Dingin.
Gendis merasakan benda basah mendarat di kulit lehernya. Dikepalnya ke dua tangannya kuat-kuat untuk mengurai sedikit ketegangan.
Namun sia-sia karena rasa takutnya justru semakin kuat seiring hendusan di ceruk lehernya.
Ketakutan ini sama rasanya dengan ketakutan saat hewan mengerikan dalam mimpi mengendus aroma tubuhnya. Yang membedakannya mungkin hawa napas keduanya. Hewan itu memiliki suhu napas dingin, sedangkan saat ini ia merasakan deruan napas hangat.
Benda di leher membuka sedikit melebar merubah lembap menjadi hangat. Gendis merasa tubuhnya mati rasa. Ia sungguh ingin pingsan saja dari pada merasakan dikoyak oleh gigi manusia.
Mana kala gendis mulai merasakan benda keras— yang ia perkirakan adalah gigi, wanita itu kontan memperkerjakan refleksnya— mendorong tubuh seseorang di hadapannya kuat-kuat.
Gendis kira akan sulit melakukannya, tapi tubuh manusia itu tidak sekuat yang dia kira. Dengan satu kali sentakan tubuh itu terdorong lalu terpental begitu saja.
Terdengar suara “aduh” tapi Gendis belum berani membuka matanya. Ia masih berusaha memompa paru-parunya sepenuh mungkin terlebih dahulu sebelum akhirnya berani membuka matanya.
“Kamu!” Gendis terperangah ketika mengetahui siapa sosok di hadapannya. “Apa yang kamu lakuin tadi?” Gendis beringsut ketakutan. Ia mendorong tubuh menggunakan bokongnya untuk semakin memojokkan tubuhnya. Perkiraannya salah, Sanjaya sama mengerikannya dengan yang lainnya.
“Tubuhmu kecil. Kenapa tenagamu kuat sekali,” katanya santai. Sanjaya mencebik seraya membenarkan posisi tubuhnya. Dari tiduran di atas tanah menjadi berdiri. Mengabaikan ketakutan Gendis padanya.
“Kamu mau gigit aku? Kamu mau membunuh aku?” cecar Gendis. “Sama seperti siluman tadi?” lanjutnya.
“Tadinya. Tidak sampai membunuh. Hanya ingin merasakan sedikit darahmu. Tapi urung aku lakukan.”
Alis gendis bertaut ditengah tubuhnya yang masih gemetar. Yang di artikan Sanjaya sebagai pertanyaan.
“Karena bau darahmu sungguh bau. Tidak sedap,” imbuh Sanjaya. Kontan Gendis melebarkan netra saat hinaan itu kembali ia dengar.
Satu pohon dan satu orang—bahkan gendis sendiri tidak yakin jika manusia di tempat ini benar-benar manusia sungguhan— di dunia aneh mengatakan bahwa bau dirinya tidak sedap.
“Kamu tau nggak?! Aku mandi sehari dua kali. Aku gosok gigi dua kali sehari. Parfumku aromanya terenak menurut teman-temanku.” Jika berhubungan dengan kebersihan Gendis memang nomor satu. Maka ketika penghinaan sudah mendarat dua kali dia harus benar-benar memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Sampai-sampai rasa cemas mengendur tanpa ia sadari.
Sanjaya tak benar-benar menanggapi gadis itu. Dia hanya menyunggingkan sedikit senyumnya. Entah artinya dia merasa bersalah atau justru mencemooh, senyum itu memiliki arti ambigu.
“Gunakan ini.” Sanjaya melemparkan beberapa helai pakaian padanya.
Refleks Gendis menangkapnya lalu memerhatikan pakaian di tangan. Sebuah kebaya berwarna navy, warna kesukaannya beserta jarit motif salur.
“Apa maksudnya,” tanya Gendis.
“Menurutmu?” Sanjaya membalikkan pertanyaan.
“Kenapa kamu seneng banget ngelempar pertanyaan, si?!” sungut Gendis seraya melemparkan mata malas.
“Karena aku ingin,” jawabnya santai. Sanjaya berjalan ke meja, mengambil dua buah batu, menggesekkan keduanya.
“Tapi itu menyebalkan.”
“Itu tujuanku,” jawabnya tanpa sama sekali melirik pada orang yang mengajaknya berbicara. Ia memilih fokus pada api yang baru saja keluar—dari batu yang digesek— lalu membakar ujung cerutunya.
“Sial!”
“Beginikah anak manusia bersikap?” Sanjaya mendekat. Menghisap cerutu dan langsung menyemburkan asap itu tepat di depan wajah Gendis.
Gendis hendak melanjutkan kembali perdebatan ini, tapi urung ia lakukan karena satu dialog terakhir yang Sanjaya keluarkan. Gendis memilih bergeming di tengah-tengah kumpalan asap.
Anak manusia bersikap?
Ucapan Sanjaya seolah mengatakan bahwa dirinya bukan manusia.
Baiklah, Gendis sudah menyadari jika Dunia ini serupa dengan dunia Harry Potter. Tapi ia tidak benar-benar menyangka jika semua orang yang dia temui di sini bukan manusia—dia lebih memikirkan bahwa di dunia siluman ini benar-benar ada manusia meski hanya sebagian. Meskipun ada pertanyaan itu menggelitik sebelumnya, tentang kemungkinan Sanjaya salah satu dari lelaki siluman yang ia temui. Namun hanya sebatas pertanyaan selewat yang tidak benar-benar ia pikirkan karena Sanjaya berlaku seperti manusia normal lainnya.
Aneh. Jika Sanjaya memang bukan manusia kenapa atmosfer bersama dengan Sanjaya terasa familier. Berbeda dengan saat di pasar tadi.
Jika memang Sanjaya bukan manusia seperti lelaki berlidah ular tadi, kenapa tak ada sedikit pun rasa takut padanya seperti rasa takut bertemu dengan manusia siluman tadi.
Sanjaya menyadari Gendis terkejut dengan ucapannya, tapi lelaki itu tak banyak bereaksi. Biar saja, toh dia akan mengerti dengan sendirinya nanti. Mengerti atas kehadirannya di sini.
“Kamu.” Suara Gendis terjeda per sekian detik. “Am, maksudku. Apa kamu ngeliat orang tadi.” Haruskah dia menyebutnya ‘orang’ setelah gendis jelas-jelas tau bahwa pria di luar rumah tadi jelas bukan manusia.
“Siapa?”
“Lelaki, berlidah ular.”
Sanjaya tidak menjawab. Dia memilih mengambil kendi di atas meja lalu duduk di bale-bale.
“Sementara tinggalah di sini,” ucap Sanjaya.
“Aku ingin pulang, tidak ingin tinggal di sini meski hanya sementara,” tukas Gendis.
“Ya, silakan keluar saja dari sini jika kau ingin mati direbutkan oleh para siluman tadi,” lanjutnya.
“Apa kamu sedang melindungiku?”
“Tidak. Aku hanya sedikit membutuhkanmu.”
“Untuk?”
“Apa semua manusia banyak bertanya sepertimu. Itu sangat mengganggu.
Gendis memajukan bibir kecilnya. Apa salahnya dengan bertanya. “Kamu bilang bauku tidak enak. Seharusnya mereka tidak tertarik padaku juga.”
Sanjaya terkekeh, ia memilih kembali bangkit, berjalan dan membuka jendela kayu. Memandang keluar sana. Sesungguhnya Sanjaya berbohong. Bau gendis berbeda, itu lah yang membuat Lutong memilih Gendis untuk menjadi pelengkap upacara persembahan untuk Raja Wangkara.
“Selera kami kadang berbeda. Aku mungkin menganggap begitu. Tapi kau lihat sendiri bagaimana siluman tadi menginginkanmu.”
Benar dugaan Gendis. Sanjaya tahu lelaki tadi. Jika lelaki tadi siluman ular, mungkinkah Sanjaya merupakan pemilik auman tadi. Lalu bentuk apa yang Sanjaya miliki?
Meski banyak pertanyaan yang ingin gadis itu lontarkan. Ia memilih untuk urung melakukannya mengingat ia harus berhati-hati sebelum mengetahui jati diri Sanjaya yang sebenarnya. Lebih baik Gendis mencari tahu sendiri.
“Siluman tadi, kamu yang mengusirnya?”
Sanjaya menautkan alis. “Tak perlu kuusir. Karena dia sudah tau aku bukan tandingannya.”
Sanjaya hendak kembali pergi. Namun kali ini Gendis segera bangun untuk membegal langkahnya. Gadis itu membentangkan tangan. “Beri tahu aku jalan keluar. Kalau kamu tahu alasan aku ada di sini, seharunya kamu juga tau jalan keluar untukku.”
***
Kebaya Navy membungkus tubuh kuning Langsat milik gendis. Samar senyum menyungging dari Sanjaya tak Gendis ketahui.
Kontras warna kulit dengan rambut bergelombang di Gelung ke atas menambah kesan anggun.
Namun bukan itu yang membuat Sanjaya tersenyum. Yakni keberhasilannya mengambil alih fungsi seorang Gendis. Wanita itu harus ada di dalam Kungkungannya. Selalu.
“Aku keliatan kaya mbok-mbok penjual jamu tauk nggak!” sungut Gendis. Ia masih kesal karena Sanjaya tak memberitahu jalan keluar dirinya dari dunia siluman meski Gendis mengeluarkan gaya merengek paling mematikan sekalipun.
Ia tak sama sekali nyaman dengan outfit seperti ini. Beberapa kali ia menarik-narik jarit salur tak sampai menutupi lututnya. Juga kebaya yang terasa sangat sempit hingga mencetak lekuk tubuhnya.
“Begitu lebih baik dari pada pakaianmu tadi.” Sergah Sanjaya. Ia masih duduk menopang kaki kanan di atas kaki kiri. Melanjutkan menghisap cerutunya dan menghasilkan asap yang beberapa kali kumpalannya harus gendis kibaskan karena cukup mengganggu pernapasannya.
“Pakaianku lebih nyaman dibanding yang ini. Lagian ini keliatan murahan," ucap Gendis merendahkan.
Sanjaya mendesah lalu bangkit dari duduknya. Ditekannya cerutu di tangan di atas meja, membuat apinya padam seketika. “Perlu kamu ketahui, aku membeli pakaian itu dengan harga mahal."
"Seorang pencuri makanan bisa membeli pakaian mahal? Oh luar biasa sekali." Gendis mencebik. Beberapa kali pun ia melihat kebaya di tangannya, dia berani jamin jika kebaya itu bukan kebaya baru dilihat dari sudut mana pun.
"Kau akan tau nanti jika pakaianmu bisa mencelakakanmu.” Sanjaya berlalu melewati gendis dan berjalan menuju jendela yang terbuka. Di sanalah ia buang sisa cerutunya seraya kembali menarik napas panjang.
“Sejak kapan pakaian bisa mencelakakan?"
“Sejak kau datang,” jawaban yang tidak Gendis mengerti.
Gendis meringis. Semesta tahu pakaian yang ia kenakan adalah pakaian yang termasuk sopan para manusia pakai. Tanpa celana sexy atau atasan mempertontonkan belahan yang terlarang.
“Tolong jangan persulit! Aku Cuma pengen tau jalan pulang! Kenapa kamu mempersulit jalannya!” Gendis mengerang marah. Sudah cukup. Sungguh ia hanya menginginkan kehidupannya kembali normal.
Sanjaya mendengkus lalu mengabaikan Gendis yang didera amarah. Namun belum sampai dua langkah, ia harus menghentikan laju tungkainya saat ia mencium bau sesuatu. Bau yang ia benci. Bau yang sama dengan saat malam itu. Malam ambu dan abahnya mengerang kesakitan. Malam di mana keduanya berusaha menyembunyikan keberadaannya.
Sigap tatapan Sanjaya beralih pada Gendis. Ia segera mendekati wanita itu dan tanpa tendeng aling-aling Sanjaya merengkuhnya di dalam dekapan membuat gadis di dekapannya membuka matanya lebar-lebar.
Dan sialnya degup jantung Gendis terdengar bertalu-talu.