Pov dini
Perlahan mataku terbuka, kepalaku masih terasa pusing, aku lupa dengan apa yang terjadi, namun tetap menahan mataku agar tidak terpejam kembali, kedua dadaku terasa ada benda dingin sedikit becek menempel diujung kedua benda berharga ku, membuatku meraasa sangat geli dibuatnya, dengan perlahan aku alihkan kedua bola mataku, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Akhhhhhhgkkk" Teriakku sangat kencang memecah ruangan yang belum tau dimana, sehingga laki-laki yang sedang menjialati kedua dadaku, dengan refleks melepaskannya, merasa kaget dengan teriakanku.
Dan Betapa terkejutnya aku, sehinga jantungku rasanya mau copot dibuatnya, setelah wajah itu menatap kearahku, menyembunyikan keterkejutanya, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas, dia adalah seorang laki-laki yang selama ini aku anggap sebagai kakak, namun hari ini dia menatapku dengan tatapan yang sangat menakutkan, dia berani mengotori tubuh dengan perlakuanya, entah setan mana yang merasukinya sehingga dia berbuat sekeji itu.
"Eh dini udah bangun ya" ujarnya sambil menyunggingkan senyum, seolah tak terjadi apa-apa.
"Apa-apaan kamu kak dani, kok kamu tega berbuat sekeji ini" sama adikmu sendiri" bentak ku dengan suara tertahan, karena kepalaku masih terasa pusing ketika mengeluarkan suara agak keras.
"Tenang sayang, kamu nikmati aja permainanku, nanti juga kamu akan merasakan kenikmatan yang luar biasa, yang belum pernah kamu dapatkan dari pria manapun" ujar kak dani sambil mendekatkan mulutnya ke arah dadaku, melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat tertunda, karena terkejut dengan teriakanku.
Dengan refleks kututupi kedua gunung kembar, dengan cara melipatkan kedua tanganku di atasnya, karena kancing bajuku sudah tidak menempel lagi, bahkan dalaman penutupnya kurasakan sudah tidak menempel di tempatnya, entah tahu ke mana.
" Berhenti Kak, tolong jangan lakukan ini" pintaku dengan suara lirih, tak terasa butiran bening membasahi kedua pipiku. Membuat kak Dani mengurungkan niat bejatnya.
"Cup cup cup, jangan nangis adikku sayang" ucap Kak Dani menenangkanku dengan mengusap mengusap rambutku, seperti kakak yang sedang menyayangi adiknya. Namun tangan segera kutepis, agar menjauh dari kepalaku.
"Tolong hentikan kak, ingat aku ini adalah adikmu" pintaku memohon, sembari menyadarkan kak Dani, bahwa kelakuan seperti ini tidak pantas dilakukan, apalagi orang yang melakukan itu adalah kakaknya sendiri.
Namun dia tidak menghiraukan permintaanku, kak Dani kembali lagi mendekatkan kepalanya ke arah kedua Dadaku, namun segera kulayangkan telapak tanganku ke arah pipinya.
Plaakk!!!
"Eh Cewek Si4lan, mau dikasih enak kok malah gini balasannya" bentak kak Dani sambil mengelus-ngelus pipi yang terkena tamparan.
Kemudian dengan kasar dia menduduki perutku, lalu melepaskan lipatan tanganku yang melipat didepan d**a, kemudian dia tekan tanganku ke arah samping. Tenaganya yang kuat membuatku tidak bisa berbuat apa apa, Meski aku terus ronta-ronta untuk keluar dari dekapannya, namun itu sia-sia saja, yang ada aku malah merasa lemas, karena tenagaku terkuras dengan banyak, apalagi aku belum sepenuhnya terbebas dari efek biusan.
"Ayo keluarkan tenagamu, wanita jal4ng" Pekik kak Dani sambil terus menekan kedua tanganku, agar aku tidak bisa melepaskanya.
"Tolooooooong, toloooooooong" teriakku dengan sangat keras, menghabiskan seluruh sisa tenagaku, berharap suaraku terdengar oleh orang lain, sehingga aku terbebas dari manusia kecil ini.
"Teriaklah sekencang yang kamu mau sayang, tidak akan ada orang yang mampu menolongmu, karena keberadaanmu sekarang sangat jauh dari keramaian, sehingga kamu jangan menghabiskan tenagamu untuk berteriak, mending kamu simpan tenagamu untuk melayani kakakmu" cibir kak Dani sambil tersenyum sini
Memang benar apa yang diucapkan oleh kak Dani, karena beberapa kali aku berteriak, namun tetap saja tidak ada tanda-tanda orang yang akan menolongku, sehingga membuatku putus asa dan hanya air matalah yang mewakili semua itu.
"Tolong hentikan Kak, kalau ibu tahu apa yang kakak lakukan, nanti Ibu bisa marah besar" pintaku yang sudah merasa lelah karena terus berteriak sehingga membuat tenggorokanku terasa sakit.
Mendengar kata ibu disebut, dia hanya memicingkan mata sambil senyum menyeringai, membuatku merasa ngeri melihatnya.
"Hah Ibu, itu ibu siapa, itu bukan ibumu, kamu itu hanya anak pungut, yang diambil dari tong sampah, harusnya kamu bersyukur dan berterima kasih, karena kamu telah dirawat oleh mereka, kamu malah melukai mereka dengan kabur dari rumah meninggalkan Perjodohan dengan Pak Wahyu" ujar kak Dani dengan memicingkan matanya ke arahku.
Mendengar penjelasan itu seketika aku membulatkan mata, seolah tak percaya apa yang dikatakan kak Dani, walau aku sudah mengetahui bahwa aku bukan anak kandung kedua orang tuaku, namun mendengar penjelasannya membuat tubuhku terkulai lemas, tidak kuat menerima kenyataan pahit ini, padahal selama ini kedua orang tuaku sangat baik, bahkan sama sekali tidak pernah ada masalah sebelum Perjodohan itu terjadi.
"Jadi yang perlu kamu ketahui, Ibu pasti akan senang ketika anak durhaka Seperti kamu, telah aku nodai sebagai hukumanya" lanjut kak Dani menambah perkataannya membuatku semakin pilu.
"Tolong Ampuni aku Kak" pintaku mengiba, meski sudah tidak memiliki kekuatan lagi, namun aku terus berusaha untuk lepas darinya, sambil kutatap nanar mukanya.
"Tenang, kan ini juga kamu lagi diampuni, untuk menebus semua dosa-dosamu terhadap kedua orang yang kamu kecewakan" ujarnya sambil tersenyum menyeringai menunjukkan barisan gigi kuningnya.
Setelah berucap seperti itu dengan perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arah wajahku, sehingga nafasnya yang bau minuman keras memenuhi rongga hidungku, membuatku perutku terasa mual.
"Cuih" air liurku mendarat tepat di wajahnya.
Plakkk!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipiku, membuat kepalaku sedikit pusing, terasa air liurku agak asin mungkin pembuluh darah di Mulutku ada yang pecah.
"Kurang ajar dikasih hati malah minta jantung" dengus kak Dani dengan sangat kesal.
namun seketika raut wajah nya kembali tersenyum, seolah Dia memiliki kepribadian ganda, karena sikapnya yang cepat berubah-ubah. Kak Dani mengusap pipinya yang terkena air liurku, lalu dia menjilatinya, tanpa terlihat sedikitpun rasa jijik di tergamabar dimuka, malahan Dia terlihat sangat menikmati momen itu, membuatku semakin brigidik ngeri, iblis apa yang sedang berada di hadapanku sekarang.
"Tolong hentikan, aku mohon" pintaku terus-terusan seperti itu.
"Kamu diam aja sayang. Jangan banyak bicara nanti pipi kamu yang halus ini, Sayangkan kalau kena tamparan terus" ujarnya sambil mengelus pipiku sehingga membuatku menggeleng-gelengkan kepala agar tangan itu menjauh.
Kak Dani untuk kesekian kalinya, mulai mendekatkan kembali wajahnya ke wajahku, seolah pantang menyerah dia terus berusaha, namun entah kekuatan dari mana, tubuhku tiba-tiba mempunyai tenaga lebih, sehingga kedua kakiku bisa aku angkat untuk mendorong tubuh kak Dani sampai terjatuh ke lantai. melihat keadaan kak dani tersungkur dengan cepat aku kancingkan pakaianku yang terbuka sedari tadi.
"Hahaha aku suka permainanmu" ujar kak Dani sambil bangkit dari dari tempat jatuhnya, kemudian dia berdiri kembali dan menatap tajam ke arahku, seolah Harimau yang sedang mengintai mangsanya.
Setelah kancingku terpasang dengan sempurna, aku bangkit lalu menghampiri kak Dani yang berdiri tidak jauh dari kasur busa itu, kulayangkan beberapa tamparan dan pukulan ke arah muka dan dadanya, namun semua itu sia-sia, kak dai hanya tersenyum tanpa terlihat sedikit pun merasa kesakitan, dia hanya tertawa kecil melihat kelakuanku.
Tiba-tiba kedua tangannya memegang Pinggangku, lalu ia mengangkat tubuhku keatas dengan entengnya, lalu melemparkanku lagi ke kasur dengan keras, sehingga membuat tubuhku terasa ngilu karena kasurnya udah lepek.
Aku terdiam sesaat, merasakan rasa sakit di sekujur tubuhku, akibat lemparan itu, namun kak dani tidak berhentin sampai di situ, dia menindih tubuhku dengan pantatnya, lalu memegangi kedua tanganku, entah dari mana dia mengambil tali tiba-tiba dia mengikat kedua tanganku, setelah tanganku terikat kemudian dia melanjutkan dengan ikatan dikedua kakiku.
"Kamu minta seperti ini kan" tanyanya sambil tersenyum memandangi seluruh tubuhku yang sudah terikat.
Mendengar perkataan itu aku hanya mendelik, menatap tajam dengan tatapan kebencian, rasanya sangat muak melihat wajahnya yang coklat itu.
"Jangan menatap aku terus, aku malu tahu, Baru tahu ya kalau kakakmu ini ganteng" ucapnya lagi yang membuat perutku terasa mual, apa selama ini dia tidak pernah ngaca muka jelek seperti itu dibilang ganteng.
"B4n9sat lepaskan aku" umpatku setelah tidak berhasil mengingatkannya dengan perkataan Lembut.
"Aw aw aw kamu makin galak, Aku suka, aku suka, lanjutkan semakin kamu galaka, maka akan semakin aku nikmati tubuhmu itu" ucapnya
"Dasar jelek, kamu gak laku yah, makanya kamu melakukan hal seperti ini" cibirku sambil memicingkan mata.
"Enak saja apa kamu bilang, walau jelek pacarku sangat cantik, walau dia sudah tidak perawan, tapi aku suka permainannya, dan keperawan itu aku akan segera kudapatkan dari tubuhmu" ujarnya sambil duduk kembali di tepi kasur sambil mengelus mengelus rambutku membuatku menggeleng-gelengkan kepala agar terlepas dari tangan itu.