aku tidak tau apa yang sebenarnya aku rasa. terkadang perasaan hampa menghimpit hatiku. namun aku selalu menapik rasa ini jauh.
karena gengsi aku tidak ingin mengakui kalau sebenarnya aku sangat kehilangan. masih teringat jelas malam itu. saat air mata Hana mengalir deras membasahi pipinya. rona kesedihan jelas terpancar di wajahnya. namun masih bisa ia tersenyum hanya untuk melihat ku bahagia. pelukan terakhir itupun masih terasa di tubuh ini. dengan mengeratkan pelukannya ia mengatakan bahwa ia akan bahagia apabila aku bahagia meskipun tidak bersamanya. sebetulnya aku tahu bahwa luka itu sangat dalam dan perih. sungguh aku adalah laki laki yang sangat brengsek.setelah aku bersinar terang aku meninggalkan nya. cahaya yang aku miliki saat ini malah aku gunakan untuk menerangi orang lain bukan untuk menerangi Hana ku.
pertemuan terakhir malam itu menyisakan sesal dihatiku dan tangisan di matanya. namun lagi lagi sikaf gengsi yang aku miliki membuatku tidak ingin mengakui bahwa cinta Hana begitu mendalam di hatiku.
aku sibukkan hari hariku dengan bekerja dan mengalihkan hatiku kepada elena. aku telah terpedaya oleh apa yang dimiliki elena. semua ku lihat begitu sempurna. tapi aku masih belum yakin tentang hatiku kepadanya. apakah ini sebuah rasa cinta atau hanya obsesi semata.
seperti saat ini elena mengajak ku untuk makan malam. makan malam yang kurasa seperti sebuah kencan. aku tahu bahwa elena begitu agresif kepadaku. rasa sukanya kepadaku begitu kentara. aku rasa elena adalah tipe orang yang ambisius. dan itu membuat ku merasakan hal baru. di banding dengan Hana yang mempunyai sifat tenang dan lembut. namun juga terkadang agresif di beberapa momen. seperti momen saat aku menciumnya malam itu. malam saat perayaan sederhana atas kesuksesan pertama karierku.
dan lagi lagi aku merasakan sesak dihatiku kala teringat kebersamaan ku dengannya dulu. Hanaku maafkanlah aku.. guman ku didalam hatiku.