Aku berani bertaruh dengan waktu tentang siapa yang lebih dulu lupa dan siapa yang selamanya terluka. Kau ataukah aku.
Suasana rumah bergaya sederhana telah ramai sejak pagi. Para tetangga sekitar banyak yang turut serta membantu jalannya acara ini. Maklum saja sang empunya rumah hanya tinggal seorang diri.
Warga sekitar hanya tahu sekitar satu tahun yang lalu ibunya telah tiada. Namun keberadaan sang ayah sampai sekarang tidak ada yang tahu pasti di mana.
Maka karena merasa kasihan dengannya, mereka semua turut membantu. Saling memberitahu langkah apa saja yang harus dilakukan.
"Kamu cantik banget. Tante pangling lihatnya," seru salah seorang tetangga kepada dirinya.
Nisa hanya tersenyum kaku. Bagaimana tidak kaku sejak subuh tadi para penata rias sudah datang untuk mendandaninya. Padahal dia sudah bilang sejak awal jika dia tidak mau adanya hal-hal seperti ini.
Sedangkan bibinya yang merupakan adik dari ibu Nisa hanya mengulum senyum kala melihat keponakannya merasa tidak nyaman.
"Tante enggak pernah dengar Nisa punya pacar. Tiba-tiba udah nikah aja," ucap ibu itu kembali.
"Ya harus nikahlah, anak saya aja si Tika udah mau dua anaknya. Masa Nisa yang usianya lebih tua masih belum menikah," celetuk salah seorang tetangga lainnya.
"Hust, dijaga atuh bu mulutnya."
Nisa berusaha tidak mendengar semua itu. Dia juga sadar umurnya tidak muda lagi. Bila dibandingkan dengan semua teman-temannya dulu, mereka sudah hidup bahagia dengan anak dan suaminya.
Contohnya lihat saja Wulan. Kehidupan rumah tangga Wulan sangat bahagia dengan dua anak yang melengkapi. Lalu apalagi yang Wulan cari?
Nisa menarik napas dalam. Andai dia tidak pernah bertemu Wulan waktu itu, mungkin sampai detik ini dia masih tetap saja single. Atau sampai 5 tahun ke depan belum ada juga lelaki yang meminangnya.
Tapi kenapa takdir begitu kejam? Mengapa harus Aji lelaki yang bersedia menikahinya? Apa karena dirinya terlalu hina. Atau karena sifatnya?
"Eh, pengantin enggak boleh nangis dong." Terburu-buru Nisa menghapus setitik air mata yang jatuh di pipinya. Tangannya sudah penuh dengan henna yang digambar begitu cantik.
"Gara-gara ibu nih, Nisa jadi nangis," celetuk yang lainnya pada si ibu tadi.
"Alah, itu mah emang dianya aja yang cengeng," semburnya lagi.
Diam. Hanya itu yang bisa Nisa lakukan. Menundukkan semakin dalam wajahnya agar tidak ada yang melihat.
Bukannya dia sedih dengan celetukkan seperti itu, di lingkungan tempat tinggalnya ini memang sudah biasa ia mendengar gosip-gosip tidak enak mengenai dirinya.
Dan dia berusaha kebal akan hal itu. Toh, bumi yang selalu diinjak saja masih bisa bertahan, lalu dirinya hanya mendengar segelitiran cibiran tidak sedap itu masa langsung mengamuk.
Rasanya tidak etis saja. Karena semua yang mereka bicarakan berdasarkan kebenaran.
Dia yang sudah tua tapi tidak menikah-menikah, dia yang dibilang anak haram oleh banyak orang dan dia yang sudah tidak perawan lagi.
Oke, semuanya memang benar adanya. Tapi yang melakukan gosip itu tidak tahu dan tidak pernah mau tahu apa latar belakang dibalik semua itu.
Mereka semua hanya bisa mengejudge tapi tidak pernah mau mendengar penjelasannya.
Lagi-lagi Nisa menarik napasnya dalam. Ia merasakan sebuah tepukan di bahunya.
Terlihat bibinya mengulum senyum memberikan semangat pada keponakannya itu. Dia tahu hidup Nisa memang terlampau berat. Tapi dia juga tidak bisa apa-apa untuk menolongnya. Ketika ia ingin membantu Nisa, ada saja ancaman dari luar yang membuat keluarga bibinya hancur.
Karena itu Nisa memilih tinggal seorang diri. Walau terkadang sekali-kali bibinya akan datang untuk menengoknya.
"Keluarga Aji sudah datang. Nanti setelah Ijab Kobul, kamu keluar ya."
Hati Nisa tiba-tiba saja menghangat.
Ijab kobul?
Apa benar ada lelaki yang berjanji dihadapan Tuhan untuk melindunginya?
Bahkan Nisa sendiri sudah tidak percaya adanya Tuhan. Setiap dia memohon, setiap dia mengeluh, Tuhan seakan menutup mata dan telinganya.
Sampai-sampai sekarang ini Nisa tidak yakin apa masih ada Tuhan di dunia ini atau tidak.
"Sudah jangan sedih lagi. Ambil hikmah dari semua yang terjadi," ucap bibinya kembali sebelum pergi meninggalkan Nisa yang masih saja diam.
Setelah kurang lebih 30 menit berlalu, bibinya kembali datang dengan senyum yang begitu cerah. Dia membantu Nisa untuk berdiri dan melangkah keluar.
"Kamu sudah menjadi seorang istri sekarang," bisiknya pelan.
Ia tetap diam. Mencoba terus melangkah diiringi dengan kalimat tersebut. Sampai tiba langkahnya pada ruang tamu rumah yang sudah disulap dengan begitu indah, langkah kaki Nisa terhenti. Kedua matanya langsung menangkap sepasang mata yang sudah begitu indah memberikan senyuman untuknya.
Di dalam pelukan orang itu ada seorang bayi yang berusia kurang lebih tiga tahun sedang menangis. Mencoba menggapai-gapai sang ayah yang duduk di bagian depan dekat meja persegi. Meja yang menjadi saksi perubahan statusnya.
Suara isakan langsung lolos dari bibir Nisa. Dalam hatinya rasa bersalah mulai menggerogoti begitu dalam. Mencabik dan mengoyak segalanya hingga rasa perih yang mulai terasa. Ingin ia menjerit dan menghentikan segalanya. Namun semua telah terjadi.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh banyak orang. Nyatanya rasa bersalah itu lebih mahal harganya dari pada kesalahan itu sendiri...." Begitulah kurang lebih yang ada dipikiran Nisa saat ini.
Ia tahu dirinya telah salah masuk ke dalam keluarga Aji dan Wulan. Dan entah sampai kapan ia mampu membalas rasa bersalahnya itu.
Bahkan semua orang kini menunggunya. Menunggu status barunya menjadi istri kedua dari suami sahabatnya sendiri.
***
Aji membuang pandangannya ke arah lain ketika ia melihat Nisa terisak tak jauh dari tempatnya saat ini.
Hatinya mulai bergemuruh, mengungkapkan bahwa semua ini tidaklah benar. Namun tetap saja ia tidak sanggup.
Di belakangnya suara tangis Alan terus mengiringi kesakitannya ini. Semua yang terjadi kini baru langkah awal. Masih banyak lagi yang harus ia lakukan.
Ketika ia kembali melihat Nisa, di sana sudah berdiri Wulan, istri pertamanya, yang membantu Nisa mendekatinya.
Tanpa bisa dicegah, Aji menangis. Menitikan setitik air matanya yang buru-buru ia hapus.
Mengapa ia tega menyakiti Wulan? Perempuan yang begitu ia cintai seumur hidupnya.
"Mas," panggil Wulan.
Ia menunduk sejenak, menetralkan emosinya. Lalu mencoba tersenyum pada Wulan.
Di hadapannya kini ada dua perempuan yang harus ia jaga dan ia kasihi sepanjang usianya. Mereka berdua merupakan titipan Allah yang begitu sempurna untuk melengkapi kehidupannya.
"Terima kasih Mas, tolong jaga dia juga seperti dirimu menjagaku," ucap Wulan terbata-bata.
Sebelah tangan Nisa, Wulan serahkan kepada Aji. Kemudian perempuan itu berlalu, meraih Alan ke dalam pelukannya lalu memilih keluar dari rumah.
Nisa yang sejak tadi masih menangis semakin tidak kuat menahan kesedihannya. Isakannya semakin kuat kala Aji mengusap punggungnya lembut.
"Ya Tuhan, mengapa harus suami sahabatku yang melakukan kebaikan ini?"
"Ayo, silakan ditanda tangani dulu buku nikahnya," ucap sang penghulu.
Mau tidak mau, baik Aji maupun Nisa sama-sama duduk menghadap penggulu lalu mulai menandatangi semuanya.
"Ini semua hanya untukmu, Wulan."
***
Tidak ada pesta, tidak ada bulan madu, atau tidak ada kebahagiaan. Entah mengapa syukuran pernikahan ini terlihat seperti acara pemakaman.
Semuanya hanya memakan sajian dalam keheningan. Mungkin kini mereka berbicara hanya menggunakan bisikan atau isyarat tubuh.
Pengantinnya sendiri tengah sibuk dengan pikiran masing-masing. Walau mereka duduk berdekatan, baik Aji maupun Nisa tidak ada yang berbicara. Aji sibuk dengan ponselnya yang entah mengapa terlihat lebih menarik. Sedangkan Nisa hanya sibuk meminum air mineral sejak tadi. Seakan-akan ia habis melakukan perjalanan jauh yang membuat dirinya kelelahan.
"Mas, lihat Wulan?" Tegur mamanya Aji.
Aji tersentak kaget. Dia baru ingat, tadi Wulan keluar bersama Alan di dalam pelukannya.
Sontak Aji berdiri, kemudian tanpa berbicara apapun ia berlari keluar rumah mencari sosok Wulan.
Disepanjang matanya memandang, dia tidak melihat istrinya itu. Bahkan putri kecilnya pun turut lenyap bersama Wulan.
"Ma, Wulan ke mana?" Tegur Aji kepada mertuanya yang tengah berbicara dengan bibinya Nisa.
"Tadi kesa...." tunjuknya pada taman yang tak jauh dari rumah Nisa.
Belum selesai mama Wulan berbicara, Aji sudah lebih dulu pergi.
Ternyata dari dalam rumah, Nisa keluar. Melihat Aji yang penuh khawatir mencari Wulan dan Anaknya.
Terselip rasa takut dan sedih di sana. Ia takut terjadi sesuatu dengan Wulan, namun ia juga sedih.
Sedih karena dirinya memang tidak terlihat oleh Aji.
Ketika Nisa masih diam tak bergeming, sebuah suara mengagetkannya.
Seorang lelaki berpostur tubuh mirip dengan Aji namun terlihat jauh lebih dewasa berdiri begitu dekat dengannya.
Di dalam pelukannya ada seorang anak perempuan yang usianya tidak begitu jauh dari Alan.
"Tidak perlu kecewa seperti itu, Aji adalah sosok lelaki yang baik. Jadi percayalah padanya."
Nisa tidak menjawab, ia menarik kedua alisnya tinggi tanda tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh lelaki itu.
"Sorry, kalau enggak paham. Gue, Yudha. Kakaknya Aji. Sebelumnya mungkin lo belum pernah ketemu gue. Karena gue tinggal di Bandung sama keluarga kecil gue," ucapnya sambil tersenyum ramah.
Hanya mencoba untuk membalas senyum ramah itu, Nisa kembali meirik ke arah mana tadi Aji pergi. Lalu ia mendengar suara tawa lucu dari sebelahnya.
"Kenapa?"
"Perempuan itu lucu. Paling jago kalau sembunyiin perasaan cinta. Tapi paling enggak bisa sembunyiin rasa cemburu," kekehnya.
Cemburu?
Nisa mencerna kata terakhir yang Yudha ucapkan. Kapan ia merasa cemburu?
"Yah wajar sih kalau lo cemburu. Aisyah saja pernah cemburu sama Khadijah. Jadi perempuan sebangsa lo pasti bisa ngerasain yang jauh dari sekedar cemburu."
Sebangsa?
Nisa mengulang lagi kata itu dalam pikirannya. Kemudian dia menunduk melihat pakaiannya. Memang dia tidak seindah Wulan yang sudah menutup dirinya. Dia hanya seorang Nisa. Perempuan yang masih rela membagi auratnya kepada siapa saja yang melihat.
Apalagi seluruh keluarga Aji dan Wulan yang datang, semuanya tidak ada yang sepertinya.
Lalu ia semakin memiliki perasaan bersalah yang berlebih. Tidak seharusnya ia memiliki rasa kepada Aji.
"A...."
Baru Nisa ingin bersuara kepada sosok yang masih berdiri di samping, Yudha sudah memanggil Aji yang baru saja datang bersama Wulan dan kedua anaknya.
Dari kejauhan Nisa hanya bisa memandangi kesempurnaan keluarga kecil Aji itu.
Tapi dengan bodohnya ia akan merusak kesempurnaan itu dengan tidak tahu dirinya.
Karena tidak kuat lagi melihat kebahagiaan Aji dan keluarga kecilnya, Nisa memilih menghindar. Dia masuk ke dalam di mana beberapa ibu-ibu ternyata sedang membicarakannya.
"Yah maklumlah, udah enggak perawan lagi jadinya nikah sama suami orang. Mungkin itu laki yang jebolin dia. Jadi mau enggak mau minta tanggung jawab deh," bisik salah seorang ibu-ibu ditengah perkumpulannya.
"Kok istri pertamanya mau-mau aja sih. Kalau aku mah, udah tak kasari tuh Nisa."
"Mungkin udah hamil kali. Jadinya harus tanggung jawablah," celetuk yang lainnya.
"Masa iya?"
"Ya mungkin aja. Lihat aja pakaian Nisa. Enggak mungkin kan si Aji itu cinta sama Nisa. Secara istrinya jauh lebih ketutup dan lebih cantik."
"Iya juga sih."
"Harusnya Nisa sadar. Udah lahir diluar nikah. Masih aja gangguin rumah tangga orang."
"Maklumlah bu, buah enggak akan jatuh jauh dari pohonnya."
Nisa tidak mampu berkata-kata, ia hanya diam dan ingin berlari keluar dari rumahnya itu. Tetapi sepasang tangan menutupi dirinya dengan sehelai kain putih yang tadi digunakan sebagai kerudung pernikahan.
Lalu tangan tersebut memeluknya dengan erat. Tanpa niatan membalik tubuh Nisa, sebuah bisikkan hangat menerpa area telinganya yang sensitif.
"Tidak perlu dengarkan mereka. Ini hidupmu, maka jalaninya dengan baik untuk orang-orang sekitarmu. Termasuk untukku juga."
Hanya kalimat itu saja setelahnya pelukan itu menghilang digantikan dengan rasa ingin mendapatkan lebih.
Nisa mengusap bagian dadanya. Jantungnya berdetak semakin kencang. Keringat dingin membasahi dirinya.
Ia meraih kerudung putih itu, kemudian menciumnya dalam diam.
Ternyata ini yang Tuhan mau. Dia mengirimkan lelaki itu untuk melengkapi semua kekurangannya. Bukan untuk menyerah dengan segala masa lalunya.
"Aku mencintaimu, Mas."
Tuhan, bila ini getaran cinta. Tolong bantu aku untuk memperbaiki diriku terlebih dahulu. Sembunyikan rasa ini dalam lubuk hatiku, agar ia tidak tahu bila aku telah mencintainya.
------
continue