"Jadi yang mana nih, Fi?" Tentu saja ia akan menjadi bahan olok-olokan. Marena si Adhi dengan beraninya mencium pipinya di depan umum. Bilang cinta pula. Hahaha. Senang? Ya jujur sih memang iya. Tapi ia gengsi dong. Masa belum apa-apa sudah luluh? Walau ia tak bisa menghilangkan senyumannya di sepanjang jalan menuju rumah. Ya saking girangnya lah. Ia lebih suka Adhi yang lebih terbuka. Ya dibandingkan terus menyimpan perasaan. Namun kali ini, ia gengsi dong. Gengsinya sangat tinggi pula. Jadi ia tak akan mau luluh begitu saja. Enak saja. Hatinya sudah dipermainkan seperti itu ya, ia tak bisa lah. Ia akan atur siasat biar tak jatuh ke pelukan Adhi. Walau sepertinya sih terlambat yah. Wong sudah jatuh kok. Hahahaha. Ia pulang ke rumah. Tadi ia sudah membicarakan dengan atasannya. Ya soal

