Flashback ON
Lea membuka mata perlahan mencoba menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya. Cahaya matahari muncul malu-malu dari balik tirai yang sedikit tersingkap. Lea mengerang dan bangkit duduk sambil memegangi kepala. Rasanya pusing dan tenggorokannya haus.
"Kamu sudah bangun?"
Suara itu membuat kesadaran Lea kembali. Saat menoleh dia menemukan sosok Valen Ackerman yang nampak segar berdiri dan mendekat ke arah tempat tidur.
"Kamu?"
Valen terkekeh, "Iya aku. Valen. Apa kamu lupa?"
"Tentu saja tidak tapi aku tidak tahu sejak kapan aku bangun tidur langsung melihat wajahmu seperti ini?"
Valen membawa segelas jus jeruk segar dan obat pereda sakit lalu duduk di pinggir ranjang seraya tersenyum. Dia menyerahkan obat dan gelas itu ke tangan Lea.
"Aku akan anggap itu doa."
Lea memutar bola matanya sambil menghabiskan segelas jus jeruknya.
"Jadi kenapa aku bisa berada di sini?"
Valen mengangkat sebelah alisnya, "Kamu tidak ingat?"
"Aku mengamuk semalam, yeah, aku ingat dengan jelas dan tolong jangan membahas hal itu karena aku sangat-sangat malu. Lalu setelah itu?"
"Kamu minum dan mabuk lalu memintaku membawamu lari ke mana saja asal menjauh dari dua manusia b******n yang sebelumnya kamu tunjuk-tunjuk wajahnya itu. Aku harap bisa membawamu ke apartemenku tapi itu tidak memungkinkan jadi di sinilah kita."
Lea memijit pelipisnya dan keluar dari selimut setelah mendorong Valen agar berdiri menjauh. Lea langsung ngacir ke kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras. Dibasuhnya wajahnya yang kusut setelah kemarin menangis. Saat melihat rambutnya berantakan dan baju bau minuman, Lea menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan saat ketukan pelan itu terdengar.
"Apa?" kata Lea ketus saat mengeluarkan kepalanya di pintu.
"Opps, aku hanya mau memberimu ini. Jangan galak-galak cantik."
"Aku tidak butuh gombalanmu pagi-pagi. Apa ini?" katanya seraya menunjuk tangan Valen yang membawa paperback pink yang berasal dari salah satu butiknya.
"Ini baju gantimu Lea. Aku menyuruh seseorang membelinya. Pakailah."
"Jawab dulu pertanyaanku?"
Alis Valen terangkat, Lea menyimpitkan mata.
"Tidur di mana kamu semalam?"
Valen tersenyum, "Di tempat tidur—"
BUKK!!!
Hantaman pintu yang Lea tutup setelah dia mengambil paperback pink itu terdengar nyaring. Lea merosot di lantai dengan wajah frustasi. Bingung dan malu. Apa belum cukup kegaduhan yang tadi malam dia buat di tambah lagi harus berhadapan dengan Valen dalam keadaan berantakan seperti ini. Belum lagi membayangkan bahwa semalam mereka berada di— ARGHHHH!!!
Lea frustasi. Dia berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan shower setelah mengaturnya dalam level dingin. Membiarkan saja tubuhnya di guyur air sampai dia merasa bisa menenangkan debaran jantungnya sendiri.
Setengah jam kemudian, dia keluar sudah dalam keadaan segar dan menemukan Valen duduk santai menonton televisi di meja makan kecil yang ada di sudut ruangan. Ada beberapa menu sarapan yang sudah tersedia di sana.
Valen menoleh dan mengecilkan volume televisi. “Aku tidak tahu kamu biasa sarapan apa, jadi aku memilihkan beberapa menu. Ayo duduk."
"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot. Aku akan pulang sebentar lagi."
"Tidak merepotkan malah menyenangkan."
Lea hanya diam sambil menuangkan teh hijau ke dalam gelasnya dan menyesapnya perlahan. Lalu ketukan di pintu mengangetkan mereka. Valen yang tadi diam-diam mengamati Lea yang menikmati teh hijaunya dan Lea yang berusaha tenang mengabaikan ada sosok Valen yang duduk di hadapannya memperhatikan.
Valen berdiri dan membuka pintunya lalu Lea melihat seorang cowok, kalau tidak salah si Shawn, salah satu anggota TheHasky lainnya masuk dengan wajah panik. Lea jadi penasaran ingin melihat lagi si Jeremy.
"Wah gawat. Kalian membuat drama heboh."
Lea berdiri, "Ada apa memangnya?"
Shawn menoleh. Lea bisa melihat wajah tampan lelaki itu dengan jelas.
"Hai, Azalea. Aku Shawn. Senang berkenalan denganmu."
"Hai," jawab Lea seadanya.
Valen berdeham, "Ada apa?"
"Di bawah sudah banyak berkumpul para wartawan gosip. Entah siapa yang memberi tahu kalau kalian ada di sini semalam. Mereka tidak bisa menerobos ke atas karena pihak hotel melarang. Sebaiknya kalian bersiap-siap karena ini akan menjadi gosip hangat yang mengejutkan. Skandal antara Valen dengan Lea, siapa yang tidak ingin mengetahuinya?"
Lea memijit pelipisnya. Valen menghela napas, "Kalau begitu suruh seseorang menyiapkan mobil, aku akan mengantar—"
''Tidak. Aku tidak mau." Lea menolak keras dan menoleh ke Shawn, "Bisa tinggalkan kami berdua dan terima kasih sudah memberi tahu."
"Er, ya. Tentu." Shawn tersenyum lalu berbalik dan sempat menepuk pundak Valen, "Sepertinya bakalan ada yang ngamuk."
Valen hanya diam memandangi Lea bahkan saat Shawn sudah pergi meninggalkan mereka berdua. Valen bergerak perlahan mendekat tapi Lea langsung mundur menciptakan jarak di antara mereka dan raut kecewa di wajah Valen.
"Kamu tidur di sebelahku semalam?" nada suara Lea naik.
Valen menarik napas lelah. "Lea dengarkan dulu. Aku tidur di tempat tidur tapi tidak bersamamu walaupun aku ingin."
"Jadi?" Lea menuntut penjelasan. Valen menunjuk sebuah pintu coklat di sudur lain ruangan.
"Aku menyuruh Shawn memesan kamar yang saling terhubung. Aku tidur di sebelah karena takut kalau seandainya kamu menjerit atau terbangun saat malam dan aku bisa langsung masuk ke sini memastikan. Aku bisa saja tidur di sofa tapi aku tahu kalau kamu pasti akan marah karena aku melewati batas. Apa kamu pikir, aku melakukan sesuatu yang tidak-tidak?"
Lea memijit pelipisnya, "Bisa saja. Maka dari itu aku bertanya Valen Ackerman. Seharusnya kamu langsung membawaku pulang ke apartemenku atau menelpon asistenku Ricko untuk menjemputku. Bukan malah membawaku ke sini. Sekarang lihat kekacauan apa yang kita buat."
"Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya.”
Lea mendekat dan menatap Valen tajam, "Tadi malam adalah kesalahanku karena kehilangan kendali. Tentu saja aku mempermasalahkannya. Setelah mencoba lepas dari gosip yang selalu mengaitkanku dengan Lelaki b******k itu kenapa aku malah terjebak skandal lain denganmu. Apa yang akan mereka katakan di luar sana?" Lea menarik napasnya sebelum kembali berbicara panjang lebar, "Aku bisa menebaknya. Lea dan Valen akhirnya tidur bersama dan sebagainya. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan berada di situasi seperti ini denganmu."
Valen maju dan mencengkram kedua lengan Lea memaksanya menatap matanya, "Jadi semua ini salahku? Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Tentang gosip tidak enak itu aku akan melakukan apapun untuk meredakannya tapi jangan pernah berpikiran buruk tentangku karena kamu belum mengenalku. Apakah kamu tidak suka bersamaku?"
Lea terdiam melihat kemarahan Valen tepat di depan matanya meskipun cara cowok itu mengungkapkannya hanya dengan menaikkan sedikit level suaranya tapi matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Lea melepaskan cekalannya, tahu bahwa semua ini salah. Seharusnya sejak awal mereka tidak terlibat satu sama lain.
"Aku tidak suka dilibatkan dengan semua urusanmu, Valen. Aku tidak mau berkencan dengan berondong. Aku—" Lea mengerjapkan matanya saat tanpa aba-aba Valen maju dan membawanya mundur sampai punggungnya menabrak dinding di belakangnya. Kedua lengan cowok itu mengurungnya di sana.
"Apa kita tidak bisa menghilangkan permasalahan umur di sini. Apa kamu perlu dibuktikan bahwa aku bukan cowok kekanak-kanakan?"
Lea hanya diam karena sama sekali tidak menduga bahwa mereka akan berjarak sedekat ini. Valen melembutkan tatapannya dan tersenyum, "Aku suka bunga Azalea. Melambangkan kisah manis. Aku yang akan memastikan bahwa Azalea milikku hanya jatuh dalam pelukanku. Seperti bumi yang siap menerima setiap kelopak Azalea yang rapuh."
Lea sempurna terdiam di sana tenggelam dalam mata hitam itu. Valen menangkup pipi Lea dengan kedua tangannya, "Aku sudah melihat bagaimana kamu mengeluarkan semua amarahmu tadi malam. Aku senang karena itu tandanya kamu sudah siap untuk mulai melupakannya. Aku, yang menyaksikan bagaimana tangisanmu tanpa sadar membuat janji untuk diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah membuatmu merasakan perasaan terluka seperti itu lagi. Lea. Azalea."
"Dari pertama kali kita bertemu, aku sudah menyukaimu."
Lea bergeming tidak bisa berkata-kata melihat keseriusan Valen di sana.
“Please Azalea, give me a chance to be your man.”
Lea ternganga mendengar permintaan lirih Valen yang seakan diucapkan dengan seluruh hatinya. Belum sempat Lea mencernanya, perlahan Valen mendekatkan wajahnya dan Lea bisa merasakan bibir cowok itu mengecup bibirnya lembut. Lea terpana. Valen semakin merapatkan tubuh mereka mendesak Lea tersudut ke dinding dan semakin intens menciumnya. Ciuman lembut yang dalam membuat jantung Lea bergemuruh hebat di sana. Tanpa sadar, Lea menutup matanya dan memberi akses untuk Valen semakin menciuminya tanpa cela.
Lalu perselingkuhan Jordan, perkataan Mamanya dan semua usaha yang telah di lakukannya selama ini muncul satu-satu dalam pikirannya seakan menyadarkan. Lea membuka matanya lalu mendorong mundur Valen dan menamparnya.
Plak!
Lea kaget sendiri dan langsung menarik tangannya. Valen terdiam di sana memegangi pipinya. Lea melewati Valen dan memunguti barang-barangnya lalu berbalik dan melihat Valen yang masih terdiam di sana.
"Aku berterima kasih karena kamu sudah mau menemaniku tadi malam tapi aku tidak bisa melanjutkan semua ini. Aku akan anggap bahwa kita tidak pernah memiliki hubungan apapun. Aku belum siap dengan semua ini. Biarkan saja semua berita itu, aku tidak perduli."
Lea berbalik berniat langsung pergi saat tiba-tiba dia berhenti dan kembali berbalik. "Kalau lelaki dewasa saja bisa kekanak-kanakan dalam menjalin hubungan serius, apalagi kamu yang hanya anak band yang masih suka bermain cinta. Jangan membual yang tidak-tidak."
Lea menarik napasnya dan tersenyum lemah menatap punggung Valen, "Karena kamu tidak pernah merasakan menjadi rapuh hanya karena cinta, Valen Ackerman."
Lea berbalik pergi meninggalkan Valen yang terdiam membeku di tempatnya. Lea hanya ingin diyakinkan kalau dia tidak akan lagi mengalami yang namanya patah hati.
***