“Eme!”
Suara khas itu kembali memanggil nama Emerald. Suara pria paruh baya yang sedikit serak karena akhir-akhir ini sering mengalami radang tenggorokan. Pria itu sempat terbatuk ketika mendengar pintu ruang depan terbuka.
“Kok pulangnya kesorean, Le?” Ibu Emerald turut menyambut kedatangan putranya.
“Tadi mampir ke rumah Jessi, Ma.”
“Jessica?” Pak Baskara langsung nimbrung, pria itu segera meraih remot TV untuk mengecilkan volume sinetron yang sedang ia tonton.
“Iya, Pa. Sekretaris Eme.”
“Oh, ya? Bagaimana?” Pak Baskara merasa penasaran dengan hubungan kerjasama sang putra bersama sekretaris pilihannya itu, “Papa nggak salah pilih, kan?” lanjutnya memberi pertanyaan.
Emerald tersenyum tipis.
“Mau Mama buatkan teh hangat, Le?”
“Terima kasih, Ma. Tadi sebelum pulang, Eme sudah dibuatin Bu De-nya Jessi teh hangat.”
“Jessi tinggal bersama Bu De-nya?” Pak Baskara kembali menaruh rasa penasaran.
“Akh, Papa. Pura-pura nggak tahu aja. Bukannya waktu itu Papa sendiri yang mengantar Jessi pulang ke rumah setelah kalian sama-sama beranjak dari airport?” Eme membalikkan pertanyaan ayahnya.
“Oh, no. Waktu itu Papa dan Mama nggak ikut. Hanya Handoko yang mengantar,” Pak Baskara membela diri, “tapi … serius,” pria berkacamata itu menatap putranya, “kamu sudah mengenal keluarganya?”
“Sejak awal Eme menjemput, Eme hanya bertemu dengan Bu De-nya saja dan … hari ini tanpa sengaja saat Eme weekand ke bioskop, Eme bertemu dengan Jessi dan seorang anak kecil.”
“Jessi punya anak, Le?” kali ini Bu Sundari yang meraup rasa penasaran.
Emerald terdiam untuk beberapa saat. Sebenarnya, ia juga tidak percaya jika Raffa adalah keponakan dari Jessi, “Keponakan Jessi, Ma,” ujar Eme sembari mengusap wajahnya.
“Oalah, keponakan toh.”
“Memangnya, kalau Jessi punya anak kenapa, Ma?” Eme balik menyoroti sikap kedua orang tuanya.
“Ya nggak kenapa-napa, sih. Khawatir nggak fokus kerja saja.”
“Am, Eme.”
“Iya, Pa?”
“Besok Papa ada rencana untuk mampir ke kantor.”
“What? Buat apa, Pa?” Emerald terperangah dengan tujuan ayahnya.
“Hanya sekadar mampir. Papa sudah lama tidak berkunjung ke sana.”
“Tapi, kan ada Eme, Pa!” Eme agak menolak kedatangan ayahnya ke kantor.
“Jangan khawatir. Papa tidak mengganggu pekerjaanmu. Papa hanya mampir saja.” Pak Baskara memberikan senyuman terbaik pada putranya.
“Iya deh. Terserah Papa saja. Eme tunggu kehadiran Papa besok.”
“Nggak usah ditunggu,” Pak Baskara cekikan, “wong Papa bukan tamu agung.”
“Tapi, kan Papa pemilik Perusahaan Litus Property.”
“Akh, semuanya sudah jadi milik kamu sekarang.”
“Tapi bener, Pa. Ada beberapa hal yang mau Eme diskusikan sama Papa besok di kantor.”
“Tentang apa?”
Eme mengangkat kedua bahunya, memberi tanda bahwa ia tak ingin membuat pikiran ayahnya terbeban untuk memikirkan perusahaan lagi. Jatuh bangun pengelolaan perusahaan kini berada di tangan dirinya. Pak Baskara sudah sangat bijak mengangkat Eme sebagai ahli waris tunggal untuk menggantikan posisinya.
“Papa yakin kamu sudah sangat dewasa untuk menyelesaikan segala persoalan di dunia kerja.”
“Papa masih percaya sama Eme, kan?” Eme meyakinkan ayahnya.
“Kan, ada Jessi yang siap membantu kamu.”
“Jessi hanya karyawan baru, Pa. Dia masih harus dibimbing dan diberi arahan.”
“Tugas kamu toh, Le?” Bu Sundari ikut memberi harapan.
“Iya sih, Ma. Tapi, kan jadi nambah kerjaan Eme.”
“Yo tinggal di kasih perintah, kan bisa. Gitu aja kok repot,” ujar Pak Baskara memberi solusi dengan logat Jawa-nya yang kental.
Perbincangan Emerald dengan kedua orang tuanya berlanjut hingga pukul delapan malam. Mereka terlalu asyik membahas seputar sekretaris baru Emerald dan beberapa urusan pekerjaan di perusahaan. Sesekali, kedua orang tua Emerald menggoda putranya dengan Jessi.
Karena belummandi dan perlu istirahat, Emerald lebih dulu mengundurkan diri dari hadapan kedua orang tuanya. Ia menguap panjang saat naik tangga menuju kamar tidur di lantai dua.
*
Sementara itu …
Suasana di rumah Jessi dibalut canda dan tawa antara Jessi dan Raffa. Anak laki-laki itu tertawa keras saat Jessi menggelitik dan mencium perutnya.
Ha … ha … ha … Mommy, ha … ha … ha, Raffa tak berhenti tertawa.
Permainan mereka usai saat Mbah Kakung Raffa membawakan sepiring talas goreng dengan teh hangat favorit Raffa.
“Sudah mainnya, ayo ngemil!” Bu De Sarini meletakan nampan yang dibawanya ke atas meja.
Cuaca di luar sedang hujan deras. Jessi bahkan hampir tidak mendengar deru kendaraan lalu-lalang seperti malam cerah sebelumnya. Rumah Bu De Sarini memang berada di pinggir jalan raya, namun tertata asri dengan tanaman rumahan yang mengitari pekarangan rumah yang cukup luas.
“Gimana kerjanya, Ndok?” tanya Bu De Sarini pada Jessi.
“Aman Bu De.”
“Nggak capek kamu?”
Jessi menggeleng sembari meniupkan teh hangat di sendok untuk diseruput oleh Raffa, “Jessi baru dua hari kerja, Bu De.”
“Bos kamu baik, Ndok?”
“Baik.”
“Bu De senang loh, ngeliatin Bos kamu itu mau antar jemput kamu ke rumah.”
“Untuk sementara, Bu De,” Jessi menyuap sesendok teh hangat ke mulut Raffa, “nanti kalau Jessi sudah terima gaji pertama, Jessi akan belajar mandiri.”
“Iya. Begitu. Supaya kamu tidak merepotkan bosmu itu. Ojek online kan banyak.” Bu De Sarini membenarkan niat Jessi.
“Iya, Bu De. Doakan Jessi untuk semangat bekerja, ya. Supaya Jessi bisa membiayai hidup Raffa dan kita sekeluarga.”
“Bu De akan selalu berdoa yang terbaik,” Bu De Sarini menyeruput teh hangat di gelasnya lalu menyomot sepotong talas goreng yang masih hangat. Rasanya empuk karena Bu De Sarini baru panen dari kebun tadi sore.
“Mommy, tadi Om Meme antalin kita pulang, ya?” suara candu Raffa menyebut nama Eme dengan sebutan Meme.
“Om Eme,” Jessi meluruskan sebutan nama Eme yang diucapkan oleh Raffa barusan, “iya,” katanya melanjutkan.
“Kemana Om Me sekalang?”
“Sudah pulang ke rumahnya.”
“Lumah Om Me di mana?” Raffa memandang Jessi, “jauh?” Raffa melanjutkan pertanyaannya.
“Wah …” Jessi menghela napas, “Mommy juga nggak tahu, Sayang di mana rumah Om Me.”
“Kapan-kapan kita ke sana, ayuk!”
Bu De Sarini tersenyum kecil sembari menggelengkan kepalanya tanda apresiasi pada keberanian Raffa yang berniat untuk berkunjung ke rumah Emerald.
“Nanti-nanti toh, Le,” Bu De Sarini turut mengingatkan Raffa.
“Mbah Kung mau ikut?” Raffa malah mengira Mbah kakungnya mau ikut.
“Ya nggak lah. Mbah Kung jagain rumah,” Bu De Sarini menolak halus ajakan Raffa.
“Kalau besok gimana, Mom?” Raffa memandang pada Jessi. Berharap wanita yang ada di hadapannya itu setuju.
“Yah, jangan besok dong! Besok Mommy dan Om Me kan kerja.”
“Telusss …” Raffa menarik ingus yang hampir meleleh dari hidungnya, “kapan dong?”
“Nanti kita atur waktu, ya. Besok Mommy akan sampaikan juga niat Raffa ke Om Me. Okey?” Jessi menyodorkan jari kelingkingnya pada Raffa sebagai tanda persetujuan mereka.
“Okey, Mommy!” Raffa menunjukkaan jempolnya pada Jessi.
“Dimakan toh, Ndok. Nanti dingin!” Bu De Sarini mempersilakan Jessi untuk menikmati talas goreng olahannya.
“Enak,” ujar Jessi setelah menelan talas goreng yang disuguhkan Bu De Sarini.
“Baru panen tadi sore,” Bu De Sarini ikut menyomot satu potong talas gureng lagi.
“Bu De ke kebun?” Jessi tak berhenti mengunyah talas goreng olahan Bu De Sarini. Rasanya memang empuk.
“Iyo, sama Pak De Poniman.” Bu De Sarini menyebut saudara laki-lakinya itu.
Jessi mengangguk. Sebenarnya, Jessi sudah melarang Bu De Sarini ikut ke kebun. Biasanya Bu De Sarini pergi ke kebun untuk mencari uang. Ada-ada saja orang yang membutuhkan tenaganya. Entah itu memetik cabe atau ikut menanam jagung.
Karena usianya yang hampir menginjak kepala enam, Jessi melarang beliau untuk kerja keras lagi. Sebenarnya, uang pensiun Pak De – suaminya Bu De Sarini sudah lebih dari pada cukup untuk menopang kehidupannya.
Tapi, Bu De Sarini selalu punya alasan tidak betah di rumah. Badanya pegal-pegal kalau tidak bergerak. Lagi pula ia masih punya tenaga utuk mencari tambahan penghasilan. Katanya, hitung-hitung nyari keringat alias olahraga. Jessi manut saja. Selagi Bu De sehat dan masih mampu beraktivitas, Jessi selalu merelakan.
Melihat Raffa sudah merebahkan tubuhnya ke sofa dan terdiam, Jessi langsung menggendong anak laki-laki kesayangannya itu menuju kamar tidur. Rintik hujan di luar masih terdengar deras. Raffa langsung terlelap setelah Jessi merebahkan tubuhnya dan menepuk bokongnya dengan lembut.
Selamat malam sayang, ucapnya perlahan sembari mengecup kening Raffa, maafkan Mommy belum bisa mempertemukan kamu dengan orang tua kandungmu. Mommy janji, di kota ini kita akan berjumpa kembali dengan mereka. Semoga kelak, kalau kamu sudah bertemu dengan mereka, kamu tidak akan lupa pada Mommy. Love you, Sayang. Air mata Jessi meleleh, saat ia mengenang perjumpaan pertamanya dengan Raffa.
Raffael Jassa Mahendra.
Tersemat nama yang indah untuk Raffa. Nama itu sebagai hadiah kelahiran anak laki-laki itu ke dunia, tiga tahun yang lalu. Tepatnya di bulan November tahun dua ribu dua puluh. Sejak saat itu, Raffa sudah menjadi bagian dari kehidupan Jessi.