Wuing … wuing … wuing …. Raffa meniru deru pesawat terbang yang melintas di udara. Ia menerbangkan pesawat mainan di tangannya dengan gerakan meliuk-liuk.
“Eyang, ayo main!” katanya saat menatap pada Pak Baskara yang tersenyum lebar melihat kebahagiaan Raffa.
Pak Baskara mengambil sebuah pesawat mainan yang tersimpan dalam lemari, “Eyang jadi pilot. Ayuk!” kali ini, pesawat mainan yang ada dalam pegangan Pak Baskara mengeluarkan suara helikopter.
“Eyang, pesawatnya telbang?” tanya Raffa penasaran.
“Coba lihat!” perintah Pak Baskara pada Raffa.
“Telbang! Telbang! Telbang!” Raffa bersorak senang.
“Gimana? Telbang nggak ini?!” seru Pak Baskara tak kalah semangat.
Ngiung … ngiung … ngiung … kali ini Raffa merubah tiruan bunyi pesawat. Ia berlari kecil mengelilingi ruang bermain yang cukup luas.
Pak Baskara menatap pada setiap pergerakan Raffa, khawatir kalau anak laki-laki itu nanti terjatuh.
“Awas! Hati-hati,” teriak Pak Baskara kala kaki Raffa menendang beberapa mainan yang berserakan di lantai.
Ngiung … Raffa melintas di hadapan Pak Baskara dengan pesawat di tangannya. Ia kembali berlari kecil dan terus melintas di hadapan Pak Baskara untuk beberapa kali.
“Eyang, capek …” ucap Raffa dengan keringat menahan lelah.
“Nah, Eyang kan sudah bilang. Jangan berlari-lari. Capek, kan?”
“Iya, capek Eyang,” sahut Raffa dengan napas ngos-ngosan.
“Mau minum?” Pak Baskara menggendong tubuh kecil Raffa lalu membawa anak laki-laki itu menuju ke dapur untuk mengambil minuman.
“Mommy!” teriak Raffa kala melihat Jessi tengah sibuk membantu Bu Sundari di dapur. Mereka tengah menyiapkan makanan untuk santap malam bersama.
“Eh, anak Mommy. Udah selesai mainnya?” Jessi menghentikan aktivitasnya lalu tersenyum menyapa Raffa.
“Laffa mau minum,” seru Raffa dari gendongan Pak Baskara.
“Sini, biar Eyang ambilin,” Pak Baskara menurunkan tubuh kecil Raffa lalu mengambil gelas di dalam lemari.
Raffa terbatuk-batuk kala meneguk air minum yang disuguhkan padanya. Meski demikian, mulut comelnya tak mau diam. Ia meminta lagi segelas air putih pada Pak Baskara.
“Haus, ya?” ujar Pak Baskara meledek Raffa.
“Eyang nggak mau minum?” tanya Raffa sambil menyodorkan gelas pada Pak Baskara.
“Enggak. Eyang kan tadi hanya jadi penumpang di pesawat Raffa. Jadi, Pilot Raffa dong yang kehausan, hahaha,” tawa Pak Baskaramenmpali usaha Raffa menerbangkan pesawat mainannya tadi.
“Eyang, pilot itu apa?” tanya Raffa yang belum memahami arti pilot.
“Pilot itu adalah orang yenag menerbangkan pesawat,” terang pak Baskara.
“Tadi Laffa jadi pilot?” tanya Raffa lagi.
“Iya.”
“Bealti pilot pesawat itu halus tinggiii dan becal ya, Eyang?”
“Harus,” jawab Pak Baskara dengan nada penuh keyakinan.
“Coalnya, pecawat telbang kan beee … cal. Kalau pilotnya kecil, nanti pecawatnya nggak bica telbang. Laffa kan kecil, halusnya tadi, Eyang yang jadi pilot!” ucap Raffa panjang lebar dengan nada comelnya.
Suara tawa Pak Baskara terdengar renyah. Pria paruh baya itu tampak terhibur dengan kehadiran Raffa. Maklum, di masa tuanya kini Pak Baskara dan sang istri hanya tinggal menikmati hidup.
“Ayuk, ikut Eyang!” Pak Baskara kembali menggendong tubuh Raffa.
Mereka berdua melangkah menuju tangga dan naik ke atas balkon rumah tingkat tiga tersebut. Raffa kecil terus ngoceh dengan bahas cadelnya. Raffa sempat bertanya saat melintas dinding dengan pajangan foto keluarga.
“Itu ada Om Me!” Raffa menunjuk pada satu foto dengan wajah Emerald yang melekat pada dinding.
“Iya, itu Om Me. Itu siapa?” {ak Baskara menunjuk pada satu bingkai foto dengan wajah anak-anak yang sangat mirip dengan Raffa.
“Laffa,” ucap anak laki-laki itu polos.
“Eh iya, ya. Kok Om Me waktu kecil jadi mirip sama Raffa,” menyadari kemiripan Raffa dan Emerald putranya, Pak Baskara mengajak Raffa untuk mendekat pada bingkai foto itu.
“Kok ada foto Laffa, di sini Eyang?” tanya Raffa yang masih polos itu.
“Ini, kan foto Om Me waktu kecil,” Pak Baskara menunjuk pada wajah Emerald dalam bingkai.
“Laffa, Eyang.”
Hahaha, gelak tawa Pak Baskara terdengar riuh. Ia pun tak bisa membantah. Wajah kecil Emerald memang mirip dengan Raffa.
“Ada apa ini, Pa?”
Seketika Emerald keluar dari pintu kamar. Sejak tadi ia mendengar sayup-sayup pembicaraan sang ayah dengan Raffa. Emerald baru saja selesai mandi. Ia masih mengenakan celana pendek tanpa baju. Hanya menyelempang handuk yang ia usap ke rambutnya yang masih basah.
“Nah, itu Om Me,” Pak Baskara menunjuk pada Emerald yang masih berdiri di depan pintu.
“Laffa, Om!” tunujk Raffa pada wajah di dalam bingkai foto.
“Loh, itu kan Om Me, Sayang,” Emerald mengusap puncak kepala Raffa untuk meyakinkan kalau wajah kecil yang ada di dalam bingkai foto itu adalah dirinya.
“Iya, Raffa pikir itu dirinya. Lagian kalau Papa lihat memang ada kemiripan di antara kalian berdua ini,” ujar Pak Baskara meluruskan ucapan Raffa.
“Akh, masa sih, Pa …” Emerald merasa tidak yakin.
“Ini loh, coba lihat!” Pak Baskara menunjuuk kembali wajah dalam bingkai foto.
“Iya, mirip,” Emerald sumringah, lalu ia menatap pada Raffa, “ini siapa?” tanya Emerald pada Raffa.
“Laffa,” jawab anak laki-laki itu penuh keyakinan.
Ketiga laki-laki itu tertawa lebar.
“Papa mau ajak Raffa ke mana?” tanya Emerald setelah tawa mereka mereda.
“Balkon,” Pak Baskara baru menyadari kembali tujuannya membawa Raffa naik ke lantai atas.
“Ya udah, nanti Eme nyusul,” ucap pria tampan itu dengan posisi masih mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“Om Me, ayo ikut Laffa sama Eyang,” Raffa kecil kembali menoleh ke belakang saat melihat Emerald masih berdiri tanpa mengikuti mereka.
“Iya, nanti Om Me nyusul, ya,” ucap Emerald untuk meyakinkan Raffa.
“Jangan lama-lama,” pinta Raffa.
Emerald menunjukkan tanda oke dengan melingkarkan jari telunjuk dan jari jempolnya.
Sesaimpainya di balkon, suasana kota terlihat terang dengan pancaran lampu dari setiap sudut rumah yang menyala terang. Gemerlap bintang di angkasa pun menambah indahnya suasana alam di malam hari dari balkon rumah megah milik keluarga Baskara.
Raffa tampak riang berlari kecil ketika Pak Baskara melepasnya ke lantai. Anak kecil itu hampir menabrak tiang pagar karena terlalu kencang berlari. Beruntung ia tidak terpeleset.
Tak berselang lama kemudian, Emerald tiba dengan membawakan cemilan untuk Raffa. Emerald punya banyak stok cemilan di sudut kamarnya. Ketika lembur, Emerald lebih suka bekerja ditemani makanan ringan.
“Raffa!” Emerald melabai memanggil Raffa.
“Om Me …” jawab anak laki-laki itu sambil berlari kecil mendekati Emerald.
“Mau?” Emerald menyuguhkan sebungkus cemilan.
Raffa menggelengkan kepalanya. Ia tidak begitu menyukai makanan ringan.
“Buat Om Me saja,” ucapnya dengan sopan.
“Duh, kamu kok pintar sih,” Emerald mengusap puncak kepala Raffa karena mengaggumi kebijaksanaan bocah kecil itu.
“Eyang, Eyang … itu ada bintang becal!” tunjuk Raffa pada sebuah bintang yang bersinar terang, keberadaannya sangat dekat dengan bulan.
“Iya, terang sekali,” Pak Baskara menimpali.
“Eyang, bintang-bintang bisa di ambil nggak?”
“Ya nggak bisa lah!” ujar Emerald menimpali.
“Kenapa, Om Me?” raffa memandang pada Emerald.
“Karena langit itu tinggi,”
“Pecawat bica telbaang tinggi, kan?”
“Bisa,” dengan cepat pak Baskara menjawab.
“Nanti kalau Laffa jadi pilot, Laffa mau telbang ke langit. Lalu Laffa akan ambil bintang-bintang. Nanti Laffa kaci ke Eyang dan Om Me, ya … ya … ya,” seru Raffa sambil mengayunkan tubuhnya di atas kursi.
“Raffa, hati-hati. Nanti nyungsep,” Emerald mengingatkan.
“Om Me mau bintang?” tanya Raffa dengan polos.
“Mau,” angguk Emerald.
“Tunggu Laffa becal, ya. Laffa ambil,” seru Raffa lagi penuh semangat.
“Iya. Nanti Om Me tunggu, ya.”
“Hm … mh,” angguk Raffa.
“Raffa ini pintar banget, ya,” Pak Baskara bicara pada putranya.
“Iya, Pa. Banget. Sayang sekali dia nggak punya orang tua lagi.”
“Beruntung Jessi mau merawatnya,” ujar Pak Baskara memuji kebaikan hati Jessica.
Emerald duduk di samping ayahnya. Sembari membicarakan kehidupan Raffa, keempat bola mata mereka beradu pada bocah kecil yang tampak senang bermain sendiri di balkon. Tak sekejap pun gerakan Raffa luput dari pandangan mereka.