Dia bukan Gina

1630 Words
“Ikut dengan saya!” Emerald menarik paksa pergelangan tangan Jessi. Ia buru-buru mengajak Jessi keluar dari ruangan. Jessi tak bisa menolak karena Emerald mencengkram pergelangan tangannnya dengan erat. Langkah Emerald sangat cepat sehingga membuat Jessi tergopoh-gopoh untuk mengikuti pergerakan pria itu. Beberapa karyawan yang melintas di hadapan mereka memandang dengan penuh tanda tanya. Emerald tak peduli. Ia tetap menyeret Jessi untuk mengikuti langkahnya. Mega yang berdiri di meja resepsionis ikut menyorot gerakan keduanya. Wanita itu menggelengkan kepala sambil tersenyum pada Jessi. “Handoko!” Eme melambai pada Handoko yang tengah menyeruput segelas kopi di kursi taman, di sana biasanya menjadi tempat mangkal tukang parkir dan satpam. “Nggih, Mas ….” ucap Handoko saat mendekat. “Kunci mobil mana?” Eme menyodorkan tangannya pada Handoko. “Mas Eme mau nyupir sendiri?” “Iya.” “Apa nggak saya aja yang anterin, Mas?” Handoko meyakinkan kembali majikannya itu. “Nggak usah. Saya mau pergi berdua sama Jessi. Kamu tunggu di sini saja sampai kami kembali.” “Nggih, Mas. Hati-hati,” jawab Handoko sembari menyerahkan kunci mobil pada Eme. “Ayo!” Emerald membuka pintu lalu mempersilakan Jessi masuk ke dalam mobil. Setelah duduk dengan tenang, Jessi memberanikan diri untuk bertanya, “Kita mau kemana?” Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Emerald. Pria itu fokus menatap ke depan. Jessi yang merasa dicuekin hanya bisa menghela napas sembari memperbaiki posisi duduk. Mata Eme seketika menjeling pada rok span Jessi yang sedikit terangkat sehingga membuat paha Jessi yang putih mulus terlihat olehnya. Tanpa aba-aba, Eme melempar jas miliknya pada Jessi agar wanita itu bisa segera menutup auratnya yang terlihat. “Lain kali pakai rok yang lebih panjang,” ucap Eme tanpa memandang Jessi. “Bukannya style sekretaris emang begini?” “Kamu kerja dengan saya. Jadi ikuti aturan saya.” “Baiklah,” Jessi merungut kesal, apa salahnya kalau aku menggunakan pakaian seperti ini? ujar Jessi dari dalam hati. “Salah, tidak enak dipandang dari mata saya sebagai seorang laki-laki,” tiba-tiba Eme menjawab kedongkolan di hati Jessi. “Kok Bapak tahu perasaan saya?” “Emerald Putra Baskara.” “Apa salahnya saya panggil Bapak?” “Saya belum setua itu.” “Tapi Anda bos saya.” “Itu kalau di kantor.” Gila! umpat Jessi dalam hati. Emerald membelokkan mobilnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Jessi yang masih diselimuti rasa penasaran mengintip dari kaca mobil. Ia melihat beberapa butik berjejer dengan bangunan yang super megah. Sekejap, ia dapat menebak. Eme membawanya shopping. “Sebagai bonus hari pertama kamu bekerja di perusahaan saya, maka sekarang kamu mendapat kesempatan untuk membeli pakaian yang kamu butuhkan untuk kerja.” “Bapak serius?!” Jessi belum percaya dengan ucapan Emerald. “Emerald.” “Iya, Pak Eme.” “Sebut Eme doang kenapa, sih?” “Emerald Putra Baskara.” “Ya, nggak juga sepanjang itu kali!” “Emerald.” “Yup, tepat!” “Saya belum punya uang untuk belanja. Lagian saya juga punya beberapa pakaian yang layak pakai di rumah. Masih bisa dipakai untuk kerja,” tiba-tiba saja Jessi menolak tawaran Eme untuk membelikannya pakaian. Emerald menatap Jessi. Ia melihat wajah sungkan wanita itu. Dalam hati Emerald, ia sangat memuji kebijaksanaan Jessi. Eme tidak bermaksud merendahkan. Ia hanya ingin sedikit merubah penampilan Jessi saja. Supaya semakin cantik dan lebih enak dipandang olehnya. “Maaf, saya hanya ingin memberikan kamu bonus di hari pertama kerja.” “Tapi, saya berhak mendapatkan bonus kalau saya sudah memenuhi tanggung jawab saya, Pak.” “Anggap saya sedang mentraktir kamu sebagai sambutan di hari pertama kerja,” Emerald kembali menawarkan. “Saya belum melakukan apa pun untuk perusahaan Bapak.” “Sebagai teman,” Eme merubah cara pandang Jessi padanya, “gimana?” tanya Eme lagi. “Saya ….” “Udah, jangan sungkan. Yuk!” Eme mengajak Jessi turun dari mobil. Jessi tampak manut. Ia pun tak ingin mengecewakan Emerald yang telah rendah hati memberikannya kesempatan untuk shopping. Sebelum melangkah, Jessi merapikan kembali rok span yang ia kenakan. Baru saja Jessi mendongakkan kepala, Emerald telah berdiri di hadapannya. Tak ada kesan canggung, Eme mengulurkan tangan pada Jessi. Kali ini, ia bersikap lembut. Eme menggenggam erat tangan Jessi, menggandeng gadis berusia dua puluh tiga tahun itu masuk ke dalam butik. Meski sempat menolak, Jessi seakan mendapat angin segar ketika berada di dalam butik. Matanya seakan mengeluarkan cinta dan kebahagiaan ketika melihat beberapa model baju yang sangat menarik. Karena terlalu asyik mencuci mata, Jessi sampai lupa jika Emerald dengan setia mengikutinya dari belakang. “Yang mana, Jes?” tanya Eme saat pria itu telah lelah mengikuti langkah Jessi yang tak kunjung menemukan pilihannya. “Ah, Maaf. Saya lupa ada Bapak,” Jessi tersipu malu, “itu bagus, nggak?!” tunjuk Jessi pada sebuah baju dengan motif yang menarik. “Bagus.” “Saya boleh coba?” Emerald mengangguk. Eme sama sekali tidak pelit. Ia memberikan kesempatan kepada Jessi untuk mencoba beberapa baju pilihannya. Diam-diam, Eme memperhatikan gerak-gerik sekretaris pilihan ayahnya itu. Gina. Ya, Eme kembali mengingat body semampai wanita yang telah mencuri hatinya kala itu. Gina tak hanya cantik, tapi menyisakan kenangan paling romantis di hati Eme. Bahkan untuk bertahun-tahun setelah merajut kasih di malam ia mengenal wanita tersebut, Eme bahkan tak pernah sekali pun membuka hati untuk wanita mana pun. Tidak juga Melody, sekretaris yang terpaksa ia berhentikan karena kecurangannya. Melody pernah dengan segala upaya mendekati Emerald. Tapi sayang, niat busuk Melody akhirnya ketahuan saat tanpa sengaja Eme mendengarkan pembicaraan Melody bersama sahabatnya tentang sebuah misi pendekatan dengan dirinya. Melody ternyata hanya ingin memanfaatkan jabatan dan harta milik Eme. Jessi sangat mirip dengan Gina. Hanya saja, perawakan Jessi lebih tinggi dari pada Gina. Eme berusaha membuyarkan ingatannya tentang Gina. Ia meyakinkan diri kalau gadis yang ada di hadapannya adalah Jessi bukan Gina. “Pak … Pak … Bapak ….” Jessi melambaikan telapak tangannya di hadapan wajah Eme. Pria itu hampir tak berkutik. Ingatannya penuh pada sosok Gina yang seakan ia temui pada diri Jessi saat ini. Gina benar-benar telah mencuri hati Emerald. “Ah, am … Su … sudah dicoba semua bajunya?” Eme gelagapan. “Sudah.” “Suka yang mana?” Emerald berusaha memperbaiki suasana hatinya. “Semuanya bagus. Tapi, Bapak kasi bonusnya untuk saya hanya satu style, kan?” “Semua.” “Tapi, ini kebanyakan, Pak. Satu lusin.” “Bawa saja ke meja kasir!” Jessi menarik napas. Ia memilah-milah kembali pilihan baju yang ada di tangannya. Dalam hatinya, Jessi tak mungkin membebankan semua pembayaran kepada Emerald. Ia sama sekali tak berniat untuk menguras isi dompet CEO Perusahaan Litus Property itu. Namun, ia sendiri pun belum memiliki gaji untuk bisa membayar belanjaannya sendiri. “Jessi!” “Iya, Pak .” lamunan Jessi buyar karena sapaan dari Emerald. Pria itu berdiri tegap di hadapan Jessi. Melihat raut wajah bimbang dari Jessi, Emerald meraup semua pakaian pilihan Jesi lantas beranjak menuju ke meja kasir. Jessi yang melihat sikap Emerald hanya melongo seakan tak percaya jika pria itu benar-benar membelikan semua pakaian pilihannya. Wajah Jessi seketika meringis kecut saat mendengar nominal pembayaran yang diucapkan oleh kasir. Eme dengan santai menyerahkan kartu kredit-nya pada kasir hanya untuk membayar belanjaan Jessi yang totalnya hampir dua puluh juta rupiah. “Pak, apa ini nggak berlebihan?” tanya Jessi saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. “Anggap sebuah apresiasi saya kepada kamu sebagai penyemangat kamu untuk bekerja nantinya.” “Saya khawatir kalau saya malah tidak mampu mengemban amanah itu nantinya, Pak.” “Saya percaya pada pilihan Papa saya. Bukan kah kamu adalah sekretaris pilihan Pak Baskara?” tanya Eme sembari menyebut nama sang ayah diujung ucapannya, “artinya kamu mampu mendedikasikan diri kamu sepenuhnya.” Jessi tertunduk lesu. Perlakuan Emerald padanya hari ini bahkan bukan bertindak sebagai bos kepada anak buah. Padahal, Jessi sudah berhayal sejak tadi malam tentang bagaimana ia bekerja hari ini. Nyatanya, Eme telah memanjakan matanya bahkan membayar semua belanjaannya dengan tunai. “Saya mau kamu memenuhi satu permintaan saya lagi.” “Tapi, Pak.” “Saya harap kamu tidak menolak. Saya janji setelah ini saya tidak akan memaksa kamu untuk melakukan hal yang saya inginkan.” “Apa yang Bapak mau dari saya?” Emerald membawa Jessi ke sebuah salon ternama. Atas permintaan dari bosnya itu, Jessi terpaksa memotong rambutnya hingga sebahu. Keinginan Emerald membuat penampilan Jessi percis seperti Gina. Benar saja, saat Jessi keluar dari salon dan menjumpai Emerald yang telah setia menunggunya di dalam mobil, mata pria itu terpukau dengan penampilan Jessi. Lagi-lagi, pikiran Emerald mengulang kisahnya bersama Gina. “Gina ….” Bibir Emerald latah menyebut nama wanita itu. Eme mendongakkan wajahnya mendekati wajah Jessi. Mata mereka beradu, sangat dekat. Eme seakan ingin melampiaskan kerinduannya kepada wanita yang telah hilang tanpa kabar sejak tiga tahun yang lalu. Eme benar-benar larut dalam hayalannya tentang Gina. Ia tak menyadari jika wanita dihadapannya adalah Jessi bukan Gina. Tak ingin berlarut-larut, Jessi mendorong kuat pundak Eme hingga membuat pria itu tersandar dengan keras di kursi mobil. Wajah Jessi seketika berubah merah padam. Emosinya tersulut dengan perlakuan Eme. “Gila! Bapak jangan main-main dengan saya,” nada Jessi sedikit mengancam. “Jes … Jessi, Jessi. Maaf. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya …” “Hanya apa? Hanya ingin berbuat m***m dengan saya?!” Jessi menghardik Eme yang seharusnya ia hormati sebagai bos, “ooh, jadi ini maksud Bapak membayar semua belanjaan saya dan meminta saya masuk ke salon?” “Stop! Berhenti menyudutkan saya. Kamu tidak mengerti apa yang saya pikirkan.” Karena merasa panas dengan ucapan Jessi, Emerald terpaksa meninggikan nada bicaranya kepada wanita itu. Jessi yang merasa kembali tersudut memilih untuk diam. Ia menghela napas, diam-diam matanya menjeling pada wajah Emerald yang duduk terpaku di sampingnya. Seketika, Jessi menjadi gugup. Ia khawatir kalau Emerald malah punya niat buruk padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD