Dulu aku selalu meminta untuk dijadikan satu-satunya. Namun kini takdir membuatku menjadi salah satunya yang menemani dirimu menuju jannah.
Malam ini waktu berjalan begitu lambat. Walau sebagian waktu sudah dihabiskan untuk mendiskusikan masalah penting, namun tetap saja ada beberapa bagian waktu kosong. Dimana Aji dengan lancangnya mencuri pandang pada pekatnya manik mata itu.
Dia tahu telah salah melakukan ini. Tetapi memang ada bagian dalam tubuhnya yang tiba-tiba saja menjadi terikat oleh kedua mata itu. Padahal sebelumnya ia tidak pernah merasakan hal lebih ketika menatapnya.
Ya walau jika dihitung-hitung mereka baru bertemu tiga kali, namun tetap saja kali ini ada sesuatu pancaran yang berbeda dari mata itu.
Bahkan sampai-sampai sang pemilik mata nampak risih karena hampir seringnya ia menemukan Aji memandangnya.
"Baiklah, karena semua sudah sepakat dan Nisa juga sudah setuju, insha Allah pernikahan akan dilakukan akhir minggu ini. Karena bagiku menyegerakan hal baik itu memang menjadi suatu keharusan," ucap Wulan.
Dia mencoba menilai gelagat Aji dan Nisa yang duduknya saling berhadapan. Memang kali ini tidak ada lagi penolakan dari keduanya, namun Wulan tahu baik Aji maupun Nisa melakukannya masih atas dasar permintaannya.
"Ya sudah, kita harus pulang. Nanti akan mama bantu persiapan segalanya," ucap mama Aji.
Tetapi perkataan tersebut langsung ditolak oleh Nisa. Bukannya sudah sesuai perjanjian, jika mereka hanya akan menikah di masjid terdekat. Karena Nisa tahu pernikahan kedua Aji ini tidak seharusnya dibesar-besarkan.
Nanti apa jadinya jika kedua anak Aji bertanya mengapa dirinya yang duduk mendampingi papa mereka. Sedangkan mama mereka lebih memilih bersembunyi.
"Tidak usah berlebih Bu, saya tidak ingin adanya pesta. Cukup saksi dan keluarga saja," ungkap Nisa sambil mencuri pandang ke wajah Aji yang kini sudah sibuk menimang Lana dalam pelukannya.
Di sampingnya ada Wulan yang menyambutnya dengan senyuman hangat.
Senyuman yang membuat Nisa ingin menggali kuburannya sendiri karena sudah begitu bodoh masuk ke dalam kebahagiaan orang lain.
"Baiklah jika memang itu pilihan terbaik. Kami orang tua hanya bisa mengawasi dan menasihati baik buruknya. Karena yang menjalankan kalian." Mama Aji melirik menantunya Wulan yang masih menampilkan senyuman. Dia bertanya-tanya terbuat dari apa hati menantunya itu. Tak ada raut wajah sedih, atau kecewa. Yang Wulan selalu tampilkan adalah senyum bahagia yang begitu tulus.
"Dari mama hanya pesan satu hal untukmu, Wulan dan juga Nisa." Pandangan keduanya teralih melihat mama Wulan yang sejak tadi ternyata diam-diam menahan sedih. Memandang dua perempuan muda di hadapannya yang rela berbagi kebahagiaan satu sama lain, membuatnya ingin memeluk keduanya.
Dulu dia sempat marah kepada Wulan karena begitu bodoh membagi kebahagiaan yang sudah dia bangun sejak awal. Tetapi semakin kesini dia tahu putrinya itu memang begitu ikhlas membagi rasa cinta suaminya untuk Nisa.
Bahkan ia merasa mendapatkan sebuah pelajaran baru dari anaknya. Pelajaran yang bermakna bila berbagi bukan karena kita berlebih namun karena kita ingin sama-sama merasakan susah dengan yang lainnya.
Dan Wulan sudah berhasil melakukan hal itu.
"Mama harap, baik Wulan maupun kamu, Nisa, sama-sama bisa menjaga hati satu sama lain. Disini bukan hanya kesabaran yang harus kalian jaga, tapi keegoisan yang terkadang tanpa sadar akan selalu hadir dalam diri manusia. Jangan sampai karena hal kecil yang sudah kalian sepakati harus hancur mengatasnamakan cinta dan keegoisan. Bukan tidak mungkin kedepannya Aji akan mengalami masa dimana ia akan lebih condong pada satu istrinya. Dan bila itu terjadi, sudah menjadi tugas kalian mengingatkan Aji agar tetap adil. Bukan hanya diam, lalu memendam luka sendiri," jelasnya tenang.
Di tempatnya, Wulan mengangguk setuju kemudian menatap Nisa kembali yang hanya bisa menunduk diam.
"Mama memang ibu kandung dari Wulan. Tapi mama tidak akan segan-segan menegur anak mama jika ia salah. Jadi Nisa, tolong jangan berkecil hati. Kami di sini keluargamu. Mama berhak menyayangimu juga dan mama berhak memarahimu bila sikapmu sudah keterlaluan. Jangan karena kalian menjadi pendamping Aji di sisi kiri dan kanannya, kalian berlomba-lomba untuk memenangkan hatinya."
"Mama tenang aja, Wulan...."
"Mama belum selesai, mbak. Jangan potong kata-kata mama. Suatu saat kamu akan mengerti mengapa mama bicara seperti ini," ucapnya begitu tegas. Memotong kalimat Wulan dengan cepat. "Jika nanti kalian berada di posisi terjatuh akibat dari semua ini. Ingatlah kalian tidak sendirian. Ada Dia yang selalu di hati. Ceritakan segalanya padaNya, maka Insha Allah kalian akan mendapatkan jawaban yang terbaik untuk bangkit kembali," sambungnya kembali.
Perasaan Aji menjadi campur aduk saat mendengarkan wejangan demi wejangan itu diucapkan. Tetapi dia tahu semua ini memang akan menjadi bekal untuk kehidupan mereka semua.
Seakan sadar bila Aji pusing dengan keadaan ini, Wulan mencari-cari jemari tangan Aji lalu menggenggamnya dengan erat hingga Aji menatap istrinya itu.
"Insha Allah, Dia selalu meridhoi jalan umatnya yang ingin menolong sesama. Jangan dibuat pusing lagi Mas, masih ada aku dan Nisa tempatmu untuk berbagi," bisiknya pelan.
Kehangatan genggaman tangan Wulan membuat Aji sadar bila cintanya pada Wulan tidak akan pernah hilang walau ada dia yang kini hadir di antara mereka.
***
Hari telah berganti hari, bahkan hari yang menjadi penentuan dimana perubahan itu akan terjadi sudah didepan mata.
Baik Aji maupun Nisa selama seminggu itu memang tidak pernah bertemu. Bahkan komunikasi pun tidak pernah keduanya lakukan.
Aji hanya akan mendapat info dari Wulan atau mamanya jika ada hal penting yang harus dirinya tahu. Mulai dari jalannya acara ijab kobulnya nanti hingga beberapa kebutuhan Nisa yang harus Aji penuhi untuk kedepannya.
Wulan sendiri bahkan belum juga membicarakan kedepannya Nisa akan tinggal di mana. Perempuan itu terlihat begitu santai seakan-akan kehidupan rumah tangganya baik-baik saja. Tetapi tidak bagi Aji. Dia seperti sedang berdiri di depan jurang yang begitu curam. Hingga salah-salah ia dalam mengambil langkah, dirinya akan terpeleset lalu jatuh ke dalam jurang tersebut.
"Mas," tegur Wulan.
Di tangannya ada tas hitam besar seperti berisikan sebuah baju yang Aji yakini untuk acaranya besok.
"Dicobaan dulu jasnya, pas enggak," ucap Wulan.
Tidak ada tanggapan sedikitpun, Aji hanya melirik Wulan dari atas sampai bawah.
"Kamu kenapa sih, Mas?" Tanya Wulan. Ia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Aji, hingga Aji berhasil kembali dari lamunan singkatnya.
"Mas," rajuk Wulan ketika ia merasakan kedua tangan Aji merangkulnya.
"Biarkan seperti ini," bisiknya lemah. Menempatkan kepalanya di bahu Wulan sambil kedua tangannya memeluk erat.
Wulan yang kaget hanya diam mematung tanpa membalas pelukan Aji. Pikirannya seakan sedang melawan hatinya untuk turut campur rasa yang tengah ia rasakan. Tetapi memori tentang mereka berdua beberapa tahun lalu muncul kembali disaat-saat waktu yang tidak tepat.
"Hal yang paling kutakutkan dalam hidupku bukan untuk menghadapi tantangan. Namun aku takut kegagalan menata diriku sendiri. Seperti menata hati ini untuk tidak mencintaimu dalam diam. Berusaha terus berada dijalanNya, tetapi aku telah gagal. Karena setelahnya aku sadar ketakutan itu bukan berasal dari luar tapi dari dalam. Dari hati dan pikiranku sendiri. Maka sejak itu, jalan yang kutempuh terus menuju pada satu titik. Titik di mana aku akan membawamu dalam jalan ridhoNya menuju jannah bersama. Hingga di sana bukanlah aku sendiri yang akan ditanya, tapi KITA."
Ungkapan itu terus-terus terngiang di telinga Wulan. Setiap kalimat yang dulu Aji keluarkan bagai mantra untuknya dalam menyiksa batinnya sendiri.
"Yang," bisik Aji perlahan. Mengusap punggung Wulan yang begitu terasa menegang karena segelintir kenangan lalunya.
"Masih belum terlambat untuk menghentikan segalanya. Aku hanya ingin kamu, Yang. Bukan perempuan lain," lirihnya lemah. "Tak bisakah kita menutup mata saja akan semua permasalahan yang ada. Tak bisakah kita kembali kemasa di mana hanya ada seorang Aji dan Wulan saja?"
Perlahan tangan Wulan naik, mengusap lembut punggung suaminya yang terasa bergetar. Antara menahan kesedihan dan amarah. Wulan sadar semua ini baru awal dari perjalanan kehidupan pernikahan poligami yang dilakukan suaminya kelak. Dan dia juga tahu apa saja yang akan ia hadapi ke depannya nanti.
Lalu bila melihat Aji seperti sekarang ini, sudah seharusnya menjadi tanggung jawab Wulan dalam memberikan pengertian lebih kepada Aji.
"Tenanglah Mas, Wulan akan tetap mendampingi Mas Aji sampai kapanpun. Karena surga Wulan berasal dari ridhomu. Untuk itu, tolong Mas bantu Wulan. Wulan enggak mau munafik, Mas. Jika suatu saat nanti Wulan lupa akan hal-hal yang seharusnya Wulan lakukan, mohon untuk diingatkan."
"Tapi Yang, berlaku adil itu susah. Mas itu bukanlah Nabi."
"Kita seharusnya sudah tidak membicarakan keadilan lagi Mas. Besok sudah waktunya dirimu meminangnya. Memulai hidup yang baru untuk menjadi lebih baik lagi. Tapi bila sampai detik ini Mas masih bicara masalah keadilan, Wulan bisa apalagi untuk memberikan pengertian kepada Mas," jelasnya.
Ia menakup kedua pipi Aji agar suaminya itu membalas tatapan matanya. Mencoba menyelami rasa ketakutan yang tengah Aji rasakan. Serta memberikan pengertian bila dirinya baik-baik saja.
"Mas Aji, dalam surat An Nisaa ayat 129 dijelaskan, "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian."
Yang dimaksud dengan "Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil" dalam ayat di atas adalah kamu sekali-kali tidak dapat berlaku adil dalam rasa cinta, kecondongan hati dan berhubungan intim. Karena kaum muslimin sendiri telah sepakat, bahwa menyamakan yang demikian kepada para istri sangatlah tidak mungkin dan ini di luar kemampuan manusia, kecuali jika Allah menghendakinya.
Dan Mas Aji sendiri sudah tahu Aisyah radhiyallahu ‘anha lebih dicintai Rasulullah daripada istri beliau yang lain. Bukan karena ia yang paling muda, tetapi karena Rasulullah percaya, walau usia Aisyah paling muda dari yang lain tetapi keimanan Aisyah tidak kalah dengan perempuan yang jauh lebih dewasa darinya.
Sedangkan untuk hal-hal bersifat lahiriah seperti tempat tinggal, uang belanja dan waktu bermalam, maka wajib bagi seorang suami yang mempunyai istri lebih dari satu untuk berbuat adil. Dan Wulan ingat kita belum membahas hal ini untuk kedepannya."
Aji menjawabnya dengan sebuah ciuman hangat di kening Wulan. Menyalurkan rasa cintanya kepada perempuan yang sudah 6 tahun ini selalu mendampinginya.
"Entah terbuat dari apa hatimu, Yang. Sampai terkadang aku merasa begitu beruntung memilikimu," ungkap Aji dengan tatapan sedihnya.
Wulan tersenyum. Mengusap lembut kedua pipi Aji hingga lelaki itu terlena dibuatnya. "Aku yang beruntung karena sudah Mas pilih untuk mendampingi kehidupan Mas. Bukannya kita tidak menyadari, di antara kita berdua terdapat perbedaan yang begitu terasa. Namun ternyata dari perbedaan itu kita bertahan. Tak pernah sekalipun Wulan dengar Mas menyerah karena itu Wulan yakin Mas tidak akan menyerah dengan keadaan ini. Anggap saja ini adalah sebuah awal baru, bukan hanya untukmu tapi untuk KITA."
"Masya Allah, istri mas ini memang bidadari surga yang Allah titipkan kepada mas," ucapnya diiringi dengan pelukan erat yang Aji lakukan kepada Wulan.
Di dalam pelukan Aji, Wulan tertawa geli. Bagaimana suaminya itu begitu memuji dirinya yang masih jauh dari kata sempurna dimata Allah.
"Sudah ya Mas, jangan sedih lagi. Kan masih ada aku, Lana dan Alan yang akan selalu setia menemani. Bahkan nanti akan ada Nisa yang melengkapi semuanya. Pokoknya Wulan enggak rela Mas sedih karena keadaan. Karena sejatinya keadaan itu bukanlah penyebab dari kesedihan. Melainkan dari hati."
"Iya, Insha Allah akan mas coba melakukan yang terbaik," ungkap Aji. Ia mencium lagi kening Wulan sebelum mengambil alih tas yang berisi jas untuknya pakai besok hari.
"Tolong temani hidupku selalu, Wulandari Saputri," ucapnya sembari menggenggam tangan Wulan menuju kamar mereka.
Menghabiskan sisa waktu terakhir mereka untuk berdua. Karena sejak mentari terbit esok hari, Aji bukan hanya milik Wulan tetapi ada perempuan lain yang juga berhak atas diri Aji.
Jangan berjanji bila tidak bisa menepati. Karena janji itu ibarat seorang anak. Membuatnya hanya butuh waktu beberapa menit, namun tanggung jawabnya seumur hidup.
------
continue