Candu Aroma Parfum

1657 Words
Memasuki hari kedua bekerja di perusahaan milik Emerald, Jessi kembali merepotkan Eme untuk menjemputnya. Kali ini, Eme datang sendiri. Ia pun mengendarai mobil pribadinya. Karena sudah mengetahui alamat Jessi, Eme tak lagi melibatkan Handoko untuk menemaninya. Jessi ke luar dengan mengenakan pakaian yang ia pilih di butik kemarin siang. Eme terpana menatap Jessi. Gadis itu benar-benar menawan. Meskipun Eme telah menyadari jika Jessi bukanlah Gina, setidaknya kerinduan Eme pada Gina terobati dengan setiap hari bersama wanita yang mirip dengan perempuan yang telah mencuri hatinya itu. “Udah sarapan?” “Belum,” Jessi menggelengkan kepalanya, “Bu De hari ini baru balik dari desa. Kemarin siang beliau pulang ke desa. Katanya ada keperluan.” “Jadi, nggak ada yang siapin sarapan?” Jessi menyeringai. Kebiasannya terlambat bangun pagi agaknya membuat gadis itu selalu terburu-buru untuk membereskan diri sehingga tidak ada waktu baginya untuk menyiapkan sarapan. “Ya, udah. Kita singgah cari sarapan dulu,” Emerald membelokkan mobilnya ke sebuah warung yang menyediakan sarapan pagi. Sederhana, hanya tersedia bubur ayam, nasi kuning dan lontong sayur, “makan di sini, mau?” “Mau, Pak.” Seketika, Emerald memandang pada Jessi. Ia sudah kehabisan akal untuk mengingatkan gadis itu agar tidak memanggilnya pak atau bapak. Usia Emerald dengan Jessi terpaut enam tahun. Sebagai pria dewasa, Emerald merasa dirinya belum pantas mendapat gelar bapak-bapak. “Kamu bisa jangan panggil saya bapak?” “Why?” tanya Jessi bimbang. “Saya masih muda. Panggil nama atau panggil Mas saja.” “Tapi, kan. Anda bos saya?” Jessi melotot membalas tatapan Emerald. Karena tak ada jawaban dari Emerald, Jessi mengernyit kening. Wanita itu membuka rek sleting sling bag yang ada di pangkuannya. Ia menyemprotkan parfum ke leher dan daun telinganya. Jessi menghirup aroma parfum dengan perlahan. Aroma jasmine dari parfum yang disemprot oleh Jessi membuat Emerald kembali mengingat Gina. Aroma itulah yang terpancar dari tubuh Gina saat ia memeluknya di malam mereka menghabiskan waktu bersama. “Saya mau dong parfum itu.” “Untuk apa, Mas? ini kan parfum wanita?” seketika Jessi merubah panggilannya pada Emerald. Hahaha, bukannya menjelaskan maksud ucapannya, Eme malah menertawai wanita yang ada di sampingnya. “Apa yang lucu?” “Kamu.” “Saya?” jesi menunjuk pada dirinya sendiri. “Iya. Sini!” spontan, Emerald meraih paksa botol parfum yang ada dalam genggaman Jessi. Eme membaca komposisi parfum tersebut. Tanpa sungkan, pria itu malah menyemprot parfum itu juga ke tubuhnya. “Mas …” Jessi berusaha mencegah gerakan emerald yang hampir menghabiskan sisa parfum yang tinggal sejumput di dalam botol kecil miliknya. “Nanti kita beli lagi,” ucap Emerald lalu menyodorkan botol parfum yang tersisi sedikit itu kepada Jessi, “yuk! Kita sarapan dulu.” Eme melepas sabuk pengaman yang masih melekat di tubuhnya. Tanpa sengaja, mata keduanya beradu saat Eme mendongakkan kepala selepas menunduk untuk mengambil kacamata yang terjatuh dari dashboard mobil. Jessi menatap lekat pada Eme demikian pun pria itu. Lumayan tampan juga bos-ku ini, gumam Jessi. Tok … tok … tok … Jesi menoleh pada kaca mobil di sampingnya. Tanpa sadar, Emerald telah lebih dulu berada di luar. Jesi tersenyum mengingat pikirannya yang baru saja terjadi. Ia sempat mengagumi ketampanan Emerald pagi itu. Tapi, hatinya sedikit kikuk, khawatir kalau Emerald mengetahui perbuatannya barusan. “Ayo turun! Kelamaan di dalam,” Eme menggerutu pada sekretaris barunya itu. “Iya, iya. Sebentar lagi,” ucap Jessi sambil memoles lipstik warna mate di bibirnya. Pagi itu, mereka berdua sarapan bubur ayam. Rasanya endul, hampir saja Jessi ingin nambah. Rasa bubur ayam yang mereka nikmati saat itu hampir mirip dengan bubur ayam buatan Bu De di rumah. Tapi, Jessi jadi sungkan. Ia khawatir dinilai rakus oleh Emerald. Jessi mengurungkan niat sambil perlahan menghabiskan sisa bubur dalam mangkuk putih di hadapannya. “Jes …” “Iya,” sahut Jessi saat mereka telah berada di dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor. “Kamu tahu, apa yang membuat saya terkesan padamu?” Jessi menggelengkan kepala. Ia pura-pura tak menyadari kalau Emerald diam-diam sering memperhatikannya sejak awal mereka berjumpa. Emerald memang menaruh hati pada Jessi. Tapi bukan soal diri Jessi, melainkan karena sosok seseorang yang dari sudut mata Eme sangat mirip dengan wanita yang ia menghilang dari hidupnya sejak tiga tahun yang lalu. Gina Apriliana. Ya, wanita itu. “Kamu mengingatkan saya dengan seseorang.” “Oh, ya. Siapa?” tanya Jessi seakan penasaran. “Adalah …” “Melody?” Hahaha, Eme tertawa keras. Mana mungkin ia mengingat Melody. Meski pun wanita tersebut telah berjasa membantu pekerjaannya, tapi sejauh ini Eme memperlakukan Melody hanya sebatas rekan kerja. Melody sama sekali tidak memiliki kriteria wanita yang diinginkan oleh emerald. Meskipun pernah tertimpa isu hubungan antara keduanya. Namun Eme membantah hal tersebut. Melody pernah mengarang cerita kalau Emerald menidurinya saat mereka sedang ada kegiatan di luar kota. “Melody itu sekretaris terbaik, ya?” Jessi mencoba mengulik kinerja mantan skretaris Emeralad tersebut. “Melody pernah berusaha merebut hati saya.” “Oh, ya? Kenapa Mas Eme tidak mau?” “Karena hati saya masih tertutup untuk satu nama.” “Wanita itu?” “Kamu tahu?” “Tidak,” Jessi menggeleng, karena ia memang tak tahu. Tapi prediksinya tepat, Emerald belum move on dari seorang wanita. “Perempuan itu terlalu sempurna untuk saya.” “Saya punya tugas besar untuk mendamping Mas Eme,” Jessi menghentikan ucapannya sesaat, “dari Om Baskara.” “Soal pencarian jodoh untuk saya?” “Mungkin begitu.” “Jessi, tolong! Kamu jangan ikuti kata Papa. Saya, Emerald Putra Baskara bisa mencari jodoh saya sendiri ….” “Tapi sampai kapan, Mas?” Jessi memotong ucapan Emerald. “Sampai saya menemukan sosok yang tepat,” wajah Emerald berubah padam. Memang tak ada yang bisa mengisi hatinya selain Gina. Sosok wanita lembut yang menyerahkan kesucian padanya. Emerald benar-benar jatuh hati pada wanita tersebut. Sosok Gina tak pernah lekang dari ingatannya. “Jika kita pernah kehilangan seseorang dalam hidup, bukan berarti kita menunggunya kembali. Kita hanya perlu membuka hati dan fokus pada tujuan masa depan. Saya yakin, Mas Eme adalah laki-laki baik dan sudah sering bertemu wanita baik pula. Hanya perlu ikhlas untuk melepaskan,” seketika nada bicara Jessi berubah bijaksana. “Iya, kamu memang betul. Tapi kenyataannya, saya begitu sulit melupakan dia.” “Terlalu cinta?” “Bisa jadi,” Emerald menelan saliva, berat untuk mengungkapkan kejadian sebenarnya kepada Jessi, “kami punya kenangan paling indah.” “Hanya sebuah kenangan,” Jessi mencibir tanpa tahu kenangan yang dimaksud Emerald sangat berkesan untuknya. “Lebih dari pada itu.” “Kau sudah meniduri wanita itu?” “Seperti yang kamu duga,” jawab Eme datar seakan memastikan pikiran Jessi benar. “Kau tidak minta maaf padanya?” “Itu dia masalahnya. Sejak kejadian malam itu, kami tidak pernah bertemu lagi.” “Hmm …” Jessi menarik napas panjang, diam-diam ia menjeling pada wajah Emerald yang terlihat fokus menyetir. “Kita jadi beli parfum?” tiba-tiba saja Emerald mengalihkan pembahasan. Matanya tertuju pada sederet ruko yang menjual parfum isi ulang. “Jadi,” sahut Jessi singkat. “Dua botol.” “Mas Eme serius mau samain?” “Buat koleksi,” Eme tak ingin membahas lebih detail soal parfum kepada Jessi. Pada intinya, ia menyukai aroma jasmine dari parfum isi ulang milik Jessi. Dalam pikiran Eme terlintas akan upaya melepas kerinduan kepada Gina dengan menghirup aroma parfum itu nantinya. “Baiklah, tunggu di sini!” Jessi memberi perintah, padahal Eme sama sekali tak ingin menunggunya di dalam mobil. Pria itu malah mengikuti buntut Jessi dan membayar tunai parfum isi ulang yang dibeli oleh wanita itu. Lagi-lagi, Jessi hanya mampu mengucapkan terima kasih kepada Emerald. Karena baru saja dua hari ia bekerja dengan pria itu, tapi Eme sudah sangat royal padanya. Sementara Eme, pria itu sama sekali tidak memperhitungkan kerugiannya untuk Jessi. Ia juga tidak berniat jahat pada wanita itu. Semua yang ia berikan hanya sebatas untuk melengkapi kebutuhan Jessi. * “Ini pekerjaan pertama kamu!” Emerald menyodorkan setumpuk berkas di hadapan Jessi. Melihat tumpukan berkas yang meninggi, membuat nyali Jessi ciut. Selama magang ia hanya berkesempatan menyelesaikan beberapa lembar berkas saja. Itu pun hanya terkait surat menyurat. “Banyak amat?” mata Jessi melotot. “Kerjakan dalam waktu satu kali dua puluh empat jam!” “Lembur, Pak?” Jessi terperangah mendengar perintah Eme. “Jika harus lembur emang ada yang salah?” “Ah, nggak … nggak! Saya siap,” Jessi menyetujui, meskipun ia sebenarnya masih belum siap jika mendapat tugas sebanyak ini. Maklum, ia belum punya pengalaman kerja sama sekali. Satu per satu Jessi mulai mempelajari tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Ia memilih sesuai dengan deadline. Meski masih canggung, ia berusaha menyelesaikan tantangan dua puluh empat jam dari sang CEO. Beberapa kali Jessi sempat menguap karena menahan lelah. Ia berusaha menopang rasa ngantuk dengan meneguk segelas kopi yang ia sediakan di atas meja. Tak ada pilihan selain menyelesaikan pelan-pelan tumpukan pekerjaan yang ada di hadapannya. Emerald tak tinggal diam. Di meja berbeda, ia tampak sibuk membolak balik proposal kerja sama yang diusulkan oleh beberapa perusahaan lain padanya. Akan ada jadwal meeting dengan satu perusahaan property besok siang. Melihat deadline yang tertera, Eme segara meminta Jessi membuat presentasi untuk pemaparan program kerja mereka dalam meeting besok siang. “Mas, kita belum pulang?” mata Jessi tertuju pada jarum jam dinding yang terus berputar. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat dua puluh delapan menit. Emerald menyusun dengan rapi tumpukan berkas yang berserakan di atas meja. Ia ikut memandang jam dinding, matanya juga menjeling pada Jessi. Ia melihat raut wajah lelah terpancar dari bola mata wanita itu. “Maaf, tidak seharusnya saya membawa kamu semalam ini. Ayo kita pulang!” Jessi mengikuti aba-aba dari Emerald. Sebagai karyawan baru, ia menurut saja pada perintah bosnya itu. Lagi pula, Eme punya sistem kerja dalam bentuk SKS – Sistem Kebut Semalam. Sehingga segala sesuatunya harus selesai dalam satu hari. Cara kerja demikian agaknya perlu penyesuaian dari diri Jessi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD