Arisan Keluarga

1407 Words
Siang itu, di tengah kesibukan Emerald membongkar berkas untuk meeting esok hari, ia dikagetkan dengan dering panggilan handphone di atas meja. Karena melihat panggilan itu berasal dari sang ibu, Emerald tak ingin menunda untuk menggeser tombol berwarna hijau untuk menjawab panggilan ibunya. “Assalamualaikum, Le.” “Wa’alaikumsalam, Ma.” “Kamu lagi sibuk, Le?” “Tidak juga. Ada apa, Ma?” tanya Emerald penasaran dengan tujuan ibunya menelepon. “Papamu sudah singgah ke sana?” “Satu jam yang lalu baru keluar dari ruangan Eme, Ma.” “Oh, ya?!” “Mama kenapa telepon Eme?” Emerald mengulang pertanyaannya. Ia masih penasaran dengan panggilan ibunya. Jarang sekali Bu Sundari menelpon putranya di jam kerja. Palingan kalau malam tiba dan Emerald belum muncul di rumah. Naluri keibuannya pasti muncul untuk menghubungi putranya itu. “Ini loh, Le. Mama mau ngasi tahu kalau malam nanti kita ada acara arisan keluarga.” “Di rumah kita?” Emerald memastikan, khawatir ibunya perlu bantuan untuk acara tersebut. “Nggak. Di rumah Pak De kamu.” “Oh. Mama hanya ngabarin itu?” “Mama lupa bilang kalau kita harus pergi bersama.” “Tapi, Ma .…” “Kamu sibuk?” “Sebenarnya Eme sama Jessi hari ini mau lembur untuk persiapan meeting besok. Mungkin sampai sore dan ….” “Ya udah, kalau kamu nggak sempat nanti Mama sama Papa aja yang pergi,” Bu Sundari memotong ucapan putranya. “Maafkan Eme, Ma. Eme usahakan untuk menyusul ke sana,” Emerald sebenarnya merasa sungkan untuk menolak perintah orang tuanya, “sebenarnya Eme juga mau bawa Raffa ke rumah nanti malam, Ma.” “Raffa?” Bu Sundari terdengar menghentikan ucapannya sebentar, mungkin ia sedang berusaha mengingat siapa Raffa, “keponakannya Jessica?” “Iya, Ma. Yang tadi malam Eme ceritakan.” “Oh, ya? Jam berapa?” “Sepulang kerja Eme dan Jessi akan menjemput Raffa.” “Bawa langsung ke rumah Pak De aja. Sekalian jemput Mama.” “Loh, bukannya Mama mau pergi sama Papa?” “Ya, kan sekalian, Le. Bisa diatur lah itu.” “Hm, ya udah. Eme nggak janji ya, Ma.” “Iya. Mama mau lanjut belanja dulu. Nanti kabari aja.” Tut … tut … panggilan diakhiri. Jessi yang ikut menguping pembicaraan Emerald dan ibunya langsung menimpali, “Ibu, Mas?” “Iya. Mama saya ngajak atrisan keluarga,” jelas Emerald sambil memmbongkar kembali berkas yang ia cari sejak tadi sebelum ibunya menelepon. “Jadi?” “Hm,” Emerald memandang Jessi, “jadi, dong,” lanjutnya. “Jadi bagaimana maksud saya, Mas.” “Jadi dong membawa Raffa ke rumah.” “Bukan itu.” “Terus?” Eme kembali memandang Jessi. “Jadi keputusan Mas Eme bagaimana? Temani Ibu atau kita lanjut lembur?” “Oh. Itu,” Emerald sesaat menimbang untuk mengambil keputusan terbaik, “kita selesaikan dulu, dua jam lagi kita pulang!” pria itu memberi perintah kepada Jessi untuk menyelesaikan pekerjaannya. “Siap, Pak Bos,” sahut Jessi sepakat. Tanpa menunda lagi, Jessi dengan cekatan menyelesaikan bagian pekerjaan yang dilimpahkan Emerald padanya. Demikian pun Emerald. Pria itu tampak fokus membolak-balikkan berkas di hadapannya. * Sementara itu, di sebuah rumah mewah tempat akan dilaksanakannya arisan keluarga nanti sore, terlihat seorang wanita muda yang cantik tengah mengatur letak prasmanan di atas meja. Wanita itu bernama Hanna. Hanna telah menjadi bagian dari keluarga besar Pak Trisno sejak ia mengawali masa kuliah dulu. Karena ia sudah menjadi yatim piatu saat menjelang ujian SMA, Hanna dibawa pulang oleh istri Pak Trisno yang saat itu menjadi wali kelasnya di sekolah. Atas kebaikan hati keluarga Pak Trisno, Hanna melanjutkan kuliah dengan biaya yang di keluarkan oleh keluarga Pak Trisno. “Hanna!” suara Bu Sri menyapanya. Wanita paruh baya itu menyimpat beberapa tangkai bunga mawar di pojokan. Setelah memastikan bunga yang ia letakkan aman, Bu Sri mengibas-ngibas telapak tangannya kemudian melangkah mendekati Hanna. “Iya, Bu,” sahut Hanna sembari terus menyelesaikan pekerjaannya. “Nggak usah terlalu repot,” ujar Bu Sri karena melihat Hanna sejak tadi pagi tak berhenti membantu pekerjaan Bi Num di dapur untuk menyiapkan sajian arisan keluarga mereka nanti sore. “Nggak apa-apa, Bu. Mumpung saya ada pulang dan membantu Ibu,” ucap Hanna lembut. “Terima kasih, loh Nak Hanna sudah berkenan pulag ke rumah kami.” “Sama-sama, Bu. Mumpung Hanna juga dapat cuti beberapa hari. Hanna juga rindu sama Ibu dan Bapak.” Bu Sri menanggapi pernyataan Hanna dengan senyum lega, “Oh, ya. Kamu masih ingat Emerald?” “Emerald?” Hanna mencoba mengingat-ingat sosok yang disebut oleh Bu Sri. “Iya, anaknya Pak Le Baskara,” Bu Sri membantu mengingatkan. “Oh, Mas Eme. Kakak kelas Hanna waktu SMA, kan Bu?” Hanna memastikan, “Ketua OSIS pada waktu itu,” kata Hanna melanjutkan. “Iya. Sekarang dia malah menjadi CEO perusahaan Litus Property milik ayahnya. Tadi Ibu sudah menelpon Bu Le kamu, supaya mengajak Eme untuk datang ke sini. Tapi nggak tahu juga, apa Emerald bisa datang atau tidak. Kalian kan sudah lama juga tidak berjumpa. Siapa tahu entar Emerald tertarik untuk menjadikan kamu sekretaris pribadinya,” jelas Bu Sri panjang lebar. Sepertinya Bu Sri juga belum mengetahui kalau Eme sudah mendapatkan pengganti Melody. Informasi terakhir dalam arisan keluarga mereka bulan lalu, Pak Baskara mengumumkan kepada seluruh anggota keluarga untuk membantu mencarikan sekretaris baru di perusahaannya. “Sekretaris?!” Hanna menatap Bu Sri dengan wajah bingung, “Hanna, kan bukan jurusan sekretaris, Bu,” ucap Hanna menegaskan basic sarjana yang tersemat padanya. “Nggak harus sesuai basic, kalau kamu punya skill itu lebih bagus,” tegas Bu Sri sambil membantu Hanna mengelap gelas dengan tissu. “Iya sih, Bu …” tetap saja Hanna diselimuti keraguan, “Hanna, kan nggak pernah bekerja sebagai sekretaris sama sekali,” ujarnya kembali. Hanna Permata Sari, seorang psikolog anak mana mungkin memaksa diri untuk menghadap tumpukan pekerjaan dan aktivitas sebagai seorang sekretaris. Selama ini ia bekerja fokus pada bidangnya, menjadi psikolog anak yang terkenal di yayasan tempatnya bekerja. “Emerald juga masih lajang, Han,” Bu Sri menyikut pergelangan Hanna. Karena kaget, hampir saja Hanna menjatuhkan gelas yang ia pegang. “Ibu …” Hanna tersenyum malu. “Kamu belum punya pacar juga, kan?” Bu Sri mengulik mantan siswa yang kini telah menjadi anak asuhnya itu. “Hanna belum kepikiran untuk punya pacar, Bu.” “Kenapa?” tanya Bu Sri penasaran, wajah wanita paruh baya itu mendongak – memandang pada Hanna yang punya body semampai lebih dari seratus enam puluh centi meter. Hanna tersenyum tipis, ia sebenarnya sungkan kalau harus bicara jujur tentang perasaannya pada Bu Sri, “Belum menemukan orang yang tepat,” ujar Hanna, lalu ia meletakkan gelas yang baru saja dilapnya menggunakan tissu. Hanna adalah wanita yang lembut. Sejauh pengamatan Bu Sri, sejak SMA Hanna punya kepribadian yang baik, itu sebabnya, atas izin dari Pak Trisno – suaminya, Bu Sri memberanikan diri untuk mengambil hak asuh atas Hanna. Meskipun Hanna sudah dewasa kala itu, Bu Sri tetap menyayangi anak didiknya tersebut hingga kini. Apalagi Bu Sri dan Pak Trisno tidak memiliki anak sama sekali. Hanna pun sudah menganggap mereka selayaknya orang tua kandung sendiri. “Bu, saya masuk ke dalam dulu, ya,” izin Hanna pada Bu Sri, “Hanna juga ada sedikit laporan yang belum beres. Harus dikirim sore ini,” ia menjelaskan. Wanita paruh baya itu hanya mengangguk. Ia pun melanjutkan untuk merangkai bunga pada vas yang telah ia siapkan di pojok ruangan. Seperti kebiasaan dari anggota keluarga yang lain, arisan keluarga menjadi sebuah ajang pertemuan dan pengenalan seluruh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lainnya. Emerald dan Hanna dulu merupakan siswa di sekolah tempat Ibu Sri mengajar. Dua tahun yang lalu, Bu Sri sudah purna tugas. Ia kini menikmati masa pensiunnya dengan aktivitas rumahan selayaknya ibu rumah tangga pada umumnya. Perihal pertemuan Hanna dengan Emerald memang belum pernah terjadi. Dari hampir dua ribuan anak SMA di sekolah tersebut, Emerad pernah menjabat sebagai ketua OSIS selama satu periode. Hanna yang saat itu menjadi adik kelasnya mengenal pria tersebut sebagai ketua OSIS. Hanna pun baru mengetahui kalau Emerald punya hubungan keluarga dengan Ibu Sri setelah dirinya menjadi bagian dari keluarga besar Pak Trisno. Sebenarnya, Emerald juga tidak mengetahui lebih jauh tentang Hanna. Beberapa tahun yang lalu, ketika Hanna akan berangkat kuliah di London, Pak Trisno dan istrinya mengadakan syukuran atas diterimanya Hanna kuliah di luar negeri. Saat itulah terakhir kali perjumpaan Emerald dan Hanna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD