19

1338 Words

  Brakkk Kelopak mata Abi sontak terbuka ketika ia merasakan sensasi jatuh dari mimpinya. Dengan napas tersengal-sengal, lelaki dua puluh tahun itu menegakkan punggung lantas mengamati ruangan di sekitarnya dengan was-was. Pun dengan layar monitor yang masih menunjukkan gerakan naik-turun yang beraturan. Untuk sesaat, Abi bisa menghela napas lega lantaran apa yang dialaminya barusan hanyalah mimpi. Setelah mengontrol degup jantung dan menyeka keringat dinginnya, Abi pun memfokuskan seluruh atensinya pada Reiko. Gadis itu masih diam di ranjangnya. Terbaring dengan selang infus, alat bantu pernapasan, serta beberapa kassa yang menutupi luka-luka di wajahnya. Bagaimana mungkin gadis yang dalam keadaan kritis ini akan bangun dan mencekik Abi hinga sekarat? Selain itu, Abi juga tidak ingin m

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD