Weekand telah tiba …
Seperti kebiasannya dalam menikmati akhir pekan, Emerald kembali menyisihkan waktu untuk menonton film yang baru saja rilis di bioskop. Ia keluar dari pintu teater lima. Saat melangkah di lobi teater, Emerald dikagetkan dengan kehadiran seorang anak laki-laki yang menubruk betisnya.
Anak laki-laki itu meringis kesakitan, “Aduh …” ucapnya menahan sakit karena benturan yang cukup keras menghantam tubuh kecilnya.
Anak laki-laki itu ketakutan saat memandang wajah Emerald. Sepertinya, ia khawatir kalau saja Emerald akan memarahinya, “Maaf, Om,” ujarnya dengan wajah gemetar.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Eme dengan senyum bersahabat.
“Tubuh Lafa cakit, Om,” ucapnya dengan nada cadel.
“Mana yang sakit?” Emerald dengan sigap mendekap tubuh mungil anak laki-laki yang menyebut namanya Lafa – yang artinya Raffa.
“Ini!” katanya lagi sembari menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah karena benturan tubuh mereka tadi.
“Oh, ini. Sini, Om Eme bantu urut,” Emerald menggendong tubuh Raffa. Mereka berdua duduk di kursi lobi. Mata Eme celingukan mencari keberadaan orang tua Raffa.
“Orang tua Raffa mana?”
“Mommy?”
“Iya, Mommy Raffa,” Eme memahami panggilan Raffa untuk orang tua perempuannya adalah mommy.
“Di sana!” Raffa menunjuk pada meja kasir tempat pemesanan makanan ringan yang ada di lobi bioskop.
“Oh, iya. Mommy tahu Raffa ke sini?”
Raffa menggeleng.
“Ya udah, Om anterin ketemu Mommy lagi, yuk!”
Raffa kembali menggeleng.
“Loh, kenapa? Ntar mommy-nya nyariin Raffa loh.”
“Mommy pasti ke sini.”
“Ya udah, kalau begitu, kita tungguin Mommy Raffa, ya.”
Kali ini Raffa mengangguk.
Sambil menunggu kehadiran Mommy Raffa, Emerald mengajak Raffa berbincang. Mereka terlihat langsung akrab. Apalagi pembawaan Emerald dalam berkomunikasi dengan Raffa. Sikapnya yang lembut seakan membuat Raffa terkesan pada pria di hadapannya.
“Ya ampun, Raffa. Mommy mencari kamu ke mana-mana. Di sini rupanya.”
Emerald menoleh pada sumber suara, sementara Raffa menyengir karena merasa bersalah. Eme dengan sigap berdiri menyambut kehadiran wanita yang tengah melangkah ke hadapan mereka.
“Jessi …” ucap Eme kebingungan.
“Loh, Pak Bos ada di sini?”
“Maaf, tadi saya tidak sengaja bertemu Raffa.”
“Iya, Raffa ini sangat aktif. Saya sampai kebingungan mencarinya ke sana ke mari. Beruntung Raffa bisa bertemu Pak Bos.”
“Mommy jadi beli es clim?” tanya Raffa. Anak laki-laki itu menyerobot tubuh Jessi.
“Am, Jes. Raffa anak kamu?” Emerald tak ingin kalah memberi pertanyaan.
Jessi memandang pada Eme. Sepertinya ia ingin mengutarakan sesuatu. Namun Jessi berusaha menutupi. Ia tak ingin membicarakan hal itu di hadapan Raffa. Meski pun ia tahu kalau Emerald menyimpan pertanyaan yang dalam atas rasa penasarannya.
“Ini!” Jessi menyodorkan satu cup es crim pada Raffa.
“Terima kasih, Mommy,” ucap Raffa penuh cinta.
“Maaf, bagaimana dengan pertanyaan saya tadi?” setelah menyaksikan tingkah gemes Raffa saat menikmati es krim di hadapannya, Emerald memberanikan diri mengulang pertanyaannya.
“Anak kamu Jes?”
Jessi menggeleng.
“Raffa anak siapa?” dengan wajah bingung, Emerald kembali mengulang pertanyaannya.
“Mbak Yu saya.”
“Serius?”
“Ibunya sudah meninggal dunia saat melahirkan Raffa. Sekarang Raffa menjadi tanggung jawab saya dan Bu De sabagai mbah perempuan dari Raffa.” Jessi mengusap puncak kepala Raffa.
“Kasihan …” gumam Emerald.
“Sekarang Raffa harus menikmati hidupnya dengan baik. Begitu pun, saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk Raffa.”
“Kamu terbeban?” tanya Emerald.
“Nggak,” Jessi mengelap sudut bibir Raffa yang cemot karena terlalu antusias menyuap es krim ke dalam mulutnya, “pelan-pelan dong Sayang nyuapinnya. Ntar bajunya kotor,” ujar Jessi penuh cinta.
“Mommy, mau?” Raffa menyodorkan sejumput es krim di ujung sendok kecil pada Jessi.
“Buat Raffa, aja.”
“Om Me mau?” Raffa memandang pada Emerald.
Emerald menggeleng kecil. Ia melampar senyum ramah pada anak laki-laki tampan di hadapannya.
“Ayahnya Raffa di mana?” Eme kembali mengajukan pertanyaan pada Jessi.
Raffa nggak punya ayah, Jessi sedikit berbisik pada Eme.
“Serius?”
“Hm … mh,” Jessi mengangguk, “udah makan es krimnya?” ia memandang pada Raffa.
“Sedikit lagi,” Raffa menyodorkan cup ice cream yang ada di tangannya pada Jessi.
“Habisin dulu.”
“Sudah,” Raffa menggeleng karena sudah tidak mampu menghabiskan ice cream bagiannya.
“By the way, kalian berdua mau nonton?”
“Iya. Kebetulan tadi sudah beli tiket.”
“Teater berapa?”
“Ini.” Jessi menyodorkan dua tiket bioskop di tangannya pada Emerald.
“Tunggu di sini!” perintah pria itu. Ia segera beranjak menuju meja kasir. Sesuai dengan dua tiket pesanaan Jessi dan Raffa, Emerald mengambil posisi kursi yang ada di sebelah keduanya.
Pintu teater satu telah dibuka. Para penonton yang telah memiliki karcis, dipersilakan untuk memasuki ruangan teater ….
Jessi menatap Emerald dari jauh. Pria itu nampak masih berbincang-bincang dengan kasir. Tak berselang lama, Emerald kembali menyusul Jessi dan Raffa. Mereka memasuki ruang teater bersamaaan.
“Mommy, duduk di sini, ya!” Raffa menepuk kursi yang akan mereka duduki.
“Jangan! Raffa duduk di tengah, biar Mommy di sini, dan Om Eme di sebelah,” Jessi mengatur ulang posisi duduk mereka.
“Nggak mau. Lafa tetap di sini!” Raffa menggeleng keras.
“Ya udah, Raffa duduk pangkuan sama Om Eme saja, ya! Biar Mommy tetap di situ.”
“Iyah, mau,” ucap Raffa mengangguk.
“Bapak nggak keberatan?” Jessi memandang pada wajah Emerald.
Pria itu menggeleng kecil sembari memainkan kedua alisnya, huff … Eme mengangkat Raffa lalu merebahkan tubuh mereka pada kursi.
“Om Me, kok aloma palfumnya sama dengan punya Mommy?” Raffaa bersandar di pundak Emerald.
Seketika Jessi dan Emerald langsung berpandangan. Mereka saling melempar senyum tipis. Jessi mendngakkan wajahnya pada tubuh Eme. Benar saja, Emerald menyemprot parfum dengan aroma jasmine yang sama pada tubuhnya.
“Iya. Om Me ikut-ikutan Mommy,” Jessi turut menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Kan, biar samaan,” Emerald mengecup kening Raffa.
Entah kenapa, sejak pertama perjumpaan mereka tadi, Emerald seakan merasa kalau Raffa adalah seorang malaikat untuknya. Hatinya berdesir ketika menatap dua bola mata anak laki-laki tersebut. Seakan ada kemistri yang terbangun di antara keduanya. Eme mendekap erat tubuh Raffa.
Baru saja beberapa menit film animasi ditayangkan, Raffa sudah menguap beberapa kali. Tampaknya, Raffa tengah mengantuk. Apalagi waktu telah menunjukkan hampir tengah hari. Sudah jamnya tidur untuk anak-anak seusia Raffa.
Emerald memperbaiki posisi kepala Raffa yang rebah di dadanya. Raffa nampak kecapaian. Sssttt … Emerald berdesis panjang saat Jessi hendak membantu memperbaiki posisi tidur Raffa, “jangan diganggu!” ujarnya perlahan.
“Iya, aku tahu,” Jessi tak ingin kalah berkomentar, “Raffa harus ditepok-tepok supaya tidurnya nyenyak,” jelasnya perlahan.
“Begini?” Emerald langsung mempraktikkan cara menidurkan Raffa sesuai versi Jessi.
“Iya.”
Bukannya menyaksikan film yang sedang diputar di layar, Jessi dan Emerald malah asyik meniduri Raffa. Sampai film selesai pun Raffa masih tertidur lelap. Terpaksa, Emerald menggendong tubuh kanak-kanak itu di pundaknya saat mereka melangkah keluar dari dalam teater.
Jessi dengan langkah anggun berjalan di samping Emerald. Ia tak mengira jika pria yang merupakan bosnya di perusahaan itu ternyata sangat humble. Eme dengan lembut menggenggam tangan Jessi saat mereka menuruni eskalator. Hal itu membuat Jessi sedikit kikuk.
“Mau dianterin pulang?” tanya Eme saat mereka sudah di lantai dasar.
“Terima kasih. Sebaiknya tidak perlu. Khawatir merepotkan Bapak,” Jessi menolak dengan halus.
Padahal Jessi sendiri sebenarnya kerepotan jika harus pulang sendiri. Sebab ia dan Raffa tadi berangkat dari rumah menggunakan taxi online. Apalagi sekarang Raffa masih tertidur nyenyak dalam gendongan Emerald.
“Kendaraan kalian di mana?”
“Pesan taxi online dulu,” Jessi merogoh saku tas untuk mengambil handphone yang terselip di sana. Tangannya sudah siap berselancar untuk memesan taxi online dalam aplikasi yang ia gunakan.
“Udah, yuk!” Emerald menarik tangan Jessi, “saya anterin,” ujarnya sambil terus melangkah menuju parkiran.
Emerald merebahkan tubuh mungil Raffa di kursi tengah. Karena tidak ada bantal yang tersedia di dalam mobil, Emerald hanya memberi alas pada kepala Raffa dengan menggunakan sweater miliknya.
“Hati-hati, Mas. Eh … Pak,” pesan Jessi yang terdengar masih canggung menyapa Emerald dengan sebutan Mas di luar jam kerja mereka, “apa saya perlu duduk di belakang untuk menemani Raffa?” lanjut Jessi memberi pertanyaan karena ia melihat Emerald tidak memberi ruang untuknya duduk di sebelah Raffa.
“Kamu duduk di depan saja, biar kursi ini luas untuk Raffa tidur.”
Jessi manut saja. Ia mengusap kepala Raffa untuk memastikan bahwa anak laki-laki itu telah tertidur lelap. Karena Emerald telah mendahuluinya untuk duduk di kursi depan, Jessi pelan-pelan menutup pintu lalu menyusul Emerald masuk ke dalam mobil.
*
“Makasih loh, Mas udah anterin.”
“Sama-sama, Jes. Jangan sungkan kalau perlu bantuan.”
“Tapi saya nggak enak ngerepotin Mas Eme.”
“Saya nggak keberatan, kok.”
“Tapi saya tetap sungkan.”
Emerald memandang kagum pada Jessi. Ia seakan baru pertama kali berjumpa wanita setulus Jessi. Padahal, ia sendiri seharusnya memiliki kesempatan besar untuk bertemu wanita serupa Jessi. Namun, takdir kadang berkata lain. Tetap saja, pertemuannya dengan Jessi seakan menyisakan bayang-bayang Gina yang terus melintas di dalam hati dan pikiran Emerald