Ada hal-hal yang tidak harus dijelaskan untuk memahaminya. Seperti perasaanku yang tak menentu ini.
Wulan mulai merasa terganggu dalam tidurnya tepat ketika ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Menciumi bagian sensitif di sekitar lehernya dengan tangan yang terus mengusap lembut di bagian perutnya.
Dengan berat hati ia membuka mata, dan mencoba melihat siapa yang melakukannya. Walau tanpa dilihat pun ia tahu siapa penyebab tidurnya terganggu di tengah malam seperti ini. Namun Wulan tetap memastikannya.
"Kenapa, Mas?" tanya Wulan pelan. Dia membelai wajah Aji yang sudah begitu kusut. Tanpa perlu dijelaskan Wulan paham apa yang suaminya itu inginkan. Tapi ia juga harus tahu mengapa Aji baru bergabung dengannya ketika waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Mas capek yang," jawabnya. Ia masih disibukkan dengan kegiatan menganggu setiap sisi sensitif istrinya itu. Mungkin bagi Aji kegiatan pahala ini bisa menghibur dirinya juga dari kelelahan fisik maupun pikirannya. Maka dari itu ia terus melakukan penyerangan aktif kepada Wulan.
"Mass...." Wulan menangkap kedua tangan Aji. Lalu meminta penjelasan ada masalah apa dengan suaminya itu.
"Ada apa?"
"Ternyata hidup memang tidak selalu sesuai yang diinginkan," keluhnya.
Aji menyenderkan punggungnya di bagian kepala ranjang. Tatapannya masih fokus kepada Wulan. Mencoba untuk berbagi apa yang tengah dia rasakan.
"Lalu? Kalau hidup tidak sesuai dengan yang Mas inginkan, Mas mau diam saja?"
"Mas harus gimana lagi?"
Wulan tersenyum sejenak. Dia menggeser tubuhnya agar bersandar pada bidang d**a Aji yang penuh kenyamanan dan kehangatan di sana. Tempat yang membuat Wulan terkadang malas hanya untuk sekedar membuka mata. Karena baginya bidang d**a Aji merupakan tempat terfavorit. Tempat yang menjanjikan perlindungan karena berada di antara kedua tangan yang selalu memeluknya dengan erat.
Tapi bila nanti Aji menikah dengan Nisa dia harus rela membagi tempat favoritnya itu kepada Nisa. Dia harus ikhlas bertemankan sepi dikala malam bila waktu Aji mengunjungi Nisa. Dia harus paham disitulah kesabaran dibutuhkan begitu besar. Karena semua itu merupakan konsekuensi atas permintaannya itu. Permintaan yang sampai sekarang dia merasa aneh bisa melakukannya.
Astahfirullah al'adzim ... mengapa sekarang dia ingin berpikir dua kali untuk berbagi Aji dengan Nisa.
"Mas...." Panggilnya dengan manja. Tangannya mengusap-usap bidang d**a itu begitu lembut sampai Aji turut terlarut dalam kelembutannya.
"Mas tahukan, kehidupan itu layaknya aliran air sungai di antara dua tepian. Alirannya mengalir begitu deras melewati bebatuan terjal dan air terjun yang curam. Lalu sang sungai perlahan-lahan melebar dan meluas, hingga tepiannya semakin menjauh serta air yang mengalir lebih tenang dan akhirnya menuju ke lautan yang luas.
Itulah perjalanan hidup kita. Rangkaian kegagalan dan kesuksesan, penderitaan dan kebahagiaan. Semuanya selalu mengalir beriringan dan merupakan rangkaian peristiwa dalam setiap episode kehidupan yang terus mengalir, sampai akhirnya bertemu dengan muara kehidupan. Alias kematian.
Dalam menempuh perjalanan hidup, manusia tidak akan pernah luput dari kemenangan dan kekalahan. Kebahagiaan dan kesedihan. Semuanya silih berganti bagaikan roda kehidupan yang selalu berputar, kadang berada di atas dan kadang di bawah. Namun jika kita menjalani hidup ini dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan penuh rasa syukur, maka kita tidak akan pernah mengalami saat dibawah, karena kita akan tetap merasa senang dan nyaman di manapun posisi kita berada.
Jalanilah hidup ini seperti air yang terus mengalir melewati bebatuan yang terjal dan mengarungi air terjun yang curam. Tidak selamanya kemenangan itu indah dan tidak selamanya pula kekalahan itu menyedihkan. Saat kita menang, namun kemenangan itu justru membawa kita pada kesombongan. Maka sesungguhnya kita berada dalam kekalahan yang luar biasa. Begitu pula sebaliknya, saat kita sedang kalah namun kita mempunyai semangat yang tinggi untuk bangkit, maka pada saat itu pula kita telah menjadi pemenang yang sebenarnya.
Banyak hal yang kelihatan begitu indah dan semuanya telah kita rencanakan. Namun kadang rencana itu sama sekali tidak ada yang terwujud. Saat harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Karena Allah tahu, bahwa itu bukanlah yang terbaik untuk kita, kemudian Ia mengganti rencana kita dengan rencanaNya yang jauh lebih sempurna," Jelas Wulan.
"Iya Sayang, mas tahu. Dalam surat Al Baqarah 216 pun tertulis, Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. Tapi terkadang, yang namanya manusia itu suka aneh. Bila hidup tidak sesuai dengan apa yang diinginkan langsung down dan bilang kalau Allah nggak adil. Padahal...."
"Ya karena itu...." Potong Wulan, ia tertawa renyah mendengar keluhan Aji yang bersikap seperti remaja labil. Namun Wulan suka sikap Aji yang seperti ini. Hanya di depannya Aji bisa menjadi sosok dirinya sendiri. Karena bila di depan orang lain, Aji sudah bisa menutupi semua kekurangannya.
"Karena itu apa?" ulang Aji sembari mengeratkan pelukannya.
"Kamu tuh terlalu cemas dan khawatir duluan, sampai buat kamu jadi ketakutan sendiri akhirnya. Harusnya semua itu bukan buat kamu takut, tapi buat kamu siap dan waspada atas perbuatan yang kita lakukan. Hidup adalah anugerah terindah. Sungguh begitu banyak waktu yang terbuang apabila kita hanya mengeluh, bersedih, dan larut dalam keterpurukan. Ingatlah suamiku tercinta, after a storm comes a calm. Badai pastilah berlalu, Yakinlah bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan atau jalan keluar yang begitu dekat," ucap Wulan.
Aji merasa mendapatkan kelegaan hati saat Wulan berbicara begitu tenang. Membantunya memecahkan kepusingan yang tengah ia rasakan. Hanya kegiatan-kegiatan seperti ini yang sesungguhnya membuat Aji semakin mencintai Wulan. Istrinya itu memang begitu dewasa menyikapi semua masalah yang terjadi.
"Udahlah Mas, dari pada kamu ngeluh mulu sama aku. Sekarang mending kamu sholat dulu sana. Keluhkan semua yang kamu rasa sama Tuhan. Ceritakan apa saja yang ingin kamu pilih untuk ke depannya. Insha Allah, pasti akan jalan ke depannya. Jangan dijadikan beban masalah hidup. Kamu pusing sendiri nantinya. Percuma dong kamu punya Allah tapi kamu telan sendiri semua masalah yang ada. Ingat dong Mas, berbagi itu baik," Wulan mendorong tubuh suaminya sambil mengedip genit kepada Aji.
"Bisa aja kamu," kekehnya. "Tapi abis ini kita lanjut yang tadi belum sempat dimulai," teriak Aji sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Mas kamu lupa aku lagi halangan," balas Wulan dengan senyum jahilnya. Tubuhnya kembali berbaring dan memilih memejamkan kedua mata. Menghalau sesuatu yang sebentar lagi akan merembas di kedua sisi matanya. Dia tidak mau Aji tahu apa yang tengah ia rasakan.
***
Wulan sudah terlihat sibuk di dapur. Berjalan bolak balik ke sana ke sini untuk menyiapkan sarapan pagi keluarga.
Di kursi makan sudah ada Alan yang juga turut sibuk. Memainkan mobil-mobilannya di dalam mangkuk plastik yang seharusnya digunakan untuk menaruh serealnya nanti. Di sampingnya ada sang kakak Lana sedang kesusahan menguncir rambutnya sendiri. Padahal pengasuhnya sudah ingin membantu, namun gadis kecil itu tidak mau dan masih mengusahakannya sendiri.
"Lana ... sini nenek bantu," kedua orang tua Wulan langsung memenuhi meja makan tersebut. Disusul kedua orang tua Aji menempati posisi masing-masing. Mereka nampak gemas melihat Lana dan Alan yang memang bertubuh gemuk dibandingkan dengan anak-anak seusianya.
"Dek ... bantu mama bangunin papa dong," pinta Wulan ketika ia meletakkan nasi goreng yang baru saja selesai dia masak. Kemudian bibi yang turut membantu Wulan, ikut menyajikan kopi dan teh yang baru saja selesai dibuat.
Di samping nasi goreng tersebut, Wulan meletakkan berbagai buahan yang sudah dipotong-potong. Dan tidak lupa pula sekaleng krupuk yang dimakan sebagai pendamping nasi goreng. Biasanya Aji yang paling suka memakan krupuk-krupuk itu. Bapak dua anak itu memang penggila krupuk apa saja. Baginya makan tanpa krupuk seperti cinta tanpa raga.
"Udah bangun belum, Dek?" tanya Wulan tepat ketika Alan kembali dari kamar.
"Papa bobo."
"Makanya mama minta Alan bangunin Papa," ucap Wulan sembari tersenyum geli melihat wajah tidak suka dari Alan.
"Tapi kan Papa bobo Ma," ucapnya seakan tidak rela jika sang mama memaksa untuk membangunkan papanya di hari libur seperti ini.
Bayi 3 tahun itu memang tahu bagaimana kerjaan papanya. Yang terkadang sering kali pulang larut malam dan masih tertidur pagi hari seperti ini.
"Ya udah biar mama yang bangunin," kekeh Wulan.
Namun tepat ia ingin melangkah ke kamar, suara bel dari pintu depan berbunyi. Bibi yang bekerja di rumahnya baru ingin berlari untuk membuka pintu, tetapi segera disergah oleh Wulan.
"Biar Wulan aja, Bik."
Langkahnya begitu ringan berjalan untuk membuka pintu. Senyumannya masih tidak kunjung hilang dari bibir kala ia ingat bagaimana tadi Alan tidak rela bila papanya dibangunkan.
"Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumsalam," jawab Wulan.
Wajah yang tadi penuh dengan kebahagiaan lenyap sudah. Kedua matanya membulat melihat siapa yang datang. Ia mendadak bisu kala melihat sosok di depannya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Setetes cairan bening di matanya jatuh membasahi pipi. Padahal tamu tersebut belum melakukan apapun untuk menjelaskan keadaannya. Tapi Wulan tahu, masalah itu terjadi kembali.
"Astagfirullah al'adzim," ucapnya begitu lirih sembari memeluk tubuh ringkih orang di depannya. "Aku akan melindungimu, sahabatku."
Ini hanya tentang sebuah perasaan.
Setiap kepala pasti memilikinya.
Segala pengorbanan tengah menertawakan.
Ketika ketegaran mengalami ujian terberatnya.
Nyatanya saling tegar bukan keputusan yang adil.
Karena semua perasaan akan berujung pada sebuah perpisahan yang mutlak.
------
continue...
Bisa pesan bukunya loh ke aku, kalau mau cerita ini dalam versi cetak