Aku sadar bumi itu datar, namun aku percaya bila kehidupan pun akan berputar. Bila saat ini hanya kami yang merasa bahagia, maka suatu saat nanti aku percaya kau akan merasakan hal yang sama.
Aji menarik rem mobilnya ketika berhenti tepat di depan pagar rumah berwarna hitam. Dari kedua matanya, ia bisa melihat rumah sederhana itu nampak sepi. Maklum saja hari masih begitu pagi, bahkan matahari masih malu-malu dalam menampilkan cahaya terangnya.
Berulang kali ia menarik napas dalam, meyakinkan hatinya bila ini memang jalan yang harus ia pilih. Setelah kemarin dirinya dan Wulan beradu pendapat mengenai Poligami yang akan Aji jalani. Sekarang ia berusaha untuk mampu membuat keputusan bahwa memang inilah jalan yang terbaik bagi semuanya.
"Mas, sekali ini saja lakukanlah apa yang kuminta. Bahagiakan Nisa seperti yang Mas lakukan kepadaku. Lindungi Nisa, sayangi Nisa. Karena sesungguhnya dia juga membutuhkannya sama seperti aku."
"Tapi ... apa harus mas menikahi dia? Mas bisa melindungi dia tanpa menikahinya. Mas bisa peduli sama dia seperti mas peduli kepada adik mas."
"Tidak ... dia butuh seorang lelaki untuk dijadikan sandaran. Bukan seorang kakak."
"Bila mas tidak adil nantinya bagaimana?"
"Mungkin ... memang begitulah takdirnya."
Aji mengusap wajahnya gusar. Bayangan Wulan menangis memohon dirinya untuk menikahi Nisa sejak tadi terus saja berputar. Jujur saja dalam dirinya sendiri, Aji takut. Dia bukan Nabi, dia hanya lelaki biasa. Maka bukan tidak mungkin bila nanti setelah ia menikah kembali, Aji bisa tidak adil kepada dua istrinya.
Tapi alasan Wulan meminta dirinya menikahi Nisa memang begitu mulia. Perempuan itu membutuhkan perlindungan, butuh kasih sayang, dan butuh pengakuan dari orang banyak jika perempuan itu makhluk yang begitu sempurna diciptakan Tuhan.
Aji mengingat-ingat ada salah satu hadits Nabi yang mengatakan, “Tidaklah seorang hamba Allah mencintai hamba Allah lainnya karena Allah semata, kecuali dia akan dimuliakan oleh Allah SWT”. (HR. Ahmad).
Maka dari itu, dia akan belajar mencintai Nisa seperti dirinya mencintai Allah dengan tulus. Aji berusaha untuk tidak membedakan Wulan dan Nisa. Dan berusaha untuk adil kepada dua perempuan itu yang akan menjadi tanggung jawab dirinya kelak.
"Bismillahirahmanirahim," gumam Aji sembari menjalankan mobilnya menuju kantor. Ia ingin Allah memudahkan segala jalannya nanti.
Kali ini dia hanya melihat dari luar bagaimana keadaan Nisa di dalam. Tapi nanti, dia akan melihat langsung dari dekat bagaimana kondisi psikis.
***
Aji memijat pelipisnya dengan sebelah tangan. Rasa pusing sejak tadi terus melandanya kala melihat banyaknya tumpukan kertas yang harus dia tanda tangani. Kertas-kertas tersebut merupakan hasil pelaporan dalam pekerjaan anak buahnya.
Pada kertas tersebut tertera kontrak-kontrak konsumen bermasalah yang harus dipikirkan bagaimana cara menyelesaikannya. Ada juga foto-foto unit mobil atau motor yang hilang karena dibawa kabur konsumen. Padahal hutang mereka belum ada yang selesai.
Sebenarnya hal seperti ini sudah biasa Aji lakukan. Namun bila kondisi pikiran Aji sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, maka semua pekerjaan ini terasa begitu berat.
Ingin rasanya Aji kabur dari semua kewajibannya. Tetapi kembali lagi Aji ingat, semakin ia kabur bukan akhir yang ia dapat melainkan awal dari sebuah masalah baru. Dan Aji tidak ingin seperti itu.
Bahkan harusnya Aji sadar solusi dari masalah yang tengah dihadapi ada pada masalah itu sendiri. Sebagai contohnya saja, ketika mengalami masalah dalam keuangan maka hal yang harus dilakukan adalah bersedekahlah. Insha Allah semuanya akan dibalas olehNya jauh lebih banyak dari yang diberikan.
Lalu dari mana sedekahnya jika kita saja sedang ada masalah keuangan?
Sedekah itu bukan dilihat dari nominalnya dan bentuknya. Jika memang tidak ada uang, masih banyak yang bisa dilakukan untuk bisa bersedekah. Karena bila semua kebaikan diukur dengan uang maka kita akan terjebak dengan pemikiran yang menyesatkan.
Jika selama ini kita berpikir bahwa sedekah hanya untuk orang kaya saja, nampaknya kita harus membuka wawasan kita bahwa sekedah tak hanya memberikan harta yang kita miliki kepada orang lain.
Dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap ruas tulang manusia wajib bersedekah setiap hari, di mana matahari terbit”.
Beliau melanjutkan, “Berlaku adil antara dua orang adalah sedekah, membantu seseorang (yang kesulitan menaikkan barang) pada hewan tunggangannya, lalu ia membantu menaikkannya ke atas punggung hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang-barangnya adalah sedekah."
Selain itu, Rasulullah juga bersabda, “Perkataan yang baik adalah sedekah, setiap langkah yang dikerahkan menuju shalat adalah sedekah dan menyingkirkan duri dari jalan adalah sedekah”.
Hingga akhirnya hadits-hadits tersebut mengabari kita bahwa peluang untuk bersedekah setiap harinya selalu terbuka luas. Dan tidak menutup kemungkinan bagi orang yang tidak mampu sekalipun.
Lagi-lagi Aji mengusap wajahnya, cukup sudah dia terlarut dalam pemikiran sesatnya. Tubuh tegapnya bangkit dan mulai berjalan keluar dari ruangan kantornya menuju mushola kecil yang berada satu lantai dengan ruangannya.
Dia harus menemui Penciptanya. Menceritakan segala keluh kesah yang kini ia rasakan. Agar hatinya menjadi lebih tenang dan bisa melanjutkan pekerjaannya kembali.
***
"Assalamu'alaikum, Mas. Udah sampai mana?" Tanya Wulan tepat panggilannya terhubung pada Aji.
Dengan ponsel yang dijepit antara bahu dan telinga, Aji melirik jam tangannya. Waktunya belum begitu telat jika jalan sekarang. Tapi mungkin dia akan terkena adzan magrib di jalan. Jadi tidak ada salahnya nanti mampir di masjid pinggir jalan sebelum sampai disana.
"Mas baru keluar kantor, Yang."
Di sana terdengar keluhan dari suara Wulan. Padahal sudah dari siang ia mengingatkan Aji bila habis magrib nanti keluarga mereka akan datang ke rumah Nisa. Mereka akan menjalankan acara khitbah, baru setelahnya menikah dan walimahan jika Aji dan Nisa setuju.
Memang semua ini terkesan begitu mendadak, tetapi sejak sabtu kemarin ketika Nisa datang ke rumah Aji dengan kondisi sangat memprihatinkan maka diputuskan dengan segera acara pernikahan itu.
Baik kedua orang tua Wulan, maupun kedua orang tua Aji hanya mengikuti keputusan Aji dan Wulan. Mereka memang tidak ingin ikut campur masalah keluarga kecil itu. Tetapi bukan berarti mereka lepas tangan. Karena baik Aji maupun Wulan sudah banyak diberikan wejangan dari kedua pihak orang tua. Mereka ingin yang terbaik hingga akhir, jangan sampai baru setengah jalan menjadi hancur keduanya.
Lalu setelah diberikan keyakinan dari sisi Wulan, akhirnya mereka semua setuju dan mendukung Aji untuk menikah lagi. Tetapi dengan satu persyaratan, Aji tidak boleh berat sebelah antara Wulan dan Nisa. Bahkan jika nanti Aji memiliki anak dari Nisa, bukan berarti Aji melupakan Lana dan Alan. Karena mereka berdua tetap anak sah dari Aji.
"Ya sudah Mas hati-hati, jangan ngebut. Wulan sama semuanya jalan duluan ya."
"Hati-hati Sayang."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," tutup Aji bersamaan dengan pintu lift yang terbuka di depannya.
Beberapa karyawan tersenyum padanya dan menunduk hormat. Bukan karena Aji ingin dihormati, namun karena sikapnya yang begitu bijak dan berwibawa membuat semuanya sukarela dalam menghormati Aji.
Selama perjalanan ke rumah Nisa, Aji hanya mampu terdiam. Sekali-kali ia akan tersenyum kecut kala menatap sebuah bandul foto yang digantung di spion tengah mobil. Foto tersebut berisi keluarga kecilnya. Dimana Alan baru saja terlahir dari rahim Wulan kala itu.
Ia masih begitu ingat bagaimana hatinya takut kehilangan Wulan karena pada saat itu kelahiran Alan mengalami pendarahan. Wulan harus membutuhkan banyak transfusi darah untuk mencukupi kebutuhannya.
Lalu parahnya ketika lahir ke dunia, leher Alan terjerat tali pusar yang membuat bayi itu tidak menangis saat terlahir.
Jika Aji ingat-ingat, itu merupakan ujian terberat mentalnya. Dimana saat itu, jika sedikit saja dia melupakan Tuhan mungkin Wulan dan Alan sudah pergi meninggalkannya. Tetapi nyatanya mereka berdua masih ada di sini. Di sampingnya. Menemani hari-harinya.
Tapi mengapa sekarang harus ia yang pergi. Pergi untuk melindungi perempuan lain? Apa mau Tuhan sebenarnya? Mengapa terlalu banyak permainan takdir yang Tuhan berikan.
Seharusnya Aji sadar, bukan dirinya saja yang Tuhan berikan ujian kecil dalam hidupnya. Karena pada dasarnya seluruh umat di dunia ini pasti pernah mengalami ujian dalam hidup. Baik itu yang terasa begitu berat, hingga yang hanya berupa kerikil kecil. Namun adakah mereka mengeluh?
Kehidupan mereka tetap berjalan walau jeritan kesakitan dan ketidakmampuan akan ujian terus terdengar. Lantas apa masalahnya? Masalahnya adalah sifat manusia itu sendiri yang lebih suka sekali mengeluh ketika mendapatkan ujian dari Tuhan. Tetapi apa pernah ketika mendapatkan kebahagiaan mereka mengucap syukur?
Mungkin hanya sebagian orang yang melakukannya. Lalu jika sudah seperti ini, apa masih pantas keluhan keluar dari mulut mereka? Atau mulut Aji yang masih sulit sekali untuk membiasakan membaca ayat-ayatNya.
Astagfirullah al'adzim...
Lagi-lagi setan sudah membujuk Aji untuk terus saja mengeluh tanpa melakukan tindakan apapun. Mau sampai kapanpun masalahnya tidak akan pernah selesai jika yang dilakukan hanya mengeluh dan mengeluh. Jalan satu-satunya yang harus dilakukan adalah berusaha menyelesaikannya dengan baik.
Pikiran Aji terlalu lama berputar-putar pada masalah yang sama hingga tak terasa waktu terus berjalan. Dari kejauhan terdengar sayub-sayub suara adzan magrib berkumandang. Tanpa berpikir dua kali, Aji langsung saja memakirkan mobilnya di sebuah masjid besar di daerah tak begitu jauh dari rumah Nisa.
Dia berusaha untuk memfokuskan pikirannya untuk beribadah
Urusan dunia bisa nanti lagi dipikirkan, tetapi tidak untuk urusan akhirat.
***
Lana bersorak riang kala mendengar suara deru mobil Papanya berhenti tepat di depan rumah yang sedang mereka kunjungi. Tubuh kecil itu langsung berlari keluar dengan diikuti oleh Alan yang tidak mau kalah.
Senyum mereka semakin lebar ketika melihat Aji turun dari mobilnya. Dengan kedua tangan yang terbuka lebar, Aji meraih kedua buah hatinya masuk ke dalam pelukan.
"Assalamu'alaikum, anak-anak papa."
"Wa'alaikumsalam papanya Lana."
"Ikumsalam, paaa," teriak Alan.
"Tuh pa, Alan masih salah ngomongnya," adu Lana ketika ia bisa mendengar adiknya masih saja susah berbicara dengan benar.
Dulu waktu Lana seusia Alan, gadis kecil itu sudah begitu pintar berbicara. Bahkan Lana suka sekali bernyanyi pada masa itu. Sampai-sampai jika ditanya ingin menjadi apa setelah besar nanti, Lana akan menjawab ingin menjadi seorang penyanyi.
Namun kini seolah cita-cita Lana itu telah hilang entah ke mana. Ia sekarang lebih menyukai kegiatan menggambar dibandingkan harus bersusah payah mengeluarkan suaranya.
"Kenapa Kak Lana enggak ajarin adek Alan biar lancar bicaranya?"
Lana menggeleng cepat, menatap adiknya yang ada di depannya. Mereka berdua memang berada dalam gendongan Aji untuk menuju ke dalam rumah.
"Enggak ah, papa aja yang ajarin Alan. Kak Lana nanti ajarin Alan gambar aja."
Aji hanya tersenyum mendengar celotehan dari gadis kecilnya. Kemudian ia melirik Alan yang sibuk memainkan dasi hitam milik Aji.
"Adek ngapain sih?" Tegur Aji.
Bayi 3 tahun itu hanya mengerjab menatap papanya kemudian sibuk kembali pada benda yang sedang membelit kedua tangannya. Awalnya Aji ingin tertawa melihat tingkah pola Alan yang mirip sekali dengannya ketika kecil, namun tawa itu lenyap seketika saat melihat wajah ibunya yang nampak dingin menghampirinya.
"Kamu ditunggu Papa di dalam, Mas," ucap mama Aji sembari membawa Alan ke dalam gendongannya.
Aji mengerti apa maksud dari kata-kata mamanya. Dia tidak boleh menunda-nunda waktu lagi. Karena sudah saatnya semua hal baru itu dimulai.
Dengan mengucap bismillah, Aji menjalankan semua pilihannya sekarang ini dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.
"Assalamu'alaikum," salamnya bersamaan dengan lirikan sepasang mata bulat yang menatapnya begitu dalam. Seakan mata itu adalah sebuah oase di padang pasir yang kapan saja bisa menenggelamkan dirinya.
Astaghfirullah al'adzim...
Andai kau tahu, masalahku bukan tentang dirimu. Namun nyatanya jalanku yang terlanjur salah dalam mengagumimu ketika aku bermasalah.
--------
continue