Sudah beberapa hari ini Jessy rajin pergi ke psikiater untuk menyembuhkan traumanya setelah melihat hal yang tak seharusnya ia lihat, Syanum sebagai teman pun turut serta menemani Jessy tiap gadis itu harus melakukan terapi rutin. Hari ini keduanya memutuskan pergi ke kampus karena ada kelas yang tidak bisa ditinggal, padahal sejujurnya Jessy masih agak takut jika ke luar dari apartemen karena khawatir suatu saat nanti orang itu akan mencarinya karena Jessy mengetahui rencananya. Meskipun Jessy sama sekali tidak melihat wajah pria itu karena tertutupi masker, tetapi justru hal itulah yang membuat Jessy takut. Ia harus selalu waspada jika bertemu orang baru karena takut jika salah satu dari mereka adalah orang itu.
Niat hati ingin menimba ilmu dengan serius di sini, nyatanya tak hanya ilmu yang ia dapat. Melainkan sebuah trauma mendalam yang bahkan sampai sekarang belum sepenuhnya sembuh karena Jessy selalu saja memimpikan kejadian malam mengerikan itu, Jessy berharap ia bisa segera menghapus ingatan itu. Ingatan yang sepatutnya tak perlu diingat-ingat lagi jika ia ingin hidupnya normal kembali dan tidak dibayangi oleh rasa takut. Ketakutan akan sebuah petaka yang bernama kematian, kematian yang tragis. Memang, rahasia kematian itu hanya Allah saja yang tahu, tetapi tidak ada salahnya untuk berwaspada diri.
"Jess, jangan melamun!" Jessy tersentak ketika bahunya di tepuk.
"Eh!?"
"Psikiaternya bilang kamu enggak boleh banyak melamun, Jess. Jangan melamun," ucap Syanum mengingatkan Jessy.
"I-iya, makasih udah diingetin, Num." Jessy menghela napas, sejujurnya ia tak mau terus-menerus melamun seperti ini. Lamunan itu refleks menghampirinya, mengajaknya berkelana di alam bawah sadarnya.
Mereka berdua tengah berjalan di koridor kampus, niatnya mereka ingin pergi ke perpustakaan kampus karena ada beberapa buku yang tengah mereka cari.
BRUKKK
"M-maaf ...." Jessy hampir terjatuh kalau saja orang yang menabraknya itu tidak memegangi lengannya.
"Terima kasih," ucap Jessy. Gadis itu segera menjauhkan lengannya dari pria itu.
"Maaf tidak sengaja menabrakmu," ucap pria asing yang wajahnya tertutupi dengan topi yang ia kenakan.
"Ah iya, tidak apa-apa. Aku juga yang tidak hati-hati tadi jalannya," balas Jessy.
"Jess, kamu enggak apa-apa 'kan?" tanya Syanum.
"Aku enggak apa-apa, Num."
"Yuk kita lanjut jalannya," ajak Syanum.
"Ah iya." Jessy menatap pria asing yang menabraknya itu dan ternyata pria itu sudah tidak ada, sepertinya ketika ia menjawab pertanyaan Syanum, pria itu pergi.
Sekali lagi, Jessy melirik ke belakang sebelum berjalan bersama Syanum. Entah perasaannya atau apa, ketika tadi ia sedikit melihat bagian wajah dari pria asing itu. Jessy merasa ada aura gelap yang tidak bisa terdefinisikan, Jessy menggelengkan kepalanya. Tidak sepatutnya ia berprasangka buruk pada orang lain, apalagi orang itu sama sekali tak dikenalinya. Jessy memutuskan fokus ketika memasuki ruang perpustakaan, gadis itu mulai mencari-cari buku yang memang tengah ia butuhkan bersama dengan Syanum. Setidaknya dengan begini, pikirannya tak akan terpaut pada hal yang membuatnya trauma. Ia akan fokus membaca dan memahami materi yang tengah ia baca, pusat perhatiannya terfokus pada hal yang sangat berguna dan tidak membuatnya takut.
"Kamu udah paham, Jess?" tanya Syanum duduk di samping Jessy yang masih sibuk membaca.
"Lumayan, Nun. Kamu gimana?" tanya balik Jessy.
"Entahlah, ini aku lagi cari referensi buku yang lainnya." Syanum menunjukkan dua buku yang ia bawa.
***
Pria bertopi hitam dengan perawakan tubuh tegap itu memasuki mobilnya, dengan cepat ia meminta sopir pribadinya segera menjalankan mobilnya. Pria itu melepaskan topi hitam yang tadi ia kenakan hingga kini wajah tampan dan tegas itu terlihat dengan jelas, siapa sangka kalau wajah yang banyak dikagumi orang-orang itu ternyata menyimpan berbagai rahasia yang begitu menyeramkan. Sejenak, pria itu tersenyum sinis ketika ia sudah menemukan gadis yang ia cari. Kini ia sudah mengetahui biodata lengkap gadis itu, tidak akan lagi ia lepas gadis itu dari pengawasannya. Pria itu mengambil ponsel di dalam saku jaket hitamnya untuk menghubungi seseorang.
Napoleon Hill, nama pria itu. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu adalah seorang pengusaha di kota ini, kariernya cukup bagus. Perusahaannya besar dan bahkan ada banyak pengusaha lain yang ingin bekerjasama dengannya, siapa sangka jika ternyata pria yang sering dipanggil Leon itu memiliki sebuah rahasia. Rahasia gelap, menakutkan, mengerikan dan juga membahayakan. Ia memiliki aura psikopat, melihat orang lain menderita adalah kesenangannya. Ia tak segan-segan menghabisi nyawa orang yang tidak mau menuruti kemauannya, sama seperti kejadian malam itu. Hal yang dilakukan Leon karena pria yang sudah ia habisi nyawanya sudah membuatnya marah hingga membangkitkan sosok iblis yang haus akan darah di dalam dirinya.
"Kerja bagus, sekarang aku sudah tahu di mana dia. Tetap awasi dia!" titah Leon di seberang telepon.
Leon menutup panggilan setelah mendapatkan jawaban, ia kembali menyimpan ponselnya. Senyum sinis serta misterius terbit di ujung bibirnya, sepertinya permainan ini akan sangat menarik baginya.
"Jessyana Alexander, gadis yang berasal dari Indonesia. Hmm, cukup menarik," gumamnya yang masih mempertahankan senyum mengerikan itu.
"Kamu sudah tahu rahasiaku, tentu saja aku tidak akan melepaskanmu. Permainan ini sepertinya akan sangat seru, tidak pernah aku bermain-main dengan seorang gadis yang berasal dari negara lain." Lagi, Leon berbicara dengan dirinya sendiri.
Pria itu mengambil sebuah dokumen, membacanya dengan teliti kemudian kembali tersenyum sinis. Dokumen ini adalah data diri Jessy yang sangat lengkap, tentunya dengan uang semuanya bisa ia dapatkan. Hanya sekali jentikkan jari, maka semuanya sudah beres. Namun, kali ini Leon ingin melakukan itu dengan tangannya sendiri, ia akan lebih puas jika melakukan hal keji itu dengan tangannya sendiri. Tak pernah Leon biarkan anak buahnya menghabisi nyawa seseorang yang tak ia kehendaki, Leon ingin kedua tangannya yang dingin inilah yang bekerja secara langsung.
"Kita akan ke mana, Sir?" tanya sopirnya yang juga merupakan anak buahnya.
"Ke kantor, ada beberapa yang harus aku urus!" balas Leon.
"Baik, Sir." Anak buahnya itu menjalankan mobilnya menuju kantor sang majikan.
"Selamat datang, Sir ...." Beberapa karyawan yang berada di sana langsung menyapa Leon ketika pria itu sudah tiba bersama anak buah yang berada di belakangnya.
Seperti biasanya, Leon hanya menatap dingin orang-orang itu tanpa berniat membalas sapaan mereka. Menurutnya itu tak penting karena mereka hanya berbasa-basi, Leon meminta anak buahnya tidak mengikutinya ke lift dengan gerakan tangannya. Ia membutuhkan waktu sendiri, hingga ia tiba di ruangannya yang sangat luas. Bisnis yang tengah ia jalankan ini merupakan bisnis turun temurun, tak ada yang tahu kalau Leon yang dikagumi banyak orang karena ketampanan dan kehebatannya itu ternyata memiliki kelainan mental. Yang mereka tahu, atasan mereka hanyalah orang yang dingin dan tak berperasaan.
****
Sampai di sini apakah kalian sudah mencium aroma-aroma menyeramkan? Wkwk
Komennya ya, yang rame kalau bisa