
“Eidith ga berani ke sana sendiri Lyes.” ucap Shinro sambil tertawa.
Lilyes pun ikut tertawa.
“Apaan sih lu?” balas Eidith
“Masih cukup sih mungkin untuk beberapa hari kedepan.” Balas Lilyes.
“Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu ya, mau bersih - bersih.” ucap Eidith.
“Sampai ketemu.” balas Lilyes.
Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang.
Setelah tiba di depan rumah Eidith, Shinro pun pamit pulang.
Eidith pun segera masuk dan membersihkan dirinya.
Dan setelah itu ia pun makan.
Tak lama terdengar suara dari speaker.
“Perhatian! Untuk seluruh coloni harap segera berkumpul di The Square.” ucap seorang pria dari speaker.
Eidith pun segera menghabiskan makanannya dan segera bersiap menuju ke The Square.
Eidith pun berlari menuju The Square.
Sesampainya disana sudah banyak orang - orang yang berkumpul.
“Kenapa ya kita sampai disuruh berkumpul di sini?” tanya Eidith kepada seseorang di sampingnya.
“Wah gue juga ga tau. Jarang banget sampe disuruh kumpul disini.” balas pria tersebut.
Tak lama seoarang pria berdiri di mimbar.
“Coloni. Kami baru saja mendapatkan berita, bahwa ada kebocoran di saluran pipa. Sampai saat ini team maintenance dan team pengawas sedang berada disana, dan sudah mengendalikan situasi. Beberapa keamanan pun sudah di kirim kan kesana untuk berjaga.” ucap pria dar mimbar tersebut.
Mendengar ucapan itu, Eidith melihat sekeliling dan banyak wajah yang cemas. Karena takut seperti halnya shelter 11:470.
“Jangan takut karena kebocoran sudah diatasi dengan baik. Kami meminta kalian juga memeriksa kemungkinan kebocoran yang ada di dalam shelter ini.” ucap pria tersebut.
“Untuk para team support, bahan bakar untuk shelter ini sudah menipis dan hanya bisa bertahan dalam waktu tiga sampai empat hari kedepan. Koordinasikan dengan team pengintai. Diharapkan kalian bersiap. Sekian, dan sekarang kalian bisa pulang ke tempat kalian masing - masing” lanjutnya.
Eidith pun kemudian kembali ke tempatnya.
Dalam perjalanan pulang, pundaknya Ditepuk.
“Lu siap Dith?” tanya Shinro.
“Ya siap ga siap sih, tapi mau gimana.” balas Eidith.
“Gue sih jujur ga siap, karena yang gue denger mereka sekarang lebih ganas Dith. Udah ada beberapa Coloni yang udah berhasil mereka lumpuhin. Terakhir yang gue denger mereka berhasil sapu bersih team support dari shelter 11:610 sampai ga ada sisa dan yang gue denger mereka sekarang udah berubah Dith.” ucap Shinro.
“Udah ah Shinro, jangan ngomomgin itu.” balas Eidith.
“ Ya udah, gue duluan ya Dith, gue mau siapin stock makanan gue buat malem.” ucap Shinro.
Akhirnya mereka pun berpisah.
Setibanya di rumah, Eidith merebahkan dirinya di tempat tidur.
Eidith terbayang pembicaraannya dengan Shinro.
Eidith pun tidak percaya team support 11:610 bisa dihabiskan tanpa sisa.
Dan mereka sekarang sudah berubah dari manusia biasa menjadi “walker” yang buas dan liar.
Eidith pun mencoba berhenti memikirkan hal itu.
Ia bangun dari tempat tidurnya dan keluar dari rumahnya menuju ke tempat gym.
Dalam perjalanan ia bertemu dengan Lilyes.
“Dith, tadi itu yang tadi kamu bilang ya?” tanya LiLyes.
“Iya, tapi ga usah takut, mereka katanya udah di beresin mereka Lyes.” Balas Eidith.
“Sebesar apa lubangnya?” tanya Lilyes.
“Sebesar kepala, cuma kata team maintenance lubang itu ga sampe tembus keluar shelter. Eh, kamu mau kmn Lyes?” balas Eidith.
“Aku mau ambil stock untuk ternak Dith. Kamu kemana?” tanya Lilyes.
“Mau gym, biar entengan dikit badannya.” balas Eidith.
LiLyes pun tertawa mendengar ucapan Eidith.
“Ya udah aku duluan ya Dith, ga bisa lama - lama, ntar ternak ku ga makan.” ucap Lilyes.
“Iya.” Balas Eidith.
Dan mereka pun berpisah.
Eidith pun memasuki tempat gym.
Ia pun mulai latihan dengan mengangkat beban.
30 menit pun berlalu.
Dan terdengar suara seseorang dari speaker.
“Untuk team support diharapkan dalam waktu 30 menit lagi segera berkumpul di post support.” ucap seseorang dari speaker.
Eidith pun segera bersiap, ia segera menuju locker dan mengganti pakaiannya.
Kemudian datang seseorang dan menyapa Eidith.
“Hei Dith, baru datang?” tanya seorang pria.
“Hei Shinroe, ga nih udah selesai.” balas Eidith.
“Gimana sih rasanya jadi team support Dith?” tanya Yrrone.
“Rasanya biasa aja sih Rone, cuma kadang yang fisik sama mental harus siap aja, karena kita ga tau diluar sana bakalan seperti apa.” Balas Eidith.
“Kalian kan sudah berkali - kali keluar dari shelter, ada apa diluar sana Dith? Karena kita yang di dlaam shelter ga tau dengan keadaan diluar sana.” tanya Yrrone.
“Hmm..diluar sana yang pasti udah berantakan Rone, terakhir gue keluar tiga bulan lalu gedung - gedung banyak rubuh karena ga ke urus.” balas Eidith.
“Persiapan kalian gimana Dith? Karena banyak rumor yang bilang kalau sekarang mereka lebih brutal, dan mereka bergerak labih cepat sekarang.” tanya Yrrone.
“Persiapan? Hhmm..paling seperti yang udah - udah Rone, mental sama fisik aja yang penting.” balas Eidith.
“Eh, Rone bisa minta tolong?” tanya Eidith.
“Minta tolong apa Dith?” tanya Yrrone.
“Bisa tolong kirim stock makanan ke tempat gue? Karena gue harus ke post support. Stock makanan gue udah mulai tipis” balas Eidith.
“Boleh nanti g kirim ya.” balas Yrrone.
“Thank you Rone, nanti gue kirim creDithnya. Gue cabut dulu ya Rone” balas Eidith.
Kemudian Eidith pun segera keluar.
Dan menuju post support.
Setibanya disana sudah ada 5 orang yang sedang duduk.
“Hei.. kalian sudah lama?” tanya Eidith.
“Ga Dith, kami baru datang.” Balas Seorang pria.
Eidith pun duduk di bangku nya.
Tak lama Shinro pun datang.
Menyapa orang - orang yang ada di ruangan dan duduk di samping Eidith.
“Psst. Dith, gue denger sekarang mereka lebih cepat Dith, lebih brutal.” bisik Shinro.
“Iy Shinro, gue udah denger dari Yrrone tadi.” balas Eidith.
“Hah!? jadi bener ya. Tapi Yrrone tau dari mana ya Dith?” setau gue kan kabar ini baru.” ucap Shinro
“Udah, yang penting sekarang kita atur strategi aja sama yang lain biar kita lebih waspada. Gue juga ga tau sih Yrrone dapet info dari mana” lanjut Eidith.
Tak lama kemudian orang - orang pun sudah datang dan duduk di bangku masing - masing.
Mereka membicarakan rumor terbaru tentang “walker”, dan mulai cemas, tidak ingin ada kejadian seperti 11:610.
Seorang pria berjalan memasuki ruangan dan kemudian berdiri di antara mereka dan langsung membuka peta.
Mereka semua pun langsung berdiri.
“Selamat datang Pak!” ucap mereka serentak.
Pria itu pun membalas dengan memanggil mereka semua untuk mendekati peta.
Ia pun segera membahas strategi untuk operasi yang akan berjalan.
Dan mereka pun di bagi menjadi 2 team.
1 team berisi 20 orang yang Dithugaskan ke selatan untuk mencari pasokan obat dan makanan.
Dan team 2 berisi 20 orang yang di tugas kan ke timur unntuk mengambil stock bahan bakar.
Eidith dan Shinro berada di team 1.
Akhirnya mereka pun selesai.
Sudah 3 jam lebih mereka membahas strategi.
Eidith dan Shinro pun berjalan pulang.
“Besok ada acara apa lu Dith?” tanya Shinro.
“Besok gue mau benerin perlengkapan gue Shinro, udah ada yang harus dibenerin kayanya. Lu mau kemana Shinro?” Balas Eidith.
“Gue belom ada acara Dith.” balas Shinro.
Mereka pun mengobrol menuju arah pulang.
Dan mereka berpisah di tempat Eidith.
Eidith pun medapati sebuah kotak kemasan.
Ia pun membaca.
“Dith ini pesanan stock makannya ya. Yrrone” bunyi pesannya.
Eidith pun segera membuka pintu rumahnya dan membawa mask stock makanannya.
Setelah di dalam, ia pun mulai membuka isi kotak kemasannya.
“Pasta, minuman, keju, daging, coklat, sayur, roti…” ucap Eidith sambil membereskan makanannya.
Kemudian ia pun mulai membuka bungkus roti dan mulai memakannya.
Setelah makan ia pun mengambil beberapa perlengkapan untuk di perbaiki esok harinya.
Dan setelah itu pun ia mulai merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya.
Ia pun sambil melihat foto teman - temannya waktu saat dunia masih baik - baik saja.
DImana mereka bisa kemana saja tanpa rasa takut, tanpa rasa khawatir, tanpa rasa cemas.
Dan teman - teman Eidith sekarang berada di Shelter lain yang tersebar di berbagai kota, dan ada beberapa yang sudah tewas akibat di serang “walker”.
Ia pun meletakan fotonya dan mulai memejamkan matanya.
Dan tak lama ia pun tertidur.
To be continued