Bab 7

1581 Words
Belajarlah dari tukang parkir, memiliki banyak mobil namun tidak pernah ada perasaan sombong di hatinya. Sama seperti suami yang berpoligami. Banyak istri itu hanya titipan Allah semata.   Tubuh Aji yang sedang tertidur digerak-gerakan begitu kencang. Ketika ia membuka mata, di hadapannya Lana duduk sambil tersenyum lebar. Memperlihatkan kedua gigi depannya yang baru saja tanggal. "Papa bangun," panggil Lana saat Aji kembali menutup matanya. "Cium papa dulu Sayang," ucap Aji dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Gadis kecil itu memukul-mukul pipi Aji, seakan menegaskan bahwa ia tidak mau menuruti papanya. Lana berpikir ketika papanya sudah bangun, maka tugasnya akan selesai. Tapi nyatanya tidak semudah itu membangunkan Aji. Dia memang sengaja berlama-lama untuk bangun agar Lana terus berusaha. Kapan lagi ia bisa berdekatan dengan putri kecilnya kalau bukan dihari weekend seperti ini? "Papa ... dipanggil mama," teriak Lana cukup kencang. Dia berusaha melepaskan tangan Aji pada tubuhnya yang mungil. "Lana kok bau sih, udah mandi belum?" Tanya Aji mengalihkan pembicaraan. Bibirnya terus saja menghujani Lana dengan ciuman-ciuman gemas pada bagian pipi, hidung dan kening gadis kecil itu. "PAPA YANG BAUUUUU!!" teriaknya kembali. Ia tidak suka dicium oleh Aji karena di sekitar dagu dan rahang papanya itu tumbuh 'hutan lebat' yang membuatnya merasa geli. "Papa wangi dong," goda Aji kembali. Namun ketika ia ingin memeluk Lana semakin erat, dari belakang Alan memukul punggung Aji cukup kencang. Lalu bocah kecil itu memanjat ranjang di mana ada Lana dan Aji sedang berpelukan erat. Maksud Alan datang lalu memukul Aji adalah ia ingin menolong sang kakak yang terus saja berjerit kencang. Tapi apa daya, Alan kini turut masuk ke dalam pelukan hangat Aji. "PAPAAAAAA...." teriak Alan. Aji menanggapinya dengan tawa sambil terus menghujani dua anaknya itu ciuman-ciuman cinta. Tetapi keakraban itu hanya berjalan sesaat ketika mama Aji turut masuk ke dalam kamar tersebut, suasana menjadi senyap. "Bangun Mas, ada Nisa di bawah." Sontak Aji kaget mendengarnya. Dia melepaskan pelukannya hingga Alan serta Lana dapat bebas kabur dari jeratan sang Papa. "Kenapa? Cepat temui perempuan itu," tegas mamanya ketika Aji hanya diam membisu. Dalam hati Aji bertanya-tanya ada masalah apalagi sampai Nisa bisa datang ke rumahnya. Apalagi sekarang semua keluarganya tengah berkumpul. Bismillah ... mungkin memang ada yang perlu disampaikan oleh perempuan itu.   ***   Wulan masih terus menenangkan Nisa, sambil mencoba mendengarkan setiap cerita yang keluar dari bibir perempuan itu. Sesekali ia akan membantu mengusap air mata yang keluar dari kedua mata Nisa. Bahkan tangan Wulan tidak pernah melepaskan genggaman kuat tangan Nisa. Dia tahu hanya dengan begini Wulan bisa meringankan beban Nisa. Apalagi kondisi Nisa saat ini sangat memprihatinkan. Bajunya compang camping seperti seorang gelandangan. Di pipi kirinya ada memar seperti habis dipukul oleh sesuatu. Ditambah lagi sekujur tubuh Nisa banyak terdapat luka-luka seperti cakaran. Sebelum Nisa cerita, Wulan sudah tahu apa yang terjadi. Namun sesaat setelah mendengar cerita Nisa, Wulan menjadi sedih karena kemarin ini ia sempat tidak rela berbagi Aji dengannya. Padahal yang dibutuhkan Nisa adalah perlindungan dari seorang suami. Dan Wulan yakin memang Aji orangnya. Suara gelak tawa dari kedua anak Wulan membuat Nisa menghentikan ceritanya sejenak. Dengan mata sembabnya ia menatap ke arah lantai atas di mana suara itu berasal. Ketika Wulan memahami apa yang tengah dipikirkan Nisa, ia tersenyum. Mengusap lembut bahu sahabatnya itu. "Mereka lagi sibuk bangunin Mas Aji. Mungkin nanti setelah kamu menikah dengan Mas Aji, kita tambah pasukan satu lagi untuk membangunkannya," kekeh Wulan pelan. Nisa mengalihkan pandangannya pada Wulan yang tertawa lemah. Bukan tawa Wulan seperti biasanya, tapi ada terselip rasa kesakitan di sana. Walau Wulan tidak bercerita jujur kepadanya, namun sebagai seorang perempuan juga Nisa tahu apa yang Wulan rasakan. "Maaf Put, mungkin enggak seharusnya aku ke sini." Nisa segera bangkit dari duduknya dan berharap bisa pergi dari rumah keluarga bahagia ini. "Tolong Nis, jangan pergi lagi. Di sinilah tempat teraman untukmu. Untuk kita. Di mana ada mas Aji yang akan melindungi kita," tegasnya. Nisa mengerjabkan dua kali matanya kemudian memilih duduk kembali. Ia juga tidak yakin dengan kata-kata Wulan tadi, tapi dari setiap gerakan serta perkataan yang Wulan ucapkan memang benar ibu dua anak itu rela berbagi suami dengannya. "Jangan lakukan Put jika semua ini membuatmu tersiksa. Aku datang bukan meminta untuk janjimu. Tapi...." "Tapi meminta bantuan untuk perlindungan? Nis, dalam Islam, Poligami itu memang tidak dianjurkan tapi bukan berarti Poligami itu haram. Jika memang mas Aji menikahimu, maka ia telah memuliakan derajatmu, melindungimu, memberikanmu kasih sayang yang sesungguhnya kamu butuhkan. Apalagi seorang perempuan yang begitu sempurna sepertimu...." "Put, aku enggak sempurna," potong Nisa cepat. Wulan menggeleng cepat, dia mengeratkan genggaman tangannya pada Nisa. Menatap mata bulat itu begitu tenang dan sangat teduh. "Insha Allah Nis, mas Aji yang akan membantumu menjadi sempurna. Allah menciptakan perempuan sedemikian rupa untuk melengkapi kaum adam. Tapi memang kini banyak sekali lelaki yang begitu seenaknya merendahkan perempuan. Mereka seakan lupa dari mana mereka dilahirkan. Maka dari itu, aku mohon Nis, jangan tolak lagi pinangan mas Aji. Mungkin memang ini jalan yang terbaik." Tanpa Wulan dan Nisa ketahui, tak jauh dari mereka Aji berdiri menatap keduanya. Di dalam pelukannya ada Alan yang menatap bingung sang papa. Mungkin bocah kecil itu merasa ada yang tidak beres sedang terjadi. Namun ia tidak tahu apa itu. Sedangkan Lana yang berdiri di samping Aji menatap sedih Wulan. Gadis kecil itu tahu mamanya baru saja menangis. Ikatan batin antara ibu dan anak memang begitu kuat, hingga membuat Lana merasakan kesedihan yang begitu tiba-tiba. "Pa...." panggilan Lana ke Aji, membuat Wulan serta Nisa turut menatap ketiga orang yang tak jauh dari mereka. Lana merengek minta digendong juga oleh Aji. Anak itu tiba-tiba ketakutan dan tidak mau di dekati oleh Wulan. "Kak Lana, sini Sayang." "Paaa...." rengeknya lagi. Dengan segera Aji menggendong Lana di tangan kirinya sedangkan Alan di tangan kanannya. Kemudian dia menggeleng cepat ke arah Wulan, memberitahukan bila kedua anaknya tidak mau diganggu dulu. Tubuh Aji berbalik, meninggalkan Wulan dan Nisa dengan suara tangisan Lana dan juga Alan yang mengiringi. Suara tangisan itu tanpa sadar membuat rasa sakit di hati Wulan. Dia masih mencoba tersenyum menatap punggung Aji yang menghilang jauh. Mungkin ini langkah awal terberatnya untuk berbagi. Berbagi sedikit kebahagiaan yang tengah dia rasakan kepada sahabatnya yang memang sangat membutuhkan. Wulan berharap Tuhan meringankan langkah baiknya. Memberikan kesabaran yang berlebih dan juga menambahkan rasa cintanya pada keluarga kecilnya walau pada akhirnya ada cinta lain yang ada disana. "Menikahlah Nis, dengan suamiku."   ***   Malam telah kembali hadir. Setelah kedatangan Nisa tadi, keadaan rumah menjadi tidak karuan. Anak-anak itu masih bersikap tidak wajar. Karena biasanya mereka begitu riang bermain kala weekend tiba, namun seharian ini keduanya diam. Terus mengikuti langkah Aji ke mana pun. Sampai sebelum mereka tidur, Aji harus menemani mereka. Sedangkan Wulan sendiri selepas pulangnya Nisa sore hari, dia langsung mendapatkan ceramah singkat dari kedua orangtuanya. Bahkan mertuanya turut memberikan nasihat. Mereka semua tidak mau jalan yang Wulan ambil akan membuatnya menyesal nantinya. Padahal Wulan sudah menceritakan apa yang menimpa Nisa kepada semua orang, namun tetap saja mereka tidak setuju. Mereka takut Wulan yang tersiksa. Lima tahun Wulan menikah dengan Aji tidak pernah sekalipun mereka mendengar keduanya ribut dalam hal besar. Namun ternyata sekaranglah puncaknya. Hal yang tidak wajar Wulan minta kepada suaminya itu. "Kamu sudah tidak cinta sama Aji lagi?" Begitulah celetukan mama Aji kala mereka mengadili Wulan. Rasa sesak langsung menyerang Wulan setelah mendengar pertanyaan itu. Mana pernah Wulan tidak mencintai lelaki yang begitu baik dan sempurna itu? Aji memang pasangan terbaik yang Tuhan berikan. Dia lelaki yang bertanggung jawab serta imam yang baik bagi Wulan. Aji juga sosok papa yang sempurna untuk Lana dan Alan. Maka dari itu pertanyaan mama Aji sangat diluar logika. Namun seharusnya Wulan sudah mengerti mengapa mama Aji bertanya seperti itu. Perempuan paruh baya itu pasti tidak ingin pernikahan anaknya hancur. Dan bila sampai itu terjadi, alasannya hanya satu. Keinginan Wulan yang diluar logika. "Anak-anak sudah tidur, Mas?" Tanya Wulan ketika ia melihat Aji masuk ke dalam kamar mereka dengan wajah lelah. "Sudah," jawabnya acuh. Aji memilih menghindari Wulan. Ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa lelah begitu besar ia rasakan akibat seharian ini Aji harus bersusah payah menenangkan kedua buah hatinya. Entah apa yang terjadi dengan Lana dan juga Alan, keduanya kompak menjadi rewel dan tidak mau didiamkan. Sampai-sampai Aji ingin rasanya memaki Nisa, mengapa perempuan itu datang disaat yang tidak tepat. "Mas," panggil Wulan lagi tepat setelah Aji keluar kamar mandi. "Maaf, Mas capek." Hanya itu jawabannya. Setelahnya Aji turut berbaring di sebelah Wulan, dengan posisi membelakangi. Wulan hanya bisa diam. Memerhatikan punggung besar itu bergerak dengan teratur. Dia juga tidak berani hanya untuk sekedar mendekati. Ia sadar semuanya akibat dari perbuatannya. Dan dia tahu ini hanya awalan dari segala perubahan. Karena masih ada puncaknya nanti setelah Aji menikah dengan Nisa. Dalam diam, ia terus memerhatikan Aji dari belakang. Lelaki di hadapannya itu sedang marah padanya. Kediaman Aji memang sebagai jawaban dari ketidaksetujuan Aji untuk menikahi Nisa. "Maafkan aku, Mas." Hanya ucapan itu sebelum tubuh Wulan turut berbalik membelakangi Aji. Tetapi yang Wulan tidak sadari, Aji belum tertidur. Dia masih mendengar ucapan lemah sang istri. Dia sadar sikapnya pada Wulan sudah keterlaluan. Maka sebelum semuanya terlambat, ia berbalik dan menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukkannya. "Maafkan mas. Tolong maafkan sikap mas," bisik Aji bersamaan dengan jatuhnya air mata Wulan. Mereka tanpa sadar saling diam merasakan kesakitan yang tengah menggerogoti keduanya. Mereka takut akan kehilangan. Namun nyatanya takdir terus berjuang untuk menyisipkan jarak di antara mereka.   Bagi sebagian orang, tangisan tak menyelesaikan masalah. Namun tidak bagiku, tangisan adalah utusan hati untuk menyampaikan segala rasa. Baik luka maupun bahagia. ------- continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD