Ada satu hukum tidak tertulis kalau kamu tinggal di Istanbul: Jangan pernah merasa sudah jago navigasi cuma karena kamu sudah berhasil pulang dari minimarket tanpa nyasar. Istanbul itu kayak labirin yang dirancang oleh orang yang lagi patah hati; berliku, penuh tanjakan, dan seringkali bikin kamu berakhir di tempat yang sama sekali nggak kamu tuju.
Pagi ini, aku memutuskan untuk membalas budi pada Kerem. Setelah insiden "Seblak Maut" kemarin, aku harus membuktikan kalau Amara dari Jakarta ini bukan cuma beban hidup.
"Kerem, hari ini saya yang traktir. Saya sudah riset di t****k, ada tempat rahasia di sisi Asia yang pemandangannya paling juara buat lihat sunset. Kamu tinggal duduk manis, saya yang jadi tour guide-nya," kataku dengan percaya diri level dewa saat kami bertemu di depan lift.
Kerem menatapku sangsi. Dia sedang memakai kacamata hitam dan memegang kunci mobilnya. "Kamu? Jadi tour guide? Amara, terakhir kali kamu dilepas sendirian, kamu hampir jadi maskot toko es krim karena nggak tahu jalan pulang."
"Itu kan kemarin! Sekarang saya sudah punya Google Maps dan tekad yang kuat!" aku menepuk dadaku. "Kita naik feri ke Uskudar. Nggak usah bawa mobil. Lebih otentik!"
Kerem menghela napas panjang—tipe helaan napas yang biasanya keluar dari mulut seorang ayah yang terpaksa menuruti permintaan anaknya yang mau beli mainan mahal. "Oke. Tapi kalau kita hilang, saya nggak akan tanggung jawab kalau kamu harus jalan kaki menyeberangi jembatan Bosphorus."
Drama dimulai di halte trem. Aku dengan gaya sok asik mencoba mengisi saldo Istanbulkart milikku di mesin otomatis. Masalahnya, mesin itu cuma bicara bahasa Turki, dan aku—dengan kecerdasan yang terbatas—malah menekan tombol yang salah berkali-kali.
"Kenapa kartunya ditendang keluar terus?" keluhku sambil memandangi kartu yang jatuh ke lantai.
Kerem berdiri di belakangku dengan tangan bersedekap. "Mungkin karena kamu mencoba memasukkan uang kertas yang sudah lecek kayak kerupuk seblak kemarin."
Dia maju, mengambil alih mesin, dan dalam tiga detik—tiga detik!—semuanya beres. Aku cuma bisa nyengir kuda.
"Pemanasan, Kerem. Itu tadi cuma simulasi kalau mesinnya rusak."
Kami naik feri dari Eminonu menuju Uskudar. Angin Selat Bosphorus menerpa wajahku, dingin tapi menyegarkan. Aku berdiri di pinggir kapal, memegang segelas teh panas dan sepotong simit (roti wijen khas Turki) yang kubeli di dermaga.
"Lihat itu, Kerem! Menara Maiden (Kiz Kulesi)!" seru ku sambil menunjuk menara di tengah laut. "Indah banget, ya? Kayak di film-film."
Kerem berdiri di sampingku. Dia tidak melihat ke arah menara, tapi malah melihat ke arahku. "Iya, indah."
Aku menoleh, mata kami bertemu. Jantungku mendadak melakukan gerakan akrobatik. Duh, Ra, fokus! Jangan baper cuma karena ditatap cowok Turki di atas kapal. Ingat, misi hari ini adalah jadi pemandu wisata handal!
"Ehem, oke! Setelah sampai di Uskudar, kita harus naik bus menuju sebuah bukit namanya Camlica Hill. Katanya itu titik tertinggi di Istanbul," kataku sambil sibuk scroll layar ponsel.
Seharusnya, kami naik bus nomor 15F. Tapi, karena aku terlalu asyik melihat bapak-bapak yang mancing di pinggir laut, aku malah menarik tangan Kerem masuk ke bus nomor 15C yang baru saja lewat.
"Amara, kamu yakin ini busnya?" tanya Kerem saat bus mulai menanjak melewati gang-gang sempit yang makin lama makin jauh dari keramaian turis.
"Yakin! Google Maps-nya bilang ke arah sini kok," jawabku mantap, padahal sinyal ponselku mulai megap-megap karena masuk ke kawasan perbukitan.
***
Tiga puluh menit kemudian, bus berhenti di pemberhentian terakhir. Kami turun, dan bukannya melihat taman bunga dengan pemandangan kota, kami malah berdiri di depan sebuah kompleks pemakaman tua yang sangat sunyi dengan pohon-pohon pinus yang tinggi.
"Amara," suara Kerem datar sekali.
"Iya?"
"Mana sunset-nya? Mana pemandangan juaranya? Kenapa kita malah ada di depan kuburan?"
Aku melihat layar ponselku. Tulisan di Google Maps: Signal Lost. Searching for GPS...
"Eh... mungkin ini... konsepnya sunset kehidupan?" jawabku asal sambil nyengir lebar sampai mataku menyipit. "Maaf, Kerem. Kayaknya aku salah naik bus."
Aku sudah siap diteriaki atau ditinggal pergi. Tapi yang terjadi justru di luar dugaan. Kerem malah duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke arah lembah. Di bawah sana, rumah-rumah penduduk dengan atap merah tersusun rapi, dan di kejauhan, laut Marmara berkilauan terkena sisa cahaya sore.
"Sini duduk," katanya sambil menepuk ruang kosong di sampingnya.
"Kamu nggak marah?"
"Marah nggak akan bikin busnya balik lagi, kan? Lagipula, di sini tenang. Jauh lebih bagus daripada tempat turis yang berisik itu," Kerem melepas kacamata hitamnya, membiarkan angin sore memainkan rambutnya yang biasanya rapi.
Kami duduk diam selama beberapa saat, menikmati keheningan yang jarang kami dapatkan di Galata.
"Kenapa kamu lari ke Turki, Amara?" tanya Kerem tiba-tiba. Pertanyaannya telak, tepat di ulu hati.
Aku menghela napas, memainkan ujung hijabku. "Bosan ditanya kapan nikah. Di Indonesia, kalau umur segini belum punya calon, rasanya kayak jadi buronan negara. Padahal aku cuma mau bebas sebentar, cari udara segar."
Kerem terkekeh kecil. "Sama. Mama saya sudah menyiapkan daftar perempuan dari seluruh penjuru Turki untuk saya temui setiap akhir pekan. Rasanya seperti wawancara kerja yang nggak pernah selesai."
"Berarti kita ini... sesama pelarian?" tanyaku sambil tertawa.
"Mungkin. Tapi pelarian saya lebih elit sedikit, karena saya punya apartemen sendiri," candanya. Wah, si Kulkas sudah mulai bisa melawak.
"Kerem, kalau seandainya ibumu benar-benar minta aku jadi menantunya, kamu bakal gimana?" tanyaku, entah karena keberanian dari mana. Efek angin laut kayaknya bikin aku jadi nekat.
Kerem diam. Dia menatap matahari yang mulai tenggelam di cakrawala, mengubah warna langit menjadi ungu kemerahan.
"Mama saya punya insting yang kuat soal orang," ucapnya pelan. Dia lalu menoleh padaku, senyumnya kali ini bukan senyum tipis, tapi senyum tulus yang membuat matanya ikut berbinar.
"Dan sejauh ini, dia belum pernah melihat saya tertawa gara-gara insiden seblak atau tersesat di pemakaman sebelumnya."
Jantungku rasanya mau copot. Ini kode? Atau dia cuma mau menghiburku supaya aku nggak nangis gara-gara salah bus?
"Tapi tetap saja," lanjut Kerem sambil berdiri. "Besok-besok, saya yang pegang Google Maps. Saya nggak mau kalau kencan selanjutnya kita berakhir di perbatasan Bulgaria."
"Tunggu, kencan? Tadi kamu bilang kencan?!" seruku sambil mengejarnya yang sudah jalan duluan menuju halte.
"Saya bilang 'kalau'. Jangan baper dulu, Gadis Seblak!" teriaknya tanpa menoleh, tapi aku bisa melihat telinganya memerah.
Aku berlari menyusulnya dengan perasaan ringan. Ternyata, nyasar itu nggak selamanya buruk. Kadang, kamu harus tersesat di tempat yang salah untuk menyadari kalau kamu sedang bersama orang yang benar.