Satu Malam Bersamanya

1604 Words
Sunday, 2018 Eme dengan langkah santai masuk ke dalam sebuah club malam. Ia pergi seorang diri. Tadi siang, Eme baru putus cinta dari Viona. Perempuan yang telah menjadi pacarnya sejak empat tahun terakhir itu ketahuan selingkuh. Karena masih dibayang-bayangi oleh amarah terhadap mantan kekasihnya tersebut, Eme memutuskan untuk menikmati malam dengan suaana yang berbeda. Meski bukan pertama kalinya masuk ke dalam club malam, Eme merasa canggung juga. Matanya melirik ke sana ke mari, khawatir ada orang yang mengenalnya. Apa lagi ia harus menjaga prifasinya sebagai seorang CEO perusahaan di Litus Property. Setelah yakin keadaan aman, di bawah lampu sorot remang-remang dengan alunan disck jokey yang menggema sampai ke ubun-ubun, Eme duduk di meja bar sambil menikmati minuman yang ia pesan. “Hai!” Eme mendongakkan pandangan pada sosok wanita cantik yang menyapanya. Wanita itu berdiri tepat di samping Eme, ia mengenakan gaun seksi yang ketat menyelimuti tubuh langsingnya. Wanita itu menyungging senyum ramah pada Eme. “Boleh saya duduk?” ujarnya lagi tanpa peduli Eme menyambutnya dengan baik atau tidak. “Silakan!” ujar Eme. “Gina Apriliana,” ucap gadis cantik berwajah oval dengan dua lesung pipi yang indah kala menyungging senyum, “maaf, saya datang sendiri ke sini. Jadi nggak punya teman nongkrong,” ujarnya lagi. Eme hanya mengangguk. Dari sekian banyak tamu yang datang di club malam, wanita yang ada di hadapannya itu memang berbeda. Tampak sedikit canggung, sama seperti dirinya. “Mas, sendirian?” “Apa?!” Eme menyondongkan telinganya pada Gina. Karena ia hampir tak mendengar ucapan wanita itu. “Datang ke sini sama siapa?” tanya Gina dengan volume suara yang lebih nyaring. “Oh, saya datang sendiri.” “Sama dong,” ucap Gina dengan sumringah karena mendapatkan teman baru, “Saya baru pertama kali loh datang ke sini.” “Serius?” mendengar penuturan Gina, Eme merasa semakin penasaran dengan wanita itu. “Iya. Pacarku baru mutusin saya tadi siang. Katanya saya terlalu kaku. Hanya karena perkara itu, dia ninggalin saya begitu saja,” tiba-tiba Gina terisak. Batinnya seakan rapuh, ia meneguk habis segelas wisky di hadapannya. Hahaha,Gina seketika tertawa, “saya nggak mabuk kan, Mas?” ia merebahkan kepalanya di pundak Eme. Aroma alkohol terhembus tajam dari napas Gina. Wanita itu lebih dulu mabuk dari pada Eme. Eme yang masih sadar tak bisa berkutik karena ia juga punya problem yang sama dengan wanita itu. Keduanya sama-sama putus cinta. “Ayo, Mas. Kita minum lagi!” gina mengangkat segelas wisky lagi di hadapan Eme, lantas meneguk wisky itu dengan cepat. “Gina … Gina! Stop. Sudahi minumnya.” Eme berusaha menopang tubuh Gina yang melenggok lunglai di pelukan Eme. “Aku mau minum lagi, Mas.” “Udah, cukup! Ayo, saya antar pulang.” Tubuh Gina sudah berat untuk beranjak. Beberapa kali tubuhnya hampir roboh ke lantai, namun Eme kembali merangkulnya dengan erat. Eme bahkan tak pernah berpikir sejauh ini. Saat dirinya datang ke diskotek, ia hanya berniat untuk minum dan menghabiskan waktu di sini. “Wisky lagi, Mas!” ucap Gina melambai waiters yang berjalan di hadapannya. “Ini,” waiters laki-laki itu menyodorkan seloki yang berisi wisky permintaan Gina. Semakin mabuk alkohol semakin membuat Gina dengan mudah meneguk minuman keras yang tercurah ke dalam seloki. Kepalanya semakin berat, namun Gina tetap memaksa dirinya untuk bertahan di bawah lampu remang diskotek. Hampir saja Eme meninggalkan wanita itu sendiri. Namun, karena teringat kalau Gina juga datang sendiri ke diskotek ini, Eme mengurungkan niatnya. Ia menatap wajah Gina yang sudah merona karena pengaruh alkohol yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Gina jatuh tersungkur di lantai. Wanita itu sudah benar-benar lunglai. Matanya sudah tak mampu terbuka lagi. Terpaksa, Eme membopong tubuh Gina keluar dari diskotik. Wanita itu sudah sempoyongan. Sementara Eme, ia masih memiliki kesadaran yang stabil. Karena tak ada pilihan lain, Eme membawa Gina pulang ke apartemen. Saat merebahkan tubuh Gina di atas ranjang, hasrat Eme seakan memuncak melihat gaun seksi yang dikenakan Gina terangkat lebih tinggi di atas paha wanita itu. Bau alkohol menyeruak dari helaan napas Gina. Wanita itu membisikkan sebuah permintaan pada Eme. Jangan tinggalin saya, Mas! ucapnya dengan manja. Tangan lembut Gina merangkul leher Eme. Seketika pria itu merasa ada getaran hasrat yang menggebu untuk membalas sentuhan Gina, “Please,” sedikit berbisik, Gina menghembus napasnya di telinga Eme, “saya belum pernah melakukannya sama sekali,” ucapnya lagi. “Ayolah!” tubuh Gina menggeliat di atas ranjang. Sementara Eme masih terpaku menatap wajah wanita itu. Hatinya menimbang-nimbang, antara mau dan tidak tega untuk melakukan hal itu bersama Gina. Gina mendorong tubuh Eme ke samping. Kali ini posisi Eme telentang di bawah Gina. Wanita bertubuh semampai dengan potongan rambut sebahu dan terurai rapi itu merebahkan tubuhnya di atas d**a eme. lagi-lagi, tangan lembut Gina meraba wajah Eme dengan lembut. Bibir mungil Gina yang masih berpoles lipstik warna mate mengecup lembut bibir Eme sehingga membuat pria itu tak bisa menolak lagi pada setiap sentuhan Gina. “Ayo kita nikmati permainan ini, Beb. Kamu menjadi pria beruntung dan aku wanita yang paling bahagia malam ini,” bisik Gina lembut. Eme tak banyak bicara, karena percuma saja. Gina tak akan mendengarnya dengan penuh. Hanya action permainan di atas ranjang yang saat ini memenuhi isi kepala Gina. Wanita itu bukan hanya mabuk alkohol, tapi juga dimabuk asmara. Setelah puas menggeliat manja di atas tubuh Eme, Gina berusaha membuka dress mini berwarna merah maroon yang masih menyelimuti tubuhnya. Eme dengan gesit membantu Gina membuka tali bra wanita itu. Tangan Gina kembali merangkul leher Eme saat pria itu duduk mendekapnya. “Saya sudah siap, Mas,” ucap Gina setelah mengecup mesra bibir Eme. “Kamu nggak akan menyesal?” sebelum melakukan hal itu, Eme memastikan lagi keputusan Gina. Wanita itu berulang kali mengatakan bahwa dirinya sama sekali belum pernah melakukan hubungan badan. Eme tak mempercayai begitu saja ucapan Gina. Jemari tangan Eme mulai meraba daerah tersembunyi di s**********n Gina. Wanita itu masih mengenakan celana dalam yang ketat. Perlahan, Eme menyentuh area sensitif itu dengan lembut. Gina menggeliat manja, ia benar-benar merasakan surga dunia untuk pertama kalinya dalam dekapan mesra Eme. Pria itu memperlakukan Gina dengan lembut. Kecupan hangat yang mendarat di sekujur tubuh Gina membuat wanita itu mendesah dengan panjang. Eme tanpa sungkan mengecup mesra area sensitif itu. Gina tiada henti menggeliat manja. Karena sudah tidak tahan lagi, Eme dengan penuh hasrat merenggut kesucian Gina. Darah suci yang masih segar mengalir dari s**********n Gina. Wanita itu memeluk tubuh Eme dengan erat. Kesuciannya telah usai, namun Gina tak ingin menyesal. Meskipun dalam pengaruh alkohol, namun Gina masih sadar dengan semua perbuatan yang sudah mereka berdua lakukan. “Terima kasih, Mas,” ucapnya tepat di wajah Eme. Eme memeluk wanita itu dengan mesra, mengecup kening Gina. Sesuai ekspektasi Gina, Eme merasa menjadi laki-laki paling beruntung karena telah merenggut kesuciannya dengan cuma-cuma. Sementara Gina, tanpa merasa bersalah, ia menyunggingkan senyum bahagia pada Eme. “Lakukan lagi, Mas. Lakukan saja sampai kamu puas,” Gina tanpa sungkan kembali meminta. Tentu saja, Eme tak ingin menolak kesempatan emas yang hadir di hadapannya. Bahkan ia berjanji, kalau pun Gina sampai hamil, ia tidak akan meninggalkan wanita itu. Gina telah mencuri hati Eme di malam pertama perjumpaan mereka. Eme dengan penuh kesadaran kembali menikmati tubuh Gina dengan sentuhan lembut dan mesra. Mereka kembali larut dalam buaian mesra yang dengan sengaja berkali-kali mereka lakukan di malam itu. * * * Saat pagi tiba, Eme membuka mata. Ia melihat sekeliling, sudah tidak ada wanita cantik yang menemaninya tadi malam. Eme tak yakin dengan situasi di pagi hari itu. Bahkan ia sempat mencubit kulit tangannya. Eme meringis kesakitan karena ia tidak sedang bermimpi. Eme telah bangun dari tidur, seharusnya wanita bernama Gina itu juga ada bersamanya di atas ranjang. Eme menyibak selimut yang membalut tubuhnya. Ia teringat percikan darah segar tadi malam. Benar saja, noda darah itu masih melekat jelas di kain seprai. Eme menyentuh bercak darah itu, aroma parfum Gina pun masih melekat di seprai. “Gina … Gina!” Eme memanggil wanita yang telah mencuri hatinya sejak tadi malam. Eme bangkit dari ranjang, ia dengan gesit melangkah menuju kamar mandi. Tidak ada Gina di sana. Bahkan, Eme tak peduli pada tubuhnya yang polos tanpa ditutupi sehelai benang pun. “Sial. Kemana perginya perempuan itu!” Eme menggerutu karena sadar kalau Gina telah pergi meninggalkannya. Mas, terima kasih untuk semuanya. Kamu adalah pria paling beruntung dan saya merupakan wanita yang paling bahagia malam hari ini. Dari lubuk hati yang paling dalam saya menyampaikan permohonan maaf karena telah memaksamu melakukan hal itu. Bagaimana pun juga, saya tidak menyesal. I’am very-very happy. But, kamu telah melakukannya dengan sempurna. Mudah-mudahan benih-benih cinta itu akan tumbuh di rahimku. Saya senang jika anak ini nanti lahir dengan sehat dan selamat. Hidung dan sorot matanya pasti akan mirip denganmu. Tanganmu yang jahil meraba pasti akan menurun padanya. Gerakan tubuhnya gesit, akan sama sepertimu. Delapan puluh persen dirimu pasti ada padanya. Mas, maaf. Saya harus meninggalkan dirimu pagi ini. Bukan karena saya menyesal. Tapi karena saya takut akan merasakan jatuh cinta yang lebih dalam padamu. Kenangan malam ini sangat berkesan. Tapi yang pasti, waktu tidak akan pernah terulang kembali. Happy weekand, bahagia selalu untukmu. Salam, Gina Apriliana. Emerald mengepal kedua tangan di atas meja. Tulisan indah Gina seakan menyayat hati pria tersebut. Eme menundukkan kepala, melempar amarahnya pada angin pagi yang menghembus masuk lewat celah jendela kamar. Kalau saja ia tahu lebih awal kepergian Gina. Ia tak akan pernah membiarkan wanita itu pergi. Mulai sejak itu, Emerald merasakan jatuh cinta yang paling dalam. Bahkan melebihi rasa cintanya pada mantan kekasih yang telah membuatnya patah hati. Sejak saat itu pula, Eme berjanji untuk menutup pintu hatinya sebelum ia bertemu kembali dengan Gina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD