Tamu tak diundnag

1411 Words
Hanna masuk begitu saja lewat pintu depan. Langkahnya terlihat santai ketika menginjakkan kaki di rumah megah keluarga Baskara. “Ibu …” sapa Hanna ketika berjumpa dengan Bu Sundari di ruang makan. “Hanna,” Bu Sundari sedikit kaget dengan kedatangan Hanna, “kok nggak ngabarin kalau mau datang?” Bu Sundari mengelap tangannya yang basah agar dapat menerima salam dari Hanna. “Hanna Mumpung lewat dari sini, Bu. Jadi sekalian mampir,” ujar Hanna menyampaikan alsannya. “Oh, ya. Di dapur juga ada Jessi,” Bu Sundari meletkkan kembali posisi makanan yaang sudah ia sajikan. “Jessi?” “Iya,” Bu Sundari memandang heran kepada Hanna. Sangka Bu Sundari, Hanna dan Jessi memang belum saling kenal. “Itu, sekretaris baru Emerald,” jelas Bu Sundari. “Iya, Bu. Hanna kenal,” ujar Hanna dengan wajah cemberut, “Hanna minum ya, Bu,” segera wanita itu melangkah ke dapur untuk mengambil gelas. Ia melihat Jessi tengah sibuk mengulek cabe. Jessi tak menyadari kehadiran Hanna. Ia masih tetap fokus pada pekerjaannya. “Kasihan banget sih, lo,” Hanna berbisik merendahkan Jessi, “merangkap jadi babu sama tuan muda,” Hanna terkekeh. Jessi mematung saat mendengar suara itu. Tanpa melihat pada Hanna, ia tahu kalau wanita gila itu yang ada di belakangnya. “Minggir! Gue mau ambil gelas,” ujar Hanna menyikut pergelangan Jessi. Tanpa memperdulikan, Jessi memberi ruang kepada Hanna untuk mengambil gelas di dalam lemari. “Harusnya gue yaang ada di posisi ini!” ungkap Hanna geram. Jessi menarik napas panjang. Hampir saja ia menyodorkan ulekan cobek yang ada di tangannya pada mulut Hanna. Beruntung, Jessi masih dapat mengontrol emosinya. Jessi juga tak ingin jika keluarga Baskara mengetahui permasalahan antara dirinya dan Hanna. Demikian pun Hanna. Sebenarnya, perempuan itu hanya berani di belakang. Setiap kali tampil di hadapan keluarga Baskara, Hanna berubah menjadi perempuan yang baik dan kalem. Wanita itu sungguh pandai menutup diri. “Masak yang enak ya, Ba … buuu!” bisik Hanna geram. Jessi menggenggam peregalangan tangannya. Sangat erat di ikuti urat nadinya yang menegang. Ia menghempas mengulek dengan keras sambal yang hampir hancur di dalam cobek. Tuuukkk … tuuukkk … tuuukkk! Suara ulekan terdengar semakin keras. “Jessi, sudah selesai?” seketika suara Bu Sundari menghentikan amarah Jessi. “Ah … he …” Jessi menyeringai, khawatir Bu Sundari mengetahui isi hatinya, “hampir selesai, Bu,” ujar Jessi sambil sedikit membuat gerakan tangannya lebih pelan dalam mengulek. “Hanna bantu, Bu!” ujar Hanna tak kalah ingin diperhatikan. “Wah, Ibu kok senang banget yo hari ini,” Bu Sundari tersenyum sumringah, “biasanya ibu masak sendiri, makan sendiri, beresin sendiri,” lanjut Bu Sundari. Wanita paruh baya itu merasa senang akan kehadiran dua perempuan cantik yang sudah ia anggap anak sendiri. Bu Sundari sangat tulus, sehingga ia tak mengetahui permasalahan yang ada di antara kedua perempuan yang ada di hadapannya. “Hanna istirahat saja, baru sampai, kan?” “Iya, Bu. Nggak apa-apa, kok kalau misalnya Hanna bisa membantu.” Jessi tampak serius menyedok sambal ke dalam wadah kecil. Ia sama sekali tak ingin terlibat pembicaraan dengan Hanna. Sesekali mata Hanna menjeling pada Jessi, ia tetap berusaha membangun kedekatan dengan Bu Sundari agar dapat membuat Jessi merasa cemburu. Berbeda dengan Jessi. Ia sama sekali tak menginginkan sebuah kecurangan. Kehadirannya dalam keluarga Baskara bukan rekayasa belaka. Sebuah momen tak terduga telah mempertemukan mereka hingga hari ini Jessi memiliki banyak kesempatan untuk mengenal keluarga yang telah memberikannya posisi sebagai sekretaris dalam perusahaan keluarga ini. “Mas Eme di mana, Bu?” tanya Hanna mencari pria yang pernai ia cintai semasa sekolah dulu. “Ada di balkok. Tadi sama Bapak dan Raffa.” “Raffa?” Hanna terperangah. Hati Hanna semakin curiga pada kedekatan Jessi bersama keluarga Baskara. Mendengar kehadiran bocah kecil bernama Raffa di rumah keluarga baaskara juga membuat Hanna semakin panas. Ia tak terima jika Jessi dan Raffa mampu menyainginya dalam mengambil hati keluarga Baskara. “Hanna naik ke atas, ya Bu!” izin Hanna pada Bu Sundari. “Silakan … silakan!” Hanna bergegas cepat. Jessi yang sudah memutar balikkan badannya menuju meja makan melihat langkah Hanna. Jessi sedikit mencibir, beruntung Bu Sundari tak melihatnya. Segera jessi meletakkan sambal matah buatannya di atas meja. “Hanna sudah terbiasa di sini,” ucap Bu Sundari sambil mencuci peralatan dapur yang kotor di wastafel. “Iya, Bu,” sahut hanna sambil membantu menyusun barang-barang yang sudah di cuci Bu Sundari. “Dulu semasa sekolah dia rajin membantu Ibu. Hanna anak yang baik. Dia sekarang juga bekerja sebagai psikolog anak.” Jessi mengangguk sembari mengatup kedua bibirnya dengan rapat. “Kemarin dia minta pekerjaan untuk mendampingi Emerald,” Bu Sundari menghentikan aktivitasnya, ia terdiam beberapa saat. Sepertinya Bu Sundari sedang mempertimbangkan ucapannya, “Hanna kan jurusan psikologi. Mana cocok!” sambung Bu Sundari sambil menatap pada Jessi. “Oh, iya, Bu,” Jessi membenarkan. “Iya, kan?” Lagi-lagi Jessi hanya mengangguk. Ia takut menanggapi dengan ucapan. Khawatir tidak selaras dengan apa yang di sampaikan oleh Bu Sundari. “Udah cukuplah ada kamu, Jes,” Bu Sundari mengelap tangannya yang basah dengan sarbet yang menggantung di sisi wastafel, “Emerald jugaa mengakui kalau kamu piawai alam bekerja.” “Akh, Ibu. Saya juga masih perlu banyak belajar, Bu,” ujar Jessi. “Terus berlatih. Perusahaan Om Baskara itu besar. Emerald nggak mampu mengurus sendiri,” Bu Sundari menegaskan. “Siap, Bu. Saya akan selalu berusaha dengan maksimal untuk emmbantu Mas Eme.” “Gitu, dong. Jangan sungkan,” ucap Bu Sundari di hadapan Jessi. “Makan malam sudah siap, Bu?” Jessi memotong pembicaraannya bersama Bu Sundari. “Sudah. Kamu panggil mereka di balkok, ya!” perintah Bu Sundari kepada Jessi. “Balkon, Bu?” tanya Jessi memastikan. Sebenarnya Jessi bingung dari mana ia naik ke balkon. Sebab rumah keluarga Baskara sangat luas. Saat memasuki rumah megah ini tadi, Jessi juga melihat beberapa tangga yang merupakan akses menuju ke atas. “Hmm, kamu belum hapal ya dengan akses di rumah ini?” tanya Bu Sundari menanggapi kebingungan Jessi. “Nggak, Bu,” Jessi menggeleng kepalanya perlahan. “Itu, tangga di ruaang tamu!” Bu Sundari menunjuk arah pada Jessi, “kamu naik saja langsung ke balkon!” Bu Sundari kembali memberi perintah pada Jessi. “Baik, Bu,” Jessi melangkah perlahan meninggalkan Bu Sundari yang kembali meyiapkan buah-buahan di meja makan. Sama seperti ulah Raffa ketika menyusur tangga, Jessi terpana melihat beberapa foto keluarga baskara yang terpajang di bingkai. Mata Jessi tertuju pada foto Emerald, Jessi mengakui kalau pria itu memang tampan. Sayangnya, di usia Emerald yang sudah menginjak kepala tiga, pria itu masih belum berniat untuk menikah. Jessi seketika tersenyum saat menatap wajah kecil Emerald yang terpajang pada dinding. Benar saja, wajah Emerald di amsa kecil sangat mirip dengan Raffa. foto kecil itu menebarkan senyum manis kala mengenakan topi koboy kanak-kanak yang lagi tren di masanya. Jessi terus melangkah menaiki tangga. Sayup-sayup ia mendengar tawa kecil Raffa di balkon. Anak laki-laki itu pasti sedang bermain dengan riang, pikir Jessi. Perasaan Jessi seketika berubah kala melihat Emerald duduk bersanding dengan Hanna. Mereka terlihat akrab sembari berinteraksi dengan Raffa yang tengah bermain bola kaki dengan Eyang Baskara. Jessi terpaku untuk beberapa saat. Ia enggan menyapa, khawatir akan mengganggu kebersamaan Emerald dan Hanna. Namun karena ingat pada perintah Bu Sundari untuk memberitahukan bahwa makanan sudah siap, Jessi pun bersiap mengencangkan suaranya menyebut nama Raffa. Namun, belum sempat Jessi memanggil Raffa, anak kecil etrsebut lebih dulu menoleh dan bergegas mendekati Jessi. “Mommy!” Teriakan Raffa seketika membuat Emeral, Hanna dan Pak Baskara menoleh ke arah Jessi. “Jes?!” Sapa Emerald. “Yuk, ke bawah. Makan malam udah siap, Om!” ujar Hana pada Pak baskara tanpa mengajak Hanna dan Emerald. “Oh, baik. Ayo kita semua turun!” ujar Pak Baskara, “Eyang Bas sudah keringetan ini,” sambung pria paruh baya itu sambil mengelap sisa keringat yang masih bercucuran di wajahnya. “Biar saya yang gandeng Raffa!” pinta Emerald kala Jessi sudah siap menggandeng tangan Raffa menuruni tangga. “Eyang ganti pakaian dulu, ya,” kata Pak Baskara pada Raffa sembari mengusap puncak kepala anak laki-laki tersebut. “Iya Eyang,” ujar Raffa penuh semangat. “Yuk!” ajak Jessi pada Raffa. “Laffa sama Om Me aja!” pinta Raffa saat jessi hendak menggadengnya. “Iya, sini!” Emerald meraih pergelangan tangan Raffa yang masih mungil dan menggemaskan itu, “ayo kita turun!” ujar Emerald disusul langkah Jessi dan Hanna hampir bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD