Bab 3 - Diplomasi Seblak dan Dapur yang Membara

980 Words
Ternyata, menjadi tetangga sekaligus "penyewa kesayangan" ibunya Kerem itu ada harganya. Harganya adalah: aku harus siap sedia jadi objek eksperimen perjodohan terselubung. Pagi ini, sebuah paket mendarat di depan pintuku. Isinya bukan bom, tapi bahan makanan organik lengkap dengan catatan kecil dalam bahasa Inggris yang rapi: “Amara, tunjukkan pada Kerem kalau wanita Indonesia itu jago masak. Pria Turki ditaklukkan lewat perutnya. - Nyonya Leyla.” Aku menatap tumpukan sayuran itu dengan ngeri. Nyonya Leyla salah alamat. Aku ini generasi pesan-antar. Prestasi memasak tertinggiku adalah merebus mie instan dua bungkus sekaligus tanpa membuat mienya lembek. Tapi, melihat Kerem yang setiap hari cuma makan roti keras dan zaitun, jiwa kemanusiaanku (dan sedikit rasa pamerku) terpanggil. "Oke, Ra. Kita bikin sesuatu yang bikin dia sujud syukur sudah kenal orang Indonesia," tekadku. Pilihanku jatuh pada: Seblak. Kenapa seblak? Karena aku bawa kerupuk mentah dan bumbu kencur bubuk dari Jakarta. Lagipula, Kerem butuh sesuatu yang bisa membakar emosinya yang sedingin kutub utara itu. Eksperimen Kimia di Dapur Galata Masalah pertama: Dapur di flat ini canggih banget. Saking canggihnya, aku nggak tahu cara menyalakan kompor induksinya. Aku pencet tombol gambar kunci, malah keluar bunyi alarm. Aku pencet tombol lingkaran, eh, malah lampunya kedap-kedip kayak lampu disko. "Kenapa kamu berisik sekali?" Suara itu. Kerem. Dia muncul di ambang pintu penghubung (ternyata ada pintu rahasia di balik lemari yang menghubungkan flatku dengan koridor kantor pribadinya—oke, ini makin mirip drakor). "Ini... kompornya galak, Mister. Nggak mau nyala," jawabku sambil mengelap keringat di dahi pakai serbet. Kerem berjalan mendekat. Dia berdiri di belakangku, aroma kopinya langsung menyerbu indra penciumanku. Dia mengulurkan tangan, menekan satu tombol kecil dengan santai, dan—wush—api biru (eh, maksudnya induksinya panas) menyala. "Terima kasih," gumamku malu. "Kamu mau masak apa? Baunya... aneh. Seperti obat nyamuk bakar," dia mengendus udara, menunjuk kencur bubuk yang sudah kutuangkan ke penggorengan. "Ini namanya kencur, Kerem. The secret soul of Indonesian street food. Duduk aja sana, sebentar lagi kamu bakal merasakan surga dunia." Dia mengangkat bahu, tapi bukannya pergi, dia malah duduk di meja pantry, memperhatikanku. Ini tekanan batin tingkat tinggi. Aku mulai memasukkan kerupuk yang sudah direndam, telur, sosis, dan cabai bubuk yang takarannya sengaja kubanyakin. Hatsyi! Hatsyi! Uap cabai mulai memenuhi ruangan. Kerem mulai bersin-bersin. "Amara! Kamu mau masak atau mau bikin gas air mata?!" serunya sambil menutup hidung dengan lengan kemejanya. "Sabar! Ini namanya proses caramelizing the spices!" sahutku sambil terbatuk-batuk. Mataku mulai berair. Sial, seblak ini lebih berkuasa daripada gas air mata demo di Monas. Entah karena aku terlalu semangat atau memang dasarnya aku amatir, aku lupa kalau kerupuk yang kurendam belum benar-benar empuk. Aku malah membesarkan suhu kompor sampai maksimal. Pletok! Pletok! "Amara, itu bunyinya—" Belum sempat Kerem menyelesaikan kalimatnya, satu potongan sosis yang terkena minyak panas meloncat keluar dari wajan, mendarat tepat di atas kemeja putih mahal yang dia pakai. Dan tidak berhenti di situ, kuah seblak merah membara itu mulai meletup-letup ke segala arah seperti lava Gunung Merapi. "Mati aku!" aku refleks mengambil serbet, mencoba mengelap sosis di kemeja Kerem. Tapi karena aku panik, aku malah tidak sengaja menumpahkan segelas air ke arah wajan yang panas. Hukum fisika berlaku: minyak panas ketemu air sama dengan ledakan kecil. BUM! Asap hitam mengepul. Alarm kebakaran gedung mulai berbunyi nyaring. Tiiiiiiiit! Aku mematung. Kerem mematung. Wajahnya yang tampan sekarang tercoreng noda merah cabai. Kemeja putihnya yang mungkin harganya setara biaya hidupku dua bulan di Istanbul sekarang punya motif abstrak warna oranye. "Amara..." suaranya rendah, bergetar. Bukan getar romantis, tapi getar kemarahan yang tertahan. "Maaf... saya cuma mau bikin seblak..." aku hampir menangis. Asli, aku malu banget. Aku sudah membayangkan Kerem bakal mengusirku detik ini juga. Tiba-tiba, sprinkler air di langit-langit menyala. Byuuurrr! Dalam sekejap, kami berdua basah kuyup di tengah dapur yang berantakan. Aku berdiri mematung di bawah kucuran air, sementara Kerem hanya bisa mendongak ke atas, pasrah. *** Kami berakhir di sofa ruang tamunya, masing-masing dibungkus handuk tebal. Kerem sudah ganti baju pakai kaus santai, sementara aku pakai mukena karena cuma itu baju panjang yang kering dan gampang diraih. "Jadi... itu tadi makanan surga dunia?" tanya Kerem sambil menyesap teh Turki (cay) yang dia buat sendiri. Dia sudah tenang, meski sesekali masih batuk karena sisa aroma cabai. "Jangan menghina seblak, Kerem. Itu salah teknis aja tadi. Di Jakarta, orang antre berjam-jam demi itu," belaku dengan suara parau. "Lain kali, kalau mau bikin 'gas air mata', kasih tahu saya. Biar saya siapkan masker oksigen," dia menyindir, tapi ada senyum tipis di sudut bibirnya. Dia menatapku lama. Aku yang pakai mukena putih mungkin terlihat seperti hantu lokal yang nyasar ke Turki, tapi dia malah nggak berhenti melihat ke arahku. "Kamu beda ya sama perempuan yang Mama kenalkan ke saya selama ini," ucapnya tiba-tiba. "Beda gimana? Lebih berantakan? Lebih bikin repot?" "Lebih... hidup," dia meletakkan gelas tehnya. "Mereka semua datang pakai gaun mahal, bicara soal koleksi tas, dan pura-pura suka opera. Kamu datang ke sini dengan koper rusak, hampir membakar dapur saya, dan memakai... apa ini namanya?" dia menunjuk mukenaku. "Ini alat shalat, Kerem. Mukena." "Nah, itu. Kamu apa adanya. Meskipun apa adanya itu agak berbahaya buat keselamatan properti saya." Aku tertawa. Kecanggungan yang tadi sempat memuncak gara-gara insiden dapur perlahan mencair. Di luar, salju pertama mulai turun di Istanbul. Suasananya jadi tenang, hangat, dan entah kenapa... terasa benar. "Kerem," panggilku. "Ya?" "Makasih ya. Udah nggak jadi deportasi aku setelah hampir bikin rumahmu kebakaran." Dia tidak menjawab, tapi dia malah mengulurkan tangannya, membenarkan posisi mukenaku yang miring. Sentuhan jarinya di keningku terasa hangat. "Istirahatlah, Amara. Besok kita beli makanan yang sudah matang saja. Saya belum siap mati muda gara-gara seblak." Aku masuk ke kamarku dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, aku merasa gagal jadi calon menantu idaman Nyonya Leyla. Di sisi lain, aku sadar satu hal: Kerem si Kulkas Dua Pintu ternyata punya fitur defrost. Dia mulai mencair. Dan itu jauh lebih manis daripada baklava paling enak di Grand Bazaar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD