Sepulang dari kantor, Emerald memenuhi janjinya untuk membawa Raffa ke rumah. Meski sebenarnya Jessi sempat menolak karena khawatir Raffa akan rewel jika bersama orang yang masih asing baginya.
“Saya nggak ikut, ya,” ucap Jessi ketika mendengar permintaan Emerald untuk membawa Raffa.
“Loh, ntar kalau Raffa rewel gimana?”
“Antar pulang ke rumah si Mbah aja,” pinta Jessi dengan santai.
“Tapi, kan …” Emerald seakan menimbang beberapa hal, “jarak rumah kami ke rumah Bu De jauh, Jes.”
“Nggak lah, Bapak aja bisa antar jemput saya setiap hari,” seloroh Jessi.
“Tapi, kan ….”
“Raffa nggak akan rewel,” Jessi memastikan. Jessi paham betul siapa Raffa. Anak laki-laki tersebut memang mudah sekali akrab dengan siapa pun. Terbukti saat Jessi meninggalkannya bekerja setiap hari. Raffa selalu anteng ketika ditinggal bersama dengan pengasuhnya.
Saat tiba di rumah Bu De Sarini, Emerald dan Jessi mendapati Raffa tengah tergolek di depan televisi. Raffa tampak asyik mengikuti alunan lagu dari kartun favoritnya.
“Raffa!” sapa Emerald dengan lantang.
Raffa menoleh pada sumber suara yang menyebut namanya. Melihat kedatangan laki-laki yang sudah ia kenal sebelumnya membuat Raffa langsung berdiri dan memeluk Emerald.
“Om Meme,” ucapnya dengan riang.
“Iya. Ini Om Me. Raffa masih ingat sama Om Me?” tanya Emerald setelah mengecup kening Raffa.
“Ingat,” ucap Raffa mengangguk.
“Raffa …”
“Iya, Mommy.”
“Om Eme mau jemput Raffa, loh.”
“Om Me mau jemput Laffa?” tanya Raffa mengulang ucapan Jessi. Raffa kemudian memandang pada Emerald.
“Hm … mhhh,” angguk Emerald sembari tersenyum.
“Kita ke mana Om Me?” tanya Raffa leagi dengan nada penasaran.
“Ke rumah Om Me?”
“Lumah Om Me di mana?”
“Nanti Raffa juga tahu.”
“Tapi, kan Laffa nggak tahu Om,” sepertinya Raffa lupa kalau ia sendiri pernah merengek untuk ikut bersama Emerald.
“Iya, nanti kalau Raffa sudah sampai di sana, Raffa akan tahu, kok.” Emerald berusaha menjelaskan.
“Mommy ikut?” Raffa memandang pada ibu asuhnyaa tersebut.
“Nggak, Mommy di rumah saja.”
“Sudah malam toh Ndok! Kamu biarkan Raffa pergi sendiri?” Bu De Sarini menimpali.
“Jangan khawatir Bu De. Ada saya dan kedua eyangnya yang jaga kok nanti.”
“Yo tapi, kan …” Bu De Sarini menimbang ucapannya, “nanti kalau Raffa rewel gimana?”
“Dianterin pulang,” celetuk Jessi dari dapur. Wanita itu tengah mengaduk dua gelas teh hangat. Suara sendok yang beradu dengan sisi gelas terdengar jelas.
“InsyaAllah, Raffa nggak akan rewel Bu De,” Emerald meyakinkan.
“Ya sudah. Kalau begitu siapkan perlengkapan Raffa, Ndok!” perintah Bu de Sarini kala Jessi tiba di hadapan mereka dengan membawa nampan berisi dua gelas the hangat.
“Baik, Bu De,” Jessi menoleh pada Emerald yang masih berdiri menggendong Raffa, “Saya tinggal sebentar ya, Mas. diminum dulu teh hangatnya,” sambung Jessi sembari meletakkan nampan di atas meja.
“Okey, terima kasih,” Emerald menurunkan tubuh Raffa, “yuk, kita duduk!” ajaknya pada anak laki-laki tersebut.
“Maaf kalau jadi mefrepotkan Nak Eme,” ujar Bu De Sarini di hadapan Emerald.
“Akh, nggak apa-apa Bu De. Papa dan Mama saya juga pasti senang menerima Raffa di rumah.”
“Iyo, karena di rumah tidak ada siapa-siapa, ya?”
“Betul, Bu De.”
“Yo, wes. Sampaikan salam dari Bu De untuk Bapak dan ibumu, ya,” ucap Bu de Sarini penuh keikhlasan.
“Baik, Bu De. Nanti Eme sampaikan.”
“Bu De, Jessi ikut ke rumah Eme, ya,” seketika Jessi muncul dengan tentengan dua buah tas kecil di tangannya. Ia meletakkan tas yang berisi perlengkapan Raffa itu di sebuah kursi.
Bu De Sarini dan Emerald saling pandang, “Berubah pikiran toh Ndok?” tanya Bu De Sarini memastikan keputusan Jessi.
“Khawatir Raffa rewel di sana, Bu De,” ucap jessi lalu ia duduk di samping Eme, “Bu De nggak apa-apa kan ditinggal sendiri?”
“Yo nggak apa-apa toh, Bu De juga udah terbiasa ditinggal sendiri,” ucap wanita paruh baya tersebut.
“Bu De nggaak mau sekalian ikut?”
“Yo jangan lah. Kalau bu de ikut, nanti yang nungguin rumah siapa?”
Emerald tersenyum kecil mendengar penuturan Bu De. Rata-rata prinsip orang tua pada umumnya memang demikian. Tidak akan dengan mudah beranjak dari rumah jika tidak karena hal yang sangat penting sekali.
“Kalau begitu, Eme izin membawa Raffa dan Jessi ya, Bu De,” ujar pria itu memohon.
“Iya. Silakan. Bu de jugaa nggak bisa menghalangi. Yang penting Raffa nggak merepotkan Eme sekeluarga nanti di sana.”
“InsyaAllah,” ucap Emerald sembari mengusap kepala Raffa yang tengah bermain dengan dua robot kesayanganya.
Usai dengan segala persiapan perlengkapan yang akan di bawa dan memandikan Raffa juga berbenah diri, Jessi kembali duduk berdampingan dengan Eme, “Udah siap,” ujarnya sembari meneguk teh yang sudah mulai dingin.
“Yuk, kita berangkat!” Emerald ikut meneguk sisa teh di dalam gelas miliknya.
Selepas kepergian Emerald, Jessi dan Raffa, Bu De Sarini masuk kembali ke dalam rumah. Ia kemudian mengunci pintu, lalu keadaan kembali menyepi tanpa suara riuh Raffa.
Ketika sampai di rumah megah milik keluarga Baskara, kedatangan mereka sudah di sambut oleh Pak Baskara dan istrinya di ruang keluarga. Tadi siang, Bu Sundari sudah diberitahu oleh putranya perihal kedatangan mereka malam ini.
“Hallo, Raffa. Sini sama Eyang, Sayang!” Bu Sundari melambai pada Raffa yang tengah berjalan bergandengan tangan dengan Eme.
“Ayo, salim dulu sama Eyang!” me membei perintah kepada Raffa diikuti anggukan dan langkah kecil anak laki-laki tersebut.
“Eyang tama ciapa?” tanya Raffa dengan nada cadelnya.
“Cendili, nungguin Laffa,” ucap Bu Sundari meniru nada bicara Raffa.
“Papa ke mana, Ma?” tanya Emerald kala merebahkan diri di samping ibunya.
“Ada di dalam,” Bu Sundari meraih tubuh Raffa, ia memulas kepala anak kecil tersebut lantas memeluknya dengan erat, “senang, ya ketemu Eyang?” bisik Bu Sundari pada Raffa yang diikuti anggukan kecil dari anak asuh Jessi tersebut.
“Ibu …” Jessi yang menyusul masuk memberi salam kepada ibunda Emerald, “Ibu sehat?” lanjutnya setelah memberi salam pada wanita paruh baya tersebut.
“Alhamdullilah, Nak Jessi bagaimana?”
“Seperti yang ibu lihat,” ujar Jessi dengan senyum yang lebar.
“Yuk, duduk dulu!” hampir saja Bu Sundari beranjak namun Raffa memeluknya dengan erat, “loh, erat sekali meluk eyangnya?” Bu Sundari terkekeh kala merasakan pelukan hangat dari Raffa.
“Eyang mau ke mana?” tanya Raffa saat menyadari Bu Sundari akan meninggalkannya.
“Nggak kemana-mana. Eyang hanya mau nyiapin makan malam aja buat kita semua,” wanita paruh baya itu menatap pada wajah lugu Raffa.
“Jangan tinggalin Laffa, dong!” Raffa memohon manja.
Sikapnya itu pula yang membuat Bu Sundari menjadi luluh. Ia membalas dekapan tubuh Raffa dengan mengelus puncak kepala anak laki-laki tersebut, “Iya, Eyang di sini kok,” katanya meyakinkan Raffa.
“Makasih, Eyang.” Raffa memegang kedua pipi Bu Sundari dengan tangan mungilnya.
“Raffa ini lucu, ya Jes.” Bu Sundari memandang pada Jessi, “kamu beruntung bisa mendapatkan anak ini,” ucap Bu Sundari lagi.
“Iya, Bu. Raffa anak yang pintar, kok,” jelas Jessi.
“Iya. Nampak ini,” puji Bu Sundari sembari kembali memulas kepala Raffa.
“Ibu udah siapin makan malam?” celetuk Emerald.
“Sudah, ibu sudah selesai masak.”
Bu Sundari adalah tipe perempuan rumah tangga yang aktif membereskan pekerjaan rumah. Urusan masak, Bu Sundari selalu menyelesaikannya dengan sendiri. Meski pun ada pembantu, tapi Bu Sundari lebih senang jika dapat mengolah makanan dengan cita rasa yang lezat hasil olahannya sendiri yang kemudian disajukan untuk keluarganya.
“Biar Jessi bantu, Bu!” Jessi menawarkan bantuan pada ibunda Emerald
“Raffa, sini sama Om Eme!” Emerald mengulurkan kedua tangannya pada Raffa. seketika, tubuh mungil Raffa berpindah posisi di pangkuan Emerald, “kita main mobil-mobilan, yuk!” Emerald menggendong tubuh Raffa.
Pria itu membawa Raffa masuk ke dalam sebuah gudang yang tertata rapi dengan seluruh mainan laki-laki. Melihat mainan yang dipajang di lemari, Raffa meronta hendak turun dari gedongan Emerald. Ia sudah tidak sabar ingin menyentuh mainan tersebut.
“Om. Laffa boleh main?” Raffa meminta izin pada Emerald.
“Ups!” Emerald menurunkan Raffa dari gendongannya, “sini, kita main sepuasnya.”
“Telima kasih, Om Me!” ucap Raffa dengan rasa gembira.
Mainan yang ada di gudang tersebut adalah milik Emerald di masa kecil dulu. Pengasuhnya sangat telaten membereskan dan merawat mainan milik Emerald. Meski sudah puluhan tahun berlalu, mainan-mainan tersebut tampak masih cerah dan layak untuk dimainkan.