bc

Hidden Love

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
forbidden
family
fated
forced
curse
arrogant
drama
sweet
bisexual
musclebear
like
intro-logo
Blurb

Kisah tentang cinta yang tumbuh diam-diam di tempat yang salah, dan kepercayaan yang perlahan runtuh dari dalam rumah sendiri.Kirana membuka pintu untuk sahabat lamanya yang terluka, tanpa tahu bahwa ia juga membuka jalan bagi hancurnya pernikahan. Anya dan Naren tidak pernah berniat saling jatuh hati, tapi rasa yang dibiarkan nyaman akhirnya berubah menjadi luka.

chap-preview
Free preview
BAB 1
Anya sampai jam berapa, Mi?" tanya Naren kepada Kirana. Kirana yang sedang menyuapi anak mereka pun menoleh ke arah suaminya. "Gak tahu, Pi. Katanya sih nanti kalau udah sampai di bandara, dia telepon." "Yaudah, kita berangkat dulu ya." Naren berkata sambil mengecup kening istrinya. "Rena, makannya udah selesai kan? Yuk, kita berangkat." Rena, anak kedua mereka, tahun ini akan memasuki kelas 3 SD. Anak pertama mereka bernama Rendi, namun hanya bertahan beberapa saat setelah dilahirkan karena mengalami kelainan pada jantungnya. Hal itu membuat Kirana sempat terpuruk. Namun, kehadiran Rena membantunya bangkit dari kesedihan dan perlahan mulai menjalani aktivitas seperti biasa. "Yaudah, yuk. Mami anterin sampai depan!" Naren dan Rena pun masuk ke dalam mobil. "Dadah ke Mami," ujar Naren. "Dadah, Mami!" seru Rena dengan suara cemprengnya. "Dadah, Sayang," ucap Kirana sambil melayangkan kecupan. Kirana kembali masuk ke dalam rumah dan mulai membereskan sisa sarapan pagi tadi. Dengan wajah tersenyum, ia merasa bahagia dengan kehidupan yang dijalaninya sekarang. Walaupun sempat terpukul oleh kematian anak pertamanya, ia merasa memiliki Naren dan Rena adalah anugerah terbaik untuknya. Ia menyalakan radio kecil di dapur, membiarkan alunan musik lawas mengisi kesunyian pagi yang perlahan menghangat. Beberapa waktu kemudian... "Akhirnya!" ucap Anya sambil menghirup udara Jakarta. Sahabat Kirana sejak SMP hingga SMA, mereka sudah melalui suka dan duka bersama. Namun setelah lulus SMA, Anya memutuskan ikut orang tuanya pindah ke Jakarta, membuat hubungan mereka hanya sebatas telepon untuk sekadar menanyakan kabar. Tepat minggu lalu, saat Kirana sedang menyiapkan makan malam, tiba-tiba Rena menghampirinya sambil membawa ponsel. Di layarnya tertulis bahwa Anya sedang menelepon. Kirana pun langsung mengangkatnya, dan betapa terkejutnya ia saat mendengar suara Anya yang langsung menangis tersedu-sedu. Anya dikhianati oleh calon suaminya, Bian—yang juga dikenal Kirana karena sejak kelas 2 SMA Anya dan Bian berpacaran. Setelah mendengar kisah pengkhianatan Bian, Kirana menyarankan Anya untuk berlibur sejenak ke Bandung, dan Anya pun menyetujuinya. Kini, Anya kembali ke kota kelahirannya setelah sekian lama. Terakhir kali ia ke sini adalah saat menghadiri pernikahan Kirana dan Naren, 14 tahun yang lalu. "Duh, gue belum ngabarin Kirana lagi," gumamnya sambil mengutak-atik ponselnya. Suasana bandara pagi itu cukup ramai. Trolley berlalu-lalang, suara pengumuman terdengar dari pengeras suara, sementara Anya berusaha fokus menavigasi langkahnya. Tiba-tiba— Bruk! "HP gue!" seru Anya histeris, melihat ponselnya terjatuh dalam posisi terbalik. Saat ia membaliknya, tampak layar ponsel itu penuh retakan dan tak bisa menyala. Anya langsung mendongak dan melihat pria yang ia tabrak—atau lebih tepatnya, yang ia tabrak. Pria itu hanya mengangkat satu alisnya dengan wajah datar ketika Anya menunjuk wajahnya dan berkata dengan kesal, "Lo ganti HP gue!" Pria itu tersenyum remeh. "Salah lo sendiri. Jalan tuh pakai mata, bukan pakai HP," katanya dengan tatapan tajam. Anya terdiam, tak bisa berkata-kata saat tatapan itu menguncinya. Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya sambil menyenggol bahu Anya. Ponselnya retak, emosinya naik, dan dia belum sempat makan sejak pagi. Hari pertama di Jakarta yang tidak terlalu menyenangkan, pikirnya dalam hati. Anya hanya bisa menggerutu dalam hati. Sayup-sayup, terdengar suara memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Kirana berjalan ke arahnya sambil melambaikan tangan. Melihat Kirana, Anya langsung berlari dan memeluk sahabatnya itu. "Gue kangen banget!" seru Anya. "Huhuhu, gue juga," ucap Kirana sambil mengusap air matanya yang jatuh karena terharu. "Lo bener-bener berubah, Nya. Gue sampai pangling kalau gak ngenalin postur tubuh lo!" Bagaimana tidak, Anya yang dulu dikenal berpakaian kalem dan sopan, kini tampil dengan sepatu boots tinggi dan dress maroon sepaha. "Hehehe, you know lah. Kalau gak gini, gak dapet temen gue! Tapi lo oke kan?" "Ya, asal lo nyaman, gue sih oke aja, Nya!" sahut Kirana. "BTW, kok lo gak ngabarin gue sih kalau udah nyampe?" tanya Kirana sambil mereka berjalan menuju mobil. "Nah itu dia! HP gue mati gara-gara ditabrak orang tadi!" seru Anya kesal. "Lah, terus orangnya gak tanggung jawab?" tanya Kirana bingung. "Dia malah balik nyalahin gue! Katanya gue jalan gak pake mata!" sahut Anya dengan sewot. "Duh, yaudah deh. Nanti kita benerin aja. Naren punya kenalan toko servis HP, kok." "Yaudah deh, yuk. Kita mau pulang atau lo mau mampir ke mana dulu?" tanya Kirana. "Pulang langsung aja deh. Gue capek banget," jawab Anya sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Langit Jakarta mulai mendung, dan angin sore menyusup lewat kaca jendela mobil yang sedikit terbuka. Anya hanya diam, menatap keluar, memikirkan semua yang telah ia tinggalkan—dan yang akan ia mulai kembali. Kirana pun melajukan mobilnya menuju rumah. To be continued...

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

His Unavailable Wife: Sir, You've Lost Me

read
10.7K
bc

The Lone Alpha

read
125.6K
bc

Claimed by my Brother’s Best Friends

read
821.6K
bc

The Luna He Rejected (Extended version)

read
616.2K
bc

Secretly Rejected My Alpha Mate

read
36.1K
bc

Bad Boy Biker

read
8.8K
bc

The CEO'S Plaything

read
19.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook