Kunjungan Bos besar

1506 Words
Bunyi klakson mobil terdengar nyaring di pekarangan. Jessi sedikit terburu-buru menghampiri Emerald yang telah menunggunya di dalam mobil. “Raffa mau ikut main ke rumahmu, Mas,” baru saja ia masuk ke dalam mobil kala Emerald datang menjemputnya, Jessi langsung menyampaikan niat Raffa. “Oh, ya?” Eme menampilkan wajah riang. Sesuai ekspresi wajah yang terpancar darinya, ia tak keberatan jika Raffa ikut pulang ke bersamanya. Lagi pula, ibunya pasti senang jika ada Raffa. Apalagi keadaan di rumah orang tua Emerald sangat sepi. Rumah megah tiga lantai dengan luas di atas seratus dua puluh meter persegi itu terasa kosong jika hanya di isi oleh keluarga inti Pak Baskara saja. Beruntung, keluarga Baskara punya banyak asisten yang menangani tugasnya masing-masing. “Kapan saya boleh bawa Raffa?” Eme seakan tak sabar untuk kembali bersama anak kecil tersebut. “Raffa sih mau kapan aja, Mas,” ucap Jessi sambil memoleskan lipstik di bibirnya. Tanpa sungkan ia selalu melakukan hal itu di hadapan Emerald. Beruntung Eme juga punya sikap yang cuek. Jadi, apa pun yang di lakukan oleh Jessi, Emerald tak terlalu ambil pusing untuk menegur. “Nanti sore sepulang dari kerja boleh saya bawa?” “Kemaleman buat anterin pulang, Mas!” Jessi mencegah. “Kan, bisa nginap.” “Kalau Raffa rewel gimana?” “Kamu kan ikut juga.” “Aku sungkan, Mas sama orang tuamu.” “Kamu lebih dulu mengenal Papa dan Mama saya, kan?” “Iya sih,” jawab Jessi sedikit canggung. Benar ia telah mengenal Pak Baskara dan istrinya. Tapi hanya sebentar. Itu pun karena sebuah keberuntungan Jessi dapat dipertemukan dengan orang sebaik Pak Baskara dan istrinya. Kalau harus datang ke rumah keluarga Baskara apalagi sampai menginap rasanya memang sungkan untuk Jessi. “Jangan khawatir, papa dan Mama orang tua yang baik, kok. Mereka memberimu peluang pekerjaan, artinya mereka juga sudah menerima kamu dengan baik.” “Tapi, Mas ….” Sssttt …. Emerald membungkam mulut Jessi dengan telapak tangannya yang sebelah kiri. Sementara tangan kanannya tetap stay pada setir. “Mas Eme!” Jessi mendorong tangan Emerald. Padahal pria itu sengaja menyodorkan tangannya ke wajah Jessi karena ingin membuat cemot wajah wanita itu dengan memulas lipstik di bibirnya. Hahaha, Emerald tertawa lebar. “I … iiihhh! Kamu kok jahil gitu sih, Mas?” Emerald kembali tertawa sambil memukul palan setir dengan telapak tangannya, Hooh! Pria itu melapas rasa lega karena berhasil membuat wajah Jessi cemotan, “nih!” meski sudah bertindak jahil pada Jessi, nyatanya Emerald masih tetap peduli. Ia menyodorkan selembar tissu pada wanita itu. “Dandan yang cantik. Bos besar mau datang!” katanya memberi peringatan pada sekretaris pilihan ayahnya itu. “Serius?” Jessi seketika tercengang, “Om Bas mau datang ke kantor?” “Iya.” “Duh. Kita nggak ada persiapan, Mas.” “Nyiapin apa?” “Ya, kalau ada bos besar mau datang kita kan mesti harus siap-siap, Mas. Berbenah kantor dan berkas perusahan setidaknya,” Jessi mengutarakan maksudnya, “kalau nanti Om Bas mau periksa semua laporan kita gimana, dong?” “Biarin aja.” “Loh, Mas. kamu kok nggak profesional banget kerjanya.” “Pak Baskara kan papa saya. Palingan dipecat. Kalau dipecat, beliau sendiri lagi yang sibuk cari CEO baru untuk perusahaannya.” “Tapi kan, kamu harus nunjukin etos kerja yang bagus ke Papa kamu. Supaya beliau bisa bangga. Setidaknya bisa nunjukin ke Papa kamu kalau kamu mampu mengelola perusahaan yang beliau kasi dengan baik.” “Nggak harus.” “Konsep kamu kerja gimana, sih Mas?” Jessi merasa jengkel dengan jawaban Emerald yang menurutnya tidak profesional. “Biasa aja.” “Biasa gimananya, sih?” “Papa udah percaya kok sama saya.” “Syukurlah.” Jessi tak ingin banyak berdebat. Ia kembali merapikan diri dengan mengenakan lagi make up di wajahnya. “Jangan menor!” “I … diiih. Siapa yang mau menor. Ini semua gara-gara kamu tuh. Jahil!” Jessi menepuk keras pundak Emerald. “Aduh!” pria itu meringis kesakitan karena pukulan Jessi cukup perih menyentuh pundaknya. Tak berselang lama, mereka tiba di halaman parkir kantor. Jessi melepas sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya. Ia keluar mendahului Emerald yang masih berselancar dengan handphone di tangannya. Tok … tok … tok … Jessi mengetuk kaca mobil, “ayuk!” suaranya sayup-sayup terdengar oleh Emerald. Pria itu hanya tersenyum dari dalam mobil. “Selamat pagi, Mega!” Jessi menyapa resepsionis yang sejak awal dikenalnya di perusahaan Litus Property. “Pagi, Mbak Jes. Wah, cantik banget aura Mbak Jessi pagi ini,” Mega memuji penampilan Jessi yang terlihat anggun dengan kemeja batik dan celana panjang kain yang ia kenakan hari itu. “Terima kasih, kamu juga cantik,” Jessi tak kalah memuji Mega yang setiap hari tampil dengan riasan menor dengan sanggul rambut yang rapi. “Mega!” Emerald menyapa resepsionis-nya itu ketika masuk ke dalam ruang tamu kantor. “Iya, Pak.” “Nanti Bos besar mau datang. Seperti biasa kamu sudah tahu untuk bagian tugasmu, kan?” “Siap, Pak. Dimengerti. Akan kami laksanakan,” ucap Mega menanggapi perintah sang CEO. Langkah Emerald sangat tegap dan cepat. Seperti biasa, saat jam kerja di kantor, ia tidak ingin bersikap ramah pada Jessi. Meski baru tiga hari bekerja sama dengan Emerald, nampaknya Jessi sudah memahami karakter bos mereka di perusahaan Litus Property itu. Meski sedikit kesulitan mengimbangi langkah Emerald, Jessi tetap menyusul pria itu dari belakang. “Ngapain kamu ngikut saya?” Eme memandang ke belakang. Ada Jessi di sana saat ia berdiri di depan pintu office 01. “Ngikutin Bapak,” ucap Jessi tanpa sadar letak kesalahannya di mana. “Saya mau sidak setiap office, loh,” Emerald memberi penjelasan kepada Jessi supaya wanita itu berhenti mengikutinya. “Jadi, saya?” Jessi jadi bingung dengan langkahnya sendiri. “Ya ke ruang kerja, dong! Nyelesain kerjaan di sana,” perintah Emerald cukup menantang untuk Jessi. “Jadi, saya harus ke ruangan duluan?” “Emang kamu nggak capek ngikutin saya?” Jessi menggeleng. Karena sadar bahwa dirinya tidak perlu mengikuti Emerald, Jessi akhirnya berniat melangkah lebih dulu menuju ruang kerja mereka. Seketika, wanita itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik arah. “Pak!” Emerald yang baru saja hendak membuka pintu office 01, terpaksa menunda gerakannya. Ia memandang pada Jessi. “Hmmm … kenapa?” “Kunci.” Jessi menyodorkan tangannya untuk meminta kunci ruangan pada Emerald. Pria itu lupa untuk memberikan satu kunci khusus pada Jessi. Bukan lupa, tapi karena sejak awal mereka selalu bersama, jadi tidak terpikirkan olehnya untuk menyerahkan satu kunci pegangan kepada sekretarisnya itu. “Nih,” Emerald menyodorkan sebundel kunci pada Jessi. Tanpa bicara lagi, Jessi langsung beranjak meninggalkan Emerald. Demikian pun pria itu. Ia memeriksa kondisi ruangan di setiap office sekaligus memberitahukan kedatangan bos besar kepada seluruh karyawannya agar mereka dapat mempersiapkan diri masing-masing ketika menyambut bos besar yang adalah pemilik utama Perusahaan Litus Property – Tuan Baskara Putra. Ketika menyelesaikan misi pemeriksaan dalam setiap office, emerald menyusul Jessi ke ruangan kerja mereka. Betapa kagetnya Emerald saat melihat Jessi masih berkutat dengan sebundel kunci yang ada di tangannya. Diam-diam Eme mendekati Jessi tanpa sepengetahuan wanita itu. Dasar bos aneh! Lo kira gue ahli kunci yang bisa menerawang sebundel kunci lalu menemukan satu kunci untuk membuka pintu ini? Jessi mengumpat pelan. Tangan Jessi masih berusaha mencoba kunci-kunci itu secara bergantian. Tak ada yang cocok. Hampir saja Jessi melempar bundelan kunci yang diberikan Emerald padanya ke lantai. Beruntung kesabaran Jessi tidak setipis tissu. Ia mengulang lagi memasukkan kunci yang lain. Masih berusaha untuk mencari kunci yang cocok. Ehemmm … emerald sengaja membuat batuk buatan untuk mengagetkan Jessi. Ala … ma … ma … ma … mak! ucap Jessi latah. “Gimana? Perlu gue bantuin?” Emerald berlagak sombong dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding. Pria itu melipat kedua tangannya di d**a. “Pak, maaf!” Jessi jadi gugup karena umpatannya tadi terdengar oleh Emerald. “Nggak apa-apa. Sini!” Eme menyodorkan tangannya pada Jessi untuk meminta kunci yang ada pada sekretarisnya itu. Setelah memberikan kembali sebundel kunci pada Emerald, Jessi malah merasa jengkel saat melihat pria itu mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celananya untuk membuka pintu ruangan mereka. “Gila! Apa gunanya lo ngasi sebundel kunci tadi sama gue?” Jessi mengutarakan kedongkolan karena Emerald kembali mengerjainya. Tanpa sadar, ia telah menggunakan bahasa gaul untuk menyerapah Emerald yang notabene adalah bosnya sendiri. Emerald tertawa lepas. Lagi-lagi ia merasa puas karena bisa mengerjai Jessi, “yuk masuk dan kembali bekerja!” ucapnya memberi perintah tanpa peduli dengan kedongkolan hati Jessi. Jessi memandang sinis pada Emerald. Sikap Jessi yang keras kepala agaknya sedikit berlawanan dengan Emerald yang sebenarnya punya kesan dingin selama ini. Tapi entah mengapa, perubahan sikap Emerald mengalir murni sejak ia bertemu dengan Jessi. “Kerja itu harus dengan pikiran yang tenang, hati yang dingin, senyuman yang lebar dan ….” Eme menghentikan ucapannya ketika mendengar pintu ruang kerja mereka diketuk dari luar. Tanpa menunggu aba-aba, Jessi langsung berjalan ke arah pintu lalu membukanya, “Om Bas?!” Jessi tercengang menyambut kedatangan bos besar Perusahaan Litus Property.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD