Kalau ada yang bilang bangun pagi di Istanbul itu puitis karena suara azan yang bersahutan dan burung camar yang terbang di atas Bosphorus, sini sini, biar aku kasih tahu kenyataannya.
Kenyataannya adalah: aku bangun dengan nyawa yang masih tertinggal di transit Dubai, rambut yang menyerupai sarang burung karena lupa dikuncir, dan suara gedoran pintu yang saking kerasnya sampai aku mengira ada razia Satpol PP versi Turki.
Gedor! Gedor! Gedor!
"Amara! Günaydın! Kamu masih hidup?"
Itu suara Kerem. Si Kulkas Dua Pintu yang kemarin menolongku. Ternyata, selain dingin, dia juga tidak punya tata krama soal jam bangun manusia normal. Aku melirik jam di ponsel. Jam delapan pagi. Di Jakarta, ini jamnya aku baru mau tarik selimut setelah mematikan alarm kelima.
"Iya, iya! Wait! Jangan didobrak!" teriakku sambil kelabakan mencari hijab instan yang entah terselip di mana.
Aku membuka pintu dengan muka bantal yang hakiki. Kerem berdiri di sana, sudah rapi jali. Pakai kemeja biru navy yang lengannya digulung sampai siku, jam tangan mengkilap, dan bau parfum yang harganya pasti lebih mahal daripada biaya kosku setahun di Depok.
Dia menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangannya berhenti di kaus oblongku yang gambarnya sudah retak-retak bertuliskan 'I Love Ancol'.
"Kamu... baru bangun?" tanyanya dengan alis terangkat sebelah.
"Menurut situ? Saya baru merem dua jam, Mister. Jetlag itu nyata, bukan mitos," jawabku sambil menguap lebar tanpa ditutup. Biarin aja dia ilfil, biar nggak usah repot-repot naksir aku.
"Cepat mandi. Saya tunggu di bawah sepuluh menit. Kita cari sarapan, lalu urus dokumenmu. Kalau lewat sepuluh menit, saya tinggal," ucapnya ketus sambil balik badan.
"Eh, sepuluh menit mana cukup buat dandan?!"
"Satu menit berkurang. Sekarang sembilan menit."
Sableng!
Sepuluh menit kemudian (oke, lewat lima menit karena aku harus perang sama sisa-sisa eyeliner yang luntur), aku sudah duduk di sebuah kafe kecil di pinggir jalanan berbatu Galata. Kerem memesan sesuatu yang disebutnya Serpme Kahvaltı.
Aku pikir sarapan itu cuma roti sama selai. Ternyata, pelayannya datang membawa piring-piring kecil yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah mantan pacarku. Ada keju lima jenis, zaitun yang rasanya pahit-pahit aneh, madu, krim, telur mata sapi pakai sosis pedas (sujuk), sampai berbagai macam roti.
"Ini buat kita berdua atau buat se-kecamatan?" bisikku ngeri.
"Ini sarapan normal orang Turki, Amara. Makan yang banyak, supaya otakmu jalan dan nggak naruh roda koper di tangan saya lagi," sindirnya telak.
Aku baru mau menyuap roti pakai madu, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu paruh baya dengan gaya sosialita kelas atas—lengkap dengan kacamata hitam besar dan syal sutra—menghampiri meja kami.
"Kerem? Oğlum! (anakku!)"
Kerem langsung berdiri dan mencium tangan wanita itu, lalu menempelkan pipi kanan-kirinya. Aku yang lagi asyik mengunyah roti isi keju langsung tersedak. Uhuk! Uhuk!
"Mama? Kenapa Mama di sini?" wajah Kerem yang tadinya kaku sekarang jadi pucat. Wah, seru nih. Ternyata si kulkas takut sama emaknya.
Wanita itu—yang kupastikan adalah ibunya Kerem—menatapku dengan tatapan menyelidik yang bisa menembus pori-pori kulit. Dia bicara dalam bahasa Turki yang sangat cepat. Kerem menjawab dengan nada defensif. Aku cuma bisa cengar-cengir sambil memegang garpu, mencoba terlihat tidak berdosa meskipun penampilanku saat ini sangat jauh dari kriteria menantu idaman Turki.
"Siapa dia, Kerem? Kenapa kamu sarapan sama gadis yang pakai kaus 'Ancol'?" (Ya, aku berasumsi itu yang dia tanyakan).
Kerem menghela napas, lalu menoleh padaku. "Amara, ini Ibu saya, Nyonya Leyla. Mama, ini Amara. Dia... penyewa baru di flat Galata."
Nyonya Leyla melepas kacamatanya. Matanya persis Kerem, tajam. "Penyewa baru? Atau pacar rahasiamu yang kamu sembunyikan supaya nggak Mama jodohkan sama anak teman Mama?"
"Mama, tolonglah..."
Tiba-tiba, Nyonya Leyla duduk di sebelahku. Dia memegang tanganku.
"Kamu dari mana? Filipina? Thailand?"
"Indonesia, Ma'am. Endonezya," jawabku sambil berusaha sopan.
"Ah! Indonesia! Muslim?" tanya beliau lagi. Aku mengangguk mantap.
Seketika, aura Nyonya Leyla berubah. Dari yang tadinya kayak antagonis di sinetron, jadi kayak ibu-ibu pengajian yang baru dapat doorprize. Dia memelukku erat sampai aku sesak napas.
"Alhamdulillah! Kerem, dia manis sekali! Kenapa nggak bilang kalau seleramu sudah membaik?"
"Ma, dia cuma penyewa!" Kerem menggeram, tapi ibunya nggak peduli.
***
Setelah drama sarapan yang bikin lambungku mendadak mules karena grogi, Kerem membawaku ke Grand Bazaar. Katanya mau beli kartu SIM, tapi mataku malah jelalatan melihat tumpukan baklava dan rempah-rempah yang warnanya estetik banget.
"Amara, jangan jauh-jauh. Di sini ramai, kamu bisa hilang," peringat Kerem berkali-kali.
"Iya, Mister Bawel. Saya bukan anak lima tahun."
Dua menit kemudian: Aku hilang.
Gara-garanya cuma satu: Ada abang-abang penjual es krim Turki yang mainin atraksi pakai tongkat itu. Aku penasaran, aku mendekat, dan sebelum aku sadar, aku sudah dikerjai selama lima menit. Es krimnya diputar-putar, ditarik-ulur, persis kayak harapan yang dikasih gebetan tapi nggak pernah ditembak.
Saat aku akhirnya berhasil menangkap es krim itu dengan wajah penuh kemenangan, aku baru sadar... Kerem nggak ada.
"Mister Kulkas? Kerem?" panggilku.
Sekelilingku cuma ada lautan turis dan bapak-bapak penjual karpet yang teriak-teriak "Cheap price, my friend!".
Aku mulai panik. Sial, Istanbul itu gede banget. Aku nggak tahu jalan pulang, nggak punya pulsa, dan satu-satunya senjataku cuma es krim yang mulai meleleh di tangan.
Aku duduk di emperan toko keramik dengan muka melas. "Nasib, nasib. Baru hari kedua sudah jadi gelandangan di negeri orang," gumamku dalam bahasa Indonesia. "Mana es krimnya keras banget lagi, kayak hati Kerem."
Tiba-tiba, bayangan tinggi menutupi sinar matahari yang masuk ke lorong pasar. Aku mendongak.
Kerem berdiri di sana. Napasnya terengah-engah, rambutnya yang tadi rapi sekarang berantakan. Dia tampak marah besar, tapi di saat yang sama, ada kilatan lega di matanya.
"Kamu... benar-benar..." Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Dia cuma memejamkan mata sambil memegang keningnya.
"Maaf, tadi es krimnya seru banget..." kataku pelan sambil menyodorkan sisa es krimku. "Mau? Belum habis kok."
Kerem menatap es krim itu, lalu menatapku. Bukannya marah, dia malah tiba-tiba tertawa. Tawa yang beneran, bukan cuma dengusan. "Kamu tahu? Saya sudah keliling tiga blok mencari perempuan Asia yang mungkin menangis sesenggukan, tapi saya malah menemukanmu lagi makan es krim dengan tenang di sini."
Dia menarik tanganku. Bukan ditarik kasar, tapi digandeng. "Mulai sekarang, jangan lepas dari saya. Saya nggak mau Mama saya serangan jantung kalau tahu 'calon menantunya' hilang di pasar."
"Tunggu, tadi apa? Calon menantu?" aku melongo.
Kerem berdeham, wajahnya mendadak balik jadi kulkas lagi. "Itu cuma istilah supaya kamu nggak makin malu-maluin. Ayo jalan!"
Aku mengekor di belakangnya, menatap punggung lebarnya, dan diam-diam tersenyum. Oke, mungkin hari ini roda koperku belum bener, tapi kayaknya roda takdirku mulai berputar ke arah yang lumayan seru.