SCANDAL - 07

1026 Words
Flashback ON "Setelah ini kamu mau langsung pulang?" Tanya Valen. "Entahlah. Aku masih ingin di sini sebentar." "Kalau begitu aku akan tetap di sini." "Memangnya kamu tidak memiliki kegiatan lain?" "Tidak ada. TheHasky sedang santai. Kami baru akan bekerja keras setelah peluncuran album perdana minggu depan. Sederet jadwal manggung di seluruh kota sudah menanti.” “Yeah, Grup Band papan atas yang sibuk sekali.” Valen terkekeh mendengarnya, lalu mengobrol santai sampai waktu menunjukkan hampir mendekati jam sepuluh malam. Lea tidak menyangka kalau mereka bisa berbicara banyak hal. "Kamu mau pulang? Aku antar ya?" Tanya Valen. Lea terdiam sejenak lalu merasa bahwa mungkin efek wine mempengaruhi otaknya saat ini, "Tidak usah. Sepertinya kamu sudah ditunggu pacar rahasiamu." Valen terkekeh dan merapikan anak rambut Lea dengan lembut dan tatapan yang bisa membuat jantung Lea rasanya loncat keluar. Didengarnya Valen berdecak, "Pacar rahasia? Mungkin orang-orang di luaran sana akan menganggap kamulah pacar rahasiaku karena kita bertemu di tempat gelap seperti ini." "Yeah, mereka suka sekali mengambil kesimpulan seenaknya." "Aku tidak keberatan." "Tapi aku keberatan." Valen tersenyum samar, Lea berdiri dan diikuti oleh Valen yang melepas jaket hitamnya dan memasangkannya ke tubuh Lea. "Anginnya kencang. Aku yakin kamu tadi tidak punya rencana berada di tempat ini lebih lama kan?" "Kamu datang tiba-tiba dan memberiku makan." Valen tertawa seraya mengikuti langkah kaki Lea keluar dari bar rooftop masuk ke dalam lift yang kosong. Valen memakai topinya lalu berbalik ke Lea yang berdiri diam di sebelahnya. "Lea, diam dan jangan bergerak." Lea nampak heran, "For what?!" Valen berdiri di depannya menghalangi pandangan. Digulungnya rambut panjang Lea ke atas dengan cekatan lalu memasangkan topinya dan menutupi sebagian wajahnya dengan sempurna dan memakaikan tudung jaketnya. "Aku tidak bisa lihat jalan dong!" Lea yang sudah berdebar sejak tadi menggerutu. Valen tertawa dan kembali berdiri di samping Lea memakai masker hitam yang selalu dia bawa. "Itulah gunanya aku di sini Azalea. Untuk menunjukkanmu jalan. Jadi ikuti saja aku." Lea terkejut saat tangan Valen menggenggam tangannya erat. Lift berhenti di lantai enam dan masuklah sepasang kekasih yang sangat mesra. Lea tanpa sadar menggenggam jemari Valen lebih erat dan itu sangat disadari oleh Valen. Kedua orang itu masuk, sempat menatap aneh mereka sebelum berbalik dan berdiri di depan mereka. "Aku masih kesal karena kamu kemarin ketemu sama Azalea tapi tidak memberitahuku." "Memangnya penting?" "Penting dong. Aku tidak suka!" "Aku juga tidak sengaja ketemu sama dia. Pokoknya malam ini kamu jangan cemberutin aku terus." Pasangan itu lalu saling merapat dengan mesra tidak merasa risih sedikitpun sampai Lift berhenti di lantai di mana club berada dan pasangan itu keluar. Lea di luar kesadarannya langsung menyeret Valen Ackerman keluar mengikuti pasangan itu masuk ke dalam club dengan air mata yang mati-matian dia tahan. Valen hanya bisa mengikuti dan memeluk pinggang Lea menguatkan.   Flahback Off *** “Apa itu berondongmu,Lea?" Lea berjengit kaget ketika menyadari kalau abangnya, Erza, sudah duduk di sebelahnya di sofa ruang keluarga terlihat memperhatikan ekspresi Lea dengan seksama. Sejak setengah jam yang lalu, Lea hanya duduk diam di depan televisi yang saat ini tengah menampilkan siaran ulang konser mini TheHasky sebelum mereka rehat untuk pembuatan album baru. "Abang bikin kaget aja tiba-tiba muncul." Erza menghela napas, "Dari tadi Abang sudah manggil tapi kamu seperti berada di alam lain. Kamu ngelamunin apa? Valen Ackerman?" Lea mendengus dan menoleh sebal, "Lea hanya lagi fokus nonton aja." "Ya terserah lah kalau kamu belum mau mengakui juga."  Lea memperhatikan seksama keempat personil yang berdiri di bagian depan panggung dekat penonton dengan pose senyuman lebar dan lambaian tangan menutup manis konser mini mereka di Semarang. Valen Ackerman berdiri di tengah-tengah temannya dengan pose menawan. Tangannya memegang kedua stik drum seakan tidak terpisahkan. Auranya misterius dan mempesona.  Apa yang dikatakan oleh Ricko benar, kemampuan cowok itu melakukan aksinya menabuh drum di atas panggung membuat siapapun yang melihat terkesima. Begitu energik, tampan dan totalitas. "Yang pakai baju hitam itu Valen kan? Apa yang salah sebenarnya sama cowok itu?" Lea menghela napas, tidak lagi bisa menghindar dari keingintahuan abangnya. Setelah Erza mematikan televisi, dia sepenuhnya menghadap ke Lea dengan tatapan menuntut penjelasan. "Tidak ada yang salah sama dia. Lea yang tidak mau melibatkan diri semakin dekat." “Ini tidak seperti kamu yang biasanya. Bisa ceritakan apa yang terjadi malam itu?" Lea mengangguk lalu menceritakan kejadian malam itu. "Jadi, karena lelaki b******k itu dan selingkuhannya, kamu kehilangan kendali dan mengamuk di sana?" "Iya. Aku menyiram muka Alexandra dengan minuman keras langsung dari botolnya saat dia melihatku dan menjelek-jelekkan Valen. Jordan hanya diam saja tidak membela kekasihnya saat aku melakukannya. Seperti kaget. Aku tahu itu salah Bang, hanya saja—" Lea memijit pelipisnya, "Aku tidak suka bagaimana cara Alexandra menjelekkanku dan juga Valen. Maafkan aku." Erza melihat wajah adiknya nampak sedih. "Tidak apa-apa sayang. Seharusnya kamu melakukan itu dari dulu. Aku yakin Jordan pasti kaget melihatmu kehilangan kendali seperti itu setelah beberapa tahun kalian putus. Apa kamu lega setelah melakukannya?" Lea menatap Erza dengan senyuman tipis di wajahnya, "Ya, aku lega dan tidak menyesal melakukannya. Yang kusesali adalah setelah kejadian itu aku mengajak Valen minum. Cowok itu hanya duduk menemaniku, mendengar semua rancauanku, tidak peduli aku sudah mulai gila atau memang sudah tidak waras dan menggendongku kembali ke hotel saat mabuk berat. Samar-samar aku masih mengingatnya. Aku malu." Lea memeluk kedua kakinya. Erza berdiri dan mencium puncak kepala Lea, "Ya sudah kalau begitu tapi abang ingatkan kalau kamu tidak boleh menghindar darinya. Setidaknya dia sudah menemanimu dan menolongmu. Beri dia kesempatan. Dari tampilannya saja Abang bisa melihat kalau dia lelaki yang tidak suka tebar pesona selain senyuman ramah dan lambaian tangan sebagai keharusan seorang anak band untuk fansnya. Mungkin dia memang seserius itu sama kamu." Lea hanya diam lalu ponsel yang tergeletak di atas meja berbunyi. Erza kemudian meninggalkan Lea sendirian untuk menjawab ponselnya. Nomor tidak di kenal. Kerutan samar nampak di dahi Lea. Biasanya dia tidak pernah mau mengangkat panggilan itu tapi entah kenapa nomor ini seperti menariknya untuk mencari tahu. "Halo?" katanya dengan hati-hati. "Gosip tentangmu begitu heboh, heh? Aku tidak tahu apa kelebihan cowok band itu dibandingkan aku tapi kamu harus melihat semua hal yang bisa aku lakukan untuk mencapai keinginanku.” DEGG!!! Keenan Smith. “Kamu tidak bisa menolakku, Azalea." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD