Pertemuan

1561 Words
Alunan musik jaz favorit Pak Trisno mengalun lembut mengiring pertemuan keluarga mereka pada sore hari itu. Kedua orang tua Emerald pun sudah hadir di sana. Bu Sri yang lebih dulu menyapa kehadiran saudari iparnya – ibu Emerald tampak memeluk hangat wanita itu. “Mbak apa kabar?” sapa Bu Sri kala mendekap Bu Sundari. “Baik, Sri. Trisno mana?” ia menanyakan kehadiran adik laki-lakinya yang tidak terlihat olehnya sejak kedatangan mereka di gerbang depan tadi. “Ada, Mbak. Lagi ke dalam sebentar,” Bu Sri menjelaskan keberadaan suaminya, “yuk, masuk!” katanya lagi mempersilakan, “oh, ya Hanna juga ada di sini.” “Hanna?” Bu Sundari berusaha mengingat-ingat wajah Hanna. “Iya, Mbak. Masih ingat kan dengan Hanna?” “Oh, iya … iya. Si Hanna, yang dulu jadi siswamu itu, kan?” Bu Sundari mulai ingat. “Iya, sekarang Hanna lagi liburan.” “Bagus dong,” tanggap Bu Sundari. “Rencana ne tak kenalin sama Mas Eme, Mbak,” Bu Sri langsung mengutarakan maksudnya. “Oh. Boleh-boleh. Semoga nanti Eme bisa menyusul ke sini,” Bu Sundari menuangkan sirup ke dalam gelas, “tadi sih katanya mau lembur dulu,” lanjutnya berbicara setelah meneguk sirup. “Eme masih membutuhkan sekretaris, Mbak?” tanya Bu Sri untuk memastikan maksudnya mempertemukan Hanna dan Emerald dapat selaras. “Hm,” Bu Sundari menarik napas, “sudah ada,” jawabnya kemudian. “Wah, terlambat dong. Padahal saya mau nawarin Hanna buat bantu kerjaan Eme.” “Loh, bukannya Hanna sedang kuliah?” “Sudah selesai.” “Hanna kuliah jurusan apa?” “Psikologi.” “Lalu? Bagaimana mungkin Hanna kamu tawarkan untuk bekerja sebagai sekretaris untu Emerald?” “Yah …” Bu Sri jadi sungkan, “sebenarnya bukan basic Hanna, sih Mbak. Saya pikir dari pada Eme pusing mencari sekretaris baru, lebih baik saya menawarkan Hanna. Toh mereka juga sudah saling keal sebelumnya.” “Eme sudah mendapat pengganti Melody,” tegas Bu Sundari. Karena agak sungkan dengan jawaban saudari iparnya itu, Bu Sri memilih mengakhiri pembicaraan. Ia pamit dari hadapan Bu Sundari dengan alasan menyapa saudara mereka yang lain. “Hai …” seiring langkahnya menjauh, suara Bu Sri hanya sayup-sayup saja terdengar dari pendengaran Bu Sundari. Kalau suasana di rumah Pak Trisno tampak riuh dengan canda tawa, maka di ruang kerja Emerald dan Jessi masih berkutat dengan setumpuk laporan. Jessi tampak serius menyelesaikan pekerjaannya, berharap agar cepat selesai dan kembali pulang. Ia sudah rindu pada Raffa. “Jes!” “Hmm …” sahut Jessi tanpa memandang pada Emerald. “Saya harus pergi ke arisan keluarga,” Eme baru saja membaca isi chat dari ibunya. Jessi mendongakkan wajah, menatap lekat pada Emerald yang tengah mengusap peluhnya dengan tissue. Ia sedikit memberi penilaian kepada Emerald bahwa pria itu tidak konsisten. Tapi, Jessi juga tidak bisa menghalangi. Karena di sela pekerjaannya, Emerald tentu tidak bisa melepaskan urusan keluarga juga. “Pekerjaan kita bagaimana?” Jessi memastikan keputusan Emerald. “Tinggalkan saja. Lagi pula persiapan besok sudah fiks, kan?” Jessi mengangguk. “Am, kamu jadi ikut saya?” Emerald berdiri di depan meja kerja Jessi. “Kemana?” “Arisan keluarga,” jelas pria itu sembari menyinsingkan lengan bajunya. “Apa saya boleh pulang saja?” “Oh, iya. Kita ada janji mau membawa Raffa ke rumah.” “Nggak apa-apa, Mas. Nanti tunggu weekand juga bisa, kok.” “Tapi, Raffa sudah semangat untuk ikut ke rumah saya.” “Namanya anak-anak, Mas. nggak apa-apa kalau harus ditunda dulu.” “Benaran, nih?” Emerald merasa tak nyaman karena harus membatalkan perjanjian dengan Raffa. Jessi kembali mengangguk. “Ya udah. Kamu hari ini pulangnya pakai taxi online aja dulu, yah!” “Nggak apa-apa, Mas. Nggak apa.” Jessi langsung menyetujui perintah bosnya itu, “lagian kita beda arah, kan?” tanya Jessi memastikan. “Iya. Tapi benaran, nih?” lagi-lagi Emerald merasa sungkan. “Udah, jangan khawatir. Perjanjian bersama Om Baskara juga demikian, Mas. Saya akan di jemput untuk sementara waktu saja.” “Tapi …” “Sssttt … keluarga kamu juga lebih penting,” Jessi memainkan sebelah matanya di hadapan Emerald. “Coba lagi!” Emerald seketika terkekeh karena candu pada kedipan mata Jessi. “Gini?!” Jessi mengedipkan matanya berulang kali. “Ternyata kamu asyik juga, ya?” “Kamu aja yang selama ini jadi kulkas sepuluh pintu,” Jessi meledek pria di hadapannya itu. “Eh, sudah berani ya kamu.” Emerald yang tidak terima sikapnya dikomentari Jessi berusaha menghalangi gerakan Jessi yang hendak menyimpan berkas ke dalam loker dengan menahan pergelangan sekretarisnya itu. “Awas!” seketika berkas yang ada dalam dekapan Jessi berserakan di lantai. Akibat perbuatannya, Emerald terpaksa membantu Jessi membereskan berkas-berkas itu kembali. Tanpa rekayasa, tangan keduanya bersentuhan saat mengambil selembar berkas. “Maaf,” ucap Emerald melepas sentuhan tangannya. “Yuk, pulang!” Jessi dengan cekatan mengambil beberapa lembar kertas yang masih tercecer di lantai. Setelah memastikan ruangan mereka kembali rapi, Jessi dan Emerald melangkah ke luar. Sesuai kesepakatan, Jessi memesan taxi online untuk pulang, sementara Emerald, pria itu lebih dulu menyusur jalan raya. Jessi masih terpaku dengan layar handphoe di tangannya. Ia melihat pergerakan supir taxi online yang sedang mengarah perjalanan menuju titik tunggu. Sesekali matanya menatap sekeliling. Keadaan sudah menyepi. Waktu juga sudah menunjukkan pukul lima sore. * Saat tiba di rumah Pak Trisno, Emerald segera masuk ke dalam rumah untuk bergabung bersama seluruh anggota keluarganya yang lain. Dari jauh, Emerald melihat ibunya sedang bicara dengan wanita muda yang tak lain adalah Hanna. “Mah,” sapa Emerald pada ibunya. “Eh, Le. Kamu jadi datang, mana Jessi?” tanya Bu Sundari karena tak melihat keberadaan sekretaris putranya itu. “Jessi langsung pulang, Ma.” “Loh, bukannya kalian berjanji akan menjemput Mama?” “Raffa nggak jadi ke rumah.” “Yah …” Raut wajah Bu Sundari seketika berubah padam. Sebenarnya, Bu Sundari juga tengah berharap dapat bertemu dengan Raffa. “Mama jangan sedih gitu dong,” Emerald nyolek sang ibu. “Ya, sudah lah,” ujar Bu Sundari masih dengan raut wajah yang sama, “Oh, ya Le. Masih ingat dengan dia?” Bu Sundari menyentuh Hanna yang sedari tadi berdiri di sampingnya. “Ini …” emerald berusaha mengingat-ingat Hanna, “Sari … Hanna. Ini Hanna Permata Sari, kan?” Emerald malah berusaha mengingat nama lengkap wanita itu. “Iya, Mas,” ucap Hanna dengan ciri khasnya yang lembut. “Kamu sudah selesai kuliah?” “Alhamdullilah, Mas. Mas Eme apa kabar?” tanya Hanna sembari mengulurkan tangannya pada Emerald. “Baik. Baik,” jawab pria itu mengulang jawaban. “Am, makasih loh sudah datang, mau minum?” Hanna menyodorkan gelas kosong pada Emerald, “mau diambilin sekalian?” “Ah, nggak usah terlalu repot. Ntar saya ambil sendiri.” “Baiklah,” jawab wanita itu singkat dan sedikit melempar senyum malu-malu. “Kalian ngobrol dulu, ya. Mama mau jumpa Pak De kamu,” ucap Bu Sundari pada putranya. “Jam berapa pulang, Ma?” bukannya mengiyakan, Emerald malah bertanya perihal kepulangan mereka. “Kan Jessi nggak jadi ikut. Agak malam sedikit tidak apa, ya?” Bu Sundari seketika merubah jadwal. Emerald hanya mengangguk saja. Ia manut pada keputusan sang ibu. Lagi pula ia juga tidak ada agenda lain lagi malam itu. Setelah ibunya beranjak, Emerald yang sejatinya pria dengan tipe kulkas sepuluh pintu tersebut membuka pembicaran bersama Hanna, “Kamu kemarin ambil kuliah jurusan apa, Han?” “Psikologi, Mas,” jawab Hanna singkat. “Udah kerja?” “Alhamdullilah, sudah lebih dari satu tahun ini Hanna bekerja sebagai psikolog anak.” “Oh, ya?” Emerald meneguk minuman dalam gelas yang ia pegang sejak tadi. “Hm … mh,” angguk Hanna, “Mas Eme bagaimana sekarang?” “Seperti yang kamu lihat,” sahut Emerald sambil kembali meneguk minuman, “cari tempat duduk, yuk!” “Oh, iya, Mas. Maaf. Saya sampai lupa kalau Mas Eme lelah dan perlu duduk.” “Tidak juga. Saya hanya ingin ngobrol santai sama kamu. Kita kan sudah lama tidak bertemu. Lagi pula, kamu juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami.” “Iya, Mas. kita duduk di pinggir kolam renang saja, yuk!” Hanna melangkah lebih dulu disusul oleh Emerald yang masih sempat menyapa saudaranya yang lain. “Jadi, sekarang Mas Eme sudah menjadi CEO di Litus Property?” “papa hanya mau nyerahkan perusahaan sama saya,” ujar Emerald sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi, “Maaf, saya ingin duduk santai. Hari ini rasanya sangat lelah.” “Nggak apa-apa, Mas.” “Kamu nggak keberatan menemani saya di sini?” “Nggak. Saya malah senang Mas Eme bisa datang ke sini. Tadi Ibu bilang kalau Mas Eme kemungkinan nggak datang.” “Banyak kerjaan di kantor,” jawab Eme. Matanya hampir terpejam karena menahan lelah. “Mas Eme ngantuk?” “Sepertinya.” “Mau istirahat di dalam kamar saja?” Hanna menawarkan. Mendengar tawaran Hanna, Emerald jadi sungkan, ia pun berusaha menolak, “Nggak perlu. Jangan. Saya di sini saja.” “Kamu kelihatan capek loh, Mas.” “Iya. Saya hanya butuh istirahat sebentar.” Hanna ikut duduk pada kursi di sebelah Emerald. Ia memandang wajah pria yang dulu pernah menjadi ketua OSIS legendaris pada masanya di sekolah mereka. Hanna tak memungkiri, wajah tampan Emerald masih tersisa hingga kini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD