Jika di Lauhul Mahfudz tertulis pula namamu untuk menjadi pasanganku, niscaya rasa cinta itu akan tumbuh pula dalam diri kita. Bagaimanapun kita bertemu itu bukan urusanku, tetapi menshalehkan diriku untuk membimbingmu itulah yang terpenting. "Mas," bisik Wulan ketika ia bingung harus berbuat apa. Diliriknya wajah Aji yang masih sama bingungnya sebelum perlahan-lahan ia kembali kedalam kesadarannya kemudian mengusap wajahnya dengan berat. "Kenapa kamu minta itu, Nis?" Nisa menatap Aji dan Wulan dengan mata berkaca-kaca. Dia menggigit bibirnya kencang sehingga isak tangis itu tidak terdengar. "Aku hanya melaksanakan janjiku...." Jawabnya pelan. Diam-diam dia mengusap lelehan air matanya sebelum kembali menatap Aji dan Wulan. Aji membalas pandangan itu datar. Di tempatnya Nisa mulai m

